
Hari ini, kami hanya di dalam ruangan saja, karena hari ini adalah hari terakhir pengenalan kampus dan besok senin kami akan mulai melaksanakan proses pembelajaran yang sebenarnya.
Sebenarnya saat ini aku merasa sangat tidak enak hati karena sepertinya Feli tersinggung dengan kata-kata ku tadi. Mungkin aku terlalu menyudutkannya dan membuat bahwa apa yang telah kepada Kak Linda dan teman-temannya adalah kesalahan Feli, padahal aku tidak tahu apa-apa dan tidak punya bukti apapun. Aku rasa aku perlu meminta maaf kepada Feli, ucapku di dalam hati.
*****
Jam istirahat dimulai, Feli tampaknya tidak ingin bergerak dari bangkunya dan aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara untuk berbicara kepada Feli karena aku tidak pandai dalam hal ini.
Aku berpikir mungkin lebih baik aku ke kantin terlebih dahulu untuk membelikan juice dan beberapa potong kue lalu membawanya ke dalam kelas kembali untuk dimakan bersama Feli. Mungkin dengan cara seperti ini, aku dan Feli akan mendapatkan suasana yang lebih santai dan aku bisa meminta maaf kepadanya.
Melewati jalan tepi ruang kelas, aku pun bergerak cepat menuju kantin agar tidak kehilangan waktu istirahat. Setibanya di kantin aku melihat satu pondok yang terang dan bercahaya putih keemasan. Hal itu menarik mata dan keingintahuan ku terhadap apa yang ada di dalam pondok tersebut.
Setibanya di sana, aku melihat sepasang suami istri paruh baya yang menjajakan beberapa macam kue basah seperti bakpao, donat aneka rasa, lupis, kue lapis, wingko, dan beberapa gorengan seperti pastel, pisang, empek-empek, risol, tahu isi, dan lain sebagainya
Rasanya tidak ada yang istimewa di dalam pondokan ini, hanya saja suasananya tampak lebih rapi, bersih, dan tenang. Aku mulai melangkahkan kakiku untuk mengambil baki dan penjepit makanan, kemudian aku mulai memilih makanan yang menurutku sangat nikmat.
Sesampainya di ujung meja, di mana ada tulisan pastel ayam dan sayuran yang tampak sangat nikmat dari tempat aku berdiri dan aku ingin membelinya. Pada saat yang bersamaan aku melihat seorang anak kecil berumur sekitar 10 tahun, tengah duduk bersila sengan mengenakan mukenah di dalam sebuah ruangan kecil dan ia mengaji tanpa henti.
Suaranya sangat indah dan merdu sampai-sampai aku memilih untuk mengambil 2 buah kue dan segelas air putih kemudian duduk dan makan tidak jauh dari tempat anak tersebut mengaji.
Aku seperti terpesona dan lupa diri, bahkan aku lupa dengan tujuan ku masuk ke pondokan ini hanya untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuk berdamai dengan Feli.
Suara gadis kecil ini dan bacaannya sangat menyentuh hati hingga membuat aku meneteskan air mata tanpa alasan. Dari kursi sini, aku hanya dapat melihat tubuh mungilnya dari belakang (hanya tampak punggung).
Hampir 20 menit aku berada di pondokan ini tapi aku sama sekali tidak melihat bahwa sang gadis merasa lelah dengan bacaan ayat-ayat suci Alquran yang ia lantunkan. Sebenarnya, aku ingin bertanya tapi aku tidak ingin mengganggu apa yang tengah ia lakukan.
Aku berusaha mengalihkan pikiran dan perasaan ku terhadap gadis kecil itu. Setelah membayar dan membawa beberapa makanan dan minuman aku segera menemui Feli. Saat aku berada di hadapannya, aku langsung memberikan beberapa makanan tersebut beserta minumannya.
Saat itu Feli mengatakan padaku bahwa dia tidak marah ataupun tersinggung kepadaku. Ia pun meminta aku untuk duduk tidak jauh dari dirinya dan aku pun melakukannya. Feli tanpa berusaha mengajakku berbicara dan tertawa dan aku pun dengan senang hati meladeni perkataan Feli.
"Feli, Sebenarnya kamu adalah gadis yang cantik tapi rambutmu ini menutup kecantikanmu Apa tidak sebaiknya dipotong saja agar terlihat lebih rapi dan kecantikanmu terpancarkan. " ucapku sembari berdiri dan mengambil kedua sisi kiri kanan rambutnya lalu menyatukannya seperti hendak diikat.
"Apa itu benar?" ucap Feli sambil tersenyum dan mungkin saat itu ia merasa bahwa perkataanku hanya sekedar basa-basi saja.
"Tentu saja, wajahmu sangat bersih tanpa noda dan kulitmu putih. Ditambah lagi dengan bulu-bulu halus yang menghiasi di setiap sisi wajahmu. Sebenarnya kamu adalah gadis yang feminim hanya saja mungkin karena keadaan, kamu menjadi seperti ini, lebih mendekati wanita tomboy.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... kamu membuat aku tertawa Sarah. Asal kamu tahu saja, hanya kamu satu-satunya orang yang mengatakan hal seperti itu kepadaku karena tidak ada satupun dari mereka yang memperhatikan diriku seperti kamu.
__ADS_1
"Tentu saja Feli karena aku adalah sahabatmu. Walaupun kita baru bertemu tapi aku merasa bahwa kita adalah dua manusia yang saling terhubung."
"Apa sekarang kamu bisa mengerti tentang apa yang terjadi? Walaupun bukan aku yang mereka sakiti, tapi tetap saja sesuatu di sekitarku bereaksi dan melakukan pembalasan secara gaib karena sejak awal, saat kita berpelukan, hatiku sudah menentukan dan menganggap kamu sebagai saudaraku."
"Makasih Feli, kamu juga saudaraku dan mulai sekarang apa salahnya jika kamu sering-sering menginap di rumahku, begitu juga sebaliknya. Satu lagi, tentang apa yang aku katakan tadi, itu bukan main-main dan omong kosong loh. Aku ingin besok minggu kita janjian untuk bertemu dan ke salon bersama. Bagaimana? Kamu tidak boleh menolaknya jika kamu menganggap diriku adalah saudaramu. "
"Baiklah ... anggap saja ini tanda aku setuju dengan perkataanmu Sarah. Aku akan memotong rambut panjangku yang sudah bercabang ini. "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ...." ucap Feli sambil tertawa besar dan itu memancing teman-teman satu kelas untuk menatap aku dan Feli.
Merasa malu diperhatikan banyak orang, aku menutup mulut Feli dengan tangan kanan ku dan memberikan ia kode bahwa kami saat ini tengah diperhatikan orang banyak. Tapi tempaknya Feli sama sekali tidak peduli dan ia terus menambahkan jumlah tawanya.
Jam istirahat pertama sudah berakhir. Aku pun segera kembali ke bangku dan meninggalkan Feli dengan tawa dan air matanya yang masih tersisa. Ada satu hal yang aku inginkan, saat istirahat jam kedua nanti aku berencana untuk kembali ke pondok dimana aku membeli aneka kue dan minuman untuk Feli.
*****
Jam istirahat kedua telah dimulai, tanpa pikir panjang aku langsung berjalan ke arah pintu untuk segera ke pondok tersebut. Tapi ketika langkahku baru meninggalkan garis pintu ruang kelas, Feli berkata, "Penasaran ya? Tapi itu bagus juga. Sebaiknya kamu mencari tahu kebenarannya, agar kamu mengerti bahwa mereka tidak hanya jahat, menakutkan, menyeramkan, bahkan mematikan, tapi banyak diantara mereka yang baik dan dapat menyejukkan hati.
Aku menatap Feli dan berusaha mencerna ucapannya dan aku melihat senyum dari Feli yang tampak tenang. Sepertinya tidak masalah bagiku, jika aku ingin mencari tahu tentang pondok tersebut dan anak kecil bersuara merdu yang mampu membuat hatiku begitu tenang dan damai.
Aku membalas senyum Feli dengan senyuman lembut lalu aku menganggukkan kepala dan meninggalkan Felly di dalam kelas dengan buku gambar dan pensilnya. Aku sangat tidak menyangka ternyata Feli selalu memperhatikan dan menjaga langkahku. Di saat ia merasa bahwa aku dalam kondisi aman, maka ia akan melepaskan ku dengan senyuman.
"Mau minum apa Non? " tanya pemilik pondok yang menghampiri ku ketika melihat aku sudah berada di dalam pondok tersebut lebih dari 10 menit tanpa memesan minuman atau memakan apapun.
"Ada kopi milo atau cappucino Pak? " sahut ku dengan sopan.
"Cappucino ada Non. Mau yang hangat atau yang dingin? "
"Yang dingin Pak. Udara cukup panas siang ini. "
"Baik Non. "
Sekitar 5 menit berlalu, Cappucino dingin pun Disajikan di atas mejaku dengan beberapa kue di dalam piring lebar berwarna putih. "Makasih ya Pak .... "
"Sama-sama Non. " sahutnya sambil bergerak meninggalkan aku dengan langkahnya yang lambat.
"Sebentar Pak, Ada yang ingin saya tanyakan."
"Oh iya ... silahkan Non. "
__ADS_1
"Pondok ini tampak selalu saja ramai. "
"Alhamdulillah iya Non ... para mahasiswa dan mahasiswi serta dosen disini pada bilang, kalau tempatnya begitu nyaman dan tenang. Padahal di pondok kiri dan kanan tetap saja berisik dengan berbagai aliran musiknya. "
"Iya itu benar Pak. Saya pun merasakan hal demikian. "
"Bapak tampak kurang sehat dan kakinya juga tampak sakit. Kenapa tidak mencari orang lain untuk membantu Pak? "
"Karena kalau pakai tenaga lain, otomatis saya harus menggajinya Non, sedangkan saya saat ini sedang terlilit hutang walaupun sudah hampir 60% dibayarkan. Makanya saya dan istri tidak mencari bantuan tenaga lain guna berhemat. "
"Begitu ya Pak .... "
"Iya Non, ada lagi? "
"Ngak ada Pak, soalnya pondok Ini selalu ramai. Jadi saya pikir Bapak pasti cukup banyak mendapat keuntungan dan sayang sekali jika disaat mempunyai uang tapi tidak bisa menikmatinya karena terlalu lelah. Maaf ya Pak karena saya banyak bertanya dan berkata. "
"Tidak apa Non. Kalau bukan karena hutang piutang, mungkin perkataan Non tadi banyak benarnya. Hampir 5 tahun, saya dan istri beserta anak kami Mirna berjuang keras melawan sakit kanker yang diderita oleh anak kami. Karena itu saya dan istri meminjam uang di berbagai tempat dengan berbagai cara, tapi sayang anak kami Mirna tidak mampu bertahan sekitar 1 tahun yang lalu.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun ... sabar ya Pak .... "
"Insyaallah Non ... kami tidak boleh bersedih dan terus-menerus menangis! Itulah pesan Mirna. Mirna adalah anak yang baik dan sholeha, Mirna pandai mengaji dan suaranya sangat indah. Ketika ia mengucap lafaz Alquran, maka ketenangan hati selalu dicapai, setidaknya bagi saya dan istri saya.
Ketika mendengarkan ucapan beliau, aku langsung menatap ke arah ruang kecil, dimana ada seorang gadis kecil sedang tengah mengaji secara terus-menerus tanpa henti dengan suara yang indah dan merdu. Apakah gadis itu Mirna ? Aku bertanya di dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kami semua sudah berjuang dan tidak ada lagi penyesalan. Pondok ini adalah satu-satunya harapan kami untuk mencari rezeki dan alhamdulillah walaupun kami selama ini banyak berhutang di sana-sini, tapi sejak kepergian Mirna, pondok ini begitu ramai pengunjung dan pembelinya sehingga mampu untuk membayar hutang-hutang kami."
"Iya Pak, semoga semua ada jalan keluar terbaik untuk Bapak dan Ibu. Saya juga sangat yakin bahwa Mirna selalu ada bersama Bapak dan Ibu, ia juga selalu membantu dengan doa-doanya agar Bapak dan Ibu segera keluar dari permasalahan ini. "
"Terimakasih Non ...." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya Allah ... ya Tuhanku .... " ucapku dengan suara yang lirih dan air mata yang menetes. Selama ini kedua orang tua Mirna berjuang untuk anaknya. Dan saat ini, walaupun Mirna telah tiada, Mirna pun terus membantu kedua orang tuanya lewat do'a-do'a. Tak lama, aku terbayang tentang Tania, semua tentang Tania kakakku dan itu membuat perih hidungku dan aku menangis cukup lama sambil tertunduk.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘
__ADS_1