ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
RIO


__ADS_3

2 hari setelah pertemananku dengan Feli Aku sangat merasa nyaman dan hari-hari ku terasa normal karena aku memiliki teman bicara selain Ayahku. Sebenarnya, Kak Rio juga asyik untuk diajak bercerita, tukar pikiran, maupun diskusi. Hanya saja karena dia laki-laki dan aku perempuan, jadi aku merasa masih sangat canggung padanya.


Besok adalah hari terakhir pelaksanaan pengenalan kampus. Jadi hari ini kami dilepas seperti ayam peliharaan agar dapat berbaur dengan masyarakat kampus lainnya terutama para senior. Tapi menurutku, hal ini bukanlah berbaur melainkan uji nyali karena di dalam prosesnya kami hanya dikerjai dengan berbagai macam cara.


Hari ini aku dan Feli terpisah sangat jauh. Kelas kami dibagi menjadi 4 kelompok dan saat ini aku satu kelompok dengan Lia dan Putra yang telah terlanjur menganggap aku sebagai mahasiswi yang aneh.


Macam-macam perintah senior sudah berusaha aku lakukan dengan baik. Dari sudut lapangan besar, aku melihat Kak Rio selalu memperhatikan dan mengawasi ku dari kejauhan.


Saat ada senior mendekati aku, baik itu laki-laki maupun perempuan, apalagi yang ingin bertindak agak keras atau berlebihan kepadaku, maka Kak Rio akan segera mendekat dan menyapaku sembari memperlihatkan keakraban diantara kami.


Sebenarnya, sejak awal aku sangat merasa bahwa Kak Rio selalu memperhatikan dan menjagaku dengan baik. Hal itu membuat aku merasa sangat nyaman dan entah mengapa aku semakin simpati dan tertarik padanya.


Sekitar pukul 16.30 WIB, Kak Rio dipanggil oleh salah seorang temannya yang mengenakan pakaian bertuliskan panitia. Tak lama kemudian, tanganku ditarik paksa oleh 4 orang mahasiswi senior yang mengelilingi ku dan tidak ada satupun diantara mereka yang aku kenali.


Mereka membawaku cukup jauh dari lapangan utama, dimana teman-temanku berkumpul. Dan saat aku ingin melakukan perlawanan, salah satu dari mereka memberikan aku isyarat dengan meruncingkan bibir dan menempelkan jari telunjuk di ujung bibirnya.


Aku sangat mengerti maksud dan isyarat yang baru saja aku terima. Tidak ingin mencari masalah, Aku berusaha menenangkan diri dan mengikuti langkah mereka berempat. Setibanya di pekarangan belakang kampus, Aku melihat seseorang tengah berdiri mengarah ke depan sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya.


"Say, apa benar ini cewek yang lo maksud?" ucap salah satu dari empat senior tersebut.


Seseorang yang hanya tampak punggung tersebut akhirnya membalik diri sehingga aku dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas. Ternyata dia adalah Kak Linda, seseorang yang menyapa Kak Rio saat pertama kali tiba bersama ku di kampus ini.


"Iyap, bener banget. Pintar kalian semua ya dan makasih berat buat bantuan kalian berempat. Kalian memang bisa aku andalkan dan kalian adalah sohib terbaikku." ucap Linda dengan senyumnya yang menyungging sambil melakukan tos pada keempat senior yang berhasil membawa aku ke hadapannya.


"Hai, Lu masih inget gue kan? "


"Tentu saja Kak. " sahutku dengan santai dan tenang walaupun aku merasa sedikit aneh dengan sikap mereka berlima terhadapku.


"Gue mau tanya dan lo harus menjawab pertanyaan gue dengan baik ...!"


"Baik Kak, soal apa? "


"Rio. " jawabnya cepat dan singkat.


"Oh, Kak Rio. Ada apa memangnya dengan Kak Rio? "


"Apa hubungan kamu dengan Rio? " ucap Kak Linda sambil mendekatkan tubuhnya pada tubuhku dan iya membuka matanya lebar-lebar.


Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kak Rio, kami hanya berteman. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang Kak. " ucapku jujur karena memang tidak ada hubungan khusus antara aku dan kak Rio.


"Bagus deh kalau gitu, karena kalau lo macam-macam, gue bakalan ngabisin lu." ujar Kak Linda tampak mengancam, begitu juga dengan keempat rekannya yang lain.

__ADS_1


"Tapi aku dan Kak Rio memang tidak punya hubungan apa-apa Kak dan aku tidak berniat untuk berbohong. "


"Lagian lo juga nggak pantes buat dia karena lu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di sini. Sementara Rio adalah ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang sangat penting di sini. Sama sepertiku, Aku adalah sekretaris dari bagian organisasi mahasiswa bergengsi di kampus ini. Jadi aku jauh lebih pantas bersama Rio dibandingkan kamu. " ucap Kak Linda sambil mendorong bahu kiriku dengan kedua jari tangannya.


Merasa puas membanggakan diri dan mengobrak-abrik perasaanku, Kak Linda dan teman-temannya meninggalkan aku sendirian di pekarangan belakang kampus.


Aku berkata di dalam hati, ternyata Kak Rio memang bukan mahasiswa sembarangan di kampus ini. Jadi wajar saja jika banyak wanita yang mengincarnya dan ingin dekat dengan dirinya. Sebaiknya aku menjauhi Kak Rio! Pikirku. Tapi kenapa hatiku menolaknya?


Rasanya saat ini otakku memerintahkan agar aku menjauhi Kak Rio tapi seakan-akan hatiku menentangnya dan mengatakan bahwa aku ingin selalu bersamanya karena saat bersama Kak Rio aku merasa hidup dan bahagia. Tidak perlu memilikinya, melihat senyumnya saja sudah Cukup membuatku bahagia.


Dalam pertikaian pikiran dan batin, aku terus melangkah perlahan menuju jalan setapak yang mengarahkan aku ke ke dalam gedung kampus hingga ke lapangan utama. Tapi saat aku tiba di pintu pagar berwarna hitam tersebut, aku mendapati pintu itu telah terkunci dan digembok rapi.


Tampaknya para Gadis itu memang ingin mengerjai aku walaupun aku sudah jujur dan memang tidak ada hubungan antara aku dan kak Rio. ucapku di dalam hati sambil memukul-mukul pagar tersebut.


Aku berusaha keluar dari tempat ini dengan cara menggoyang-goyangkan pagar besi tersebut sambil berteriak memanggil siapapun untuk segera membukakannya untukku. Karena jika tidak, pasti aku akan menginap semalaman di sini dan aku tidak menginginkannya.


"Halo ... halooooo ... tolong siapapun yang mendengarkan ku. Tolong bukakan pintu pagar besi ini ...!" teriakku dengan suara yang tinggi dan aku merasa bahwa teriakanku ini sangat kuat, tapi tampaknya tidak satupun orang yang mendengarkan aku. Mungkin karena jarak antara kerumunan dosen, mahasiswa, dan satpam termasuk jauh dari tempatku saat ini berada.


Satu jam berlalu, hari mulai gelap bahkan suara mengaji sudah terdengar dari masjid terdekat. Aku sangat takut dan merasa bingung, seandainya saja aku membawa handphone pasti saat ini aku bisa menghubungi Kak Rio atau Feli untuk menolongku. Tapi sayangnya kami tidak diizinkan membawa handphone saat sedang dalam kegiatan pengenalan kampus.


Aku merasa suasana kampus sudah sangat sepi, bahkan aku tidak mendengarkan suara riuh yang sejak tadi masih terngiang di telingaku. Merasa tidak punya pilihan, aku mengepalkan kedua tanganku sangat erat dan bertekad untuk memanjat pagar hitam dari besi yang bersekat dengan tinggi sekitar 2,5 meter.


Rasanya tidak mungkin bagiku, tapi aku tidak punya pilihan selain melakukannya karena aku tidak ingin lagi terperangkap di dalam situasi yang mencekam. Dengan jantung yang berdebar kencang, Aku berusaha menaikkan kaki kananku pada ruas terendah pagar yang ada di hadapanku.


Aku tiba di atas bagian tertinggi dari pagar tersebut dan aku kehilangan keseimbangan sehingga tubuhku bergoyang di atas pagar hitam tersebut. Tapi aku tetap berusaha berpegangan dengan erat pada ujung-ujung pagar yang runcing.


Kemudian disaat aku merasa yakin bahwa yang akan mendaratkan terlebih dahulu adalah kedua kakiku, aku pun langsung melompat hingga aku tersungkur di lantai dingin berwarna hitam.


Kepalaku membentur lantai hingga terluka dan mengeluarkan sedikit darah. Dalam posisi tersungkur, aku menyentuh dahiku yang terluka dengan tangan kananku. "Auh ...." ucapku lirih sambil meringis menahan rasa sakit dari luka yang tidak seberapa.


Kedua kakiku terasa sangat sakit tapi aku yakin bahwa diriku cukup kuat untuk berdiri. Namun pada saat aku ingin menegakkan kepalaku, aku melihat sepasang kaki wanita yang tampak kotor tanpa alas dan tidak menyentuh lantai tepat di hadapanku.


Tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan seluruh bulu roma ku berdiri tidak terkendali. Ini tidak benar, ucapku di dalam hati. Dengan bibir yang mulai bergetar aku memejamkan kedua mataku dan dengan cepat aku segera membuka kedua mataku kembali sambil menengadahkan kepalaku ke atas untuk melihat siapa yang berada di hadapanku.


Saat pandanganku lurus ke depan, Aku sama sekali tidak melihat siapapun berada di hadapanku. Tapi aku merasa ada sosok misterius yang berada tepat di belakangku. Aku mulai kalap dan tidak tau harus apa? Hanya saja aku mengingat ucapan Pak Yusuf, "Mungkin saja, mereka hanya ingin dianggap ada. "


"Ini magrib dan aku tahu ini adalah waktumu, tapi aku tidak sengaja dan tidak berniat untuk mengganggu. Aku juga terjebak di sini, jadi ... aku minta jangan menyakiti aku." ucapku dengan suara yang gemetaran.


Aku merasa tidak ada gerakan dari makhluk misterius tersebut, jadi aku putuskan untuk berlari sekencang-kencangnya. Ketika aku melewati beberapa ruangan yang tampak gelap karena lampu yang sengaja tidak dinyalakan, aku dapat melihat beberapa sosok yang menyeramkan dan semua mata mereka mengarah kepadaku.


Aku sangat ketakutan dan terus menangis. Aku juga terus berlari menuju gerbang utama pintu kampus yang rasanya sangat jauh. Tidak, tidak mungkin, rasanya aku tidak mungkin bisa menggapai pintu itu. Ini terasa sangat jauh. Ucapku dalam hati sambil melihat kearah lantai karena merasa takut menatap ke kiri, kanan, maupun ke depan.

__ADS_1


Tapi pada saat yang bersamaan, aku merasa dua tangan menyentuh pundakku. "Kamu nggak papa Sarah? Kamu dari mana saja? Aku mencari kamu sejak tadi." ucap Feli sambil menatap wajahku yang sudah basah karena keringat.


"Feli ... tolong aku. " ucapku karena merasa sangat ketakutan.


"Sudah, sudah, tenang saja. Ayo kita pergi dari sini !" ucap Feli sambil memegang kedua bahu ku dan membawaku keluar dari gedung utama.


"Kak Rio, Kak Rio, Kak ... Sarah sudah berada disini bersamaku. " ucap Feli berteriak memanggil-manggil nama Kak Rio beberapa kali.


"Ya ampun Sarah kamu nggak papa?" tanya Kak Rio yang datang menghampiriku dan Feli bersama seorang satpam yang bertugas jaga malam ini. " Kamu dari mana saja Sarah? Kami semua mencarimu dan khawatir. Coba lihat kepalamu terluka seperti ini. Ya ampun ... apa yang harus aku katakan kepada ayahmu?" tanya kata Kak Rio sambil menghapus darah yang ada di dahi ku dengan baju jaket miliknya.


"Pasti ada yang mengerjai Sarah, aku yakin itu." ucap Feli dengan wajah yang tampak geram. "Awas ya .... " sambung Feli sambil mengepalkan tangan kanannya dengan kuat dan aku hanya memperhatikan tanpa menjawabnya.


"Apa itu benar Sarah? " tanya Kak Rio.


"Kak, bawa aku pulang. Aku hanya ingin pulang. " ucapku sambil mengatur nafas yang sudah tersendat-sendat. "Feli, sebaiknya kamu juga segera pulang! Tidak baik untukmu disini berlama-lama. "


"Benar sekali. Apalagi ini magrib, sebaiknya kita meninggalkan gedung ini. " ucap satpam yang berada bersama kami dan ia tampak memahami situasi angker kampus tersebut.


Feli pun pulang dengan menggunakan ojek online dan satpam kembali ke posnya sambil menunggu teman jaga malam ini, dan satpam tersebut juga tampak ketakutan. Sementara aku dan kak Rio juga langsung meninggalkan kampus, tapi sebelum pulang ke rumah, Kak Rio mengajakku untuk mengobati luka pada dahiku di klinik tidak jauh dari kampus.


Aku mengiyakan ucapan Kak Rio yang berniat baik padaku. Sekitar 15 menit melakukan perjalanan, kami tiba di klinik dan Kak Rio langsung membawaku ke ruangan untuk segera diobati.


Luka yang ada di dahi ku ini sebenarnya tidaklah besar jadi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengobatinya. Kak Rio keluar lebih dulu ke arah kasir untuk membayar pengobatan ku dan aku segera turun dari ranjang kecil di dalam ruangan dokter yang mengobati lukaku. Tapi pada saat yang bersamaan, listrik tiba-tiba padam dan aku merasa ada tangan yang mencengkram leherku sangat kuat, padahal aku sangat yakin di ruangan ini hanya tinggal aku sendirian.


"Aaaak ... aaak ... aaaak ... aaakkk ... aaaak.... " Teriakku sekuat tenaga sambil menahan tangan misterius yang sangat kuat mencengkram leherku.


Tak lama dari luar aku mendengar langkah kaki cepat sambil bersuara dan bertanya, "Ada apa Sarah? Kamu kenapa? " Ternyata itu adalah suara Kak Rio.


"Tolong aku Kak, tolong. Ada yang ingin menyakiti Ku." ucap ku sambil menangis dan Kak Rio langsung menarik tanganku dari ruangan dokter tersebut kemudian ia menghidupkan hp-nya untuk memberikan cahaya kepadaku.


Beberapa perawat dan dokter mendekatiku dan bertanya apa yang terjadi sehingga aku berteriak seperti itu tapi aku tidak kuat untuk menjawabnya dan pada saat yang bersamaan Kak Rio memberikan aku pelukan hangat agar aku dapat lebih tenang.


Di dalam pelukan Kak Rio, aku menangis sambil membenamkan wajahku di dada kirinya. "Menangislah ...! Tidak apa. Buang semua rasa sakit dan takut mu Sarah! Hempaskan di dadaku. Tenang, aku ada di sini menjagamu. Maaf jika tadi aku sudah lalai. " ucap Kak Rio sambil membelai rambutku dengan lembut dan memeluk tubuhku dengan sangat erat.


Rasanya hangat dan nyaman sekali. Seketika rasa cemas dan takut ku hilang tanpa aku usir. Aku bersyukur karena saat ini ada seseorang yang begitu peduli padaku dan begitu Ingin aku tenang dan selamat. Aku berharap semua ini dapat berlangsung lama bahkan mungkin untuk selamanya.


"Apa ini lebih baik? " tanya Kak Rio yang berbisik tepat di telinga kiriku dan aku mengangguk-anggukkan kepalaku yang masih aku tempelkan di dadanya.


"Syukurlah .... " ucap Kak Rio sembari menempelkan dagunya di ubun-ubun kepalaku dan membuang nafasnya yang panjang dan dalam.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2