REX & REN

REX & REN
Trouble Maker


__ADS_3

Tiga hari pasca kemalangan Maya, akhirnya dia kembali masuk sekolah. Walau masih dalam suasana berkabung, tapi aku senang melihat keadaan Maya yang mulai membaik. Terbukti dengan senyuman ceria yang ditampilkannya, walau tidak sering, tapi aku tahu Maya mencoba ikhlas dan tegar.


Aku sendiri juga sudah berangsur melupakan tragedi B minus, meski kadang-kadang masih teringat, tapi tidak sering. Sama seperti Maya, aku juga mencoba ikhlas menerimanya.


“Kayaknya aku harus diskusi lagi deh sama Pak Wahyu soal Oxford.”


“Loh, kenapa?”


“Sekarang aku jadi kurang pede May buat daftarin aplikasi kuliah di sana.”


“Kok gitu sih, Ren?” tanya Maya bingung.


Kami sedang di ruang kelas sambil melihat-lihat beberapa brosur universitas yang dibagikan. Menjelang tahun terakhir seperti ini, banyak alumni sekolah yang datang untuk mempromosikan kampus-kampus tempat mereka belajar sekarang.


“Ren, itukan impian kamu buat masuk ke sana. Kok sekarang kamu jadi nyerah gini sih, cuma gara-gara nilai B.” lanjut Maya. Aku hanya menggidikkan bahu.


Yah, sejak tragedi B minus waktu itu, aku jadi memikirkan ulang semua rencana masa depanku, termasuk Oxford. Entahlah, kepercayaan diriku sedikit berkurang. Aku takut bagaimana kalau nanti setelah Oxford menerimaku, ternyata di sana aku dapat nilai B minus? Pasti mereka akan mengira aku tidak sepintar itu, atau bahkan yang paling buruk mereka akan mengira bahwa aku ini sebenarnya penipu, memanipulasi nilai yang tercantum di ijazahku.


“Pokoknya, kamu harus masuk ke Oxford, Ren. Kamu harus janji sama aku, kamu harus berjuang masuk ke sana terus lulus jadi orang sukses.” ucap Maya seraya menatapku sungguh-sungguh. Aku hanya mengangguk, meski di dalam hati aku ragu. Aku hanya tidak ingin membuat Maya kecewa, karena saat ini dia terlihat begitu percaya padaku.


“Good!” serunya riang.


“May, kamu yakin kamu gak mau lanjut kuliah?” tanyaku. Maya terdiam sejenak, kemudian kembali tersenyum.


“Aku nitip kehidupan kuliah sama kamu aja, ya. Jadi, kamu harus lakuin yang terbaik, Ren.” jawabnya.


Meski Maya menjawab dengan senyum, tapi aku bisa melihat kesedihan di matanya. Pasti sangat sulit bagi Maya menyerahkan mimpinya karena keadaan. Jika aku berada di posisi Maya, belum tentu aku bisa seperti dia.


“May, kalau kamu butuh bantuan, apa pun itu, kamu bilang ya sama aku. Jangan segan-segan, kamu bilang aja sama aku. Oke?” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan tentang kuliah. Aku tidak ingin menambah beban kesedihan Maya. Tapi, aku memang sungguh-sungguh dengan perkataanku barusan, aku akan sebisa mungkin membantu Maya jika dia membutuhkan.


“Makasih ya, Ren.” jawabnya.


***


Jam istirahat kedua berakhir dan sekarang kami sedang memperhatikan Pak Basir tengah menulis contoh soal matematika. Tak lama kemudian, Bu Ambar, guru BP, terlihat mengetuk pintu. Sontak saja membuat semua mata tertuju padanya dengan ekspresi bertanya-tanya termasuk aku. Untuk apa Bu Ambar kemari? Siapa murid yang bermasalah kali ini?


Pak Basir menghampiri dan tampak mereka membicarakan sesuatu. Dilihat dari raut wajah keduanya, sepertinya masalah serius. Setelah selesai berbicara, Pak Basir kembali tapi bukan untuk melanjutkan pelajarannya.


“Ren, kamu ikut Bu Ambar sekarang, ya.”


Jatungku serasa berhenti untuk sesaat. Ada apa lagi ini?


“I-ya...Pak,” jawabku terbatah. Perlahan aku beranjak, bisa kudengar sayup-sayup beberapa anak berbisik-bisik. Pasti mereka sedang membicarakanku!


“Oh, ya...sekalian aja bawa tas kamu.” kata Pak Basir lagi.


Apa? Kenapa? Apa aku di keluarkan dari sekolah? Apa salahku? Apa karena B minus itu? Suara bisik-bisik tadi kini berubah menjadi gaduh.

__ADS_1


“Ke-na-pa?”


“Biar Bu Ambar yang jelasin.” tukas Pak Basir.


Aku menelan ludahku susah payah. Kuambil tasku dengan tangan gemetar bahkan untuk melirik ke arah Maya pun aku tidak sanggup.Aku berjalan menuju pintu, di sana sudah ada Bu Ambar. Aku yakin, sekarang wajahku pasti pucat pasih.


Aku mengikuti Bu Ambar yang berjalan di depanku. Kupeluk tasku erat untuk menenangkan jantungku yang masih berdentam. Pintu ruang BP mulai terlihat dan perasaanku semakin tidak karuan. Tapi Bu Ambar terus berjalan melewati ruang BP.


Loh?


“Bu!” panggilku. Bu Ambar menoleh.


“Ya?”


“Ruang BP kan udah lewat, kenapa kita masih jalan terus?”


“Kita bukan mau ke ruang BP.”


“Terus?”


“Ke UKS.”


UKS?


“Tapi, saya baik-baik aja, Bu. Saya gak sakit sama sekali.” jelasku yang memang merasa baik-baik saja dan tidak perlu dirawat ke UKS.


“Rex?” Bu Ambar mengangguk.


“Tapi kenapa?”


Tidak mungkin tiba-tiba Rex sakit karena tadi pagi dia lahap menyantap dua piring nasi goreng plus tiga telur mata sapi.


“Rex berantem sama murid lain. Jadi ibu minta tolong sama kamu buat anter Rex pulang.”


Aku yakin ekspresiku saat ini seperti orang bodoh, mata melotot dengan mulut menganga.


Rex berantem?


Pertama dan terakhir kali aku melihat Rex berkelahi dengan siswa lain, itu waktu kelas tujuh SMP. Itu pun karena masalah sepele, saling ejek yang berujung surat panggilan orang tua dan hukuman membersihkan toilet selama seminggu.


Tapi sekarang ini, tidak mungkinkan dia berantem cuma gara-gara hal sepele seperti itu? Maksudku, itu akan menodai reputasinya sebagai cowok idola kaum hawa. Lagi pula dia bukan anak-anak lagi!


Ketika aku sampai di UKS, betapa terkejutnya aku melihat pemandangan di depanku. Abi duduk di sofa dan sedang diobati oleh petugas UKS. Wajahnya penuh memar, bibirnya pecah (terlihat bekas darah yang mulai mengering) dan hidungnya disumpal kapas. Abi sedikit meringis saat petugas memberikan obat merah di sikunya. Kemudian dia menatapku tapi segera membuang muka kembali.


Ada apa ini sebenarnya?


Hanya satu orang yang bisa menjelaskannya sekarang! Aku mengepalkan kedua tangan, geram. Dengan langkah cepat, aku berjalan menuju tempat tidur lalu menyibak tirai pembatasnya. Aku makin terkejut mendapati Rex yang sedang tidur sambil ngorok.

__ADS_1


Bisa-bisanya dia tidur!


Kekesalanku memuncak, kutendang tempat tidurnya yang membuat Rex tersentak bangun.


“Apaan, sih!” protesnya seraya menggeliat.


Anak ini benar-benar!


Wajah Rex memang memar tapi tidak separah Abi. Hanya bibirnya pecah dan pelipisnya ditempel plaster, sementara hidungnya masih mulus tanpa sumpalan kapas. Kelihatannya Rex memang menghajar Abi habis-habisan!


“Kamu ini kenapa sih ,Rex?” tanyaku kesal.


Dadaku sesak dengan emosi sekarang. Rex hanya menatapku, tidak menjawab apa pun. Kemudian dia mendengus dan membuang muka. Oh Tuhan...


***


Kami berdiri di parkiran, menunggu jemputan Pak Alif. Baik aku maupun Rex sama-sama diam. Tapi diamku karena emosi yang meluap, sementara Rex diam seperti tidak ada rasa bersalah. Dan itu membuatku semakin geram!


Kenapa harus Abi!


Tak lama kemudian, Pak Alif pun sampai. Tanpa banyak bicara aku langsung naik, diikuti Rex yang juga naik dari pintu satunya.


“Jadi, ceritanya kamu mau jadi jagoan?” semburku. Aku benar-benar tidak bisa lagi menahan emosiku. Rex hanya diam, menatap lurus ke depan.


“Kenapa kamu harus berantem sama dia, sih? Salahnya apa!” Lagi-lagi tidak ada jawaban.


Oke, kurasa sekarang aku mau meledak!


“Kamu budeg? Bisu?”


“Ini karena kamu yang gampangan...” akhirnya Rex membuka mulut.


Tapi apa katanya? Gampangan? Apa maksudnya!


“Oh...jadi kamu yang berantem, aku yang salah, gitu!” teriakku.


“Mbak, sabar...” ujar Pak Alif.


“Mendingan Pak Alif diem, deh!”


“Kok jadi nyalahin Pak Alif, sih! Dia gak salah apa-pa!” kini giliran Rex yang teriak. Aku langsung menegakkan punggung dan menatap Rex emosi.


“Terus aku harus nyalahin siapa? Kamu gak ngejelasin apa pun dari tadi!” seruku sambil menunjuk-nunjuk dada Rex.


Rex tampak berang, wajahnya merah padam, siap untuk meledak. Dia balas menatapku tajam, aku pun tidak mundur dari posisiku, menatap dengan emosi memuncak. Saat kupikir kami akan berakhir dengan saling baku hantam di mobil, Rex hanya berdecak lalu membuang muka ke kaca jendela.


Sialan!

__ADS_1


__ADS_2