REX & REN

REX & REN
Jalan Ke Inggris


__ADS_3

Akhirnya aku terpaksa memakai kamar mandi di kamar mama. Jika harus menunggu si menyebalkan Rex, bisa-bisa aku terlambat ke sekolah. Mengharapkan Rex untuk mengalah, itu bagaikan menanti salju di negara tropis. Sebenarnya aku selalu protes soal ini ke mama. Tapi coba tebak apa jawaban yang ku dapat?


“Ma, boleh gak aku punya kamar mandi sendiri?"


“Emangnya kamar mandi di atas kenapa?”


“Rex itu kalau udah di kamar mandi lama banget, Ma!”


“Ya, anggap aja itu buat ngelatih kesabaran kamu, Ren. Lagian, kita itu harus hemat air, listrik dan sabun, banyak-banyak nanti mubazir.”


Benar-benar jawaban yang sangat tidak bisa diharapkan. Bosan mendengar jawaban yang itu-itu saja membuatku tidak pernah menanyakan soal kamar mandi pribadi lagi pada mama.


Hari ini aku pergi ke sekolah seperti biasa, walaupun hampir telat. Jam pelajaran pertama kulalui dengan baik. Jam pertama adalah Fisika dan Pak Wahyu yang kebetulan adalah wali kelas kami gurunya. Aku selalu senang dengan cara mengajar Pak Wahyu, karena dia bisa menjelaskan secara rinci tentang semua rumus-rumus fisika terutama tentang terori Einstein. Tentu saja tidak semua teman sekelasku suka dengannya, maksudku dengan fisika. Maya contohnya, selalu menguap hampir setiap sepuluh menit. Jadi selama dua jam pelajaran, dia bisa menguap kira-kira di atas sepuluh kali. Dan ada juga Agung, cowok tambun yang duduk di sudut paling belakang, selalu saja ketahuan tidur. Tak jarang dia di suruh ke toilet untuk mencuci muka. Sebelum keluar kelas, Pak Wahyu memanggilku.


“Ren, coba ke sini sebentar.” kata Pak Wahyu. Maya yang duduk di dekatku langsung menatapku dengan ekspresi bertanya-tanya. Aku hanya menaikan bahuku pertanda tidak mengerti, karena aku juga tidak tahu kenapa aku dipanggil.


“Iya, Pak.” Meski ragu, aku tetap maju ke depan. Pak Wahyu melepas kacamata dan menyimpannya di kotak berwarna hijau yang di atasnya terukir tulisan optik kacamata ternama dengan tinta emas.


“Nanti setelah ini, kamu ke ruang guru, ya. Ada yang mau saya bicarakan.” jelasnya sambil beranjak dan menenteng tasnya. Aku hanya bisa mengangguk.


“Iya, Pak.” jawabku. Aku menatap punggung Pak Wahyu yang keluar melewati pintu dengan jantung berdentam. Kenapa aku dipanggil ke ruang guru?


Aku berjalan kembali menuju mejaku, di sana tentu saja sudah ada Maya dengan wajah penasarannya.


“Ren, kenapa?”


“Gak tau.”


“Kok gak tau? Tadi Pak Wahyu bilang apa?” Jujur saat ini aku merasa takut karena biasanya murid yang dipanggil ke ruang guru itu pasti murid yang bermasalah.


Seumur-umur aku baru kali ini dipanggil ke ruang guru. Apa ini artinya aku bermasalah?


“Aku disuruh ke ruang guru.” Maya langsung terkejut.


“Hah? Kenapa?”

__ADS_1


“Gak tau, May.” Aku langsung membereskan mejaku dan kemudian beranjak pergi.


“Ren, nanti ceritain, ya!” seru Maya. Tanpa menjawab apa pun aku langsung berjalan melewati koridor panjang menuju ruang guru. Beberapa murid terlihat berkeliaran di luar kelas. Ada segerombolan cewek yang duduk sambil ngerumpi. Mereka terlihat sedang makan sesuatu, apa itu cilok atau sosis? Tunggu dulu. Sepertinya aku mulai melantur. Sedang apa aku? Oh, benar...Pak Wahyu. Aku sedang berjalan ke ruang guru atas perintah Pak Wahyu.


Setelah berkutat dengan ketakutanku, akhirnya aku sampai dan duduk di hadapan Pak Wahyu. Tadinya aku agak khawatir ada masalah dengan tugasku atau apa.Tapi rupanya Pak Wahyu hanya ingin membicarakan tentang kemajuan belajarku. Dia mengatakan bahwa sebagai wali kelas, sudah seharusnya dia membimbingku dan menawarkan diri sebagai pembimbing akademisku. Tentu saja aku terima tawarannya dengan senang hati. Dia juga senang dengan nilai-nilaiku dan menanyakan apa aku mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tertentu.


“Tidak juga, Pak.” kataku sambil berpikir karena kurasa aku memang tidak mempunyai masalah dalam hampir semua mata pelajaran.


“Saya rasa, saya bisa mengikuti semuanya.” anjutku.


“Bagus. Bapak senang mendengarnya.” Pak Wahyu tampak menandatangani sesuatu.


“Lalu, apa kamu sudah memutuskan akan melanjutkan pendidikan setelah tamat?” sambungnya. Aku mengangguk yakin.


“Sudah, Pak.” Dia tampak mengangguk-anggguk mengerti.


“Dimana?”


“Oxford.” Mendengar jawabanku Pak Wahyu terlihat sedikit terkejut, tapi kemudian sebuah senyuman muncul di wajahnya. Sepertinya Pak Wahyu puas dengan jawabanku.


“Kamu masih punya waktu untuk kegiatan di luar sekolah?” Pertanyaan Pak Wahyu membuatku terdiam.


“Kegiatan di luar sekolah?”


“Iya, ekskul.” Aku hanya bisa menggeleng.


“Ada apa?” tanya Pak Wahyu heran.


“Saya tidak ikut ekskul, Pak.”


“Kenapa? Apa ada kesulitan membagi waktu?” tanyanya dengan raut serius.


“Tidak, Pak. Hanya saja, saya tidak berminat.” Itulah jawaban terbaik yang bisa kuberikan. Aku tidak mungkin mengatakan pada Pak Wahyu bahwa aku tidak nyaman jika berinteraksi dengan banyak orang dan lebih nyaman sendiri. Maksudku, aku tidak ingin Pak Wahyu sampai tahu betapa introvert nya aku karena itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan seperti halnya nilaiku.


Pak Wahyu menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke belakang.

__ADS_1


“Hmm...Begini, Ren. Saran Bapak, mungkin kamu ada baiknya mengikuti kegiatan ekskul. Ini bisa jadi nilai tambah yang bagus buat aplikasi pendaftaran kuliah kamu nanti. Biasanya kampus-kampus luar negeri itu sangat mempertimbangkan hal-hal seperti ini. Ekskul apa yang diikuti siswa semasa dia bersekolah.” katanya kemudian.


Memikirkan tentang kegiatan ekstrakurikuler membuatku resah. Aku langsung membayangkan sebuah ruangan dengan banyak siswa di dalamnya dan aku ada di tengah-tengah mereka. Oke, mungkin aku pernah melakukannya sewaktu menonton pertandingan basket Rex kemarin. Tapi itukan hanya untuk hiburan, sambil melihat Rex mencetak poin yang diiringi sorak para penonton. Kali ini situasinya berbeda. Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang mengharuskanku mengerjakan dan mempelajari sesuatu. Dan sesuatu itu tentunya harus berinteraksi dengan siswa lainnya. Memikirkannya saja sudah membuatku mual dan ingin muntah.


Aku menatap deretan kertas di mading. Beberapa saat lalu, aku mengiyakan saran Pak Wahyu untuk mencoba mengikuti salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Dan di sinilah aku, berdiri memandangi setiap tulisan yang ada dengan sejuta kabingungan tanpa bisa memutuskan apa pun. Aku melihat Maya berjalan ke arahku sambil menenteng cilok di tangannya.


“Ngapain sih Ren di sini? Dicariin dari tadi, juga.”


“Tadi Pak Wahyu manggil aku ke kantor. Ini juga baru balik.”


“Oh, iya. Ada masalah apa?” tanyanya penasaran. Aku kembali memusatkan pandanganku ke mading.


“Gak ada. Dia cuma ngomongin masalah nilai sama kuliah. Terus aku disuruh ikut ekskul.” jawabku lemah sembari mendesah lelah.


“Ekskul? Kenapa baru sekarang? Emang masalah ya kalau gak ikut? Nggak, kan?”


“Katanya itu bisa jadi nilai tambah buat aplikasi kuliahku nanti.”


“Oh, iya. Kamu kan mau ke Inggris, ya.” jawab Maya manggut-manggut seakan mengerti apa yang sedang kurasakan.


“Hmm...baiklah. Coba kita lihat, ada ekskul apa aja di sini...” Maya menekuri tulisan mading dengan jarinya.


“Ada ekskul budaya dan kesenian, tata boga, literasi, public speaking ...ini cocok nih buat kamu, Ren.” ujar Maya sambil nyengir dan tentu saja langsung mendapat pelototan maut dariku.


“Ah, ekskul komputer! Ini aja, Ren.” Aku ikut menekuri tulisan yang ditunjuk Maya.


KLUB KOMPUTER


Kurasa ekskul yang satu ini tidak begitu buruk. Mungkin ini akan cocok dengaku. Banyangan akan mimpi Oxford ku malam tadi langsung terlintas. Yah, nilai-nilaiku sudah sangat bagus, Pak Wahyu pun bilag begitu. Hanya perlu mengikuti satu kegiatan ekstrakurikuler saja, maka semuanya akan sempurna. Selama ini aku sudah berusaha dengan baik. Aku pasti bisa!


“May, kamu ikut juga, kan?” Mendengar pertanyaanku Maya langsung mendelik kaget.


“Aduh...Ren. Aku tuh gak bisa ikut-ikut ekskul ginian. Nanti vertigoku kumat.” ucap Maya sambil memegang tengkuknya.


Dasar Maya, sejak kapan dia punya vertigo? Kadang disaat-saat genting seperti ini, Maya bisa berubah menjadi teman yang tidak berkualitas. Tapi bukan masalah, aku pasti bisa melewati ini. Klub komputer ini adalah jalanku untuk ke Inggris. Yah, aku sudah membulatkan tekad.

__ADS_1


__ADS_2