REX & REN

REX & REN
The Worst Things II


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit, ternyata papa dan Pak Alif sudah ada di sana. Menunggu dengan cemas di depan ruang IGD.


“Gimana, Rex?” tanya mama panik. Papa langsung memeluk mama dan spontan isak tangis mama terdengar.


“Sstt…sabar, Ma. Rex masih ditangani dokter di dalam.” ucap papa seraya menenangkan.


Aku menatap nanar pintu ruang IGD itu. Di sana, Rex ada di dalam sana dan aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang para medis lakukan padanya. Apa dia baik-baik saja? Apa dia sedang kesakitan sekarang? Tanpa sadar air mataku mengalir, aku menggigit bibir bawahku berusaha menelan isakan tangisku sendiri.


“Ren?” Papa melihatku lalu dia menghampiri dan menenggelamkan wajahku di dadanya.


Pertahananku runtuh, aku menangis sejadi-jadinya. Kakiku mati rasa dan badanku sedikit limbung. Tapi papa dengan sigap menopang tubuhku.


Setelah menangis cukup lama dalam pelukan papa, kami semua kemudian duduk di bangku yang di sediakan.


“Saya bener-bener minta maaf ya, Bu. Saya memang gak becus.” kata Pak Alif pada mama yang entah sudah berapa puluh kali diucapkannya. Wajah Pak Alif juga kelihat kucel dengan mata merah sehabis menangis.


“Udah, Pak. Pak Alif gak perlu minta maaf. Namanya musibah, gak bisa juga dihindari. Pak Alif udah bawa Rex ke rumah sakit aja, saya terima kasih banget.”


“Iya, Bu. Tapi saya bener-bener minta maaf, Bu.”


Menurut cerita Pak Alif, Rex tertabrak mobil yang meluncur kencang serta ugal-ugalan saat sedang menyebrang. Rex berniat membeli pizza untuk aku dan mama tapi karena macet jadi dia lebih memilih jalan pintas, yaitu menyebrang. Namun nahas, mobil itu menabraknya hingga terpental beberapa meter sebelum akhirnya terkapar di atas aspal.


Aku tidak henti-hentinya merutuki perbuatannya itu. Sejak kapan kami minta dibelikan pizza? Kenapa dia harus bersusah payah menyebrang jalan hanya untuk membeli pizza? Apa dia tidak tahu zaman sekarang apa pun bisa dibeli dari rumah, cukup menggunakan jari.


Hampir satu jam lebih di IGD akhirnya seorang dokter keluar. Dokter paruh baya itu tampak membuka maskernya. Seketika kami semua berdiri, menunggu apa pun itu yang akan dikatakannya.


“Anda keluarga Rexy Adhitya Chandra?” katanya. Kami semua otomatis mengangguk tapi hanya papa yang menyahut.


“Ya, Dok. Saya papanya.” Dokter itu mengangguk sekilas.


“Begini, saat ini Rexy,”


“Rex!” potongku yang membuat semua menatapku. “Panggilannya Rex.”

__ADS_1


Dokter itu mengangguk kemudian tersenyum.


“Oh, maksudnya Rex. Saat ini masih dalam kondisi kritis. Kakinya cidera cukup parah, jadi kami harus memasang pen di kakinya.” jelas dokter itu.


“Ya, ampun, Rex…” keluh mama sambil memijit kepalanya.


“Ada luka-luka dan memar di tubuhnya. Kepalanya juga cidera, tapi kali belum menindak lanjuti karena kondisinya tidak stabil.”


“Tapi dia akan baik-baik saja kan, Dok?” tanya papa dengan nada cemas. Tentu saja mewakili semua kecemasan kami di sini.


“Mudah-mudahan ya, Pak. Kami mengusahakan yang terbaik.” ucap dokter itu dengan nada selembut mungkin. Kelihatannya itu salah satu kode etik seorang dokter yang harus bisa bersikap tenang agar tidak membuat panik keluarga pasien. Jelas, dokter ini melakukannya dengan baik.


“Tapi saat ini, kebetulan kami kehabisan stok darah golongan O dan…”


“Aku!” seruku sambil mengankat tangan. Suaraku terdengar begitu nyaring hingga sedikit menggema di lorong IGD.


“Aku kembarannya, Dok. Ambil aja darahku. Aku juga O.” tegasku berusaha meyakinkan sebelum dokter itu berubah pikiran. Dokter itu diam sejenak tampak berpikir.


Lalu dia berkata, “Baiklah, sebentar...”


“Nah, Dik. Sekarang kamu ikut suster ini ya buat donor darah.” katanya.


Aku mengangguk mantap tanpa berkata apa pun.


“Ayo,” ajak suster tersebut. Tapi tiba-tiba, mama menarik lenganku. Aku menoleh heran.


“Ren, makasih, ya.” ucap mama yang terlihat kembali menangis. Otomatis aku mengusap air mata di pipinya.


“Ini udah jadi tanggung jawab Ren, Ma. Gimanapun, Rex itu kembaran Ren. Kalau dia sakit, Ren juga ngerasa sakit.” kataku yang kini juga ikut meneteskan air mata. Lalu mama memelukku erat sembari mencium pipiku.


Suster membawaku ke sebuah ruangan khusus. Di ruangan itu terdapat banyak lemari pendingin yang berfungsi untuk menjaga kantung-kantung darah supaya tidak rusak. Tapi di antara semua kantung-kantung darah itu tidak satu pun terdapat darah yang dibutuhkan Rex.


Jadi di sinilah aku, berbaring dengan tangan terpasang jarum dan selang yang mengalirkan darahku ke sebuah kantung untuk diberikan pada Rex nanti. Untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


“Setelah ini kamu pasti akan ngerasa pusing, jadi kamu harus istirahat sebentar, ya.” jelas suster itu yang kini tengah melepas jarum di tanganku.


“Udah, Sus?” tanyaku.


“Iya. Udah selesai.” jawabnya sambil membersihkan bekas jarum dan menempelkan plester.


“Suster,” panggilku.


“Ya?”


“Kalau Rex butuh darah lagi, ambil aja punyaku lagi.” kataku. Suster itu tersenyum lembut.


“Iya. Tapi sekarang, ini udah cukup.” tukasnya kemudian pergi.


Aku masih berbaring menatap langit-langit. Kemudian kupejamkan mataku. Jangankan darah, bahkan jika Rex butuh ginjal, aku akan memberikan satu punyaku untuknya.


***


Beberapa jam setelah dokter melakukan transfusi darah dan tindakan medis lainnya, Rex akhirnya bisa melewati masa kritis. Kondisinya mulai stabil dan sudah bisa dipindahkan dari IGD ke ruang rawat biasa tapi tetap dipantau secara intensif. Papa meminta satu kamar VIP agar Rex dan kami semua yang menunggui atau menjenguknya merasa nyaman.


Di ruang rawat, Rex terbaring lemah. Hidung dan mulutnya dipasang selang yang terhubung dengan tabung oksigen. Dadanya dipasang alat yang tersambung dengan elektrokardiogram (EKG) sebuah alat pendeteksi detak jantung. Kepalanya tampak diperban, sepertinya mengalami cidera serius.


Bukan tanpa alasan semua alat medis itu dipasang di tubuhnya. Dokter mengatakan bahawa Rex memang sudah melewati masa kritis tapi dia belum sadar alias koma. Kenyataan itu membuat kami semua masih diliputi rasa cemas. Terutama mama yang sedari tadi duduk di samping Rex sambil memegang tangannya.


Mama tak henti-hentinya memanjatkan doa hingga beberapa kali suara isakannya terdengar. Papa sendiri duduk di sofa panjang, mencoba memejamkan matanya. Tapi aku tahu, papa hanya berusaha tampak tegar agar aku dan mama juga bisa tegar.


“Mbak, Ren.” lirih Pak Alif yang masih setia menemani. Aku menoleh dan mendapati wajah lelahnya yang terlihat memelas.


“Maafin bapak, ya…”


Aku menggeleng.


“Gak, Pak. Ini bukan salah Pak Alif. Kita juga gak nyangka ini bakalan terjadi.” Pak Alif menutup wajahnya dengan tangan, begitu tampak menyesal.

__ADS_1


Aku sendiri, sedikitpun tidak menyalahkan Pak Alif. Ini takdir dan memang seperti inilah keadaanya dan kami mau tidak mau harus menerima. Saling menyalahkan juga tidak ada gunanya karena yang terpenting sekarang adalah Rex bisa bangun lagi.


__ADS_2