
Aku masih melihat sembari menyentuh tubuh sahabatku dari kepala hingga ujung kakinya. Aku menatap dan berharap, semoga Tuhan kasihan kepada kami dan memberikan kesempatan kepada Feli untuk kembali hidup normal dan mendapatkan kebahagiaannya.
Tidak ada ketakutan dan pemikiran lain di dalam hatiku saat ini. Bahkan aku melupakan semua ancaman yang akan mengakhiri hidupku atau Ayahku. Entah mengapa bagiku Feli lebih penting bagiku ini. Mungkin karena aku benar-benar menyayanginya dan sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri.
"Permisi Mbak, anda keluarga pasien?"
"Iya Sus. "
"Bisa ikut saya sebentar? Ada yang ingin dokter sampaikan."
"Apa tidak bisa di sini saja Suster? Saat ini, aku tidak ingin meninggalkan saudaraku dalam keadaan seperti ini sendirian di sini."
"Baiklah, kalau begitu saya mengerti. Sebentar ya Mbak! "
Sekitar 20 menit berlalu perawat yang tadi menyapaku, datang bersama seorang dokter wanita separuh baya. "Kami telah memberikan tindakan kepada pasien dan saat ini pasien telah melewati masa kritisnya, hanya saja akan sulit bagi pasien untuk sehat seperti sedia kala karena kondisinya sangat drop akibat kehilangan banyak darah."
"Tolong berikan dan lakukan yang terbaik kepada saudaraku dokter karena aku akan sangat menderita jika kehilangan dia."
"Saya datang ke sini untuk mengatakan hal itu dan biaya rumah sakit yang harus ditebus karena pasien langsung ditindak sesaat setelah tiba di rumah sakit. "
"Aku akan segera menelpon Ayah untuk datang ke rumah sakit dan mengurus soal ini dan aku harap pihak rumah sakit bersedia bekerjasama dan benar-benar untuk memperhatikan saudaraku, Feli."
"Baik saya paham, " ujar Dokter yang juga mengetahui bahwa Feli adalah korban tabrakan yang dilakukan dengan disengaja.
Saat dokter tersebut sudah meninggalkan aku bersama Feli, aku langsung menelpon Ayah. Aku menyampaikan informasi dari dokter dan mengatakannya kepadanya. Selain itu, aku juga menceritakan tentang kejadian yang menimpa Feli.
Aku saat ini sangat membutuhkan bantuan dan dukungan Ayah untuk bisa mempertahankan hidup Feli. Jadi aku memohon kepada Ayah agar beliau ikhlas membantu Feli karena hanya dia satu-satunya sahabat yang aku miliki dan sepertinya Ayah sama sekali tidak keberatan.
Ayah mengatakan padaku bahwa beliau akan segera ke rumah sakit untuk mengurus administrasi. Aku mengucapkan terima kasih yang banyak kepada Ayah karena Beliau selalu menjadi seorang Ayah yang terbaik untukku dan aku semakin menyayangi Ayahku.
Tak lama Kak Rio datang menghampiriku. "Sabar ya sayang ...." ucap Kak Rio lirih.
"Makasih Kak. Sebaiknya Kakak segera pulang karena besok Kakak harus survei lapangan untuk melakukan KKN, sementara aku akan tetap menunggu disini karena Ayah juga akan kesini."
"Begini saja, aku akan menemanimu di sini sampai Om Ardi datang setelah. Setelah itu aku baru pulang, " ujar Kak Rio sepertinya tidak ngin melihat aku menderita dan hancur sendirian.
"Apa Kakak yakin? "
"Tentu saja karena aku khawatir padamu dan tidak ingin terjadi sesuatu padamu, " Ucap Kak Rio sembari membelai kepala hingga ujung rambut ku berulang kali.
Sekitar 1 jam berlalu, Ayah tiba di rumah sakit dan langsung mengurus administrasi serta kebutuhan Feli yang lainnya. Ayah bilang aku harus sabar dan ikhlas dengan cobaan yang menimpa Feli. Selain itu, aku juga harus memberikan kekuatan kepada Feli untuk bertahan. Feli harus berjuang hingga akhir kemampuannya.
Setelah Ayah tiba di ruang ICU dan Kak Rio merasa keadaanku lebih baik dan aman, ia pun langsung permisi untuk pulang karena besok harus melakukan tugas perkuliahan di luar kota. Ayah sangat memahami dan memaklumi kesibukan Kak Rio karena memang di semester akhir banyak sekali tugas yang harus diselesaikan.
"Sarah, nanti tengah malam Ayah juga permisi untuk pulang ya? Karena Ayah harus menyelesaikan pekerjaan Ayah yang memang harus dikumpulkan lusa. "
__ADS_1
"Kalau begitu, sebaiknya Ayah pulang sekarang saja jadi lebih punya banyak waktu untuk menyelesaikannya dan ayah bisa beristirahat. "
"Kamu yakin? "
"Iya Yah. Aku juga tidak ingin Ayah sakit dan aku harap Ayah selalu berhati-hati, baik itu di dalam perjalanan maupun di tempat kerja. Aku tidak ingin apa yang menimpa Feli, juga terjadi pada Ayah. "
"Ayah mengerti maksud kamu Sarah. Ayah juga berharap, kamu bisa menjaga dirimu dengan baik. Kalau gitu Ayah pamit dulu Ya Nak? "
"Iya Yah ..... "
*****
Aku masih sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Feli, untuk itu aku kembali mendekati Kak Linda tapi bukan untuk menyapa atau menjenguknya melainkan melihat Neneknya Feli yang berada tepat di atas dahi Kak Linda.
Saat aku berada di dekat kak Linda, Papa dan Mamanya langsung berdiri menatapku. "Maafkan anak kami, nak! Kami mohon jangan tuntut dia apalagi memenjarakannya karena dia masih sangat muda dan mungkin memang dia sedang tidak stabil sehingga Linda melakukan tindak kejahatan diluar pikiran manusia." ucap Mamanya Kak Linda dengan deraian air mata sambil menatap ke arahku penuh harap.
Aku hanya mendengar tapi tidak mengacuhkan perkataan Mama Kak Linda kepadaku. Bukan tidak menghargai pembicaraan orang tua tapi rasa marah ku jauh lebih besar daripada rasa kemanusiaan ku. Lagi pula, aku kemari bukan untuk Kak Linda melainkan untuk mencari tahu kebenaran tentang Feli. Ucapku di dalam hati.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Feli?" tanyaku sembari mengarahkan pandanganku pada bagian kepala Kak Linda.
Mungkin Papa dan Mama Kak Linda berpikir bahwa aku bertanya kepada Kak Linda. Padahal aku bertanya kepada Neneknya Feli. Tidak lama kemudian, Nenek Kartika memutar kepalanya sekali lagi dan menatapku dalam-dalam sehingga aku dapat melihat kejadian yang menimpa Feli sejak ia pulang dari kampus dan mulai menggambar di kertas pertama.
Air mataku mulai menggenang dan menutupi kedua bola mataku saat melihat perjuangan sahabatku untuk membantu ku. Aku melihat bagaimana Feli mulai membuka mata batinnya, mulai menggambar, dan mulai mengalami pendarahan hebat di dalam rumahnya.
Sebenarnya Kakek dan Nenek Feli telah memberikan isyarat kepadanya untuk mengurungkan niatnya, tapi karena Feli telah menutup mata batinnya, jadi ia tidak dapat merasakan bayangan maupun simbol yang diberikan oleh Kakak dan Nenek.
Sekali lagi kakek berusaha untuk menyelamatkan Feli. Hal itu tampak dari sebelum tubuh Feli tertabrak oleh mobil yang dibawa oleh kak Linda, Kakek Feli terlebih dahulu menghadang mobil tersebut hingga rohnya hancur, berubah menjadi asap besar lalu menghilang. Hal itu jugalah yg menyebabkan Kak Linda hilang keseimbangan dan menabrak mobil lain.
Tapi sayangnya kekuatan Roh kakek tidak sekuat sebelumnya karena telah banyak membantu Feli saat melindunginya ketika ia membuka mata batinnya.
Selain itu, aku juga melihat bagaimana proses kejadian saat Feli ditabrak dari samping, ketika hendak menyeberang jalan menuju ke arah rumahku. Saat itu aku melihat tubuhnya terpental dan berguling-guling di atas aspal, lalu Feli memanggil namaku dengan suara yang tipis dan lirih, kemudian ia memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.
Air mataku jatuh tidak terbendung saat aku mengetahui bahwa seseorang yang ada di dalam hati dan pikiran Feli ketika ia hampir meregang nyawa, ternyata itu adalah aku. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa kehilangan Feli sahabatku? Tolonglah aku ... aku sudah kehilangan segalanya. Ucapku di dalam hati.
"Aku akan membantu Feli sekuat tenaga ku Nek .... " ucapku dengan suara yang lirih. Tanpa memperhatikan kedua orang tua Kak Linda, aku kembali berjalan ke kursi dekat Feli terbaring.
"Dimana tas Feli? " tanyaku dengan suara yang samar-samar karena baru sadar akan perjuangan Feli yang tentunya ada di dalam tas miliknya tersebut.
Aku mencari tas itu di setiap sudut ranjang hingga lemari yang letaknya tidak jauh dari ranjang Feli, tapi aku tidak menemukan tas tersebut. Tanpa pikir panjang, aku langsung menemui salah satu suster yang tengah jaga malam saat itu.
"Sus, maaf ... apa tas milik saudaraku ada disini? "
"Sebentar ya ... karena kemarin bukan saya yang jaga jadi sebaiknya saya tanya pada yang lainnya. "
"Baik Sus. "
__ADS_1
Tak lama, suster tersebut kembali ke sisiku dan mengatakan bahwa tas tersebut dijadikan bahan bukti sehingga berada di kantor polisi. Aku kembali ke dekatan Feli dan berpikir, apakah aku harus menyusul tas tersebut karena disana aku akan menemukan sesuatu yang diperjuangkan oleh Feli.
15 menit berpikir, tiba-tiba hatiku kuat dan mengarahkan aku untuk mengambil tas Feli ke kantor polisi. "Feli, aku pergi dulu ya. Aku harus melihat gambar-gambar yang kamu perjuangkan kemarin. Lagipula di sini banyak suster yang akan menjagamu," ujarku sambil membelai dahi hingga rambut Feli.
Aku bergegas berjalan keluar dari rumah sakit dan sebelumnya aku sudah menitipkan Feli kepada suster jaga. 30 menit diperjalanan menggunakan ojek online, aku tiba di kantor polisi dan mengatakan bawa aku ingin mengambil tas milik Feli.
Berbagai pertanyaan dilayangkan kepadaku karena tas ini sudah dijadikan bahan bukti oleh Polisi. Mereka tidak ingin salah langkah dan mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada barang bukti mereka.
"Jika tas Feli tidak bisa saya bawa pulang, itu tidak masalah Pak Polisi. Yang penting anda mengizinkan saya untuk mengambil buku gambar yang berada di dalam tas tersebut. Jika anda masih ragu kepada saya, anda bisa mengambil buku itu sendiri dengan tangan anda, lalu memberikan kepada saya karena itu sangat penting dan berharga."
"Baik. Tunggu disini! "
"Iya Pak .... "
10 menit berlalu, tepatnya pukul 22.10 WIB. "Ini yang anda maksud dan anda inginkan? " tanya polisi tersebut sembari menyodorkan buku gambar milik Feli.
"Benar Pak, " ucapku dengan yakin.
"Silahkan .... "
"Terimakasih banyak Pak. Kalau begitu, saya langsung pamit karena ingin ke rumah sakit kembali. "
"Baik. Hati-hati ya .... "
Aku meninggalkan ruangan dan berjalan lambat menuju luar kantor polisi. Tetapi aku sangat penasaran dengan apa yang telah Feli lihat, untuk itu aku memutuskan membuka buku gambar tersebut sesaat setelah berada di kursi belakang tukang ojek online yang aku tumpangi dan aku melihat gambar tersebut dengan perlahan.
"Tidak mungkin .... " ucapku setengah berbisik.
Feli menggambar wajah wanita yang sangat persis dengan Ibuku dan aku yakin bahwa itu adalah Tante Rima karena Feli pernah mengatakan sebelumnya lewat chat, jika gambar ini adalah manusia bukan roh.
Halaman selanjutnya. Aku melihat Ayahku sudah bersimbah darah dalam posisi setengah duduk, seperti menahan tancapan pisau di perutnya. Sementara aku berada tepat di belakang tubuh Ayah.
Aku terus membuka gambar selanjut dan tampak Tante Rima berada di hadapanku sambil memegang sebuah parang ukuran panjang dan pisau dapur yang sudah berlumuran darah. Dari gambar ini, tampak Tante Rima berniat untuk menebaskan parang tersebut tepat di leherku dengan ekspresi wajahnya yang sangat menyeramkan.
Bukan hanya itu yang membuat aku kaget setengah mati. Tapi waktu yang Feli tulisan pada catatan kaki, yang menunjukkan bahwa waktu tragedi ini akan terjadi di malam ini, tepatnya pukul 00.00 WIB tengah malam nanti.
"Ayah ...." ucapku lirih karena teringat bahwa Ayah saat ini berada di rumah seorang diri.
Sebaiknya aku segera pulang untuk menyusul Ayah dan membantunya sebelum tragedi ini terjadi. Aku harus memperingatkan Ayah dan menunjukkan gambar-gambar yang telah Feli tuangkan di dalam buku ini, agar Ayah lebih yakin dengan apa yang akan aku katakan nanti.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘
__ADS_1