
“Go! Rexy Go! Rexy Go!”
“One! Two! Three! Rexy tunjukan pesonamu!”
Teriakan cempreng para pemandu sorak sekolah terdengar ke segala penjuru tribun penonton. Semua bangku terisi penuh dan tentu saja bisa ditebak rata-rata dihuni oleh kaum hawa. Pihak sekolah sengaja mengosongkan dua jam mata pelajaran terakhir agar para murid bisa menonton dan mendukung tim basket sekolah yang akan bertanding. Jelas saja pengmuman itu membuat girang seantero penghuni sekolah, terutama kaum hawa. Aku menoleh ke samping dan mendapati Maya sedang bertepuk tangan dengan ceria mengikuti tarian pemandu sorak di lapangan.
“May, ngapain sih kita di sini? Keluar, yuk!” Maya menoleh ke arahku.
“Kita di sini buat nonton basket. Gak apa-apa kali Ren, sekali-sekali. Lagian kamu itu harus belajar buat bersosialisasi sama yang lainnya. Jangan menyendiri terus.”
Aku hanya mendengus kesal dan tentu saja Maya sudah sibuk kembali dengan bertepuk tangan ria. Tidak ada niat sedikit pun untuk menonton pertandingan ini. Tadinya aku membayangkan akan menghabiskan waktu kosong ini di perpustakaan. Tapi Maya terus memaksa dan menyeretku hingga sampai ke tempat ini. Dan sekarang, di sinilah aku. Duduk di tengah keramaian yang membuatku merasa tidak nyaman untuk menonton pertandingan Rex yang menyebalkan.
“Tapi May, di sini rame banget. Gak nyaman rasanya.” protesku.
“Namanya juga pertandingan basket, Ren. Ya, pasti ramelah. Kalau mau yang sunyi senyap, nonton pertandingan catur.”
Aku menatap Maya dengan wajah memelas.
“Udah...kan ada aku di sini. Kamu tenang aja. Coba santai deh, nikmati pertandingannya.” lanjutnya lagi. Kalau cuma bicara sih mudah, tapi praktiknya sangat sulit buatku. Aku benar-benar merasa tidak nyaman berada di keramaian seperti ini.
Suara sempritan berbunyi dan seketika semua penonton bersorak. Sementara itu di lapangan para pemain tengah bersiap-siap. Rex dan tim sekolah kami memakai jersey berwarna biru putih sedangkan kubu lawan memakai jersey kuning putih. Wasit terlihat berdiri membawa bola di antara dua pemain yang bertindak sebagai kapten tim. Tentu saja dapat ditebak siapa kapten tim sekolah kami, Rex. Tak lama kemudian pertandingan dimulai. Rex berhasil merebut bola dan segera mengopernya ke anggota timnya yang agak kurus, kalau tidak salah namanya adalah Anton. Gemuruh penonton meledak ketika Rex terlihat kembali membawa bola dan berhasil mencetak angka pertama.
“Go! Rexy Go! Rexy Go!” Nyanyian pemandu sorak kembali terdengar dan kali ini ditambah dengan jogetan ala-ala dangdut.
“Ayo, Rex!”
“Rex hebat!”
“I love you, Rex!” Teriak para kaum hawa yang membuat telingaku hampir pekak.
“Ayo, Rex!” Aku langsung menoleh ke samping dan mendapati Maya sedang berteriak dengan semangat.
“May, yang main itu bukan cuma Rex. Itu ada Iqbal, Anton dan yang lainnya juga.” protesku. Sungguh menyebalkan dari tadi aku harus mendengar nama Rex disebut-sebut.
“Iya, sih. Tapi yang paling bersinar dan glowing itu cuma Rex.”
“Amit-amit. Glowing apanya? Itu karena dia suka pamer.”
“Tapi memang harus diakui Ren, kalau Rex itu emang keren.”
Aku memalingkan wajahku dengan jengah mendengar komentar berlebihan Maya. Sementara di lapangan terlihat Rex kembali mencetak poin. Lagi-lagi Rex! Kenapa dia serakah sekali. Harusnya dia memberi kesempatan pada yang lain untuk mencetak poin.
“Wah...itu yang nomor punggung 12, keren banget!”
__ADS_1
“Iya, cakep maksimal.”
“Calon imam idaman.”
“Kira-kira dia udah punya pacar belum, ya?”
Spontan aku dan Maya saling bertatapan mendengar pembicaraan dua orang cewek yang duduk di depan kami. Tentu saja nomor punggung 12 yang mereka bicarakan itu tidak lain tidak bukan adalah Rex. Dilihat dari seragamnya, mereka adalah pendukung tim lawan. Maya langsung cekikikan dan mengedipkan satu matanya dengan jahil. Mau apa dia?
“Ehemm...kalian lagi ngomongin pemain nomor 12, ya?” celetuk Maya sambil menepuk punggung salah satu cewek tadi dan membuat kuduanya langsung menoleh ke belakang.
“Eh, iya. Soalnya dia cakep banget.”
“Sayang, dia udah punya pacar.” Aku dan kedua cewek itu sama-sama terkejut dengan ucapan Maya.
“Beneran?” tanya mereka berbarengan seakan tidak percaya. Maya mengangguk yakin.
“Iya. Ini ceweknya.” jawab Maya sambil menunjuk ke arahku. Apa-apaan dia? Aku hanya bisa melongo seperti orang bodoh. Sedangkan Maya terlihat tersenyum puas sambil cengar-cengir.
Kedua cewek itu langsung berpandangan dan terlihat salah tingkah melihatku. Reaksi mereka membuatku juga ikut-ikut salah tingkah.
“Maaf, ya. Kami nggak tau.” jawab mereka kemudian beranjak dan pergi mencari tempat duduk lainnya.
“Apaan sih, May! Gak lucu banget.” kesalku sambil menimpuk pahanya.
“Ya, tapi kan gak gitu juga...”
“Eh, lihat itu Rex keren banget.”
Dalam situasi terjangkit virus Rex seperti ini, kurasa aku tidak akan bisa melawan Maya. Dia sudah mulai sibuk kembali mendukung Rex dengan heboh. Aku mengalihkan pandanganku ke lapangan. Melihat Rex beraksi lagi. Rex terlihat berlari, merebut dan memainkan bola hingga akhirnya dia melompat, melayang di udara untuk memasukkan bola ke keranjang. Tanpa sadar seulas senyum terukir di wajahku. Melihatnya di sana, harus diakui Rex memang tampak sangat keren. Setidaknya saat ini dia tidak terlihat menyebalkan. Ada satu kebanggaan terselip dalam hatiku, melihatnya yang bersemangat di lapangan itu, aku bangga menjadi saudara kembarnya.
***
Setelah sekian lama mencoba bertahan duduk di tengah kerumunan ini, akhirnya pertandingannya selesai juga. Tim sekolah kami dengan Rex sebagai bintangnya menang dengan skor tipis dari tim lawan. Rex terlihat sedang melakukan tos kemenangan dengan timnya diiringi sorak-sorak penonton yang terlihat sangat senang. Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung beranjak dari tempat duduk.
“May, udah selesai tuh. Ayo pulang!” ajakku.
“Okay! Let's go!”
Kami berjalan dengan sangat hati-hati melewati murid lainnya yang masih betah duduk di tribun. Aku sangat ingin cepat-cepat keluar dari sini, rasanya sangat menyesakkan. Tapi sebelum kami mencapai pintu keluar tiba-tiba seseorang memanggil.
“Hey! Tunggu!”
Aku dan Maya langsung mencari sumber suara itu dan terlihat seorang cewek dengan postur tinggi semampai bak model menghampiri kami.
__ADS_1
“Kamu Ren, kan? Saudaranya Rex?” tanyanya sembari mengibaskan rambut. Aku sendiri hanya mengangguk. Jarang sekali ada orang selain Maya yang memanggil dan sengaja mengajakku bicara seperti ini. Aku menatap sekilas ke arah Maya, sepertinya dia juga kebingungan.
“Ah, bagus. Bentar...” cewek itu terlihat merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu.
“Ini...” katanya sambil menyodorkan sebuah lunch box padaku. Hal ini makin membuatku bingung, namun aku tetap menerimanya.
“Apa ini?” tanyaku.
“Ah, itu sushi. Buatanku sendiri.” jawabnya dengan senyuman ramah.
“Wah, rezeki nomplok, Ren. Pas banget lagi laper-lapernya.” sembur Maya dengan penuh nafsu menatap lunch box di tanganku.
“Makasih, ya.” Aku tidak begitu mengenalnya tapi mungkin dia mengenalku, entahlah. Tapi yang pasti aku harus mengucapkan rasa terima kasihku padanya. Mungkin cewek ini mau mencoba berteman denganku. Memikirkan hal itu membuat hatiku jadi senang. Setelah sekian lama, akhirnya list pertemananku akan bertambah!
“Hmm...tolong sampaikan ke Rex, ya. Ini dari Vania.”
Perasaan senang yang baru saja kurasakan seketika hancur lebur.
“Rex? Oh...jadi ini buat Rex?” cicit Maya dengan nada geli. Aku yakin setelah ini Maya pasti menertawakanku habis-habisan.
“Iya. Bilangin sama Rex, ini dari Vania anak baru kelas XII B.” jawabnya, kembali dengan mengibaskan rambut.
“Kamu kan kembarannya, jadi pasti deket, dong. Tapi tenang aja, bagian kamu juga ada.” Vania membuka lunch box yang ada di tanganku.
“Ini bagian kamu, katanya bagian ujung sushi adalah bagian yang paling enak. Jadi itu boleh kok buat kamu.” lanjutnya sembari menunjuk ke potongan sushi yang dimaksud.
Teori dari mana itu? Jika memang bagian ujung sushi adalah bagian yang paling enak, kenapa tidak memberikan bagian itu pada Rex? Dasar! Bahkan anak baru seperti Vania ini juga sudah tertular virus Rex.
“Tolong, ya. Bye. Jangan lupa bilang dari Vania.” Kemudian cewek sushi bernama Vania itu pun pergi dan segera bergabung dengan gerombolan temannya yang terlihat tengah berbisik sambil cekikikan.
“Ya, kirain. Padahal udah laper banget.” celetuk Maya.
“Nih, ambil.” kusodorkan sushi itu padanya.
“Lah, inikan buat Rex. Kok dikasih ke aku, sih?”
Aku langsung berjalan meninggalkan Maya dengan perasaan kesal.
“Ren!”
“Kamu aja yang kasih, May. Aku males!”
Tanpa memperdulikan protes Maya, aku terus berjalan meninggalkan aula. Yang ada di pikiranku saat ini adalah segera pulang dan istirahat. Aku benar-benar sangat lelah lahir dan batin.
__ADS_1