
Aku sama sekali tidak mengatakan apapun kepada siapapun, tapi ternyata Datuk Belang selalu memperhatikan aku dan ia mampu membaca ekspresi wajahku yang penuh dengan ketakutan. Padahal kami baru saja bersama dan hal itu membuat aku mengerti tentang sebuah ikatan antara manusia dan pendampingnya.
Sekarang aku menyadari bagaimana bisa manusia dan pendamping saling terhubung, walau tanpa bicara dan tiba-tiba aku mengingat bagaimana Nenek Nawang Wulan memerintahkan kepada semua para parewangannya untuk menyingkir hanya dengan satu kali ucapan dan satu kali tatapan.
"Sarah ... halo!" teriak Feli yang terdengar semakin bingung dengan sikapku.
"Feli dengar!"
"Iya."
"Stop masang gasnya dan segera mengambil air wudhu sekarang!!"
"Tapi, gimana ...."
"Dengar! Aku akan menunjukkan sesuatu, tapi sebelumnya kamu harus mengambil wudhu terlebih dahulu dan duduk di kamarmu dengan Al-Qur'an di tanganmu!!"
"Ba-baiklah."
"Jangan matikan HPnya!"
Selang 7 menit berlalu, Feli sudah duduk di dalam kamarnya dengan mengenakan mukenah dan saat itu, aku menanyakan dimana Rian? Dan Feli menjawab di kursi ruang tamu.
"Sarah, ada apa sebenarnya? Jangan buat aku bingung!"
"VC!"
__ADS_1
Tak lama, Feli melakukan panggilan video call dan aku mengangkatnya. Kemudian aku mengarahkan kamera kepada diriku dan aku mengatakan kepada Feli bahwa ia harus tetap dalam keadaan tenang karena aku telah meminta Datuk Belang untuk segera menuju ke arahnya.
Setelah melihat Feli siap, aku segera mengarahkan kamera kepada Rian agar Feli dapat melihat bahwa suaminya ada bersama kami di dalam rumah. Sementara yang berada di hadapannya tersebut bukanlah Rian, tapi makhluk lain yang mampu merubah wujudnya menjadi orang-orang terdekat untuk mengambil keuntungan.
"Rian ...."
"Iya, dia disini bersama kami."
"Jadi, siapa yang saat ini ada disini bersamaku?" tanya Feli dengan wajah yang terlihat mulai pucat.
"Yang jelas, dia bukan Rian."
"Astaghfirullahhalazim," ucap Feli sembari memeluk Al-Quran dalam ukuran yang besar berwarna merah. "Tapi bagaimana jika yang disana ternyata bukanlah Rian yang asli?" tanya Feli seakan berpikir kebalikannya.
"Masuk akal."
"Baca Al-Qur'an nya, Feli! Aku akan segera ke sana."
"Baiklah, aku mengerti."
*****
"Rian, sebentar," ucapku sambil menatap Rian dan ia langsung menuju ke arahku."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kita harus segera menuju ke Feli."
"Ada apa?"
"Aku ceritakan di jalan saja! Ada Ayah, nanti dengar," ucap ku setengah berbisik.
"Aku mengerti."
"Ayah, aku ada urusan sebentar."
"Diantar Pak Antok ya?"
"Aku minta antar Rian saja Ayah."
"Tapi inikan hampir magrib, Sarah."
"Kami cuma sebentar kok Yah. Dan tidak akan meninggalkan waktu shalat kami," ucap Rian meyakinkan Ayah.
"Baiklah. Hati-hati di jalan ya," ucap Ayah dengan tatapan penuh curiga.
Bersambung.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca
__ADS_1