REX & REN

REX & REN
Yin Dan Yang


__ADS_3

“Papa, ngumpulin semua di sini karena ada yang mau papa sampaikan.”


Itulah kata pembuka dari papa yang diucapkan dengan raut wajah serius. Kami semua sedang berkumpul di ruang rawat Rex, termasuk Pak Alif yang duduk di kursi dekat pintu. Aku sendiri duduk di sofa bersama papa. Sedangkan mama duduk di sisi tempat tidur Rex dan terlihat menggenggam tangannya erat.


“Kemarin, papa sama mama udah ngomong sama dokter.” jeda sejenak. Semua hening, menunggu papa melanjutkan.


“Hasil pemeriksaan kamu sudah keluar, Rex. Kata dokter, ada penggumpalan darah di otak kiri kamu akibat pecahnya pembuluh darah. Jadi, mereka harus melakukan tindakan operasi.” jelas papa.


Penggumpalan darah di otak?


Operasi?


Seakan belum bisa mencerna kata-kata papa, aku terus mengulang pertanyaan itu di otakku.


“Kapan Rex akan di operasi, Pa?” suara Rex terdengar memecah keheningan.


“Rencananya, kamu dijadwalin operasi minggu depan.”


“Tapi Rex bakal baik-baik aja kan, Pa? Bakalan gak kenapa-kenapa, kan?” Aku mendapati suaraku begitu emosional. Papa menoleh padaku kemudian tersenyum.


“Pasti. Makanya, Ren doain aja ya biar operasi Rex lancar.” ucap papa lembut berusaha untuk menenangkan.


Tentu saja, tanpa dimintapun aku pasti akan mendoakan Rex.


“Kemungkinan terburuknya apa, Pa?” tanya Rex.


Papa terdiam sejenak, tampak berpikir. Kemudian dia menghela napas.


“Mari kita gak usah mikirin kemungkinan terburuknya. Yang penting, Rex harus tetap optimis, tenang dan percaya sama dokter. Oke?”


Mendengar jawaban papa, refleks aku mengalihkan pandangan ke arah Rex. Mata kami saling beradu dan seketika aku tahu bahwa Rex tidak baik-baik saja.


“Oke!” kata Rex akhirnya.


Walaupun dia mengatakannya sambil tersenyum, aku tahu pasti ada banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Tergambar jelas di wajahnya, batinnya tidak tenang, Rex takut.


Mama sendiri tampak tidak berkomentar apa pun. Dia hanya menggenggam tangan Rex erat seolah memberi semangat sekaligus takut kehilangan.


***


Saat mendengar seseorang akan menjalani operasi di otak, tidak perlu diragukan lagi pasti selalu ada risiko. Meski papa tidak mau mengatakan risiko terburuknya, aku tahu bahwa dokter pasti sudah memberitahunya dan papa tidak tega untuk mengatakannya pada kami. Aku juga yakin Rex pasti punya pemikiran yang sama denganku. Maksudku, kita bicara tentang otak yang di dalamnya terdapat bermilyar-milyar sel saraf yang saling terhubung yang tentunya rentan akan risiko.


Hari ini aku yang menjaga Rex karena mama harus pulang untuk mengurus rumah. Jadi, sambil membawa laptop dan bukuku, aku duduk di sofa berkonsentrasi belajar. Karena besok aku akan menghadapi ujian penting.


Rex sendiri duduk di ranjang sambil memainkan smartphone. Infus di tangannya juga sudah dilepas karena Rex sudah bisa makan banyak yang membuat asupan tenaganya cepat pulih.


“Ren,” panggilnya tiba-tiba. Aku mendongak, mengalihkan pandangan dari laptop ke arah Rex.


“Apa? Kamu mau ke kamar mandi?”


Rex menggeleng.


“Kamu lagi ngapain?”


“Belajar, buat persiapan ujian besok.”


“Oh, ujian Oxford-nya besok?”


Aku mengangguk.


“Iya.”


Kemudian hening. Rex tampak tertunduk sejenak lalu kembali menatapku dengan ceria.

__ADS_1


“Semoga berhasil ya, Ren. Aku akan doain kamu supaya dapat nilai tertinggi.” katanya dengan senyum mengembang. Tapi aku tahu ada sesuatu yang salah dengannya.


Aku berdiri, berjalan menghampiri Rex. Lalu aku duduk di sisi ranjangnya.


“Jangan takut. Aku pasti nemenin kamu dari kamu masuk ruang operasi sampe nanti kamu keluar dari ruang operasi. Aku janji.” ucapku sambil menggenggam erat tangannya. Rex tidak mengatakan apapun. Tapi kurasakan genggaman tangannya semakin erat dan aku tahu Rex sangat membutuhkan dukunganku.


***


Jadi, inilah saat yang kutunggu-tunggu. Aku mematut diri di cermin, kuperhatikan penampilanku dari ujung kaki hingga kepala, semua terlihat rapi. Ujian seleksi tahap kedua dimulai hari ini dan aku sudah mempersiapkan diri dengan baik.


“Ren, you can do it! Trust me, you can do it!” gumamku pada pantulan cermin.


Kupejamkan mata, berdoa dalam hati lalu aku membuka mataku. Dengan satu tarikan napas mantap, aku berbalik keluar dari kamar.


Aku menuruni tangga dan di bawah sudah ada mama yang menungguku.


“Ren,” kata mama yang tengah merentangkan tangannya untuk memelukku.


“Mama, doain semoga kamu berhasil ya, Nak.” bisiknya di telingaku saat kami berpelukan.


“Makasih, Ma.” Aku memejamkan mata, menikmati hangatnya pelukan mama yang otomatis menjadi suntikan semangat buatku.


“Apa pun hasilnya, kamu harus tau, kalau mama bangga banget sama kamu.” tukas mama saat melepas pelukannya. Aku mengangguk.


“Pak Alif udah nunggu di mobil.”


“Iya, Ma.”


Mama mengantarku ke depan pintu.


“Ren pergi dulu ya, Ma.


“Iya, Nak. Hati-hati.”


“Kita pergi sekarang, Mbak?” tanyanya.


“Iya, Pak.”


Aku masuk dan mobil pun meluncur menyusuri jalanan di hari yang cerah ini, membawaku selangkah lebih dekat untuk meraih impian.


Setelah berkendara cukup lama akhirnya kami sampai di parkiran sebuah hotel ternama. Tim dari Oxford sengaja menyewa ball room hotel tempat mereka menginap ini untuk seleksi ujian. Tampaknya mereka memilih cara yang efisien.


Pak Alif memarkirkan mobil dan aku pun keluar setelah mesin mobil dimatikan. Pak Alif pun ikut keluar untuk mengantarku. Kami berjalan dari parkiran menuju pintu masuk hotel.


“Mbak Ren, semoga berhasil ya, Mbak.” ucapnya dengan tulus.


“Iya, Pak. Makasih, ya.”


“Nanti, kalau udah selesai, Mbak Ren telpon aja ke bapak. Biar bapak jeput.”


“Iya, Pak.”


Pak Alif menghela napas.


“Kalau gitu, bapak permisi dulu ya, Mbak.”


Aku mengangguk.


Tapi belum sempat Pak Alif pergi, ponselnya tiba-tiba nerdering nyaring.


“Halo, Pak.” sahutnya begitu mengangkat telepon.


“Oh, iya. Saya segera ke sana. Iya Pak, Mbak Ren udah sampe.” kata Pak Alif dengan nada panik.

__ADS_1


Tentu saja hal itu langsung mengundang rasa penasarannku.


“Siapa yang telpon, Pak?” tanyaku.


Pak Alif tampak kebingungan.


“Anu, Mbak…”


“Anu apa?”


“Barusan Bapak yang telpon.”


“Papa? Kenapa?”


“Anu…”


“Anu apa, Pak!” Aku sedikit meninggikan intonasi suaraku melihat Pak Alif yang berbelit-belit.


“Mas Rex bentar lagi mau masuk ruang operasi. Jadi bapak disuruh cepat balik ke rumah sakit.”


Jantungku mencolos. Rex masuk ruang operasi?


“T-tapi, op-erasinyakan minggu depan.” ucapku terbatah.


Pak Alif menggeleng.


“Gak tau, Mbak. Bapak tadi cuma bilang gitu.”


Seketika aku merasakan hantaman yang menyakitkan di hati dan otakku. Aku memandang nanar pintu kaca hotel di hadapanku, pintu penghubung ke Oxford. Pintu penghubung impianku.


Tapi…


“Jangan takut. Aku pasti nemenin kamu dari kamu masuk ruang operasi sampe nanti kamu keluar dari ruang operasi. Aku janji.”


Kata-kata itu langsung terngiang di otakku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku pilih, Oxford atau Rex? Haruskah aku memilih?


Seketika kakiku terasa kaku dan sulit untuk melangkah.


***


“Rex!” Aku berlari sambil berteriak di sepanjang lorong menuju ruang operasi.


Terlihat beberapa suster tengah mendorong rempat tidur Rex, papa dan mama juga ikut.


“Tunggu!” Mendengar teriakanku mereka berhenti. Aku mempercepat lariku dan langsung memeluk Rex yang tengah terbaring.


“Aku di sini, Rex. Aku di sini.” bisikku.


“Ren? Kok, kamu bisa? Oxford?” tanya Rex bingung. Aku melepas pelukanku dan menatapnya.


“Oxford bisa nunggu tahun depan.” kataku yang sudah berlinang air mata.


Mata Rex tampak berkaca-kaca, lalu dia berkata, “Kamu bodoh banget sih, Ren. Kamu nyia-nyiain kesempatan di depan mata tau gak? Kamu nyia-nyiain impian kamu…” kini Rex mulai ikut terisak.


Aku menggeleng.


“Seperti Yin dan Yang. Rex tanpa Ren, gak akan lengkap.” Rex tampak tersenyum tapi air matanya juga tetap keluar. Aku menunduk dan menggenggam tangannya.


“Aku akan nunggu kamu di sini. Jadi, kamu harus janji, kamu akan keluar dari ruang operasi itu dengan selamat. Oke?”


Rex mengangguk.


“Baiklah, sudah cukup, ya.” kata seorang suster yang kemudian kembali mendorong Rex.

__ADS_1


Tangan kami perlahan terlepas. Kami terus saling menatap sampai akhirnya Rex menghilang di balik pintu ruang operasi.


__ADS_2