ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
ISABELLA


__ADS_3

Mentari pagi menyinari ruangan ku, masuk dari sela-sela jendela kamar yang membuatku merasa hangat seperti sentuhan jari jemari ibu walau berasal dari dimensi yang lain.


Aku bangun dan duduk, saat ini aku ingin memperlihatkan kalau aku kuat di hadapan semua orang. Aku menunggu dokter visit masuk ke ruangan dan memeriksaku. Perlahan, aku menarik nafasku dengan panjang.


Aku harus kuat, aku harus semangat, aku harus bisa, nafasku memacu tubuhku untuk berdiri tegak.


Aku menoleh ke meja kanan untuk melihat apakah ada makanan yang bisa aku giling pagi ini. Syukurlah ada beberapa potong roti, gumamku.


Aku mengunyah roti dengan semangat walaupun sebenarnya aku tidak bisa merasakan isi dari roti ini. Apakah selai kacang, selai coklat, srikaya, ataupun selai stroberi. Mulutku belum dapat mendeteksinya dengan baik.


Ayah bangun dari tidurnya, matanya langsung tertuju padaku, ayah tersenyum.


Hemmmmh, ada yang tampak bersemangat pagi ini, ayah menggodaku dan aku hanya tersenyum simpul di hadapan ayah.


Ayah mengambil sebagian roti yang ada di tanganku tanpa mencuci wajah dan mulutnya terlebih dahulu. "Ini tampak enak. Rasa apa ini?" Tanya Ayah


"Mungkin coklat ayah." Jawabku segera


Ayah mulai memasukkan sebagain roti tersebut ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. "Iya ... ini terasa seperti coklat yang sudah bertahun-tahun di biarkan tergeletak di dapur Sarah. Ha ha ha ha ha ha ha ...." Ayah tidak mampu menahan tawanya.


Karena penasaran dengan lidah ayah, aku kembali mengintip selai roti ku. "Ha ha ha ha ha ... ternyata ini selai nanas ayah. Maafkan aku Ayah. Ha ha ha ha ha ha ha ha." Tawaku dan ayah pecah bergantian.


"Ini konyol." Kata ayah sambil mengunyah rotinya. "Ha ha ha ha ha ha ha ha." Ayah kembali tertawa.


Cukup lama ayah menertawakan aku hingga salah seorang perawat masuk ke dalam ruangan dan mengatakan bahwa dokter visit akan segera datang kemudian perawat tersebut pun membersihkan bagian tubuhku yang terjangkau.


Agar lebih leluasa, ayah meninggalkan aku dan sang perawat berdua di kamar. Ini perawat yang berbeda, ucapku di dalam hati. Aku terus memandangi perawat tersebut hingga iya menyadari tatapanku itu.


"Ada apa Sarah ?" Ucapnya lembut

__ADS_1


"Suster sudah lama kerja di sini?" Tanyaku lebih dalam


"Iya lumayan lama ... sekitar 10 tahun, ada apa Sarah? " Perawat tersebut balik bertanya


"Aku ingin menanyakan sesuatu boleh ?"


"Tentu saja, apa itu ?"


"Apa Suster kenal dengan Isabela?" Mendengar pertanyaanku, tangan gesit si perawat tertahan dan menjadi melambat.


"Kenal, kenal sekali ...." Ucap sang perawat dengan ekspresi yakin.


Aku tersenyum mendengar pernyataan perawat tersebut. Aku melanjutkan pertanyaanku. Dimana suster Isabela sekarang sus?" Tanyaku antusias.


"Sampai sekarang saya tidak tau dimana dia. "


Sambil memandang ke arahku.


"Kamu yakin? " Perawat tersebut bertanya kembali kepadaku sepertinya iya penasaran.


"Iya ... aku yakin itu dia, karena di papan nama kecil yang melekat di dadanya tertulis nama ISABELA." Jelasku


"Apa kamu seorang indigo? " Tanya perawat dengan tegas


"Tidak, tidak ... itu tidak benar." Aku sambil menggeleng-gelengkan kepala ku.


"Saya terakhir kali bertemu Isabela saat piket malam bersama. Itu sekitar 5 tahun yang lalu.


Saya ingat sekali malam itu kami masih bercanda bersama, hujan yang cukup deras menemani kami malam itu." Sang perawat mulai bercerita.

__ADS_1


"Sekitar pukul 22.45 wib, Isabel meminta izin ke padaku untuk ke kamar mandi, karena kamar mandi di dekat ruang jaga rusak, Isabela mungkin mencari kamar mandi lainnya."


"Aku bilang pada Isabela untuk menemaninya, tapi iya menolak ... katanya khawatir nanti ada pasien yang darurat mencari kita dan kita tidak ada di tempat."


"Menurut saya perkataan Isabela masuk akal jadi saya tetap di ruang tunggu dan melanjutkan aktivitas saya. Benar saja, perkataan Isabela tidak salah. Beberapa saat setelah Isabela meninggalkan ruang piket, ada seorang pasien yang mengalami trobel jantung dan saya segera memberikan tindakan ke padanya."


"Waktu itu saya lama di ruangan pasien sekitar 2 jam, di pandu oleh dokter melalui ponsel saya melakukan penyelamatan seorang diri hingga dokter ahli datang dan mengambil alih urusan tersebut."


Perawat inipun terus menceritakan kronologinya sembari membersihkan tangan dan kakiku, akupun mendengarkannya dengan baik.


"Saya kembali ke ruang piket tapi isabel belum juga tiba, saya memanggil nya Isabel. jelas perawat ke padaku."


"Ini sudah hampir subuh tapi Isabel belum juga kembali, saya akhirnya memutuskan untuk menelusuri jejak Isabel tapi saya tidak menemukannya. Saya masuk ke tiap kamar mandi yang mungkin saja Isabel mampiri, tapi saya tetap tidak bisa menemukan sahabat saya Isabel. "


"Aneh sekali tapi Isabel seolah-olah lenyap bersama gelapnya malam dan derasnya hujan."


"Pihak rumah sakit sudah melaporkan hal ini ke polisi dan kami juga sudah mengerahkan tenaga untuk mencari Isabel, tapi sampai saat ini kami belum bisa menemukannya."


"Tidak ada saksi, sisi tv pun tidak bekerja dengan baik karena beberapa saat sebelumnya terjadi konsleting listrik."


Sang perawat menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan seolah berusaha menenangkan dirinya.


"Itulah yang terjadi Sarah, mungkin kamu salah lihat karena sampai saat ini sayapun tidak pernah melihat Isabel." Sang perawat menggenggam tangannya dengan kuat.


Aku terdiam, aku juga merasakan hal yang sama dengan yang perawat ini rasakan. ucapku di dalam hati jadi aku tau bagaimana perasaannya.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.

__ADS_1


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘


__ADS_2