
Bicara itu mudah tapi praktiknya yang sulit. Kalimat itu sepertinya tepat untuk menggambarkan situasiku sekarang.
Ini sudah hampir seminggu dan aku hanya bisa berdiri di depan sebuah ruangan yang bertuliskan KLUB KOMPUTER di pintunya. Ingatkan kalau aku telah menyetujui saran Pak Wahyu untuk ikut ekskul? Bahkan aku sudah membuat perjanjian dengan diriku sendiri dan membulatkan tekad. Faktanya tidak semudah itu. Berulang kali aku mencoba untuk masuk ke ruangan ini tapi tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa mengalahkan sifat introvert ku.
Pintu ini memang tertutup, tapi bukan berarti tidak ada orang di dalamnya. Ada. Namun, setiap ada suara kenop pintu terbuka, aku langsung kabur sebelum seseorang, siapa pun itu yang keluar dari sana sempat melihatku. Setelahnya Maya pasti akan mengoceh.
“Gimana Ren, bisa?”
“Kali ini pasti sukses, kan?”
Atau.
“Pasti gagal lagi? Iya, kan? Hah, cemen!”
Kalau sudah begitu, aku hanya bisa menunduk lemah. Tentu saja Maya pernah menawarkan diri untuk menemaniku ke sana yang seribu persen kutolak mentah-mentah. Bukan apa, aku takut Maya akan mengacaukannya. Maksudku, terkadang Maya punya ide liar yang sulit ditebak. Misalnya saat dia mengenalkanku sebagai pacar Rex di pertandingan basket tempo hari. Mungkin saja dia akan mengenalkanku sebagai keponakan Bill Gates kepada semua anak klub komputer. Tidak terbayangkan betapa memalukannya jika itu terjadi.
Seperti yang sudah-sudah, nyaliku ciut. Aku mundur perlahan dan memutar badan hendak berbalik, tiba-tiba aku menabrak sesuatu, tepatnya seseorang.
“Aduh!” erangnya.
“Maaf...maaf...” kataku spontan. Seorang cowok berdiri menatapku sambil meringis kesakitan. Tampaknya, aku tadi tidak sengaja menginjak kakinya.
“Kamu ngapain di sini? tanyanya. Aku hanya bisa gelagapan berusaha menjawab. Sial, kenapa sulit sekali untuk bicara?
“Ah, kamu mau masuk klub komputer?” lanjutnya. Aku hanya bisa menggeleng. Aku harus segera pergi dari sini sebelum aku bertingkah lebih aneh lagi.
“Kamu bisu, ya?” katanya lagi sembari mengerutkan keningnya. Aku menggeleng lagi.
“Bu-kan.” Akhirnya aku bisa bicara, walau sedikit tebatah.
“Lalu?”
__ADS_1
Aku menghela napas, memejamkan mata mencoba menenangkan diri. Aku bisa mengatasi ini.
“Aku ingin mendaftar di klub komputer. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.” Entah mengapa kata-kataku terdengar sangat formal dan akumengucapkannya dengan sekali tarikan napas. Wow...seperti ijab kabul saja.
“Oh...kebetulan kamu bertemu orang yang tepat.” jawabnya dengan wajah sumeringah.
“Kamu ketuanya?”
“Bukan aku sih, tapi aku juga anggota di sini.”
“Oh...”
“Ya, udah. Ayo, masuk!” Tanpa aba-aba, dia langsung menggandeng tanganku dan membawaku masuk ke ruangan itu. Aku sangat tidak siap tapi aku juga dalam posisi tidak bisa menolak. Hal pertama yang kulihat adalah ruangan itu penuh dengan komputer, tentu saja. Ada sekitar sepuluh komputer lengkap dengan PC yang terpasang di meja khusus. Sebuah printer wireless terpajang cantik tepat di depan jejeran komputer tersebut. Ada juga dua buah lemari yang lumayan besar untuk menyimpan barang yang aku tidak tahu apa saja isi di dalamnya. Sebuah meja panjang penuh dengan komponen komputer terparkir di sudut, sepertinya itu meja reparasi.
“Semuanya, perhatian!” katanya dan membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arah kami, lebih tepatnya ke arahku. Bagaikan film horor, suasana merinding langsung menjalar di permukaan kulitku. Aku bisa merasakan buku kudukku berdiri.
“Ini ada anak baru yang mau gabung di klub kita.” Aku menyempatkan diri untuk menghitung jumlah orang yang ada di sini. Ada lima orang dan mereka semua menatapku dengan wajah penasaran atau curiga?
Aku bisa merasakan seluruh tubuhku gemetar. Ya, Tuhan...tolong aku. Tenang Ren, kamu pasti bisa jangan sampai oleng.
“Aku, Reny. Panggil aja Ren. Kelas XII A. Aku...” Sial! Otakku jadi ngeblank! Kenapa sih di saat-saat seperti ini aku jadi payah! Mungkin aku juga harus ikut ekskul public speaking seperti saran Maya.
“Diterima.”
“Hah?” Aku menoleh dan mendapati cowok itu tersenyum ramah.
“Kamu mau gabung di sini, kan? Dan kamu diterima.”
“Oh...” hanya itu yang keluar dari mulutku. Entah kenapa saat ini otakku jadi lemot.
“Itu, namanya Rudy. Dia ketua klub ini.” Cowok itu menunjuk ke arah meja reparasi dan cowok yang bernama Rudy itu pun mengangkat tangannya sebagai ucapan salam perkenalan.
__ADS_1
“Yang dua itu, Niko dan Ferdi.” Niko dan Ferdi kelihatannya sedang sibuk memperhatikan layar komputer masing-masing. Dari responnya yang seperti itu aku langsung bisa mengenali karekter mereka. Cuek. Sepertinya mereka tidak jauh beda denganku.
“Yang itu Putra dan yang itu Doni.” Tidak seperti Niko dan Ferdi yang cuek, mereka berdua ini tampak tersenyum ramah padaku yang tentu saja kubalas dengan senyum yang lebih ramah.
“Dan aku, Abi.” Akhirnya cowok itu memperkenalkan diri. Aku membaca name tag di seragamnya, Saylendra Abimanyu. Wow...namanya terdengar sangat ningrat namun mudah di ingat.
Kemudian Abi langsung mengajakku tur keliling sambil menjelaskan kegiatan apa saja yang mereka lakukan di sini layaknya seorang pemandu wisata. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa, tempat ini memang selayaknya klub komputer. Tapi bagiku yang baru menginjakkan kaki di sini, melihat segala kerumitan ini, tempat ini seperti medan perang. Dan aku sebagai pemimpin mereka dengan kuda dan pedang. Oh, tidak...aku mulai melantur. Cepat-cepat aku harus mengenyahkan imajinasiku.
“Hmm...anggotanya memang cuma ini?” tanyaku.
“Sebenernya sih banyak, ada sekitar dua puluhan gitu.Tapi yang aktif ya, cuma ini.” jawabnya sambil nyengir. Tapi cengiran itu tidak mengurangi apa pun di wajahnya.
“Dan kamu, Ren. Satu-satunya cewek yang mau gabung di klub ini. Maklumlah, seperti yang kamu lihat, semuanya tentang komputer bukan make up.” Aku langsung tertawa renyah mendengarnya. Andai saja Abi tahu bahwa sebenarnya aku juga tidak berniat masuk ekskul ini kalau bukan karena Oxford, mungkin aku akan langsung ditendang dari sini. Kemudian Abi melanjutkan kembali penjelasan tentang program dan kegiatan mereka.
Oke, kurasa klub komputer bukan ide yang buruk, bukan berarti ide yang baik juga mengingat aku baru pertama kali bergabung. Butuh waktu untuk menganalisa seiring berjalannya waktu. Aku juga harus belajar melawan sifat introvert ku untuk menyesuaikan diri. Tapi setidaknya ada Abi di sini yang kelihatannya bisa menjadi pembimbingku. Entah kenapa aku punya intuisi baik tentang dia, maksudku tentang klub ini.
***
Aku tidak bisa berhenti berpikir sejak keluar dari klub komputer, banyak hal terlintas di otakku. Kadang-kadang aku tidak bisa mengontrol rentetan pikiran di kepalaku. Mereka datang perlahan, merayap melalui sudut benakku dan berubah menjadi berbagai macam imajinasi. Abi bilang sebagai anggota, aku bisa kapan saja datang ke sana tanpa ada jadwal khusus. Entah kenapa aku merasa sangat senang dan membuatku langsung tersenyum. Dengan ini, jalanku ke Inggris akan semakin terbuka lebar ditambah lagi adanya pemandu sperti Abi yang selalu siap membantu.
Senyumku langsung lenyap ketika melihat Rex dan Pak Alif sedang berjongkok di dekat mobil sambil makan sesuatu. Menyebalkan sekali karena mereka terlihat sangat akrab. Mereka langsung berdiri ketika melihatku mendekat.
“Lama banget sih, Ren?” tanya Rex dengan mulut penuhnya. Ternyata mereka sedang makan burger, ada saus mayones yang menempel di pipinya. Bahkan sudah besar begini, dia tidak tahu cara makan yang benar. Tanpa memperdulikannya aku langsung masuk ke mobil.
“Ayo, Pak,”
“Iya, Mbak.”
“Yee...ditanyain juga!” kata Rex dengan nada kesal. Bagus, sekarang dia tahu bagaimana rasanya kesal. Rex masuk, kemudian memandangku dari ujung kaki ke ujung kepala.
“Apa?”
__ADS_1
“Kamu sakit?” Aku hanya mendengus lalu membuang muka, memilih untuk memandang ke luar jendela. Pastinya Rex hanya bermaksud untuk membuatku kesal. Tapi itu tidak akan berhasil sekarang, karena suasana hatiku sedang baik. Aku memikirkan kembali tentang apa yang terjadi di klub komputer tadi. Oh, Maya! Aku tidak sabar untuk membagi pengalamanku hari ini dengannya.