ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
LABIRIN


__ADS_3

Aku sangat bingung menghadapi situasi ini sendirian. Seandainya ada Feli disini, pasti semuanya lebih baik lagi. Tidak, aku tidak boleh terus bergantung padanya. Kali ini aku yang akan menyelamatkan dirinya, bukan sebaliknya. Aku terus berkata di dalam hati, sembari memegang erat senjata dari sapu lidi, bak seorang ahli samurai.


Tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek, lalu senyap.


Tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek (Suara pintu lemari kayu usang di dalam kamar Sinta).


"Jangan ganggu aku! aku hanya ingin membantu teman. Jika kalian butuh bantuan, datang saja baik-baik seperti anak kecil yang meminta permen pada ibunya," ucapku dengan suara yang tenang dan tegas kali ini.


Iya ... aku memang tidak boleh terus-menerus gemetaran menghadapi mereka. Jika ini takdirku, maka aku harus menerimanya walaupun aku harus mengeluarkan air mata darah. Ucapku di dalam hati demi menguatkan diriku.


Aku berusaha untuk fokus dan merasakan auranya. Tak lama, aku melihat ranjang Sinta bergetar seperti ada permainan sumo di atasnya, tapi aku tidak melihat siapapun atau apapun disana.


"Sepertinya kalian setan pemalu ya? jika tidak ... harusnya kalian keluar. Apapun kalian, aku akan membumi hanguskan kalian semuanya," teriakku sekali lagi.


Jangan asal bicara Sarah! mau pakai apa membakar mereka. Bisik bagian diriku yang lainnya.


Tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek (Suara pintu kamar mandi yang kusam)


Kali ini berlari ke arahnya dan mengayunkan pedang lidi ku berkali-kali di arah pintu tersebut, hingga terdengar suara yang cukup kuat seperti seorang ibu yang sedang mencuci dan membanting-banting pakaian jenis celana jeans.


"Ayo pengecut, datanglah! Aku menantang kalian kali ini. Percuma aku memiliki mata ini bila tidak mampu menghajar kalian semua."


Puas memukul kosong kamar mandi tersebut, aku kembali ke tengah-tengah ruangan (Kamar). Tak lama, aku merasakan ada tetesan darah dari langit-langit kamar yang jatuh di lantai dan aku tau ini bukan pertanda baik.


Darah? ucapku tanpa suara. Aku menenangkan diri dan memusatkan pandanganku, sehingga saat makhluk tersebut jatuh tepat diatas kepalaku dengan tangannya yang memegang kedua sisi telingaku kiri dan kanan, aku langsung menebas bagian wajahnya.


Aku merasakan berat pada bagian tengah hingga ujung sapu lidi tersebut, seperti saat memukul-mukul kasur kapas yang dijemur saat siang hari/tengah hari.

__ADS_1


Dia meraung, makhluk itu meraung. Aku dapat mendengarkannya dengan jelas. Saat dia terlempar, aku dapat melihat perawakannya. Tubuhnya tinggi kurus dengan wajah yang panjang dan tulang belulang yang menyembul di sekitaran perutnya.


Kulitnya hitam, matanya merah, kuku-kukunya tajam dan panjang serta mulutnya yang berbau anyir, mungkin akibat tidak pernah sikat gigi. Aku yakin dia monster/iblis yang miskin.


Aku mengatur nafasku sambil memperhatikan sekeliling. Saat aku berhasil menghajarnya tadi, aku merasa memiliki keberanian yang melebihi dari pada biasanya. Tania, kamu disini kan? ucapku di dalam hati.


Tiba-tiba pintu kamar Sinta terbuka dengan sendirinya dan ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat bayangan yang bergerak sangat cepat. Bayangan yang berbeda dari bentuk makhluk yang sebelumnya.


Aku berlari ke arah luar dan mengikuti petunjuk dari roh tersebut. Jika dirasa dari auranya, dia tidak jahat seperti tadi. Mungkin aku akan mendapatkan petunjuk bila mengikuti makhluk tersebut.


Batinku mengajak tubuhku untuk mengejar bayangan tersebut, hingga bayangan itu menghilang di depan sebuah kamar tanpa kunci.


Awalnya aku ragu untuk masuk, tapi sesuatu yang tidak aku ketahui mendorong tubuhku ke dalam kamar yang tampak gelap tersebut. Tidak ada cahaya sedikitpun di sini, tapi aku tidak patah langkah, aku menggunakan senter HP untuk memperjelas pandanganku.


Dari sini, aku dapat melihat meja altar untuk pemujaan. Sebenarnya aku tidak yakin karena aku tidak memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya, tapi firasat ku mengatakan hal demikian.


Di ujung meja paling pojok, aku melihat setumpuk kertas berwarna putih kecoklatan dan aku memutuskan untuk membukanya. Di dalamnya terdapat tulisan Jawa kuno yang menampilkan sebuah pola lingkaran dengan tanda bintang lima titik di setiap sudutnya, "Nyawa, perjalanan, pemberhentian, kematian dan kebangkitan," itu adalah Arti dari simbol bintang. Ucapku di dalam hati.


Aku masih belum mengerti arti dan maksud dari pola gambar yang baru saja aku lihat. Aku memutuskan untuk meneruskan pencarianku dengan membuka halaman selanjutnya. Ini adalah mantra Jawa yang selingkuh dikalahkan gunakan, ucapku tanpa suara.


(Warning!! Jangan mengucapkan kata-kata dengan jelas dengan hati yang merana. Tetap fokus hanya sebatas membaca! kunci jiwa agar tak dikendalikan oleh makhluk yang tak kasat mata).


Lingsir wengi sliramu tumeking sirno [Menjelang malam, dirimu (bayangmu) mulai sirna]


Ojo Tangi nggonmu guling [Jangan terbangun dari tidurmu]


awas jo ngetoro (Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)]

__ADS_1


aku lagi bang wingo wingo [Aku sedang marah dan gelisah]


jin setan kang tak utusi [Jin setan ku perintahkan]


dadyo sebarang [Jadilah apapun juga]


Wojo lelayu sebet [Namun jangan membawa maut]


Aku tau mantra ini sebagai tembang biasa yang dilantunkan dengan suara khas sinden. Tiba-tiba, aku mendengar suara nyanyian tersebut dari kejauhan. Ini lagu lengser wengi, tapi siapa yang menyanyikannya di waktu malam seperti ini? tanyaku tanpa suara.


Aku melihat jam pada Hpku, ternyata ini sudah pukul 23.00 WIB. Di rumah ini sungguh tidak biasa. Bahkan waktu pun berjalan sangat cepat. Aku harus cepat menela'ah semua ini, kemudian aku harus mencari Kak Rio.


Ada yang tidak benar dengan Ibunya Sinta. Kata hatiku yang terus menerus memberikan insting, tanpa memberikan aku waktu untuk bertanya. Aku sangat bingung dengan keadaan ini, ditambah lagi dengan rumah putih kecil seperti labirin ini.


Semua ini sangat menguras emosi, rasanya aku ingin pipis di celana. Kenapa aku harus melalui malam yang buruk seperti ini. Jika aku selamat kali ini, mungkin aku akan mempelajari beberapa ilmu yang penting pada Pak Yusuf. Setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan.


Bersambung....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.


CINTA DAN DOSA, kisah seorang gadis hasil broken home yang mendapatkan perbuatan zholim dari orang dekatnya namun ia mampu melewati masa suram dengan mengayun langkah walau terseok, sekarang ia menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya.


PERFECTION OF LOVE, merupakan sambungan dari novel Cinta dan Dosa.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘

__ADS_1


__ADS_2