
Oke, aku butuh waktu beberapa lama untuk memahami situasi ini. Rasanya belakangan ini banyak hal di luar dugaan yang terjadi dan itu semua tentang Ren. Kemarin malam Ren tiba-tiba muncul di kamarku saat aku sedang bermain drum mengikuti teknik Gilang Ramadhan. Tadinya kupikir dia mau protes karena suara drum-ku membuatnya terganggu, dan memang benar dia mengatakan itu. Tapi kemudian dia menanyakan sesuatu yang aneh.
“Gimana kamu tau kalau kamu suka sama seseorang?”
Sebenarnya itu bukan hal yang aneh sih, tapi jadi aneh karena Ren yang menanyakannya. Apa sih maksudnya? Apa Ren menyukai seseorang? Siapa? Benar-benar misteri yang bikin mati panasan! Ren ini bagaikan kotak pandora, yang sekali terbuka maka akan menampilkan segala kejutannya.
Saat makan malam, otakku tidak dapat berhenti berpikir dan mataku selalu tertuju pada Ren. Di sisi lain, Ren tampak tidak memperdulikanku, lebih tepatnya dia selalu menghindar. Dia menundukkan kepala saat aku intens memandangnya. Aku makin yakin pasti ada sesuatu yang berusaha ditutupinya. Mengingat dia lagi-lagi tidak marah saat aku terus menatapnya.
Makan malam selesai, Ren buru-buru naik ke kamar dan aku tentu saja akan mengikutinya.
“Ren ke kamar duluan ma, mau belajar.”
“Oh, iya.” Ren berlari menaiki tangga secepat kilat. Dia pikir bisa lolos dariku? Segera saja aku beranjak.
“Loh, Rex? Kamu juga udah selesai?” tegur mama dengan wajah heran. Mama tahu betul bahwa orang yang paling banyak makannya di keluarga kami itu adalah aku. Bahkan aku bisa menghabiskan satu pondan cake utuh dalam sekali waktu. Bukannya aku rakus atau apa tapi perutku memang sangat sensitif alias mudah lapar. Lagi pula aku juga masih dalam masa pertumbuhan, wajar saja, kan?
“Simpan aja ma, nanti Rex makan lagi.”
“Oh...” Mama hanya melongo saat melihatku buru-buru naik ke atas.
Setibanya di depan pintu kamar Ren, tanpa basa basi aku langsung membukanya. Ren yang duduk di meja belajarnya tampak terkejut.
“Ngapain, sih?” kesalnya.
“Siapa?” tanyaku. Ren tampak berpikir.
“Ya kamu lah, ngapain ke sini? Ganggu banget!” Aku menggelengkan kepala.
“Bukan aku, maksudnya siapa orangnya?” Kali ini Ren tampak kebingungan. Gotcha!
Dugaanku benar, Ren pasti menyembunyikan kejutan lainnya. Ini kesempatanku untuk membuka kotak pandora milik Ren.
“Si-a-pa?” ucapnya gugup. Kelemahan Ren adalah tidak pandai berbohong. Jika dia melakukannya, maka tidak sulit untuk mengetahui karena semua tergambar jelas di wajahnya. Seperti saat ini, Ren sedang mencoba untuk berbohong tapi dengan ekspresi bingung dan gugup seperti itu tentu saja ketahuan.
“Eits...jangan coba-coba bohong, kamu itu gak pinter bohong.” ledekku.
“Siapa yang bohong? Nggak ada apa-apa juga!”
__ADS_1
“Eits...terus semalam dateng ke kamarku nanya soal suka-sukaan, apa namanya?” sanggahku. Ren membuka mulut ingin mengatakan sesuatu tapi terlihat bingung lalu menutupnya kembali. Ini kesempatanku!
“Kamu suka sama seseorang, ya?” tanyaku gemas.
“Apaan, sih!” sangkalnya.
Apa itu? Ren tampak malu-malu dan ada sedikit rona merah di pipinya. Wow...aku sampai membelalakkan mata melihat pemandangan di depanku seakan tidak percaya. Tapi ini kenyataan, Ren kelihatannya sedang kasmaran. OMG...!
“Oho...Ya ampun...” Aku langsung menutup mulut sembari tertawa, entahlah aku benar-benar tidak percaya ini. Seorang Reny Aulia Chandra si introvert yang cuek dan jutek, bisa jatuh cinta? Aku bahkan tidak membayangkan hal ini akan terjadi. Karena kupikir dengan sikap Ren yang seperti itu, kemungkinan dia punya pasangan hanya 0,0001% dan itu pun karena di jodohkan atau dia ikut dating online. Tapi nyatanya sekarang ini Ren jelas-jelas sedang jatuh cinta dan dia tertangkap basah olehku.
“Kenapa, sih!” protes Ren salah tingkah.
“Muka kamu tuh merah kayak tomat.”
“Iiih...nggak!” Aku hanya terkikik geli melihat reaksi Ren yang tengah mengusap-usap pipinya. Hadeh...kalau lagi kasmaran begini, Ren imut juga.
“Udah, gak usah malu. Kamu gosok-gosok juga gak bakalan ilang, itu tuh reaksi alami tubuh kamu kalau lagi jatuh cinta.” Ren tampak serius menatapku.
“Emang kamu gak pernah belajar tentang itu?” lanjutku.
“Oke, oke.” Aku mencoba meyakinkannya sembari mengontrol rasa geliku agar tidak diusir dari sini. Masih banyak hal yang ingin aku ketahui tentang Ren yang sedang falling in love ini.
“Tenang, jangan emosi. Aku di sini buat bantu kamu kok Ren, bukan buat nyebelin.” Ren menyepitkan matanya sambil cemberut.
“Sumpah!” kataku sembari mengacungkan kedua jariku untuk meyakinkannya. Ren menyilangkan tangannya ke dada, menungguku untuk menjelaskan. Oke, kelihatannya dia mulai percaya.
“Jadi, boleh aku duduk?” tanyaku menunjuk kasurnya. Dari tadi aku hanya berdiri, jujur capek juga. Ren mengangguk dan aku segera menuju kesana untuk duduk. Ren memutar kursinya, mengambil posisi menghadapku.
“Oke, jadi karena ini pengalaman cinta pertamamu, aku akan bantu.”
“Maksudnya?”
“Iya, kamu bisa tanya apa pun soal cinta sama aku.” Ren mendengus sambil mengerlingkan matanya.
“Gak jelas banget, sih!”
“Lah, apanya yang gak jelas? Kalau soal cinta-cintaan, aku ahlinya. Kamu lupa siapa cowok idola seantero sekolah? Cowok yang sering dikejar-kejar cewek di sekolah?”
__ADS_1
“Ya, tapi inikan beda?”
“Beda apanya? Mau namanya cewek, cowok, bahkan gedoruwo sekali pun, kalau udah jatuh cinta...gak ada bedanya.” Ren hanya membuang muka sembari menghela napas berat. Aku berani bertaruh saat ini dia merasa malu, kesal dan sebagainya karena harus berurusan denganku. Aku juga yakin pasti dia juga bingung dengan perasaanya sendiri mengingat hal seperti ini baru pertama kali terjadi.
“Jadi, menurut kamu gimana?” akhirnya dia bertanya.
Gotcha!
“Apanya?”
“Um...gimana kita bisa tau kalau kita itu suka sama seseorang?”
Aku menyipitkan mata dan mengusap dagu ala detektif Conan. Ren yang sepertinya menyadari, langsung kesal.
“Please deh Rex, aku lagi gak mood buat berantem!”
“Sabar dong Ren, pertanyaan kamu itu butuh pemikiran mendalam.” kataku sok bijak, padahal aku sedang menahan tawaku setengah mati. Andai momen ini bisa kurekam, pasti seru.
“Jadi?”
“Saat kita jatuh cinta, biasanya kita bingung sama perasaan kita sendiri.” Ren mengangguk dengan raut wajah serius. Ya Tuhan...aku benar-benar tidak tahan ingin tertawa.
“Kita selalu kepikiran sama dia, kapan pun dan dimana pun.” Ren tampak terkejut sambil melotot. Sepertinya kata-kataku mengena di hatinya. Aku hanya bisa tersenyum tipis untuk mengontrol tawaku yang entah sampai kapan lagi bisa kutahan.
“Dan kita selalu senang kalau ketemu atau ngelihat dia.” lanjutku. Kali ini Ren tampak menggigit bibirnya. Ya Tuhan...aku memang mengakui bahwa Ren itu cerdas secara akademis tapi untuk urusan cinta dia benar-benar bodoh...atau lebih tepatnya polos.
“Apa kamu ngerasain itu semua?” Ren mengangguk dan terlihat sangat antusias. Tidak bisa kubayangkan, bagaimana jika dia melihat ekspresinya saat ini. Ya Tuhan...
“Hahaha...aduh! Aku gak sanggup lagi nahan ketawa.” kataku akhirnya.
“Ngeselin banget, sih!”
“Aduh, Ren. Kamu harusnya lihat muka kamu sekarang, lucu banget. Akhirnya setelah seribu purnama kamu jadi normal juga.” Ren langsung berderap ke arahku dan menarikku dengan kasar hingga berdiri.
“Ngomong-ngomong anak mana yang bikin kamu lope lope?” Ren mulai meyeretku ke pintu.
“Minimal kasih tau dong Ren namanya...” Setelah mencapai pintu, dengan sekuat tenaga, Ren mendorongku keluar lalu membanting pintu dengan keras. Tentu saja aku tak henti-hentinya tertawa bahagia.
__ADS_1