
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, hari terus berganti dan sekarang sudah memasuki bulan baru. Tidak terasa juga, aku sudah menghabiskan waktu hampir seminggu mengikuti ekskul di klub komputer. Selama seminggu berturut-turut aku terus menghadiri pertemuan di klub komputer yang membuat Maya sangat terkejut ketika pertama kali aku memberitahunya.
“*Serius, Ren? Kamu uda gabung?”
“Iya, May.”
“Masa, sih? Kamu gak lagi bercanda, kan?”
“Apaan sih, May. Sejak kapan aku doyan bercanda? Nggak percayaan banget, sih!”
“Bukan gak percaya, Ren. Maksudku, pastikan gak cuma kamu yang jadi anggotanya, ada orang lain juga, kan?”
“Yup.”
“Kok bisa?”
“Apa maksudnya kok bisa?”
“Kok bisa kamu bergaul sama mereka? Itu kan bukan kamu banget.”
“Gak tau. Semua berjalan gitu aja.”
“Wow...”
“Kenpa?”
“Berarti kamu punya banyak teman baru dong, Ren?”
“Tapi tetep kamu kok temen terbaik aku, May.” kataku, dalam usaha membuatnya diam*.
***
Klub komputer, di sisi lain, tampakknya menjadi pengalaman yang menyenangkan buatku. Kami banyak membicarakan berbagai hal dan selalu saja ada sesuatu yang kupelajari di setiap pertemuan.
“Jadi, aku selamam baru aja selesai buat program aplikasi baru. Pokoknya ini aplikasi beda dari yang lain.” kata Ferdi dengan antusias. Oke, memang awalnya aku mengira bahwa Ferdi tipe cowok cuek yang sama sekali tidak bersahabat. Tapi ternyata setelah mengenalnya lebih baik, dia yang paling cerewet.
“Alah, paling ngampas lagi kayak yang udah-udah, kebanyakan bug.” celetuk Rudy yang sedang memegang solder. Dia sibuk dengan proyek modifikasi hardware yang sudah dikerjakannya sejak dua bulan lalu, tapi tetap saja tidak pernah selesai sampai detik ini. Gampang sekali mengejek karya orang lain sementara punya dia sendiri saja tidak beres!
“Enak aja, ini tuh uda topcer. Rencananya mau aku ikutin lomba tingkat nasional bulan depan. Hadiahnya lumayan gede.”
“Asyik dong kalo menang!” giliran Doni mencicit.
“Pastiin aplikasinya jalan dulu, baru mikirin menang.” ujar Niko yang membuat semuanya langsung terdiam. Niko memang sosok yang paling disegani para anggota anak-anak klub komputer. Abi pernah cerita, kalau Niko itu siswa pindahan dari Jerman, wajahnya juga blasteran karna ibunya asli Jerman dan yang paling penting, otakknya sangat encer kalau sudah bicara tentang komputer. Dia juga pernah menjuarai beberapa perlombaan baik nasional maupun internasional. Selama yang aku lihat, Niko ini jarang bicara. Entah memang dia seorang introvert sepertiku atau karena dia malas meladeni yang lainnya karena merasa paling pintar, tapi yang jelas dia memang tidak banyak omong.
__ADS_1
“Ren, gimana? Udah bisa?” tanya Doni tiba-tiba yang membuatku kaget. Yah, keberadaanku di sini bukan hanya sebagai syarat formalitas ke Oxford saja, tapi aku juga harus belajar tentang seluk-beluk komputer, yang jujur kukatakan, kepalaku jadi agak puyeng.
“Oh, masih proses.” jawabku.
“Oh...” balasnya. Beberapa waktu yang lalu, Abi mengajariku cara membuat program chatbot sederhana. Dia memberikan salah satu contoh program miliknya dan memberiku tugas untuk membuat programku sendiri. Aku senang karena Abi mengajariku dengan sabar, walau aku terbilang lambat. Maklum, ini adalah hal baru buatku.
“Kalau dia sih, pasti satu abad lagi programnya baru siap. Aduh!” celetuk Rudy yang mengibaskan tangannya karena terkena timah solder. Mampus, batinku bersorak. Sekilas aku memergoki Niko memandangku kemudian langsung membuang muka, kembali menatap layar komputernya. Oke, mungkin dia pikir aku ini bodoh atau apa. Jika dia menganggapku seperti itu, kupastikan dia akan kubuatkan print out semua nilai-nilaiku! Biar dia tahu, kemampuanku juga tidak bisa disepelekan.
Aku kembali mengerjakan chatbot-ku dan saat itulah Abi muncul.
“Wah, lagi pada serius, nih?” sapanya dengan senyum secerah mentari. Semalam Abi bilang padaku bahwa hari ini akan datang terlambat karena ada urusan. Tadinya aku ragu apa aku harus datang, maksudku selama ini Abi yang banyak membantuku jadi kalau tidak ada dia rasanya jadi canggung. Tapi banyangan tentang Oxford langsung menjejali pikiranku, toh memang itu tujuanku. Lagi pula aku tidak bisa bergantung selamanya pada Abi, bukan?
“Dari mana aja kamu?” tanya Ferdi penasaran.
“Ada urusan bentar tadi.” tukas Abi yang langsung mengambil posisi di sampingku.
“Kirain kayak si Putra yang absen tanpa kabar, tuh anak memang gak konsisten!” sambung Rudy yang kini sibuk memilah-milah kabel. Benar juga, hari ini Putra memang tidak hadir.
“Oh, ya...ini aku bawain makanan.” lanjutnya lagi sambil meletakkan plastik yang dibawanya ke atas meja.
“Widih...pas banget, nih.”
“Bagi, dong!”
Ferdi, Doni bahkan Rudy langsung mencampakkan soldernya demi berebut burger yang dibawa Abi, kecuali Niko yang tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya.
“Nik, gak mau?” tawar Abi.
“Duluan aja.” jawabnya tanpa melirik sedikit pun ke lawan bicaranya. Ya, ampun anak itu... aku memang introvert sih, tapi jika ada orang yang mencoba bersikap baik padaku, setidaknya aku masih bisa mengucapkan terima kasih. Dimana sih sopan santunnya?
“Nih, Ren. Kamu pasti laper juga, kan?”
“Oh, makasih.” Aku mengambil burger pemberian Abi dengan senang hati. Kemudian dia juga mengambil satu untuk dirinya sendiri.
“Gimana, Ren? Ada kemajuan sama chatbot nya?” tanyanya sambil menggigit burger.
“Hampir selesai, tapi masih ada beberapa yang kelihatan payah.” Dia mendekatkan wajahnya ke layar komputerku, menyipitkan mata seolah sedang menganalisa.
“Hmm...gak apa-apa. Santai aja, pasti nanti kamu bisa.” Aku hanya bisa tersenyum meresponnya.
“Makan aja dulu.” ujarnya.
“Oke,” Aku membuka bungkus burgerku, menggigitnya dengan perlahan. Hmm...rasanya sangat enak. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan burger, tapi yang pasti burger yang sedang kumakan saat ini mempunyai sejuta rasa.
__ADS_1
***
Hari ini kantin terlihat penuh, tapi aku dengan mudah mengenali sosok cewek yang sedang menyantap bakso di meja paling ujung. Aku menghampirinya dan mengambil posisi duduk tepat di depannya.
“Cie...yang lagi sibuk sama ekskul.” sindir Maya ketika melihatku.
“Apaan sih, May!”
“Lah, kan emang iya.”
“Biasa aja kok, May.”
Maya menyuapkan bakso ke mulutnya. Aku langsung meringis ketika melihat betapa merah dan kental kuah bakso di mangkuknya.
“Itu saos apa darah kotor? Pekat banget?” Maya menggeleng.
“Gak usah mengalihkan pembicaraan. Jadi, gimana?” tanyanya.
“Apanya?”
“Ceritain dong Ren, gimana tentang klub komputer itu. Aku kan juga penasaran.” Aku memang belum menceritakan apa pun pada Maya tentang klub komputer selain memberitahunya bahwa aku diterima menjadi anggota di sana.
“Biasa aja, May. Anggotanya lumayan banyak tapi yang rutin aktif itu cuma enam orang ditambah aku jadi tujuh sekarang.” jelasku.
“Cowok semua?” tanyanya dengan mata melotot.
“Iya.” Maya langsung menyingkirkan mangkuk baksonya ke samping dan menghabiskan air minum di gelasnya dengan sekali teguk.
“Terus, orang-orangnya kayak gimana?” Kali ini dia bertanya sangat antusias dengan posisi mode 'menjadi pendengar yang baik.'
“Ada Rudy yang yah... begitulah. Ada Ferdi, Doni, Putra sama Niko yang blasteran,”
“Blasteran? Ganteng dong, Ren?”
“Ganteng, sih. Tapi karakternya gak banget, yang pasti kamu gak akan suka.”
“Masa, sih?” Aku mengangguk.
“Ah, terus yang terakhir...ada Abi,” Entah kenapa aku jadi tersenyum saat menyebut namanya. Maya langsung mengerutkan keningnya.
“Kok kamu senyum-senyum sih, Ren? Emang Abi itu orangnya gimana?”
“Nggak kok, May. Ya, dia orangnya biasa aja. Cuma, Abi ini yang paling baik di antara semuanya. Dia juga sabar banget ngajarin aku.”
__ADS_1
“Ah...sweet banget, sih! Ih, kayaknya aku juga mau deh ikut ekskul komputer.” katanya sembari terlihat mengkhayal. Huh, Dasar Maya!