REX & REN

REX & REN
Sushi Rasa Cinta


__ADS_3

Hari ini adalah hari keberuntunganku dan aku sangat senang. Kami menang walaupun dengan skor tipis. Walau hanya pertandingan persahabatan, tapi rasanya sangat puas karena kami bermain dengan sangat baik.


“Yess! We did it!”


“Kerja bagus, guys!”


Aku dan timku sedang merayakan kemenangan di tengah gemuruh teriakan kagum dari penonton. Rasanya usaha keras kami berlatih selama ini tidak sia-sia.


“Rex! Rex!” Tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku langsung menoleh dan melihat Maya sahabat Ren berjalan menghampiriku.


“Eh, Maya. Kenapa?”


“Nih...buat kamu.” katanya sambil menyodorkan sebuah lunch box berwarna pink ke tanganku.


“Apaan nih?” tanyaku bingung.


“Itu dari Vania, anak baru kelas XII B.” jawab Maya dengan ekspresi malas.


“Vania? Vania siapa?”


“Itu...” Maya menunjuk ke arah tribun penonton. Aku mengikuti arah yang dimaksud, di sana terlihat segerombolan cewek yang melambaikan tangan padaku.


“Yang ngibas-ngibasin rambut itu yang namanya Vania.” jelas Maya lagi. Benar saja, cewek yang bernama Vania itu terlihat mengibaskan rambutnya beberapa kali sambil mengedipkan sebelah matanya dengan gaya centil. Cantik sih, tapi...


“Ya, udah. Udah sampe ya ke kamu.”


“Eh, Ren mana?” tanyaku. Aku tahu benar Maya ini adalah satu-satunya sahabat dekat Ren. Kalau Maya di sini, berarti Ren juga ada di sini. Mungkinkah Ren menonton pertandinganku tadi? Tapi dari tadi aku tidak melihat batang hidungnya?


“Udah pergi.”


“Hah? Emang dia tadi di sini? Dia nonton pertandinganku?”


“Bukan dengan suka rela, sih. Tapi karena aku paksa.” jawab Maya sambil nyengir.


“Ren nonton pertandinganku?” Untuk kedua kalinya aku bertanya sekadar untuk mengkonfirmasi kebenaran yang mengejutkan ini.


“Iya. Ren tadi nonton pertandingan kamu sampai habis.” jelas Maya dengan penuh penekanan.


Wow! Ini seperti pemecahan rekor dunia. Ren menonton pertandinganku setelah berabad-abad lamanya. Padahal aku tahu Ren itu benci keramaian tapi dia sanggup duduk sekian lama untuk menyaksikan aksiku? Luar biasa...


“Oke, aku pergi dulu.”

__ADS_1


“Oh, iya. Makasih ya, May.” Maya mengangguk dan langsung pergi. Sejenak aku memandangi lunch box di tanganku lalu membukanya. Ada beberapa potong sushi yang terlihat lezat di dalamnya. Aku hanya bisa menghela napas panjang dan kembali bergabung dengan timku untuk bersiap-siap menuju ruang ganti.


Setelah menyelesaikan semuanya, aku langsung berjalan menuju parkiran. Aku yakin Pak Alif sudah menunggu di sana. Dari kejauhan, mobil jemputanku sudah terlihat dan di sanalah sosok yang aku cari-cari tadi berada.


Reny Aulia Chandra. Saudara kembarku. Ren terlihat sedang bersandar di mobil sambil membaca buku dan di sebelahnya ada Pak Alif yang sibuk dengan smartphone-nya. Bahkan di luar jam sekolah pun, Ren tetap belajar. Kenapa sih dia itu tidak bisa bersantai sedikit? Memang harus diakui, Ren itu pintar. Tapi orang pintar tidak harus terus-terusan belajar, kan? Andai dia bisa lebih luwes, pasti dia sudah punya banyak teman. Bukan cuma berkutat dengan Maya! Aku bahkan pernah mendengar ada yang memberikan julukan ‘titisan Elsa Frozen’ padanya. Tidak heran, itu semua karena sikapnya yang dingin dan cuek.


Aku berjalan menghampiri mereka sambil bersiul ria dan tentu saja langsung disambut dengan tatapan membunuh ala Ren.


“Maaf ya, Pak Alif. Nunggu lama.”


“Oh, gak apa-apa, Mas. Gimana pertandingannya, Mas?”


“Eits...Menang dong, Pak.”


“Wah, selamat...” Belum sempat Pak Alif menyelesaikan pujiannya, suara petir mahadahsyat menyambar.


“Bisa gak sih kita langsung pulang!” Yah, itu dia suara petirnya. Suara Ren! Mendengar itu Pak Alif langsung buru-buru menjawab.


“Iya, Mbak. Ayo, Mas Rex, naik.”


Ren langsung membuka pintu dengan kasar lalu masuk ke mobil. Aku sendiri mengekor di belakangnya.


“Aduh, Ren. Bisa gak sih jangan marah-marah mulu. Nanti darah tinggian.” candaku.


“Ya, udah. Kita berangkat ini. Jadi Mbak Ren nya jangan kesel-kesel lagi.” ujar Pak Alif mencoba mencairkan suasana dan mobil pun melaju.


“Pak Alif apaan, sih? Ikut-ikutan.”


“Yang dibilang Pak Alif itu bener, Ren. Itu nasihat orang tua, nanti kamu kualat kalau gak mau dengerin.”


“Berisik!” Tanpa sengaja buku yang ada di pangkuannya terjatuh ke bawah. Spontan saja aku menunduk bermaksud mengambilnya. Tapi saat aku mengulurkan tangan, Ren langsung menepisnya.


“Gak usah!” ketusnya.


Satu hal dari sekian banyak hal tentang Ren, selain dingin dan cuek, Ren itu sangat mandiri. Terlalu mandiri sih tepatnya. Dia jarang sekali atau mungkin tidak pernah meminta bantuan orang lain. Apa pun situasi dan kondisinya, pasti Ren berusaha untuk melakukan semua sendiri. Kadang aku berpikir betapa tidak bergunanya aku sebagai kembarannya. Maksudku, anak kembar sudah pasti saling membutuhkan, bukan? Ren memungut buku itu dengan kasar dan langsung dimasukkan ke dalam tasnya.


“Wah, mendung ini. Bentar lagi hujan.” celetuk Pak Alif. Aku langsung melihat ke langit dari kaca jendela.


“Iya, Pak. Gelap banget lagi.” timpalku.


“Kalau hujan, pasti enak makan yang anget-anget, nih. Bakso apa gorengan, gitu.” kata Pak Alif lagi tepat saat mengarahkan mobil untuk berbelok di tikungan. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aha!

__ADS_1


“Laper, Pak? Ini aku ada makanan.” Aku mengambil lunch box tadi dari tas dan mengeluarkannya. Sekilas aku melirik Ren dari ujung mataku, terlihat dia memandang penuh minat ke arahku.


“Apa itu, Mas?” tanya Pak Alif yang juga memperhatikanku dari kaca sopir.


“Ini sushi, Pak. Cobain, deh.” Aku menyodorkan lunch box itu ke arah Pak Alif. Dengan hati-hati, Pak Alif mengambil sepotong sushi lalu memakannya.


“Wah, makasih Mas.”


“Enak gak, Pak?”


“Enak banget, Mas. Emangnya beli dimana?”


“Gak beli dong, Pak. Tapi ini dikasih.” Aku lantas mengambil sepotong lalu langsung mengunyahnya.


“Hmm...Enaknya...! Sushi rasa cinta.”


“Hahaha...Ada-ada aja sih, Mas. Masa sushi rasa cinta?”


“Iya dong, Pak. Ini dibuat dengan penuh rasa cinta.” ucapku dengan ekspresi dramatis. Aku mendengar Ren menghela napas, pasti dia jadi tambah kesal sekarang.


“Emang dari siapa sih, Mas?” tanya Pak Alif penasaran.


“Dari cewek dong, Pak.”


“Cantik, Mas?”


“Banget, Pak. Asoy geboy!” Tawa Pak Alif langsung meledak mendengar jawabanku. Tapi di sebelahku, sepertinya ada emosi lain yang juga siap meledak. Ren langsung mendengus, matanya mendelik horor menatap aku dan Pak Alif bergantian.


“Kenapa, Ren? Mau?”


“Najis!” ketusnya.


“Ini tuh sushi Ren bukan najis. Enak, lho.” sanggahku.


“Iya, Mbak Ren. Enak lho.” timpal Pak Alif.


“Gak!”


“Ya udah, deh. Yakin gak mau?” godaku lagi yang langsung direspon dengan tatapan membunuhnya.


“Ya, udah. Nih Pak, kita makan berdua aja.” tawarku pada Pak Alif yang langsung mencomot dua potong sushi sekaligus. Saat itulah sebuah suara yang familiar terdengar. Sontak saja aku dan Pak Alif menoleh ke sumber suara tersebut. Seketika kami pun tertawa serentak. Karena suara tersebut adalah suara perut keroncongan Ren yang kelaparan.

__ADS_1


“Denger gak, Pak? Ada suara cacing yang lagi demo.” sindirku yang diikuti dengan tawa cekikikan Pak Alif. Ren sendiri tidak menggubris dan hanya membuang muka ke jendela. Tapi aku tahu dia pasti malu sekali.


Ren...Ren...Dalam keadaan kelaparan seperti itu pun, sikapnya tetap dingin dan cuek. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia dalam situasi mengungsi karena bencana alam, aku yakin dia pasti lebih memilih mati kelaparan dari pada berebut makanan. Andai saja Ren bisa berubah menjadi lebih santai, pasti dia akan bisa lebih menikmati masa-masa indah remajanya. Masa-masa sekolah seperti ini terlalu sayang jika disia-siakan, bukan?


__ADS_2