REX & REN

REX & REN
Patah Hati Pertama


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu sejak insiden pemukulan itu. Entah apa yang ada di otak Rex hingga berbuat tindakan memalukan seperti itu. Sampai sekarang aku masih belum tahu alasan Rex memukul Abi. Setiap kali kutanya kenapa, dia hanya hanya menjawab, ‘karena dia berengsek.‘


Atas dasar apa dia mengatakan bahwa Abi berengsek? Apa selama ini dia tahu bahwa Abi sangat baik padaku? Apa dia tahu bahwa Abi selalu membantuku? Apa Rex tahu kalau aku suka padanya? Rex selalu saja bersikap seakan dia tahu segalanya, tapi nyatanya dia tidak tahu apa-apa. Menyebalkan!


Aku sedang duduk di pantry sambil membentuk adonan kue menjadi bola-bola dan menggulingkannya ke dalam mangkuk berisi kayu manis dan gula. Kue snickerdoodle ini kubuat sebagai permintaan maaf ke Abi atas perbuatan Rex. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengabaikan hal itu begitu saja. Maksudku, aku benar-benar tidak enak hati, semua tahu kalau Rex adalah saudara kembarku.


Tadinya aku ingin membuat cup cakes, tapi menurutku itu terlalu biasa. Alahasil, setelah melihat-lihat buku resep mama, pilihanku jatuh pada snickedoodle, kue kering yang dibuat dari adonan tepung, gula dan mentega, yang kemudian dilapisi tepung gula dan kayu manis. Yah, sepertinya ini cocok dan aku berharap manisnya taburan gula di kue ini bisa membuat Abi merasa lebih baik.


“Wah, lagi ngapain, Ren?” tanya mama yang datang tiba-tiba entah dari mana. Mama terlihat membawa papper bag, kurasa dia habis belanja.


“Buat kue, Ma.”


“Kue? Kue apa?” tanya mama yang sekarang sedang menyusun belanjaan di kulkas.


“Snickerdoodle.” jawabku semangat.


“Hmm...perlu bantuan?” tawar mama yang kini sudah ada di sampingku. Aku menggeleng.


“Nggak, Ma. Ren bisa, kok.”


“Emang buat siapa kuenya?” Aku menghela napas panjang, tiba-tiba rasa kesal menghampiri, sebelum akhirnya menjawab.


“Buat minta maaf ma ke temen Ren yang dihajar Rex kemaren.” Mama mendesah lelah kemudian mengangguk. Aku yakin mama juga masih kesal, sama sepertiku.


“Ya, udah. Lanjutkan, good luck!” katanya kemudian pergi.


Lihatkan, Rex itu memang biang kerok, bikin susah semua orang. Aku teringat waktu dia menasihatiku dulu setelah tragedi B minus, tenyata dia juga sama saja. Bahkan lebih buruk sampai memukul orang. Jadi, kurasa aku menarik kembali kata-kataku yang pernah bilang kalau punya kembaran seperti Rex itu tidak buruk. Faktanya, super buruk!


Ketika aku hampir selesai, tiba-tiba Rex muncul. Dia berdiri di depanku, menatapku dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Lihat apa?” ketusku. Rex mendengus sembari tersenyum kecut.


“Aku cuma mau ambil minum.” Kuabaikan saja dia, terserah mau melakukan apa. Tak tahan, akhirnya aku juga melirik ke arahnya yang sedang membuka kulkas.


“Harusnya kamu tuh minta maafnya ke Pak Alif yang udah kamu bentak kemaren. Bukan sama cowok berengsek itu!” ucapnya dengan nada emosi plus memberi penekanan saat menyebut ‘cowok berengsek.’


“Aku gak mau ribut sekarang. Jadi, karena kamu gak guna di sini, mendingan kamu pergi dan jangan ganggu aku.” balasku tak kalah tajam. Rex langsung melengos pergi. Yah, pergilah sana, kalau perlu pergi ke kutub utara sekalian.


***


Kue snickerdoodle bertabur gula yang kubuat semalam, kumasukan ke dalam kotak kubus yang dihias dengan pita merah membentuk simpul cantik. Tidak lupa juga aku menuliskan kata ‘Apologize’ di kartu kecil berbentuk kepala boneka panda yang kuletakkan di dalamnya.


Jadi, ketika Abi membukanya akan langsung disambut dengan permintaan maaf. Yah, itu akan sempurna. Hari ini sudah lewat tiga hari sejak hukuman skorsing Rex, dan itu artinya Abi pasti juga sudah masuk sekolah lagi.


Aku mengeluarkan kotak kue itu dari dalam tas dan tentu saja menarik perhatian Maya.


“Mau dikasih sekarang, Ren?” tanyanya.

__ADS_1


“Iya, May. Tapi aku kok gugup, ya?”


Tadi pagi aku memang sudah memberitahu Maya soal rencanaku ini. Dan dia juga mendukung, Maya bilang dia juga sangat kecewa dengan tindakan Rex.


“Mau aku temenin?” tawar Maya. Lihatkan, betapa beruntungnya aku punya sahabat seperti Maya yang selalu bisa diandalkan. Aku langsung mengangguk senang.


“Oke!”


***


Kami berjalan menuju klub komputer, karena sebelumya aku bertemu Ferdi di kantin dan dia bilang kemungkinan Abi datang ke klub hari ini.


“Kira-kira dia mau terima ini gak ya, May?”


“Pasti, Ren. Udah, santai, jangan gugup...” kata Maya mencoba menenangkanku dan aku sangat berterima kasih akan hal itu karena memang ini yang kubutuhkan sekarang.


Kami hampir sampai, tapi sayup-sayup terdengar seseorang sedang bicara dengan suara yang lumayan keras dan itu asalnya dari dalam ruang komputer. Siapa yang bicara dengan suara menggelegar seperti toak itu? Rudy? Ada masalah apa?


Kami sudah ada di depan ruangan dan tanganku hendak mendorong pintu, tapi seketika terhenti.


“...coba bayangin, salahnya dimana? Itu si Rex kesetanan apa gimana?”


Aku mendengar suara Abi. Ternyata dia yang sedang bicara.


“Ren...” Maya menegurku pelan dan aku memberi kode dengan tanganku agar dia diam dulu. Sepertinya masih ada pembicaraan lain di dalam sana yang harus kudengar.


“Cuma gara-gara sodaranya si Ren itu nulis surat cinta absurd ke aku dan aku sama sekali gak suka sama dia, terus dia ngamuk?” lanjut Abi.


“Ngata-ngatain gimana? Itu emang kenyataan, kan? Kamu aja yang gak tau isi suratnya, kuno, absurd, lebay, semuanya ada. Lagian, Ren itu baperan banget. Aku cuma coba bersikap baik aja sama dia, tapi malah dia salah ngartiin. Aku tuh emang gak suka sama tipe cewek model gituan, bikin muak, baperan.”


“Terus, suratnya masih kamu simpan?” tanya seseorang yang sepertinya itu suara Doni.


“Najis, buat apa? Begitu dia kasih, baca lima menit, langsung aku buang ke got.” jawab Abi kemudian terdengar suara tawa.


“Mereka berdua itu sama aja anehnya. Yang satu tukang jagal, yang satu absud baper maksimal, kombinasi yang cocok buat jadi anak kembar.” sambungnya.


Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku sekarang. Yang jelas, seluruh tubuhku gemetaran, kotak kue yang kupegang sedikit penyok karena cengkraman tanganku. Tujuan awalku membuat kue ini bukan untuk mendengar semua ini! Bukan? Tapi kenapa?


“Ren...” Maya menyentuh bahuku.


“Kayaknya lebih baik kita pergi aja, ya.” bisik Maya. Aku yakin Maya juga mendengar semuanya.


Ya Tuhan...Kenapa?


Tanpa sadar pipiku sudah basah dan air mataku menetes, jatuh di atas kotak kue yang kupegang. Aku mati rasa. Tidak bisa berpikir dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kakiku juga rasanya berat untuk melangkah. Aku tidak bisa bergerak. Kenapa aku merasakan sakit di dadaku? Rasanya sangat menyesakkan.


Kurasakan tubuhku berputar, ternyata Maya sedang merangkulku untuk berbalik.

__ADS_1


“Udah ya, Ren. Jangan nangis, mendingan kita pergi aja dari sini. Kamu tenangin diri dulu.”


Tenang? Bagaimana aku bisa tenang setelah mendengar semua itu? Bahkan aku sudah susah payah membuat snickerdoodle dengan banyak gula ini. Aku memandang nanar kotak kue yang ada di tanganku. Snickerdoodle dengan ucapan maaf di dalamnya. Maaf?


Tidak!


“Nggak, May.” tukasku sambil melepaskan rangkulan Maya.


“Ren?” Aku bisa melihat raut wajah khawatir Maya. Dia pasti takut aku akan melakukan hal yang gegabah. Dan, yah, aku memang akan melakukannya!


Aku memutar tubuhku, mengusap air mata, lalu dengan sekuat tenaga mendorong pintu itu.


“Ren! Jangan!” seru Maya dan aku tidak peduli.


Ketika aku masuk, semua yang ada di ruangan itu terdiam. Mereka tampak terkejut dan saling pandang. Pastilah bukan kedatanganku yang mereka harapkan. Tentu saja mereka tidak menyangka, tertangkap basah sedang menceritakanku dari belakang.


Aku mengedarkan pandangan, mereka semua di sana kecuali Putra dan Ferdi.


“Oh, Rr-en...” cicit Doni terbatah.


Aku langsung memberikan tatapan membunuh pada Doni saat kulihat dia akan mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia langsung menunduk.


Pandanganku lalu terkunci pada sang aktor utama, Abi, yang sedang berdiri di tengah ruangan. Rudy sendiri ternyata sudah mundur teratur, bergabung dengan Doni.


Dasar pengecut!


Sekilas kulihat Niko duduk di tempatnya, hanya bedanya kali ini dia tidak sibuk dengan komputer.


Aku berderap menuju ke tempat Abi dengan langkah panjang dan tegas. Abi sendiri terlihat menegakkan punggung, seolah bersiap menghadapiku. Aku bisa melihat masih ada bekas luka di wajahnya.


“Dasar pengecut! Asal kamu tau, kamu itu gak keren-keren amat!” kataku.


Kemudian entah mendapat kekuatan gaib dari mana, aku menendang kaki Abi sekuat tenaga hingga dia terduduk di lantai dan mengaduh kesakitan.


“Aarrgghhh...” erangnya sambil memegangi kakinya.


“Kamu tarik lagi kata-kata kamu tentang Rex. Dia itu seribu kali lebih baik dari pada kamu, dia gak pengecut kayak kamu!” kataku emosi dengan penuh penekanan.


Saat napasku terengah-engah dan emosiku makin tak terkendali, aku berbalik hendak pergi, aku sudah tidak tahan, tapi aku teringat sesuatu.


“Ah!” Kulemparkan kotak kue yang kupegang ke Abi hingga semua isinya berserakan di lantai. Seketika bajunya kotor dipenuhi bubuk gula dan kayu manis.


“Selamat makan!” ucapku kemudian berbalik.


Aku bisa melihat semua yang ada di ruangan itu melongo menatapku, kecuali Niko, aku bersumpah melihatnya menatapku dengan sebuah senyum tersungging di bibirnya.


Begitu keluar, air mataku tumpah kembali, rasa sakit di dadaku menyerang lagi. Aku berjalan gontai dan tiba-tiba Rex sudah berdiri di depanku. Kulihat ada Maya juga di belakangnya, sepertinya Maya tadi pergi memanggil Rex.

__ADS_1


Rex menghampiriku, tapi tidak, aku tidak mau bicara apa pun sekarang. Terlebih saat sedang menangis seperti ini. Aku benar-benar terlihat kacau. Tanpa memperdulikan Rex, aku terus berjalan tapi dia menarik lenganku. Aku mencoba melepasnya dengan kasar, kemudian berjalan beberapa langkah, tapi aku tidak sanggup. Aku pun berhenti, menutup wajahku dengan tangan tapi tidak berhasil menghentikan air mata ini.


Aku berbalik menghadap Rex dan langsung membenamkan wajahku di dadanya. Aku menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua emosiku. Rex tidak bicara apa pun, dia hanya menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Aku tidak tahu entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku hanya bisa menangis sambil bertanya-tanya, kenapa rasanya sesakit ini?


__ADS_2