REX & REN

REX & REN
Waktunya Tiba


__ADS_3

Aku tidak yakin seberapa rapi aku harus berpakaian untuk kencan, (kalau itu bisa disebut kencan, maksudku kencan kan untuk orang pacaran, sedangkan aku dan Niko tidak pacaran, atau belum) bersama Niko.


Aku membongkar lemariku, dan setelah memilah-milah, tiba-tiba aku merasa tidak punya satu pun baju yang pantas untuk kupakai nanti. Aneh, kenapa ini bisa terjadi dari sekian banyak koleksi pakaian yang kupunya. Di saat penting seperti ini, kemana perginya semua baju-baju cantik layak pakai? Sepertinya, setelah ini aku harus pergi ke mall dan belanja beberapa potong.


Niko akan menjemputku pukul tujuh nanti, dan aku tidak punya apa pun untuk dipakai!


Lelah karena tidak menemukan apa yang kucari di lemari, aku pun duduk di tempat tidur. Vania berbaik hati meminjamkanku alat-alat make up berharganya yang dibungkus dalam sebuah pouch pink bertabur bunga sakura. Dia bilang, make up itu wajib buat cewek. Vania juga sempat menawarkan diri untuk membantu merias wajahku seperti Kylie Jenner, dan langsung kutolak.


Jadi, aku membuka pouch itu, di dalamnya ada macam-macam. Kukeluarkan satu per satu, ada maskara, eyeliner, conseler, foundation dan lain-lain yang aku terlalu pusing untuk menyebutnya. Vania punya semua yang dibutuhkan cewek di pouch ini, sedangkan di meja riasku hanya ada lipgloss, bedak tabur dan parfum strawberry, (itu pun kalau bisa dibilang alat make up).


Solusi untuk pakaianku belum ketemu, tiba-tiba aku dilanda kepanikan, bagaimana aku harus merias wajahku? Bukan aku tidak tahu guna masing-masing dari alat make up ini, tapi hanya saja aku tidak begitu mahir mengaplikasikannya.


Jadi, hal masuk akal yang bisa kulakukan adalah mengetik di kotak pencarian Youtube.


TUTORIAL CARA MAKE UP


Begitu ditampilkan, kepalaku langsung pening karena ada begitu banyak video yang aku sendiri tidak tahu harus mengklik yang mana. Lalu aku mengetikkan pencarian yang lebih spesifik.


TUTORIAL CARA MAKE UP KYLIE JENNER


Vania pasti akan tertawa jika dia tahu aku mengetikkan ini. Begitu kutekan enter, yang keluar adalah lebih banyak terpampang wajah Kylie Jenner dengan bibir penuh nan sensualnya. Refleks, aku menggeleng, tidak mungkin aku memakai make up seperti ini. Maksudku, aku tidak punya bibir sexy sepertinya.


Tidak pakaian, tidak make up, keduanya membuatku frustrasi. Kenapa kencan pertama bisa serumit ini?


Bahuku merosot dan aku hanya bisa menghela napas lelah. Ketika hampir menyerah, mataku menangkap sesuatu lalu aku mengambilnya. Sebuah kuteks berwarna pink lembut. Yah, mungkin aku bisa mulai mempersiapkan penampilanku dengan ini.


Aku menyumpalkan tisu, (yang sudah kubentuk bulat kecil-kecil) di sela-sela jari kakiku. Saat aku mulai mengoleskan kuteks dan sampai pada jari tengah, tahu-tahu Rex membuka pintu sambil nyengir.


“Niko yang mana?” tanyanya seraya menatap kuteks di kukuku kemudian ke wajahku, begitu seterusnya sampai beberapa kali.


Sangat mengganggu!


“Apaan, sih?”


“Gak usah ngeles, jawab aja, Niko yang mana?” kekehnya.


“Bukan urusan kamu!” balasku dan kembali melanjutkan kuteksku.


Rex tampak kesal, melengos keluar kemudian menutup pintu.


Apa-apaan sih dia?


***


Pukul enam, aku mulai heboh berdandan.


“Gimana yang ini?” tanyaku yang sedang memegang dua baju di masing-masing tangan. Aku menunjukannya ke layar *smartphone.


Aku, Maya dan Vania sedang video call*. Karena aku tidak bisa melakukan ini sendiri, aku benar-benar butuh bantuan.

__ADS_1


“Aku suka yang warna biru, lebih kalem.” kata Maya. Baju yang dimaksud adalah dress putih selutut bertabur bunga-bunga biru kecil yang kupegang di tangan kiri.


“Aku setuju, itu kelihatan manis.” timpal Vania.


Oke, baju sudah fix.


“Aku gugup...” kataku dengan wajah memelas.


“Ren, coba tenang, rileks. Coba ikutin aku, tarik napas pelan-pelan...buang.” ujar Maya dan aku melakukan apa yang dikatakannya.


“Pasti kamu bisa kok, Ren.” sahut Vania memberi dukungan.


“Ren, dengerin, kamu jangan panik. Ingat, ini kencan pertama kamu, kalau kamu panik, semua pasti kacau. Jadi, kamu harus lakukan yang terbaik. Oke?” kata Maya lagi.


Merasa termotivasi, aku mengangguk mantap. Yah, ini kencan pertamaku dan aku harus melakukannya dengan baik.


“Oke!” seruku semangat.


Setelah berkutat cukup lama, akhirnya aku memilih dress bunga-bunga biru seperti saran Maya. Dengan memakai sepatu kets putih, (aku lebih nyaman dengan itu) dan tas selempang kecil warna hitam. Aku memakai blush on berwarna peach dan mencoba riasan mata, tapi akhirnya aku menghapus semua dan mengulanginya lagi. Kali ini hanya maskara dan lip gloss yang kupakai.


Aku memamerkan penampilanku pada mama dan komentarnya adalah,


“Ren, cantik banget...”


“Apa ini kelihatan bagus, Ma?” Mama mengangguk.


“Bukan bagus lagi, tapi cantik.”


Tentu saja, aku langsung tersenyum senang. Kurasa semua akan berjalan lancar.


***


Tak lama kemudian, suara mobil terdengar di luar. Jantungku pun mulai berpacu seperti naik rollercoaster. Suara bel berbunyi, papa dan mama bersiap-siap untuk membuka pintu. Aku sendiri sedang mengintip dari balik partisi ukir yang terletak antara ruang makan dan ruang tamu. Aku merasa seperti berada di dalam sebuah film horor saat papa membuka pintu.


“Selamat malam, Om, Tante...” Suara Niko terdengar sangat merdu dan ramah.


“Malam,” jawab papa.


“Ayo, masuk.” kata mama kemudian.


Niko masuk dan duduk di sofa, papa dan mama langsung terlibat obrolan hangat dengannya. Aku terpesona dengan penampilan Niko. Dia terlihat sangat rapi, memakai kemeja hitam kotak-kotak yang lengannya digulung sampai siku, celana jeans yang terlihat pas dan sneakers hitam putih yang sangat elegan. Semua itu dipadu dengan wajah blasterannya, Niko terlihat mirip seperti Noah Centineo, tidak, bahkan lebih tampan dari bintang Netflix itu.


“Awas ileran,” Entah muncul dari mana, Rex sudah berdiri di sampingku. Mendengar perkataannya, aku refleks mengelap bibirku. Dia hanya mendengus dan ngeloyor pergi, ikut duduk di ruang tamu.


Rex langsung ikut ngobrol dengan mereka. Lebih tepatnya, dia terdengar seperti polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.


“Kamu di kelas mana? Kok, aku gak pernah lihat?”


“Aku di kelas B. Memang aku lebih sering ngabisin waktu di klub komputer.”

__ADS_1


“Oh...Sejak kapan kenal sama Ren?”


“Kenal lebih akrabnya waktu di klub komputer.”


Lihatkan, betapa menyebalkannya makhluk satu itu. Maksudku, apa-apaan dia bertanya ala detektif begitu? Papa saja terlihat santai, kenapa dia yang tegang? Sebenarnya yang jadi kepala rumah tangga di sini itu siapa, sih? Rex atau Papa?


“Ya, udah. Biar tante panggil Ren dulu, ya?” kata mama.


“Iya, Tante.”


Mama berjalan menuju ke arahku dengan senyuman lebar di wajahnya.


“Ganteng banget, Ren. Ya ampun...” bisik mama. Aku hanya bisa nyengir.


“Feeling mama ya, kamu itu cocok banget sama dia.”


“Apaan sih, Ma.” Aku yakin wajahku semerah tomat sekarang.


Kemudian aku keluar dan begitu melihatku, Niko tersenyum.


Dia berdiri, lalu berkata, “Om, Tante, Rex, kita pamit pergi dulu.”


“Oh, iya, silahkan. Tapi ingat, jam sepuluh antar Ren pulang.” tegas papa tapi dengan nada ramah.


“Iya, Om.”


Begitu kami keluar, sebuah Range Rover berwarna putih terparkir di halaman. Wow...kira-kira berapa harganya? Mungkin aku harus mencarinya nanti di google. Kami pun berjalan menuju mobil.


“Have fun!” seru mama sambil melambaikan tangan. Kubalas dengan lambaian tangan juga.


“But not too much fun!” giliran Rex teriak sambil menunjuk matanya dengan dua jari kemudian di arahkan ke kami.


Seolah berkata, 'Aku mengawasi kalian.'


Apa-apan sih dia?


“Oke!” balas Niko dengan gerakan hormat sembari tersenyum.


“Rex kelihatan sayang banget ya sama kamu.” kata Niko.


“Ah, jangan di dengerin. Dia itu emang agak gila.”


Niko hanya tertawa, lalu dia berjalan mendahuluiku untuk membukakan pintu.


“Silahkan,”


“Makasih,”


Oh...hatiku serasa meleleh. Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Aku naik ke mobil dengan kaki dan tangan yang kini dingin seperti es.

__ADS_1


Oh Tuhan...tolong aku...


__ADS_2