ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
BINGUNG


__ADS_3

Kehidupan manusia tak terlepas dari berbagai peristiwa, tantangan, rintangan, kesempatan, dan pengalaman. Semua itu bisa dijadikan pelajaran setiap insan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Pengalaman adalah guru terbaik yang mengajarkan banyak hal, sehingga seseorang tidak jatuh di lubang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


Beberapa orang mungkin pernah merasakan atau sedang menjalani fase kehidupan yang berat dan menyakitkan. Hidup seperti drama yang tak berkesudahan. Apalagi bagi mereka yang kurang bersyukur, pasti akan menganggap bahwa kehidupan ini sebagai sebuah kutukan berat.


Seperti orang bodoh, aku terdiam dan terpaku melihat kado yang diberikan oleh Rian untuk Feli. Aku sangat yakin bahwa tas itu milik gadis misterius yang tadi menusukkan pulpennya di dadaku. Sebenarnya, apa hubungan antara Rian dan gadis itu? Kami mungkin seumuran. Hatiku bercakap-cakap di dalam kebingungan hebat.


Aku ingin menceritakan menceritakan semua yang terjadi padaku hari ini kepada Feli agar dia berhati-hati. Hanya saja, aku tidak tega melepaskan senyum indah dari bibirnya yang sudah lama hilang. Apa yang harus aku lakukan? Karena bisa saja aku salah, lagipula tas seperti itu mesti tidak diproduksi hanya satu di atas dunia ini kan? Ayolah Sarah! Pasti ada cara untuk memahami semua ini.


"Feli."


"Iya, ada apa Sarah?" tanya Feli sambil mengangkat tas yang diberikan Rian untuknya dan disentuh seluruh bagiannya.


"Apa mata batinmu tertutup?"


"Iyap, aku ingin normal beberapa waktu, setidaknya sampai benar-benar pulih. Kenapa Sarah? Kamu ingin melihat sesuatu?"


"Aku ...."


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok.


"Sudah pada pulang ya?" sapa Ayah yang masih berdiri di depan pintu kamarku.


"Sudah Ayah," sahutku sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Kenapa pucat banget?" tanya Ayah dengan nada cemas.


"Tidak ada apa-apa yah," jawabku karena tidak ingin ayah khawatir padaku.


"Ya sudah, kalau gitu kalian berdua makan dulu. Tadi kebetulan Ayah keluar sebentar dan Ayah membeli soto santan untuk kalian berdua."


"Baik Yah, terimakasih banyak. Kami akan segera keluar dan makan."


"Ya sudah, kalau begitu Ayah ke kamar dulu buat rehat. Besok pagi-pagi sekali Ayah berangkat kerja."


"Kapan kita ke tempat Pak Yusuf Yah?"


"Kalau Ayah pulang cepat, sorenya ita langsung ke rumah Pak Yusuf. Tapi kalau Ayah pulang telat atau larut malam berarti besok atau lusa kita baru ke sana."


"Baiklah Yah, aku mengerti."


"Bagus. Ya sudah, Ayah ke kamar dulu ya, Nak."


"Iya Yah, makasih." Ayah meninggalkan aku untuk ke kamarnya.


Aku sangat merasa lengket dan itu membuat aku merasa tidak nyaman. Untuk itu aku memutuskan pergi mandi dengan menggunakan air hangat yang memang sudah bersedia di dalam kamar mandi. "Feli, aku bersih-bersih dulu."


"Iya .... "


*****


"Feli, jangan mainan tas terus! Sekarang


mandi sana! Nanti keburu malam," ucapku memecah lamunan Feli yang sangat asik sambil memegang tas yang diberikan Rian.


Tak lama, Feli langsung berdiri dan membersihkan dirinya. Saat Feli ke kamar mandi, aku menyentuh tas tersebut dan mengingat kembali bayangan ga dia misterius di dalam kelas tadi. Aku benar-benar yakin kalau tas ini adalah miliknya. Ucapku sekali lagi di dalam hati.


Feli keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan pakaiannya. "Sarah, kalau ngak papa? Dari tadi sikap kamu aneh sekali. Bikin perasaanku menjadi tidak enak tau."


"Aku tidak apa-apa kok Fel."


"Yakin? " ujar Feli sambil memegang tas dan kelihatannya dia berniat untuk menyimpannya, lalu aku mengangguk-anggukkan kepala ku.

__ADS_1


"Fel, ayo makan bareng! " sapaku kepada Feli yang tengah asik menyentuh dan memperhatikan tas yang diberikan Rian padanya. "Feli .... "


"I-iya Iya Sarah, ayo, sahut Feli terbata-bata, tampaknya ia masih ingin berlama-lama bersama tas itu.


Melihat wajahku yang pucat namun masih menunggu dia berdiri untuk makan bersama, Feli langsung bergegas menuju ke arah ku. Dia tampak sangat bahagia, aku bisa melihat dari sorot mata dan ekspresi wajahnya. Aku bertanya di dalam hati, bagaimana caraku mengatakan semua ini kepadanya? Kasihan Feli.


"Ayo makan Sarah! Yang banyak ya."


"Tidak."


"Maksudnya?"


"Oh, tidak Feli, maaf."


"Kenapa kamu jadi bengong begitu Sarah?" tanya Feli sambil fokus menatap ke arahku.


"Tidak Feli, aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab ku sambil menyuap makanan ke dalam mulutku.


"Seperti itu sesuatu yang berat? Ceritakan saja kepadaku!"


"Lain waktu ya Feli! Aku ingin makan yang banyak," jawabku sambil menyuap nasi ke dalam mulut dengan malas.


"Aku buatkan teh hangat ya?"


"Iya mau, makasih ya Fel."


Tak lama dari Feli meninggalkan aku ke dapur untuk membuat teh, terdengar suara ketukan pintu dari luar rumahku dan aku segera membukanya.


"Hai, gimana keadaan kamu Sarah?" tanya Rian dengan senyumnya yang khas dan menyodorkan parsel buah-buahan segar yang besar untukku.


"Aku ... aku lumayan baik."


"Iya ... silahkan masuk! Di luar hampir magrib."


"Baik, terimakasih Sarah."


Rian masuk ke dalam rumah dan pada saat yang bersamaan, aku menatap ke arah mobil yang Rian bawa. Tidak ada lagi kumpulan serangga di sana, ucapku didalam hati. Lalu aku membalik tubuhku untuk masuk ke dalam rumah menyusul Rian. Tapi pada saat yang bersamaan, aku merasa ada seseorang yang sedang memandangiku dari kejauhan.


Aku kembali membelokkan kepalaku dan mengarahkan pandanganku ke belakang, lalu secara cepat aku seolah-olah melihat perawakan wanita tua menggunakan tongkat putih yang pernah aku lihat sebelumnya dan ia melintas sangat cepat di hadapanku. Siapa orang tua itu? Tanyaku di dalam hati.


"Sarah, jangan ngelamun! Magrib, ora elok (Tidak bagus)," ucap Rian sambil menunggu aku masuk ke dalam rumah bersamanya.


"Iya .... " jawabku lirih dengan mata yang melirik kesana kemari karena bingung. "Silahkan duduk!"


"Makasih."


Aku berjalan ke arah dapur dan mengatakan pada Feli bahwa, "Di luar ada Rian datang berkunjung dan membawakan buah ini," ujarku sambil menyerahkan parsel buah kepada Feli. "Oh iya, jangan lupa buatkan Rian minuman hangat sekalian."


"Iya Sarah." Lalu Feli kembali memanaskan air di ceret untuk membuat cappucino untuk Rian.


Aku kembali ke ruang tamu dan menemani Rian duduk. Ia tampak memperhatikan aku, walaupun aku tidak terang-terangan menatap matanya, tapi dari sudut ujung kiri mataku, aku dapat melihat ekspresi Rian yang sangat teliti memperhatikan diriku.


"Silahkan .... " ucap Feli sambil menyuguhkan cappucino panas untuk Rian dan teh hangat untukku. Lalu Feli ikut duduk bersama kami dan mereka mulai mengobrol dengan hangat, sedangkan aku hanya ikut tersenyum saat mereka tertawa dan hanya terdiam saat mereka saling bertatapan.


(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ


(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ


(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

__ADS_1


(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ


(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ


(١x) لَا إِلَهَ إإِلَّاالله


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


Hayya 'alashshalaah (2x)


Hayya 'alalfalaah. (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x)"


Sekitar 30 menit mengobrol, terdengar suara azan magrib berkumandang. "Sudah masuk magrib, aku mau ke mesjid dulu. Ada yang mau ikut?" tanya Rian dan Feli langsung mengiyakannya.


"Aku tetap di rumah saja. Hati-hati ya! Jangan lama-lama perginya," jawabku dengan ekspresi yang sangat malas.


"Ya sudah kalau begitu. Kami pamit dulu."


"Sebentar ya, aku ambil mukenah dulu," ucap Feli dan aku langsung ikut ke dalam kamar bersama Feli.


Setibanya di dalam kamar, aku mengatakan kepada Feli untuk berhati-hati dan jangan pulang terlalu malam. Layaknya orang yang tengah kasmaran, Feli hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku pamit dulu ya Sarah."


"Iya, Hati-hati."


"Emmmh... tapi kamu yakin bisa aku tinggal sendiri? Dada kamu ngak sesak lagi?"


"Iya Feli, sepertinya aku sudah membaik berkat pertolongan pertama Rian tadi."


"Syukurlah kalau begitu, aku pamit dulu ya Sarah ku. Bay .... "


"Bay .... "


Sebenarnya pikiran dan perasaanku sama sekali tidak tenang melepaskan Feli pergi bersama Rian, tapi seluruh tubuhku rasanya sangat lemas. Aku harap semua pikiran buruk ku ini hanya karena aku cemas dan khawatir, bukan karena memang akan terjadi hal buruk. Mungkin aku terlalu trauma dengan semua kejadian yang menimpaku. Lagipula jika Rian adalah manusia yang jahat, mana mungkin dia beribadah kepada Tuhan.


"Kak Rio lagi apa dan dimana?" tanyaku di dalam hati sembari melepaskan rasa cemas ku.


Aku tidak bisa meramalkan masa depan, sekalipun dalam satu detik ke depan. Aku bisa saja berencana untuk menghabiskan waktu dengan siapa dan seperti apa, tapi aku tidak bisa menjamin pasti bisa melakukan hal tersebut dan berapa lama aku akan hidup di dunia ini.


Maka dari itu, aku ingin menikmati kehidupan yang aku miliki, bersyukur dan berbahagia dengan segala yang aku punya yang akan membawa diriku pada hakikat kehidupan yang sesungguhnya.


Aku sudah meyakinkan hatiku untuk menerima diriku apa adanya. Tanpa syarat, tanpa rasa khawatir, tanpa rasa takut karena aku harus menerima takdir dari Tuhan dengan baik. Tuhan yang sudah memberikannya padaku, biar saja Tuhan yang akan mengambilnya kembali dariku.


“Faktanyanya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup adalah pengendaraan yang gila dan tidak ada yang menjaminnya. Hidup ini misterius, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi di depan sana sebelum kita melewatinya. "


Bersambung....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘

__ADS_1


__ADS_2