REX & REN

REX & REN
Epilog


__ADS_3

Aku terbangun subuh, kukirik jam waker-ku yang menunjukan pukul 5.00 pagi. Hal pertama yang kulakukan adalah menatap langit-langit, memikirkan segala hal yang telah terjadi di hidupku. Aku teringat kembali saat pertama kali masuk SMA, ekspresi takut dan malu-malu di wajahku tergambar jelas.


Ren si cewek introvert.


Itulah label yang kubangun sendiri untuk mendefinisikan diriku. Kupikir, ketika aku menjadi seorang introvert, maka aku tidak akan mengalami banyak hambatan hidup. Tapi ternyata itu salah! Meski kau seorang introvert atau bukan, selama kau hidup di dunia ini, masalah akan selalu ada. Tuhan akan mengujimu dengan berbagai masalah untuk membuatmu menjadi pribadi yang kuat dan tegar. Setidaknya itulah kesimpulan yang dapat kuambil.


Aku gagal ke Oxford, dan tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Kursiku masih di sana hanya saja mereka telah memberikannya pada orang lain. Sebenarnya aku sempat mengirim e-mail untuk menanyakan apa aku bisa ikut ujian susulan. Tapi dengan berat hati, mereka bilang bahwa itu tidak bisa dilakukan. Tentu saja, kampus sekelas Oxford tidak mungkin mau membuang-buang waktu hanya untuk seseorang sepertiku. Sementara di luar sana masih banyak anak-anak jenius lain yang megantre untuk mendapatkan satu kursi di sana.


Kuejamkan mataku, mengingat kembali semua tentang kami, aku dan Niko. Dia akan pindah ke Jerman dan itu adalah hak prerogatifnya. Aku tidak bisa bersikap egois untuk memaksa dan menahannya di sini bersamaku.


Jadi, semalam aku membuat janji temu dengannya untuk menyelesaikan masalah kami baik-baik. Karena terakhir kali aku hanya kabur begitu saja tanpa memberikan Niko kesempatan bicara. Aku memutuskan untuk bertemu di taman dekat komplek rumahku. Jadi, jika aku tidak tahan dan ingin menangis, aku bisa langsung berlari ke rumah tanpa perlu repot meyetop taksi.


“Maaf ya, Ren. Aku ngasih tau kamu mendadak.” ucapnya.


Aku hanya mengangkat bahu.


“Aku…gak akan ke Oxford.” kataku akhirya.


“Hah? Kenapa?” tanya Niko dengan nada terkejut.


Aku menatapnya sambil tersenyum.


“Karena aku mutusin buat jadi pengangguran selama satu tahun.”


Niko tampak berpikir namun kemudian tersenyum. Dia manggut-manggut seakan mengerti maksud sebenarnya dari ucapanku barusan.

__ADS_1


Kemudian hening.


Aku tahu inilah saatnya dimana Niko akan membuat keputusan tentang hubungan kami. Aku tahu Niko pasti juga sudah menentukan pilihan.


“Ren, aku cuma pengen kamu tau. Meskipun aku nanti pindah ke Jerman, aku gak mau hubungan kita berakhir.” Seketika aku menatapnya dengan serius. Bahkan lebih serius dari sebelum-sebelumnya.


Apa katanya tadi?


“Yah, aku mau kita tetap pacaran.” tegasnya.


“Maksud kamu, kita LDR, gitu?” kataku dengan susah payah.


Niko mengangguk.


Aku tidak tahu berapa presentase pasangan LDR yang berhasil dan berujung bahagia. Maksudku, menjalin hubungan dengan pacar yang bermil-mil jauhnya dari kita, itu pasti sangat sulit. Tapi melihat keyakinan di mata abu-abu Niko, aku juga ingin yakin.


Cinta itu menakutkan. Cinta berubah. Cinta tidak bisa menghilang. Cinta itu suka dan duka. Itulah bagian dari risikonya. Aku tidak ingin merasa takut. Aku ingin berani dan mencobanya bersama Niko.


Suara berisik membuyarkan lamunanku, kudengarkan saksama, sepertinya seseorang membuka pintu depan. Kusingkirkan selimut, lalu bangkit dan berjalan menuju jendela. Kusibak tirainya dan di bawah sana terlihat Rex sedang ada di halaman depan. Memakai kaus dan celana training, dia berjalan pelan-pelan menginjakkan kakinya di rumput.


Bibirku tertarik, senyumku mengembang.


Ingatan tentang Rex silih berganti berputar di otakku.


Rex kecil yang menyenggol kue ulang tahun.

__ADS_1


Rex yang yang mengejekku sambil berjoget dangdut.


Rex yang menggendongku saat aku mendapat B minus.


Rex yang memelukku saat aku patah hati. Dan Rex yang dengan kesal terpaksa memakai baju couple Rilakkuma.


Rex yang selalu ada untukku. Rex kembaranku yang selalu ada untukku, suka dan duka.


Meski aku gagal ke Oxford dan Niko akan pergi jauh dariku, tapi setidaknya aku masih punya Rex. Mulai detik ini, gantian aku yang akan selalu ada untuknya. Membantunya melewati suka dan duka. Bahkan ketika dunia hancur sekalipun, setidaknya aku dan Rex masih saling memiliki.


Langit perlahan memucat menjadi biru muda. Matahari belum terbit, tapi mataku terlalu segar untuk kembali tidur. Kuganti baju tidurku dengan celana olahraga dan kaus. Lalu turun dan membuka pintu depan untuk bergabung bersama Rex.


“Perlu bantuan?” kataku begitu berdiri di depannya.


Rex sedang merentangkan tangan untuk menyeimbangkan tubuhnya selagi melangkah. Dia langsung tertawa melihat penampilanku.


“Nggak. Entar kamu pasti jorokin aku.”


“Haha…” Kami sama-sama terbahak.


“Aku mau cepet pulih, Ren. Biar bisa main basket lagi. Bisa kembali kayak biasanya.” katanya kemudian.


Aku mengangguk. Mungkin karena ikatan batin yang kuat, aku memahaminya. Sangat.


Aku menghirup udara pagi yang terasa segar di paru-paruku. Aku tahu setelah semua ini, bukan berarti masalahku selesai. Masalah-masalah lainnya pasti akan datang silih berganti. Namun hari ini, matahari pasti akan bersinar cerah dan aku sedang berdamai dengan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2