REX & REN

REX & REN
I'm Okay


__ADS_3

Beberapa hari setelah Rex siuman, semua mulai tampak kembali normal. Mama langsung bersujud syukur saat diberi tahu bahwa Rex sudah sadar. Dengan hati-hati, mama memeluk Rex dan menangis haru untuk beberapa saat. Papa juga terlihat lega, setidaknya rasa cemas dan beban batinnya sedikit terangkat. Tidak mau ketinggalan, Pak Alif juga tampak menangis haru sambil terus memta maaf pada Rex. Tentu saja Rex mencoba menenangkannya dengan berkata bahwa kejadian ini bukan salah Pak Alif, melainkan Rex sendiri yang ngeyel dan ceroboh. Mendengar itu Pak Alif terlihat sedikit tenang.


Sedangkan aku...


Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan perasaanku melihat Rex bangun. Satu yang pasti, aku bersyukur karena Tuhan masih menyayangi Rex.


Aku sendiri sudah mulai masuk sekolah dan mulai mengejar materi pelajaran yang tertinggal. Saat di sekolah, banyak yang menanyakan keadaan Rex padaku. Tentu saja kujawab mantap dengan berkata,


“Rex udah sadar, kok. Tinggal proses recovery aja.” Lalu mereka semua terlihat lega dan senang.


“Ren, gimana persiapan ujian Oxford kamu? Mereka jadi datang ke sini, kan?” tanya Maya sesaat sebelum pelajaran di mulai. Aku mengangguk.


“Jadi, May. Doain, ya.”


“Pasti, Ren. Aku doain semoga semuanya lancar.”


“Aamiin.”


Yah, dua hari lagi tim dari Oxford akan datang ke sini guna menggelar tes tertulis. Otomatis aku benar-benar memfokuskan diri untuk belajar karena faktanya bukan aku sendiri yang akan ujian. Aku harus bersaing dengan puluhan siswa-siswi terbaik dari sekolah lain yang ada di penjuru negeri, siswa-siswi yang juga lulus seleksi tahap awal sama sepertiku. Demi mendapatkan program beasiswa penuh menuju impianku, aku harus melakukan yang terbaik.


***


“Kapan ujiannya?”


“Dua hari lagi.”


“Persiapan kamu gimana? Apa ada yang perlu aku bantu?”


“Nggak, semuanya beres.”


Aku dan Niko sedang berada di ruang komputer. Kini dia sedang menambahkan beberapa fitur canggih di program start up yang dia buat. Aku tidak mengerti kenapa start up ini sangat penting untuk dia. Sampai-sampai untuk memikirkan masa depan setelah tamat saja Niko tidak ada waktu. Tapi kelihatannya Niko mencurahkan segala kemampuan terbaikknya untuk ini. Kurasa sama sepertiku, start up ini adalah impiannya.


“Tapi aku gugup. Gimana kalau aku gak lulus.” kataku. Niko menatapku lalu dia tampak berpikir.


“Jangan pesimis gitu. Ren yang aku kenal, gak akan pernah ngomong pesimis kayak gitu.”


“Tapi apa aja bisa terjadi, kan? Contohnya aja Rex.”


Itu benar, bukan? Segalanya bisa saja terjadi, mau baik atau pun buruk. Sama seperti Rex yang sehari sebelum kecelakaan terlihat sehat bugar tetapi beberapa jam kemudian terbaring lemah di rumah sakit.


Niko menggeleng.

__ADS_1


“Kalaupun kemungkinan terburuknya kamu gak lulus, setidaknya masih ada tahun depan.” tukasnya.


“Tahun depan? Maksudnya Aku jadi pengangguran satu tahun, gitu? No way!” kataku sambil menyilangkan tanganku membentuk huruf X.


Lalu Niko pun tertawa terbahak.


***


Sepulang sekolah aku langsung minta Pak Alif untuk diantarkan ke rumah sakit. Rex masih harus dirawat beberapa hari lagi sambil menunggu hasil pemeriksaan menyeluruh. Saat kau siuman dari koma, pastilah seluruh tubuhmu akan dicek ulang untuk mengetahui apakah ada kerusakan lainnya.


Saat sampai di depan ruang rawat Rex, papa dan mama terlihat sedang berbicara dengan dokter yang menangani Rex. Pembicaraan itu terlihat sangat serius karena mama beberapa kali menutup mulutnya dengan tangan seolah terkejut.


Akhirnya mama menoleh dan menyadari kedatanganku. Lalu dia menhampiri.


“Kamu datang, Ren. Kamu temenin Rex dulu, ya. Mama sama papa masih bicara sama dokter.” katanya.


“Ada apa, ma?”


Mama menggeleng.


“Kamu temenin Rex dulu, ya.”


Tidak ada pilihan, sepertinya mama belum ingin memberitahuku. Jadi aku hanya mengangguk lalu masuk ke kamar Rex.


Aku langsung memberikan tatapan membunuh padanya dan seperti biasa, dia hanya nyengir dengan ekspresi konyol menyebalkan.


Aku mendengus. Tapi aku sama sekali tidak marah atau kesal, malahan aku senang karena akhirnya bisa melihat Rex lagi, seperti biasanya.


“Gimana kabar kamu?” tanyaku yang masih berdiri sambil melipat tangan di dada.


“Luar biasa.” jawabnya sembari mengangkat bahu.


Tangan Rex memang masih terpasang infus, tapi semua alat-alat di hidung dan EKG-nya sudah dilepas. Keadaannya mulai stabil meski kepalanya masih dibebat perban.


“Ren, kupasin buah, dong. Pengen makan buah, nih.” rengeknya.


Aku berderap menuju meja dan mengambil buah apel.


“Bukan yang itu,” cegahnya.


“Buah pir…” lanjutnya lagi.

__ADS_1


Aku meletakkan buah apel lalu mengambil pir, tapi Rex mencicit lagi.


“Buah apelnya dikupas juga aja, deh. Aku jadi pengen juga.”


Aku meniup poniku, lalu mencoba mengatur napas sambil memantrai diri sendiri untuk menahan diri agar tidak marah.


Sabar…si menyebalkan itu masih sakit.


Sabar…


Setelah selesai, aku menyerahkan piring berisi buah yang sudah bersih. Rex sendiri sudah duduk di sandaran tempat tidur.


“Makasih ya sodara kembarku yang cantik, baik hati dan tidak jutek…” ledeknya. Aku menarik kursi lalu duduk di dekatnya.


“Kamu tuh sakit tapi masih juga ngeledek.” kataku.


“Hehe…jangan marah dong, Ren. Santai dong, ah.” ucapnya sembari memasukan potongan buah pir ke mulut.


“Santai? Rex, kamu itu koma selama tiga hari. Buat cemas kita semua, enak banget sih kamu ngomong santai.” cerocosku dengan suara bergetar. Aku teringat kembali Rex yang terbaring koma dengan semua alat medis menempel di tubuhnya. Mendadak rasa takut kehilangan itu muncul kembali.


Rex berhenti makan lalu menatapku.


“Maaf ya, Ren. Aku udah buat kalian cemas. Buat kamu cemas. Tapi, sekarang aku udah baikkan, kok. Kamu lihatkan aku udah nyebelin lagi.” Aku tergelak tapi dengan mata berkaca-kaca.


“Tapi,” kataku sambil melirik ke kakinya.


“Kamu jadi gak bisa ikut pertandingan nasional nanti, dong.” lanjutku. Rex menghela napas lalu menaikkan bahu.


“Sepertinya gitu,” jawabnya seraya manggut-manggut.


Aku tidak pernah melihat orang setegar Rex sebelumnya. Maksudku, ketika seseorang diberitahu bahwa kakinya patah, pasti biasanya orang itu akan sedih dan meronta tidak terima.


Tapi tidak dengan Rex, saat siuman, mama memberitahu bahwa kakinya dipasang pen karena cidera cukup parah. Dia tahu benar, dengan keadaannya saat ini, impiannya untuk ikut kompetisi basket nasional pupus sudah. Tapi Rex, tampak tegar dan hanya menjawab, “Ini udah risiko, Ma. Lagian ini salah Rex yang ngeyel gak mau dengerin Pak Alif waktu ngelarang Rex buat nyebrang jalan.”


Hanya itulah yang dikatakannya. Sesederhana itu.


“Eh, Ren. Berarti waktu aku koma, aku kayak Sleeping Beatuty dong, ya? Aku tetep cakep kan walau koma?” kini raut wajahnya sudah kembali jahil dan ceria. Kurasa Rex tidak mau membicarakan soal basket untuk saat ini.


Mau tidak mau aku tersenyum.


“Terserah kamu deh, Rex…”

__ADS_1


“Hah…tapikan di Sleeping Beauty dia bangun karena dicium pangeran tampan. Lah, aku kebangun karena ditangisi ikan buntal.” katanya sambil terbahak.


“Rex!”


__ADS_2