
Aku berjalan seperti orang linglung saat keluar dari ruang komputer. Pikiranku bercabang babang sekarang, yang tadinya emosi karena ulah Abi, kini berganti dengan...entah bagaimana menjelaskannya tapi aku sangat bingung. Apa maksud semua ini?
Sambil terus berpikir, aku menyeret kakiku hingga sampai di parkiran. Di sana sudah ada Rex dan Pak Alif menunggu.
“Lama banget sih, Ren? Dari mana aja, sih?” protes Rex. Aku sendiri tidak menanggapi dan langsung ngeloyor masuk mobil.
Setelah Rex masuk, Pak Alif pun langsung tancap gas. Tapi Rex sepertinya tidak puas dengan kediamanku.
“Ren, kamu kenapa, sih? Kesambet?”
Aku tetap mengabaikannya dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Tanpa sadar aku mengelus dagu, mencoba memahami situasi.
“Ren! Woy!” sentak Rex dan seketika membuatku terlonjak kaget.
“Apaan sih, Rex!”
“Kamu itu yang apaan, dari tadi di ajak ngomong diem aja.”
Aku hanya nyengir karena memang itu salahku yang tidak mendengar Rex. Tapi sebenarnya bukan sepenuhnya salahku, ini salah Niko juga yang sekarang memenuhi pikiranku.
Rex hanya menggeleng sambil berdecak. Kemudian dia mengarahkan pandangan ke luar jendela. Mungkin tidak ada salahnya kalau aku bertanya pada Rex, maksudku, aku ingin tahu bagaimana pendapatnya.
“Rex,” panggilku.
“Apaan...” jawabnya dengan nada malas tanpa menoleh. Aku membasahi bibirku dengan ludah, entah mengapa tiba-tiba mereka menjadi kering.
“Bisa gak seseorang jatuh cinta lagi?” tanyaku hati-hati. Berusaha sekeras mungkin agar tidak terlalu mencolok.
“Ya, bisalah.” jawabnya asal. Tapi detik berikutnya, Rex langsung menatapku dengan mata terbelalak, persis seperti pemeran antagonis sinetron di tv.
“A-pa?” kataku gugup.
Rex menyipitkan matanya.
“Jangan bilang kamu baikan lagi sama si berengsek itu,” katanya dengan nada geram.
Sambil menggeleng, reflek, aku menyilangkan kedua tanganku membentuk huruf X
“Nggak!”
Tidak mungkin, never!
Rex manggut-manggut tapi tetap menatapku curiga. Kurasa ini bukan ide yang baik untuk bertanya padanya sekarang.
“Udah, lupain aja! Lagian aku cuma nanya asal karena tadi aku baru baca novel.” kataku senormal mungkin untuk menghindar dari Rex.
Kembali, responnya hanya manggut-manggut tapi kini ada senyum tipis di wajahnya. Senyuman licik! Kemudian Rex kembali memandang ke luar jendela. Aku yakin seratus persen, otaknya sekarang sedang menyimpulkan teori-teori tidak masuk akal tentangku, pasti.
***
Oke, supaya kalian tidak bertambah bingung, mari kita kembali melihat apa yang terjadi beberapa saat lalu di ruang komputer.
“Boleh aku ngomong sesuatu?” tanya Niko.
Apa? Apa yang mau dia bicarakan? Tiba-tiba saja kurasakan jantungku berdegup kencang. Oh Tuhan...
Akhirnya aku berdeham beberapa kali untuk menenangkan diri.
“Apa?”
__ADS_1
“Sebenernya masalah ini tuh gak semestinya pelik kayak gini,” Aku bingung dengan perkataan Niko hingga tanpa sadar alisku bertaut.
“Pelik?” Niko mengangguk. Oh, kurasa aku tahu akan kemana arah pembicaraan ini.
“Antara kamu sama Abi.” jawabnya.
Sudah kuduga!
“Kayaknya itu buka urusan kamu, deh.” sindirku. Karena memang itu faktanya, maksudku, masalahku dan Abi tidak ada sangkut pautnya dengan Niko. Jadi kenapa juga dia repot-repot ngurusin urusan orang?
“Memang iya, tapi aku cuma mau bilang, kalau Abi itu gak sepenuhnya salah.”
Mendengar itu aku langsung tertawa. Aku menyandarkan punggung, melipat kedua tanganku di dada sambil menatapnya.
“Memang udah hukum alam, kalau sesama temen itu harus saling membela.” sinisku.
Niko tersenyum kemudian menghela napas.
“Aku juga gak bilang kalau kamu salah, kamu juga gak sepenuhnya salah, kok.” jeda sejenak, kemudian Niko melanjutkan.
“Coba kamu pikirin baik-baik, apa salah kalau Abi gak suka sama kamu terus kamu ditolak? Apa salah juga, kalau kamu suka sama dia? Enggak, kan?”
Apa-apaan sih dia! Tanpa peduli dengan ekspresiku yang aku yakin saat ini tergambar jelas di wajahku, kesal. Dengan santai Niko melanjutkan.
“Sebenernya Abi itu orangnya baik, cuma caranya aja yang salah. Kurasa, dia juga bingung harus bersikap gimana buat nanggepin perasaan kamu ke dia.”
“Udah, deh gak usah bertele-tele. Sebenernya maksud kamu apa ngomong gini? Kalau cuma mau bikin aku tambah kesel, mendingan kamu stop sekarang.” semprotku.
“Intinya, aku gak mau gara-gara ini, klub komputer jadi kacau.” tukasnya.
“Oh...jadi maksud kamu aku bikin kacau, gitu?”
“Tapi yang kamu maksud itu, kan?”
“Enggak.”
Bisa kurasakan hidungku kembang kempis menahan emosi. Anak ini benar-benar! Aku tidak menyangka bahwa Niko yang biasanya terlihat pendiam dan sinis ternyata cerewet alias banyak omong!
“Tapi, ngomong-ngomong, aku salut sama aksi kamu waktu nendang kakinya. Untuk ukuran orang yang patah hati karena ditolak, kamu cukup berani.”
Mulutku langsung menganga mendengar ucapannya. Tidakkah si Niko ini peka kalau aku benar-benar di zona merah emosi sekarang? Ibarat bom, aku ini sudah siap meledak. Tapi dengan santainya, dia bicara seperti itu. Seolah itu bukan masalah buatku. Cukup, aku sudah lelah untuk berdebat. Akhirnya aku mengalihkan pandangan ke layar komputerku yang masih terpampang chatbot-ku.
“Tapi,”
“Apa lagi?”potongku sebelum Niko menyelesaikan ocehannya. Demi Tuhan, tidak bisakah dia diam dan pergi meninggalkanku?
“Kamu bisa gak sih gak emosi?” protesnya.
Kenapa dia yang protes? Harusnya orang yang panatas protes itu aku karena dari tadi dibully secara verbal! Aku hanya mendengus, bodoh amat!
Tapi tampaknya, Niko masih mau berkicau.
“Aku jadi bertanya-tanya, kenapa kamu mau gabung di klub komputer?"
“Kenapa gak?” jawabku sinis sembari memberikan tatapan paling tajam yang kupunya. Niko menggidikkan bahu.
“Entahlah, kelihatannya kamu bukan tipe orang yang tertarik dengan komputer.”
“Oh...jadi maksud kamu, hanya orang-orang yang tau seluk beluk komputer seperti kamu yang pantas masuk ke sini, gitu?” balasku dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Apa sekarang dia mau berlagak sombong mentang-metang dia jenius komputer? Dia pikir hanya dia yang jenius di sini? Tunggu sampai aku memperlihatkan bagaimana cara memecahkan dua puluh soal matematika dalam waktu lima menit.
“Aku nggak bilang gitu. Cuma biasanya, orang yang masuk tiba-tiba keluar dari zona nyamannya, pasti punya tujuan tertentu. Iya, kan?”
Lidahku langsung keluh mendengar kata ‘tujuan' diucapkan. Benar, memang tujuan awalku ke sini bukan untuk terlibat dalam situasi kacau seperti sekarang. Tapi karena impianku, Oxford. Aku berdeham beberapa kali sebelum menjawab.
“Aku ke sini, untuk dapetin nilai tambah buat aplikasi kuliah di Oxford nanti.” kataku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku mengatakan ini pada Niko. Hanya saja, aku merasa perlu karena aku tidak mau dia berpikir kalau aku ke sini semata-mata hanya untuk mengejar cinta Abi.
“Hmm...i see,” gumamnya sambil mengangguk.
“Biasanya, buat kuliah di luar butuh surat rekomendasi, kan?” sambungnya.
Aku langsung menegakkan punggung dan menatapnya serius. Maksudku, Niko tahu juga soal mekanisme kuliah di luar negeri, apa dia berencana untuk kuliah di luar juga?
“Iya, minimal dua.” kataku. Dia tampak berpikir.
“Kalau kamu mau, aku bisa minta Pak Surya buat nulis surat rekomendasi yang bagus buat kamu.”
Kembali, kurasakan mulutku menganga.
“Pak Surya?” kataku yang terdengar seperti orang bodoh. Niko hanya mengangguk. Pak Surya adalah guru kimia yang ditakuti semua siswa di sekolah dan termasuk golongan guru super killer. Pernah suatu kali, dia menghukum hampir separuh siswa di kelas, berdiri di lapangan selama dua jam pelajaran, karena tidak siap PR. Sampai ada yang pingsan dan sesudahnya mereka semua mengaku kapok.
“Kenapa?” tanyaku curiga. Siapa tahu kan Niko ini hanya mau ngerjain aku?
“Aku cuma mau bantu kamu, kok.” jawabnya sembari mengangkat bahu. Kuperhatikan wajah Niko, tidak ada tanda-tanda bercanda di sana. Apa itu artinya dia serius dengan omongannya barusan? Kalau itu benar, aku bakalan jadi orang yang sangat beruntung! Karena selain guru super killer yang disegani, Pak Surya itu juga lumayan terkenal di kalangan praktisi pendidikan, lulusan luar negeri pula.
“Oke, jadi, chatbot kamu, mau dikasih nama apa?” tanya Niko yang kelihatannya ingin menyudahi pembicaraan tentang Pak Surya.
Aku menatap layar kkomputeku sambil mengerutkan dahi.
“Emang, harus dikasih nama?”
“Iya.”
“Misalnya?”
“Terserah kamu, yang penting harus simple, mudah diingat dan punya makna.”
Aku tercenung, nama apa yang harus kuberikan? Ketika aku memikirkan nama-nama ilmuan favoritku, tiba-tiba aku punya ide. Aku menuliskan sebuah kata dengan huruf kapital di sana dan Niko langsung tertawa melihatnya.
“Ini beneran, mau kamu kasih nama ini?” Aku menaikan alisku sambil tersenyum puas.
“Iya, kayak yang kamu bilang, simple, mudah diingat dan punya makna yang dalam.”
Aku memilih kata itu untuk mewakili perasaanku atas semua kejadian kacau yang sudah kualami beberapa hari belakangan ini. Termasuk juga chatbot ini, yang notabene ada campur tangan Abi di dalamnya.
S H I T
Kurasa itu nama yang cocok.
“Dari pada ini, lebih baik diganti dengan nama...ini.”
Niko mengatakan itu sambil mengetikkan nama baru dan menghapus SHIT tadi.
Mataku terbelalak melihat layar komputer.
L O V E
Itulah yang dia tulis. Aku melirik ke arahnya dan makin kaget ketika mendapati Niko sedang menatapku sambil tersenyum manis. Seakan berkata, ‘Lihatlah senyuman mempesonaku ini.’ Dan tanpa sadar, mulutku menganga untuk kesekian kali plus senyum Niko yang otomatis lengket di otakku.
__ADS_1
Oh Tuhan... Apa yang sedang terjadi?