REX & REN

REX & REN
Surat Cinta


__ADS_3

Malam itu aku bermimpi, bukan tentang Oxford tapi tentang hal lain yang sama membahagiakannya seperti Oxford, bahkan lebih. Aku berada di taman bunga yang sangat luas dan indah. Taman itu ditumbuhi berbagai macam bunga, kebanyakan tulip, aku tidak tahu dimana mungkin saja di Keukenhof. Ada sebuah bangku besi berwarna putih yang terletak di tengah taman dan ada seseorang yang tampak duduk di sana dengan posisi membelakangiku. Perlahan aku menghampirinya kemudian orang itu menoleh, Abi?


“Udah datang, Ren?” sapanya dengan senyum sempurna. Aku hanya bisa melongo menatapnya takjub. Abi memakai setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu. Dia mengulurkan tangan padaku, tapi aku hanya diam.


“Ayo pegang tanganku, Ren.” pintanya.


“Tapi,”


“Tidak ada tapi. Pegang tanganku.” Aku menyambut uluran tangannya dan Abi menggenggamku dengan erat. Tangan Abi terasa hangat dan aku merasa nyaman di genggamannya.


“Mulai sekarang, kamu gak akan aku lepasin.” katanya. Aku tersenyum bahagia dan saat aku ingin memeluknya tiba-tiba suara jam waker membangunkanku. Aku kesal setengah mati, kenapa jam waker ini tidak membiarkanku sedikit lebih lama bahagia di alam mimpi, agar aku bisa tahu bagaimana rasanya berada dalam pelukan Abi.


***


Sampai di sekolah aku langsung menceritakan mimpiku itu pada Maya. Seperti biasa dia menanggapinya dengan mengatakan so sweet.


“Jadi, menurut kamu gimana, May?” tanyaku.


“Gimana apanya?”


“Tentang yang lagi aku rasain ini.” Maya terkikik sembari menopang dagunya dengan tangan.


“Kenapa masih bingung juga sih, Ren. Udah jelas kan, kalau kamu itu suka sama Abi. Sampe kebawa-bawa mimpi lagi.”


Benar juga, aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya, apa lagi sampai berpikir untuk memimpikannya. Jadi begini rasanya jatuh cinta? Perasaan aneh ini benar-benar memenuhi setiap sudut di kepalaku.


“Aku juga udah nanya ke Rex.” ujarku. Maya tampak terkejut.


“Oh, ya? Kamu kasih tau dia?”


“Ya mau gimana lagi, aku gak tau gimana bisa dia tau tapi dia emang tau.” jelasku sambil mengingat-ingat semua perkataan Rex. Itu benar, masih menjadi misteri kenapa Rex bisa langsung tahu apa yang sedang terjadi padaku. Apa karena ikatan batin yang kuat?Yah, walau berakhir dengan menyebalkan seperti biasanya, tapi seditaknya aku mendapat sedikit pencerahan.

__ADS_1


“Terus dia bilang apa?” tanya Maya lagi dan aku hanya mengangkat bahu.


“Ya sama kayak yang kamu bilang kalau aku lagi jatuh cinta.” jawabku seadanya. Maya langsung bertepuk tangan riang.


“Akhirnya kamu ngakuin juga kalau kamu lagi jatuh cinta, Ren.”


“Aku juga gak pernah ngebayangin bakal jadi gini.” Maya menggeleng.


“Ini namanya takdir dan emang wajar kali Ren kalau remaja kayak kita ini jatuh cinta, itukan bagian dari proses apa namanya...” Maya tampak berpikir keras sambil mengerutkan dahi.


“Pubertas.” jawabku.


“Bingo!”


Yah, tentu saja, aku pernah membaca tentang pubertas dan hal-hal seperti ini memang termasuk sih di dalamnya. Aku sadar semua manusia pasti akan mengalami masa-masa seperti ini. Untuk itu kupikir aku bisa mengendalikan masa pubertasku dengan baik, maksudku dengan sifat introvert, aku bisa menjalaninya dengan tenang dan baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, pubertas bukanlah hal yang bisa dikontrol, semua itu tidak terlepas dari hormon yang bekerja.


“Terus, rencana selanjutnya apa?” Aku menatap Maya bingung.


“Iya, rencana kamu selanjutnya apa? Aku hanya menggeleng tidak mengerti.


“Emang kamu gak mau nyatain perasaan kamu ke Abi?”


“Hah?” Aku terkejut bukan main. Apa sih yang di pikirkan Maya sampai bilang begitu? Tidak mungkinkan aku menyatakan perasaanku pada Abi. Ada-ada saja!


“Ya nggak lah, May.”


“Kenapa gak?” Aku memutar bola mataku.


“May, aku malu...lagian iya kalau Abi ngerasain hal yang sama.” Maya kembali menggeleng.


“Ren, percaya sama aku, Abi itu udah jelas suka sama kamu. Dari cara dia memperlakukan kamu, terus dia sabar banget ngarjarin kamu, aku yakin seratus persen dia juga suka sama kamu. Cuma dia ragu buat nyatain perasaannya, takut kamu gak nyaman karena belum lama kenal.” jelas maya panjang lebar. Apa benar semua yang dibilang Maya? Apa benar Abi juga suka padaku?

__ADS_1


“Kamu punya nomornya, kan?”


“Nomor?” Maya mengangguk. Yah, aku memang punya nomor telepon beberapa anak klub komputer termasuk Abi. Tapi aku memintanya hanya sebagai formalitas dengan alasan kalau-kalau aku ingin menanyakan sesuatu tentang program, aku bisa menelepon saja. Tentu saja tidak pernah kulakukan karena alasanku bergabung bukan benar-benar untuk mempelajari komputer.


“Buat apa?” tanyaku lagi.


“Ya, buat telpon dia lah, atau kirim pesan, WA. Ajak dia ketemuan dimana gitu, biar kalian bisa ngobrol. Bisa kenal satu sama lain dari hati ke hati. Terus kalau udah nyaman kalian bisa...”


“May..may...stop! Stop!” Maya langsung menghentikan ocehannya yang tidak masuk akal itu.


“Kenapa?”


“Itu terlalu extreme, May. Nggak, aku gak mau, aku gak bisa.” Maya melipat kedua tangannya di dada sembari menyipitkan matanya.


“Kalau gitu, kita bisa pake cara yang gak extreme.”


“Maksudnya?”


“Karena kamu gak mau nelpon atau kirim WA, gimana kalau kamu nulis surat aja!” ucap Maya sambil tersenyum menampilkan deretan giginya. Maya mempunyai dua gigi taring di bagian depan yang membuatnya terlihat seperti drakula.


“Surat? Yang bener aja, May. Kuno banget!” Sumpah demi apa, memangnya ada yang masih menulis surat cinta zaman sekarang? Kadang ide-ide Maya terlalu liar hingga susah dicerna nalar.


“Justeru karena kuno itu jadi berkesan, Ren. Kuno itu kan identik dengan vintage, dan yang vintage itu kesannya eksklusif. Kamu gak tau kalo yang vintage sekarang mahal banget harganya? Aku berani taruhan deh, pasti Abi belum pernah dikirimin surat cinta dari cewek mana pun.” Sekarang cerocosan Maya terdengar sangat meyakinkan.


“Lagian, Ren, kalau kamu nulis surat, kamu bisa nyampein perasaan kamu dengan lebih nyaman. Kamu bisa tulis semua yang kamu rasain tanpa berbadan langsung sama Abi.” sambungnya. Aku tidak merespon apa pun dan hanya mengalihkan pandangan ke arah lain. Tentunya dengan otak yang terus berpikir, haruskah aku coba?


***


Aku memutuskan untuk mencoba satu-satunya cara aman yang disarankan Maya, tapi kenyataannya, aku pusing memikirkan satu-satunya cara ini. Sudah hampir tiga jam aku terduduk di meja belajarku dan aku hanya menemukan diriku termangu-mangu sambil menatap poster Albert Einstein di depanku. Dengan kertas tulis yang masih mulus tanpa noda. Ternyata perasaan yang kurasakan ini walau pun secara tulisan sangat sulit diungkapkan. Aku bingung harus menulis apa, bahkan aku tidak dapat menemukan kata yang tepat sebagai kata pembuka.


Aku mendesah, lalu menyandarkan punggungku ke belakang sembari menatap kosong kertas di mejaku. Kepalaku serasa mau pecah, tapi tiba-tiba sudut mataku menangkap secarik kertas yang menyembul dari tumpukan buku di meja belajarku. Aku menariknya, yang rupanya adalah sebuah gambar kupu-kupu acak kadut. Bibirku langsung tersenyum, ini adalah gambar pertama yang kubuat waktu TK dulu, di sudut atasnya terdapat paraf guru dengan nilai A. Aku ingat, ini adalah nilai A pertamaku! Nilai A yang selalu menjadi motivasiku.

__ADS_1


Seperti mendapat pencerahan, aku menegakkan punggung dan memegang penaku. Aku akan mencobanya, aku pasti bisa!


__ADS_2