
“Maya Septiani!” panggil Pak Wahyu yang sedang mengabsen. Tapi nama yang dipanggil tidak menyahut.
“Nggak hadir, Pak!” Akhirnya seseorang menjawab.
“Ada yang tahu kenapa Maya tidak hadir?” tanya Pak Wahyu lagi. Semua hanya diam dan beberapa anak terlihat menggeleng.
“Ren?” Pak Wahyu akhirnya bertanya padaku karena dia tahu bahwa Maya adalah teman dekatku. Tapi saat ini aku tidak bisa memberikan jawaban seperti yang Pak Wahyu mau.
“Tidak, Pak.” kataku. Kemudian Pak Wahyu tampak bergumam dan lanjut mengabsen murid lainnya.
Aku memandang ke samping, mendapati meja Maya yang kosong. Ini sudah hari kedua Maya tidak masuk sekolah tanpa keterangan apa pun. Bukannya aku tidak berusaha mencari tahu, percayalah aku sudah melakukannya. Berulang kali aku mencoba menelepon nomornya tapi aku hanya disambut suara operator yang mengatakan bahwa nomor Maya tidak aktif. Tidak biasanya dia seperti ini, kalau pun dia tidak masuk sekolah, biasanya Maya selalu memintaku untuk menuliskan surat izin, entah itu sakit atau pergi.
Terakhir aku bertemu dengannya dua hari lalu dan memang Maya terlihat murung. Beberapa kali kuboca membicarakan sesuatu, dia hanya menimpali dengan, ‘ya, oh...dan hmm...’ sebagai jawaban. Saat aku bertanya apa dia baik-baik saja, Maya menjawab bahwa dia baik-baik saja sembari tersenyum. Kukira dia sedang PMS atau apa jadi aku tidak bertanya lebih lanjut. Tapi nyatanya dua hari sudah dia absen. Sebenarnya ada apa dengan Maya?
Aku berjalan gontai menuju klub komputer. Ini pertama kalinya aku datang lagi ke sini sejak kejadian B minus tempo hari. Walaupun ragu, tapi aku tetap memaksakan diri. Memang aku belum sepenuhnya lupa tentang nilai buruk itu, bahkan saat pelajaran Biologi semalam, tanganku langsung berkeringat dan jantungku berdetak kencang.
Tapi aku mencoba mensugesti diri sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja. Lagi pula aku juga tidak ingin membuat keluargaku khawatir lagi, seperti yang Rex bilang. Yah, walaupun dia menyebalkan tapi aku menghargai usahanya untuk bicara terbuka padaku. Sekarang kupikir punya kembaran seperti Rex tidak rugi-rugi amat. Jadi inilah yang sedang aku lakukan, memulai kembali hidupku dan mulai melupakan B minus pelan-pelan. Aku tidak tahu sampai kapan, tapi aku yakin aku pasti bisa!
Aku sampai di klub komputer dan langsung disambut oleh Rudy.
“Loh, masih hidup, Ren?” sapanya saat aku membuka pintu dan masuk. Rudy sedang menempelkan sebuah poster tentang rumus-rumus (yang aku tidak tahu apa gunanya) di dinding. Aku tidak meperdulikan ocehannya dan langsung duduk di tempat biasa.
“Dari mana aja sih, Ren. Bolos gak ngasih kabar, udah kayak Putra sama Abi aja.” celetuk Ferdi. Mendengar itu darahku langsung berdesir, lalu aku menoleh ke arahnya.
“Abi gak masuk juga?” tanyaku dengan mulut menganga.
“Iya, sekarang juga mungkin dia gak masuk lagi.” kata Ferdi. Semangatku langsung merosot dan aku menyandarkan punggung ke belakang.
“Emang dia gak ada bilang sama kamu?” tanyaya lagi. Aku hanya mendesah lemah sambil menggeleng.
“Sebenarnya kamu ke sini tuh buat belajar atau cuma nyariin Abi?” sela Niko dengan nada sinisnya. Aku melirik dan mendapati dia tengah memandangku tajam. Apa-apaan sih dia itu? Aku tidak memperdulikannya, biarlah dia mau membenciku seperti apa, aku tidak peduli!
__ADS_1
Aku memijit dahiku yang sekarang mulai terasa pening. Abi tidak masuk klub komputer tanpa kabar. Kemungkinan hari ini juga dia tidak datang. Apa sih yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang ini? Abi, Maya, aku benar-benar tidak mengerti!
***
Aku berbaring di tempat tidur dengan bantal menutupi wajahku. Aku masih terngiang-ngiang peristiwa hari ini. Kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan tentang Maya dan Abi. Sekarang di rumah hanya ada aku dan Rex. Orang tuaku sedang pergi menghadiri pesta peresmian kantor klien papa dan kemungkinan baru pulang malam hari. Sedangkan Rex, seperti biasa bermain drum-nya layaknya orang kesetanan. Entah lagu apa yang coba dia mainkan, iramanya tidak beraturan, lama-lama gendang telingaku bisa pecah! Tapi saat ini aku merasa tidak punya cukup energi untuk protes ke kamarnya, jadi kubiarkan saja.
Saat aku mulai merasakan kantuk, tiba-tiba pintu kamarku terbuka.
“Ren!” seru Rex. Sial! Bisa nggak sih satu hari aja Rex itu gak ganggu?
“Bisa gak Rex kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu.” gerutuku tanpa merubah posisiku. Aku terlalu malas untuk melawan Rex sekarang.
“Kayaknya kamu mesti ganti baju deh sekarang.” katanya.
Apa katanya? Aku menyingkirkan bantal di wajahku untuk menatapnya. Rex berdiri di ambang pintu sedang memegang smartphone.
“Kamu mabok apa gimana? Kesurupan setan drum? Kenapa aku harus ganti baju? Baju aku masih normal-normal aja, Rex!” kesalku. Kenapa juga dia tiba-tiba masuk ke kamarku terus ngurusin bajuku? Dasar absurd! Rex tampak menggeleng.
“Kamu ganti baju sekarang, kita ke rumah Maya.” ucapnya.
“Maya? Kenapa?” Rex menghela napas panjang.
“Maya kemalangan, Bapaknya meninggal.”
Aku bisa merasakan mulutku melongo tanpa mengatakan apa pun. Berita ini terlalu mengejutkan dan aku tidak tahu harus merespon seperti apa. Bahkan otakku yang tadinya sesak dengan berbagai macam hal, seketika blank.
“Ren? Ren! Kok malah bengong, sih. Ayo cepetan ganti baju!” perintah Rex.
“Oh, iya...iya...” jawabku gelagapan. Secepat kilat aku langsung mengambil pakaian di lemari. Rex sendiri sudah masuk ke kamarnya.
Setelah selesai, aku bergegas turun menuju parkiran. Mobil memang terparkir di sana tapi tak tampak Pak Alif dimana pun. Aku langsung menepok jidatku sendiri teringat sesuatu, ‘Pak Alif kan lagi sopirin papa sama mama sekarang.’
__ADS_1
Bagaimana ini?
Aku mengambil smartphone dan membuka aplikasi uber. Tak lama kemudian Rex datang menuju mobil dan membuka pintu kemudinya.
“Ayo, naik!” serunya.
Apa? Dia bercanda, kan?
“Nggak! Aku naik taksi, aja!”
“Ya udah, terserah. Tapi biasanya taksi paling cepet itu setengah jam baru dateng.” katanya.
Rex melengos dan langsung naik. Sial! Aku tidak punya pilihan lain, jadi aku terpaksa naik juga. Maksudku, apa Rex bisa nyetir?
Mobil pun melaju, aku naik di kursi depan di samping Rex. Saat aku naik tadi, aku bersumpah melihat dia tersenyum mengejek. Dasar!
“Dari mana kamu tau kalau Maya kemalangan?” tanyaku penasaran.
“Dari grup.”
“Grup?”
“Iya.”
“Oh, Rexylicious. Grup gak penting!” kataku sambil manggut-manggut. Yah, pasti yang dimaksud Rex grup para pemujanya itu.
“Tapi berguna juga, kan?” sindirnya.
Aku meperhatikan Rex yang terlihat mahir mengemudi. Bagaimana bisa?
“Sejak kapan kamu bisa nyetir?” tanyaku.
__ADS_1
“Ck...ck...banyak yang belum kamu tau tentang aku, Ren.” ucapnya dramatis sembari mengedipkan sebelah matanya.
Iihh...najis!