
Saat bangun besok paginya, aku lebih letih dibanding sebelum tidur. Belum lagi memikirkan hal-hal yang harus kulakukan: pertama aku harus bangkit dari tempat tidur lalu mandi, kemudian berpakaian, setelah itu masih ada hari yang panjang di sekolah. Memikirkan itu semua membuat kepalaku tiba-tiba pening. Aku memijit dahiku perlahan, berusaha menghalau rasa pening itu.
Jadi inilah yang aku lakukan, berbaring di tempat tidur dan kembali memandangi langit-langit sambil berpikir. Ingatan tentang B minus tidak sepenuhnya hilang dari otakku meski pun aku sudah menghidung lebih dari seribu domba. Bagaimana aku bisa dapat B minus? Dimana salahnya? Pertanyaan itu terus saja berputar di otakku bagai kaset usang. Tapi tetap saja, aku tidak menemukan jawabannya dan itu membuatku sangat frustrasi.
“Ren? Kamu udah bangun?” panggil mama dari luar sembari mengetuk pintu. Tak lama kemudian mama masuk ke kamarku.
“Ren?” ucap mama lagi ketika mendapatiku masih berbaring di tempat tidur. Aku hanya menggumam untuk memberi respon. Bahkan untuk sekadar menjawab mama saja aku tidak mampu.
“Ren, kamu kenapa? Sakit?”
“Nggak, Ma.” jawabku akhirnya dengan suara lemah.
“Terus kenapa masih tiduran? Udah jam berapa ini? Nanti kamu telat loh ke sekolah.” ujar mama. Aku hanya mengerang malas.
“Cepat siap-siap, Ren.” perintah mama. Aku bangkit dari tidur dan kemudian duduk.
“Ma, hari ini, Ren gak usah sekolah aja, ya?” kataku. Mama tampak menaikan sebelah alisnya.
“Kenapa?”
Kenapa? Apa mama tidak mengerti? Bagaimana aku bisa masuk sekolah dengan nilai B minus yang menghantui? Apa yang harus aku katakan jika ada teman sekelasku atau orang lain yang bertanya, ‘kenapa kamu bisa dapat B minus?’ Sementara aku sendiri tidak tahu jawabannya!
“Ren malu, Ma...” kataku akhirnya.
“Malu kenapa?”
Kurasakan mataku mulai panas dan detik berikutnya aku menutup wajahku dengan tangan mencoba membendung air mata yang keluar.
“Loh, Ren. Kenapa nangis?” Kurasakan mama duduk di sampingku dan tangannya memelukku. Aku tidak bisa lagi menahan air mataku lalu terisak.
“Ren, kenapa? Cerita dong sama mama...” kata mama lagi sambil mengelus-elus punggungku dengan lembut. Aku mencoba mengontrol tangis dan mengusap air mataku.
“Pasti Rex udah cerita kan ke mama soal nilai B minus-ku?” Aku menatap mama dan ia hanya mengangguk.
__ADS_1
“Terus, apa masalahnya?”
“Masalah dong, Ma. Itu B minus, Ma. B minus! Ren malu ke sekolah dengan nilai B minus. Apa kata temen-temen Ren nanti? Mereka pasti mikir kalau Ren ini sebenarnya bodoh!”
Mama hanya menatapku sambil tersenyum menampilkan lesung pipinya. Aku memang menyukai lesung pipi mama, tapi saat ini lesung pipi itu terlihat sangat menyebalkan.
“B minus bukan berarti semuanya berakhir, kan?” katanya. Aku langsung membelalakkan mataku. Kenapa mama dengan mudah mengatakan itu? B minus itu bencana!
“B minus itu buruk, Ma. Gimana nanti kalau B minus itu mempengaruhi nilaiku yang lain? Gimana kalau nanti aku dapat nilai B minus untuk semua mata pelajaran?” ucapku penuh emosi. Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi! Mungkin aku akan pindah ke planet Mars agar tidak ada orang yang tahu kalau itu benar-benar terjadi.
“Itukan bisa diperbaiki, Ren.”
“Ma...Oxford nggak akan terima nilai B minus, Ma!” rengekku.
“Untuk itu Ren harus berusaha lebih baik lagi. Fokus belajar lagi, mama yakin semua pasti akan baik-baik aja.”
Apanya yang baik-baik saja? Bicara memang gampang tapi kenyataannya aku belum bisa menerimanya! Bukan maksudku menyalahkan nasihat mama, memang sudah sewarjanya mama sebagai orang tua memberi dukungan moril saat anaknya kesusahan. Tapi entahlah...bayang-bayang B minus itu belum hilang.
“Lagi pula, Rex kelihatan santai aja tuh walau nilainya gak stabil.” lanjut mama lagi.
“Kalo dia sih, gak mikirin masa depan, Ma. Jadi santai aja meski dapat nilai C sekali pun,” kesalku. Mama langsung terkikik geli.
“Semua orang pasti mikirin masa depan, Ren. Cuma dengan cara yang beda-beda. Rex dengan caranya sendiri, kamu punya cara sendiri. Tapi pada dasarnya, tujuannya sama.” jelas mama. Aku hanya diam tidak merespon apa pun karena yang dikatakan mama memang benar.
“Sekarang, kamu bangun dan siap-siap.”
“Tapi, Ma...”
“Oxford juga gak akan terima anak yang bolos sekolah, kan?” Aku tidak bisa membantah apa pun lagi saat mendengar kata-kata mama. Bayangan tentang Oxford langsung terlintas di pikiranku.
“Oke?” Aku mengangguk kemudian mama mencium keningku sebelum beranjak. Mama berjalan keluar kamar tapi tiba-tiba dia berbalik lalu melongok.
“Tapi, ngomong-ngomong semalam itu sweet moment banget, ya?”
__ADS_1
“Sweet moment?”
“Iya, Rex gendong kamu sampe rumah. Itu sweet bangeeet...”
“Mama!” Mama hanya cekikikan kemudian pergi.
Benar, semalam Rex menggendongku sampai rumah. Dia juga rela membiarkan bajunya basah karena air mataku. Dia juga tidak bersikap menyebalkan. Aku menyibak selimut dan memandangi luka di lututku yang mulai mengering. Kurasa sebagai anak kembar, Rex juga merasakan apa yang aku rasakan.
***
Andai aku bisa merangkak ke sebuah lubang dan tinggal di dalamnya dengan nyaman, lalu menghabiskan sisa hidupku di sana, yah, itulah yang akan aku lakukan. Sesampainya di sekolah aku seperti merasa insecure. Menoleh kanan kiri kalau-kalau ada seseorang yang bertanya tentang B minusku. Aku menghela napas lega ketika melihat Maya berjalan.
“May!” panggilku. Maya menoleh dan melambaikan tangannya. Aku berlari segera menghampirinya. Walau pun aku dapat B minus, setidaknya aku masih punya Maya yang selalu mengerti aku.
“Hai, Ren.” sapanya begitu aku sampai. Aku mengangguk meresponnya.
“Sebenernya aku males banget masuk hari ini.” keluhku.
“Kenapa?”
“Ya, nggak semangat aja.”
“Oh, soal nilai B itu?” tebak Maya. Lihatkan, Maya memang sahabat terbaikku.
“Ya udah kali, Ren. Nggak usah di pikirin banget.” lajutnya.
“Nggak bisa, May! Seumur-umur aku nggak pernah dikasih B minus. Bahkan sampe kebawa mimpi tau gak?” cerocosku.
Maya hanya mendesah sembari menggidikkan bahu. Kenapa dengan responnya itu? Aku memperhatikan Maya dari atas sampai bawah, kelihatannya dia baik-baik saja. Tapi aku baru sadar ketika melihat raut wajahnya yang entahlah...sedikit lelah. Maya juga terlihat lebih pendiam.
“May, kamu kenapa? Sakit?” tanyaku khawatir.
Karena sikap seperti ini bukan Maya banget!
__ADS_1
“Nggak apa-apa kok, Ren. Cuma lagi nggak semangat aja, sama kayak kamu.” jelasnya sambil tersenyum.