
Pagi ini ibu bangun lebih cepat dari pada aku. Ibu membereskan semua pekerjaan rumah, memasak, dan mengurus pakaian ku. Aku terbangun karena mendengar suara mobil yang dipanaskan oleh pak Antok.
Aku segera keluar dari kamar setelah membersihkan diri, tiba-tiba ibu mendekati aku dan memberikan sesuatu ke padaku. Itu adalah foto yang di berikan nenek ke padaku kemarin.
"Sarah , dari mana kamu mendapatkan foto itu?" Ibu bertanya dengan nada yang mengegas.
"Aku mendapatkannya dari lemari kerja ayah Bu. "
"O ya ?" Ibu tampak kaget
"Ibu, apa ibu masih ingat kalau kemarin aku main di ruang kerja ayah ?"
"Iya sayang .... " Nada suara ibu menurun lalu Ibu mulai menata makanan di atas meja makan, sebenarnya aku ingin membantu ibu tapi aku ragu dan malah duduk diam di sini. Aku takut ibu bertanya lagi tentang foto itu padaku.
Ibu duduk di samping ku sambil menuangkan nasi goreng ke dalam piring ku. Kemudian ibu mulai bercerita tentang foto tersebut tanpa aku bertanya terlebih dahulu.
"Itu foto ibu saat kanak-kanak, sebenarnya ibu sudah lama tidak melihat foto itu. Ibu kehilangan foto itu saat setelah menikah dengan ayahmu. Ibu fikir foto itu di bawa "olehnya". "
"Olehnya ... maksud ibu, siapa Bu?
"Saudara kembar ibu, namanya Rima
sejak SLTP kami berpisah, Rima ikut adiknya nenek dan ibu tinggal bersama nenek." Jelas ibu
"Kenapa begitu Bu ?" Mulai penasaran
"Iya, waktu itu masa yang sangat sulit Sarah, kakek mu baru saja meninggal dunia dan nenek asih tidak memiliki pekerjaan jadi kami harus membagi diri agar bisa bersekolah dan hidup dengan layak.
Ooooh, begitu rupanya, Ucapku di dalam hati sambil menunduk.
"Ibu dan Rima hanya bertemu beberapa kali saja, Rima yang hidup mewah di bawa ke kota besar kadang di bawa keluar negeri.Hidupnya sangat bahagia. Oleh karenanya kami juga tidak memiliki banyak foto bersama. Makanya ibu lupa kapan foto itu dan dimana diambilnya? " Aku terus mendengarkan cerita ibu.
"Seingat ibu, terakhir kami bertemu saat ibu mau menikah dengan ayahmu. Itupun dia hanya datang beberapa jam saja, tidak lama. Kata orang-orang kami memang sangat mirip sehingga sulit sekali dibedakan dan hanya nenek asih lah yang bisa dengan mudah membedakan kami berdua."
__ADS_1
"Sarah, ibu ingin pergi sebentar ... ada yang harus ibu lakukan. Ibu akan pergi sendirian, tidak perlu pak Antok karena kondisi ibu sudah jauh dari baik saat ini. "
"Apa urusan ibu itu sangat penting? Karena menurutku ibu masih sangat lemah. " Ucapku berusaha menahan ibu karena takut sesuatu yang buruk terjadi padanya karena memang keadaannya belum baik tampak dari wajahnya yang pucat.
"Iya Sarah, ini sangat amat penting. " Sembari menyuap makanan ke dalam mulutnya
"Apa aku tidak bisa mencegah ibu untuk pergi ?" Bertanya sekali lagi
"Ibu rasa tidak" Sambil tersenyum
"Apa aku boleh ikut bu ?"
"Ibu rasa tidak. "
"Ibu, apakah ibu menyayangi nenek ?" Memberanikan diri untuk bertanya
"Iya tentu saja, ibu juga menyayangi saudara ibu walaupun kami jarang sekali bersama. "
Ibu pergi meninggalkan aku berdua dengan pak Antok di rumah. Kemudian pak Antok mengajak aku untuk ke rumah Mbah Anwar. Tadinya aku ragu, tapi apa salahnya ... aku datang saja berkunjung.
Aku pulang dari rumah Mbah Anwar pukul 16.00 wib, dan saat aku pulang ibu sudah ada di dapur. " Kamu dari mana saja Sarah ? Tanya ibu dengan nada suara yang dingin dan datar
"Maaf Bu, aku lupa bilang kalau tadi aku ke rumah Mbah Anwar, kemarin Mbah Anwar meninggal Bu. " Ucapku dengan jujur
Sambil mengasah pisau dengan pelan. "Iya, kamu jadilah anak yang baik, penurut, dan tidak macam-macam agar disayang semua orang. " Dengan nada bicara ibu yang tegang dan beku, kemudin entah mengapa jantung ku berdebar kencang tidak tenang.
"I - iya Bu. " Dengan suara terbata-bata
"Sekarang, istirahatlah di kamar ... nanti malam ibu ingin kamu menemani ibu nak. "
"Iya Bu, baiklah "
Setelah mengasah pisaunya, ibu masuk ke dalam kamar. Aku melihat tidak ada lagi senyum di bibir ibu seperti sebelumnya. Tidak lama kemudian pak Antok masuk dan mencari ku.
__ADS_1
"Non, non, non Sarah .... " Tampak sangat panik
"Ada apa pak?" Sambil menekuk keningku
Dengan suara yang gemetaran, "sabar ya non ... sabar. "
"Ada apa pak ? jangan membuat aku bingung."
"Itu non, bapak baru dapat telpon dari panti jompo, kata mereka neneknya si non sudah meninggal dunia. "
Seperti disambar petir berulang-ulang kali, bahkan hatiku rasanya hancur. " Apa pak? ngak mungkin ... kemarin waktu kita ke sana nenek baik-baik saja kan pak ?" Rasanay aku tidak percaya.
"Pak Antok, aku minta tolong bapak mengantarkan ku ketempat nenek sekarang pak, sekarang! " Tanpa memberi tau ibu aku pergi meninggalkan rumah menuju panti untuk melihat nenek asih.
Setibanya di sana aku tidak bisa melakukan apapun, badanku terasa lemah tak bertulang. Aku hanya memandangi wajah nenek yang pucat pasi.
Aku merasa sangat kecewa dan sedih, aku baru saja bertemu dengan nenek di tambah lagi urusan yang berkaitan dengan ibuku belum selesai.
Aku merasa bingung, tidak ada petunjuk, tidak ada tempat untuk bertanya. Aku memeluk pak Antok sambil menangis dengan kuat, pak Antok berusaha untuk menyebarkan aku.
Entah apa yang merasuki hati dan pikiranku, aku merasa tidak perlu memberi tahu kepada ibu tentang berita duka ini, rasanya aku takut atau khawatir ibu menjadi sakit dan bertambah lembah.
Aku membantu keluarga di panti untuk mengurus nenek, rasanya aku tidak kuat lagi. Ada yang mengganjal di hatiku. Seolah ada seseorang yang tidak suka jika aku mengetahui banyak hal tentang keluarga ku.
Aku mendekati pak Antok , aku mengatakan padanya jika aku sangat malas berada di rumah saat ini, aku tidak mau ibu melihat aku murung dan menangis sepanjang malam. Aku meminta pak Antok untuk membawaku jalan-jalan dengan hati yang tidak karuan.
Tanpa pikir panjang pak Antok pun menyetujui permintaanku dan mengatakan jika pak Antok akan terus menjaga dan membantuku, untuk itu aku harus kuat.
Bersambung ....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘
__ADS_1