REX & REN

REX & REN
Happy Birthday


__ADS_3

Setelah menghabiskan makan malam dan membantu mama mencuci piring, aku naik ke kamarku. Seperti biasa, aku duduk di meja belajar dan mulai membuka buku. Sayup-sayup terdengar suara Rex yang berteriak.


“Ma, stik drum-ku mana?” teriaknya dibarengi suara langkah kaki. Sepertinya Rex sedang berlari. Kemudian dia membuka pintuku, “Ren, kamu ada masuk ke kamarku, gak?”


“Nggak.”


“Serius?”


“Rex, kalau kamu mau nuduh aku yang ngumpetin stik drum kamu, maaf ya tapi bukan aku dan aku gak tau soal itu.”


Rex langsung mendengus, “Santai aja kali.” katanya lalu menutup pintu.


Tidak heran stik drum-nya hilang, kamarnya saja berantakan. Kalau mama tidak rajin-rajin inspeksi, aku yakin kamarnya sudah penuh dengan sampah.


Tiba-tiba smartphone-ku berdering.


Dari Niko tentu saja dan aku langsung tersenyum melihat layar smartphone-ku. Ah, aku lupa bilang, bahwa aktifitas ritual malamku bertambah sekarang. Selain belajar, ritual lainnya adalah menerima telepon dari Niko. Kami membicarakan banyak hal. Dari yang penting hingga ocehan receh yang tidak jelas. Tapi mau apa pun itu, semua sangat menyenangkan jika kau bicara dengan pacarmu, bukan?


“Hai.” sahutku.


“Hai.” jawabnya. “Lagi apa?”


“Biasa, lagi nabung pengetahuan buat masa depan.”


“Eh, apa aku ganggu?” tanyanya.


Refleks, aku menggeleng walau aku tahu Niko tidak bisa melihatnya.


“Enggak, kok.”


“Bagus.”


“Hmm…terus, kenapa nelepon?” tanyaku.


“Kangen. Emnag kenpa? Gak boleh?”


Aku tergelak. Lihatlah, betapa manisnya.


Niko tidak henti-hentinya memberiku kebhagiaan. Aku merasa sangat bersyukur tentang itu. Niko tahu bagaimana cara memperlakukan seorang cewek dan itu salah satu kelebihan dirinya yang mungkin tidak semua cowok di dunia ini punya. Dan aku sangat menghargainya untuk itu.


Kadang setiap malam setelah selesai ngobrol di telepon dengannya, aku berbaring menatap langit-langit. Membayangkan jika suatu hari kami punya anak, maka pastilah anak itu super jenius.


***


Suatu sore saat aku sedang duduk di sofa ruang tv sambil membaca novel Nicholas Sparks, sementara Rex ada di dekatku, duduk di lantai. Dia memainkan smartphone-nya sambil berteriak, 'Ciat! Hiyak! ******!’ yang aku tidak tahu entah game gila apa yang sedang dia mainkan.


Tiba-tiba mama datang entah dari mana.

__ADS_1


“Coba tebak apa yang mama bawa?” katanya begitu sampai di hadapan kami. Aku menatap mama yang sedang membawa sebuah paper bag besar berwarna hitam. Sepertinya mama habis belanja. Rex hanya menatap sekilas kemudian menggidikkan bahu lalu kembali konsentrasi dengan layar smartphone-nya.


“Apa?” kataku.


Mama tersenyum sumeringah dengan mata berbinar-binar.


“Mama tadi habis dari mall, terus…” mama menghentikan kata-katanya lalu menatap Rex yang masih asik bermain game dengan jengkel. Meski tidak menegur Rex, tapi aku tahu mama tidak suka dengan sikap Rex yang acuh.


Jadi aku langsung memukul kepalanya dari belakang yang sukses membuat Rex mengaduh.


“Aw! Sakit!” Rex tampak memegangi kepalanya. Saat hendak marah-marah padaku, Rex sadar bahwa mama sedang menatapnya penuh kejengkelan.


“Ah, apa tadi? Mama bawa apa emangnya?” Seketika jurus ngelesnya keluar.


Dan herannya, mama kembali ceria lagi.


“Mama tadi habis ke mall, terus lihat ini. Lucu banget, jadi mama beli.”


Mama mengeluarkan isi paper bag yang dibawanya dan sukses membuat kami melongo.


Sepasang baju tidur couple Rilakkuma plus topi berbentuk boneka beruang coklat imut itu lengkap dengan kuping dan bandul panjang di masing-masing sisinya.


“Lucu, kan?” kata mama kemudian.


“I-itu apaan?” tanya Rex yang sama herannya denganku.


“Baju tidur couple.”


Mama berdecak, kemudian berkata, “Buat hadiah ulang tahun anak-anak mama tercinta, dong.” jawabnya.


Benar, ini adalah hari ulang tahunku dan Rex. Aku hampir saja lupa karena memang kami tidak pernah merayakannya lagi. Terakhir kami merayakan ulang tahun dan mengadakan pesta itu saat umur tujuh tahun. Waktu itu mama mengundang semua teman sekolah dan teman-teman di komplek perumahan kami.


Aku masih ingat, mama membeli kue tart ukuran besar berbentuk Mini dan Mickey Mouse yang saling berpelukan. Kau tahukan saat umur segitu, perayaan dan kue ulang tahun sangatlah penting, begitu juga buatku. Tapi Rex mengacaukannya. Karena tingkah pecicilannya, Rex tidak sengaja menyenggol kue tart itu yang kemudian jatuh ke lantai. Aku langsung menangis, sementara Rex cuma memandang dengan tatapan tak berdosa lalu dengan santai kembali bermain pedang-pedangan dengan temannya. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi ulang tahun kami dirayakan.


“Maksudnya?” kata Rex lagi.


“Ya buat kalian pake nanti malem dong, Rex.”


“Hah?”


“Lucu, kan? Pasti imut banget deh kalau di pake nanti.”


Buru-buru Rex menjawab, “ Ma, tapikan Rex sama Ren bukan anak TK lagi. Kita udah SMA, mana mungkin pake begituan.” erangnya.


“Loh, emang kenapa? Lagian dipake cuma pas makan malam nanti aja. Gak ada siapa-siapa, cuma ada mama sama papa.”


“Tapi, Ma. Itu buat anak kecil.” Rex tetap ngeyel, berusaha mati-matian menolak baju tidur konyol itu.

__ADS_1


Yah, memang konyol sih tapi tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di otakku.


“Ren suka kok, Ma. Ren pasti pake.” kataku.


Rex langsung memberikan tatapan membunuh padaku. Bibirnya komat-kamit seakan berkata, 'Apa kamu udah gila?’ dan hanya kubalas dengan senyuman licik.


“Beneran, Ren? Wah, mama seneng banget!” kata mama girang.


“Nah, karena Ren udah mau pake, Rex juga harus.” lanjutnya.


“Tapi,”


“Gak ada kata tapi.” tegas mama kemudian pergi.


“Apaan sih, Ren?” kesalnya padaku.


Aku berdiri kemudian berbisik, “Anggap aja ini balasan buat tragedi kue tart Mini dan Mickey Mouse waktu itu.”


Rex mengerutkan dahinya tampak berpikir lalu perlahan dia terbelalak, sepertinya dia ingat.


“Ren!” serunya. Sementara aku langsung ngeloyor naik ke kamar.


Jadi, saat makan malam, kami memakai baju couple Rilakkuma plus topi konyol itu. Semua tampak senang, kecuali Rex yang cemberut. Tapi mama tidak peduli dan malah mengabadikan kami dalam jepretan kamera yang mama bilang akan dicetak ukuran jumbo untuk dipajang di dinding ruang tamu. Dan hal itu sukses membuat Rex makin kesal tingkat dewa.


***


Saat aku berpikir euforia ulang tahunku sudah berlalu, ternyata aku menerima kejutan spesial dari Niko. Sabtu malam kami pergi kencan lagi dan seperti biasa kami makan nasi goreng super lezat emperko tempo hari.


“Aku punya sesuatu buat kamu.”


“Apa?”


Niko tampak merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah.


“Happy Birthday.” ucapnya sembari membuka kotak itu. Di dalamnya terlihat sebuah kalung perak dengan huruf NR yang saling bertaut indah, inisial nama kami, Niko dan Ren.


“Maaf, kalau telat ngucapinnya. Kamu gak suka, ya?”


Buru-buru aku berkata, “Aku suka banget. Makasih ya, Nik.” Suaraku sedikit bergetar, aku terharu.


“Boleh aku pakein?” tanyanya. Aku menagngguk.


Lalu aku berbalik dan menyingkirkan rambutku untuk sedikit kuangkat ke atas. Tangan Niko terulur, mengalungkan kalung perak itu di leherku.


“Oke.” katanya setelah selesai.


Aku berbalik ke arahnya, menatap kalung di leherku kemudian menatap wajah Niko.

__ADS_1


“Cantik.” gumamnya.


Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Yang aku tahu, saat ini rasanya Niko menghujaniku dengan begitu banyak cinta.


__ADS_2