REX & REN

REX & REN
The Worst Things


__ADS_3

Sepulang sekolah aku langsung mengerjakan tugas makalah Biologi tentang siklus hidup Plasmodium. Aku sangat berkonsentrasi mengetik kata demi kata di laptopku. Aku tidak mau mengulangi nilai B minus lagi, kalian tentu ingat aku pernah dapat B minus di Biologi.


Ketika aku telah sampai di lembaran kedua, sebuah notifikasi muncul, memberitahukanku ada e-mail baru. Ketika kulihat pengirimnya adalah kantor penerimaan Oxford, kupikir informasinya hanyalah tentang berkas tambahan pendaftaran. Maksudku, aku memang sudah mendaftarkan aplikasi kuliahku minggu lalu dan hasil penerimaan yang tertera di website baru akan diumumkan bulan depan. Jadi, aku sama sekali tidak curiga.


Tapi ketika aku mengklik e-mail itu, jantungku serasa berhenti mendadak. Secara garis besar isinya adalah: 1) mereka sudah membuat keputusan untuk mahasiswa yang diterima melalui tahap awal, 2) aku termasuk di antaranya, 3) aku mendapat program beasiswa penuh, dan 4) aku harus memberikan konfirmasi dan bersedia mengikuti tes tertulis bulan depan.


Mulutku menganga seakan tidak percaya dengan apa yang kubaca barusan. Jadi aku coba membacanya berulang dan mengamati namaku yang tertera di sana selama beberapa menit.


Reny Aulia Chandra


Yah, tidak salah lagi, namaku ada dalam daftar lulus. Aku tidak percaya ini! Aku diterima! Ini tiketku untuk selagkah lagi menuju Oxford, selangkah lagi menuju impianku.


***


Aku tidak bisa menyembunyikan wajah gembiraku saat makan malam. Berita bagus ini harus kubagi dengan keluargaku. Kalau perlu seluruh dunia.


“Ma, Ren ada berita bagus!”


“Aku punya berita bagus!”


Rex dan aku berkata hampir bersamaan. Kami saling memandang satu sama lain, keheranan. Maksudku, bagaimana bisa kami bicara berbarengan seperti ini? Tapi apa katanya, dia juga punya berita bagus?


“Cie…mentang-mentang kembar, ngomongnya jadi barengan gitu.” canda mama.


“Ya, udah. Siapa dulu yang ngomong?” ujar papa.


Aku dan Rex masih saling mentap, sama-sama menilai satu sama lain. Tapi kemudian, dia menghela napas dan berkata, “Ya, udah. Kamu duluan, deh.” Akhirnya dia mengalah.


Senyumku langsung tersungging lalu menatap mama dan papa.


“Ma, Pa, aku tadi aku dapat e-mail dari Oxford.” Berhenti sejenak untuk membuat suasan dramatis. Papa dan mama saling pandang.


“Terus?” kata mama.


“Terus… aku diterima!” seruku.


“Wah, yang bener, Ren?” tanya mama dengan mata terbelalak. Akupun mengangguk mantap.


“Selamat ya, Ren.” kata papa kemudian.


“Makasih, Pa.”


“Wah, mesti dirayain, nih.” timpal mama sambil bertepuk tangan.


“Nanti aja ma kalau Ren uda bener-bener sah keterima. Ren baru lulus tahap pertama mesti ikut ujian bulan depan.”


“Tapi tetep aja, kamu uda berhasil.”


“Eheemm…” sela Rex dengan dehaman panjang.


“Ah, iya, masih ada Rex. Oke, sekarang giliran kamu.” kata mama.


“Iya dong, Ma. Bukan cuma Ren aja yang punya berita bagus.” ujarnya.


“Iya, apa berita bagusnya?” tanya papa.


Rex menegakkan punggung sambil berpose ala raja yang bijaksana.

__ADS_1


“Aku kepilih jadi pemain sekaligus kapten tim basket buat ikut kompetisi basket SMA tingkat nasional.” katanya.


Mama langsung bersorak.


“Wah, Rex hebat. Selamat ya, Nak.” ucap mama.


“Oh, ya. Kali ini pertandingan beneran. Ada pialanya. Ada hadiahnya juga.” lanjutnya lagi dengan penuh penekanan yang jelas-jelas perkataannya itu ditujukan untuk menyindirku. Yah, kalian ingatkan waktu itu Rex hanya melakoni pertandingan persahabatan walaupun menang dengan skor tipis.


“Wah, kayaknya hari ini semua happy. Papa, bangga sama kalian berdua.” ucap papa dengan tulus. Mama sendiri sudah terlihat berkaca-kaca, terharu melihat kami.


Lagi, seperti ada ikatan batin yang sangat kuat, aku dan Rex saling menatap.


“Lumayan.” kataku.


“Kamu, juga. Not bad.” balasnya.


Kemudian kami sama-sama tersenyum. Meski sering tidak akur, tapi aku yakin kami beruda saling mendukung dan sama-sama ingin mendapatkan yang terbaik.


***


Saat aku memberitahukan Maya dan Vania meraka ikut senang juga sedih.


“Yah, kalau kamu beneran kuliah di sana, kita bakalan gak ketemu lagi, dong.” ucap Vania. Kini ombre rambutnya diganti warna merah darah.


“Pokoknya kalau kamu kuliah nanti, kamu jangan lupain kita ya, Ren. Harus sering-sering video call, titik.” ancam Maya.


“Tapi ini masih tahap pertama, kok. Belum resmi juga, aku mesti ikut tes lagi nanti.” kataku.


Maya menggeleng.


Aku hampir saja menangis karena haru. Betapa bersyukurnya aku punya teman-teman yang sangat luar biasa. Mereka selalu ada dan mendukungku dalam suka maupun duka.


Respon yang sama juga kuterima saat memberitahukan Pak Wahyu. Matanya langsung berkaca-kaca dan berkata, “Selamat ya, Ren. Bapak bangga banget sama kamu. Akhirnya, bapak punya murid yang bisa dijadikan panutan buat adik kelas kamu nanti.”


“Iya, Pak. Makasih. Semua ini juga berkat bantuan bapak. Ren juga merasa terhormat dan bangga banget bisa jadi murid bapak.” kataku yang langsung mendapat pelukan haru darinya.


Jadi, setelah memberitahu mereka, aku masih harus memberitahu satu orang lagi, seseorang yang tak kalah spesial.


Niko sedang membersihkan komputernya ketika aku sampai.


“Hai,” sapaku.


“Eh, hai.”


“Aku punya kabar bagus.” kataku yang tidak sabar lagi ingin memberitahunya. Alis Niko terangkat sembari tersenyum.


“Oh, ya? Apa?”


Aku berdeham untuk memberikan efek dramatis.


“Aku lulus!” seruku.


“Lulus?”


“Iya, Oxford!”


“Serius?” tanya Niko tak percaya, matanya terbelalak. Aku mengangguk.

__ADS_1


“Wow! Selamat ya, Ren. Kamu hebat!” pujinya yang langsung membuatku terbang ke langit ketujuh.


“Yah, sebenrnya baru tahap awal, sih. Bulan depan pihak perwakilan Oxford datang ke sini dan aku wajib ikut tes tertulis lagi.”


Niko menggeleng. “Tapi, untuk tahap awal, ini udah bagus banget, kan? Istilahnya, sebelah kaki kamu udah nginjek Oxford. Aku yakin, ujian nanti, kamu pasti lulus.”


“Aamiin…”


Niko tampak kembali sibuk dengan komputernya, kali ini dia membersihkan sela-sela keyboard dengan kuas.


“Terus, kamu gimana?” tanyaku. Niko menatapku bingung.


“Gimana apanya?”


“Kenapa kamu gak ikut aku aja ke Oxford. Masih ada waktu buat daftar, kok. Aku yakin, dengan otak komputer kamu, pasti kamu lulus, Nik. Kamu bisa ambil jurusan IT.” cerocos dengan penuh harap. Yah, aku sangat berharap kami bisa terus bersama nanti, bahkan saat kuliah.


Dia tersenyum sembari menghela napas.


“Aku kan udah bilang, aku belum kepikiran. Aku masih penasaran buat nyempuranin start up yang kubuat.”


“Seenggaknya, kamu pertimbangan lagi apa yang aku bilang.”


“Oke.” jawabnya tersenyum.


***


Hari berganti dengan cepat dan waktu tidak bisa dihentikan. Pernahkah kalian berpikir bahwa hidupmu sempurna. Merasa semua yang terjadi dalam hidupmu memang seperti seharusnya. Sesuai dengan rencana dan keinginanmu. Pernahkah kau berpikir seperti itu? Jika iya, percayalah itu semua hanya trik alam semesta untuk membuat kita terlena dan terbuai. Seperti lagu Nina Bobo yang dilantunkan merdu hingga kita tertidur lelap. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Pada dasarnya tidak ada yang sempurna di dunia ini.


Kabar itu datang saat aku dan mama sedang asik menonton serial The Outsider di ruang tv. Saat tokoh utamannya sedang berlari karena dikejar-kejar entitas misterius, telepon rumah kami berdering. Mama segera bangkit dan mengangkatnya.


“Halo?” Suara mama terdengar lembut.


“Apa?” Mulai ada intonasi tinggi.


“Ya Tuhan! Dimana?” Kali ini suara mama terdengar panik dan membuatku langsung menoleh.


Ada apa?


“Iya, baik. Kami segera ke sana.”


Mama berjalan panik ke arahku.


“Kenapa, Ma?”


“Ren, kamu cepet ganti baju sekarang.”


“Kenapa?”


“Kamu tolong ambil beberapa potong baju Rex. Mama mau pesen taksi.”


“Emang kenapa, Ma!” teriakku karena dari tadi mama tidak menjawab dan hanya modar mandir panik. Kini air matanya merembes di pipi.


“Rex,” Mama berhenti sejenak sembari mengusap air mata.


“Kata Pak Alif, Rex kecelakaan.”


Jantungku serasa berhenti berdetak. Teridam beberapa saat sebelum akhirnya mama menyadarkaanku. Aku lari secepat yang kubisa, naik ke kamar dan memasukkan beberapa potong pakaian Rex ke dalam tas. Tak ada hal lain yang terpikir di otakku saat ini, selain Rex, Rex dan Rex.

__ADS_1


__ADS_2