
Setelah melewati waktu yang cukup lama, aku dan Rian tiba di rumah. Rian yang cemas, turun lebih dulu tanpa memperdulikan diriku. Pintu tidak di kunci dan Rian bisa masuk ke dalam dengan leluasa.
Aku segera turun dari mobil, tapi ketika kaki kanan ku menapak ke tanah, aku merasakan sakit yang luar biasa. Kenapa? Padahal tadi baik-baik saja? Tanya ku di dalam hati.
Aku masuk ke dalam rumah dengan kaki kanan yang diseret. Sementara Rian mulai berteriak memanggil nama Feli beberapa kali. Tampaknya Feli trauma hingga ia tidak menjawab panggilan Rian dan memutuskan untuk tetap di dalam kamar sesuai perkataan ku.
"Ada apa ini? Kenapa rumah jadi bau pandan? Aromanya sangat menyengat," ucap Rian sembari memperhatikan seluruh ruangan minimalis tersebut.
"Aku belum tau, Rian. Tapi kita akan segera tau," sahut ku yang berdiri di depan pintu. Dengan langkah lambat dan menyeret, aku mengetuk pintu kamar Feli dan memanggilnya. Tak lama, ia keluar sambil menangis dan memeluk ku.
"Sarah ...."
"Sudahlah, tenang! Semua baik-baik saja," ucap ku sambil melepaskan pelukan Feli yang erat.
Feli menatap Rian dengan pandangan ragu dan cara pandang Feli tersebut membuat Rian tak nyaman. "Ada apa? Apa yang salah denganku, Fel?" tanya Rian yang bingung karena tidak tau apa-apa.
__ADS_1
"Tenanglah! Dia Rian."
"Kenapa semua rumah bau pandan, Feli? Ini bukan aroma kesukaan kamu maupun aku."
"Aku tidak menyemprotkan parfum apapun dan aku sama sekali tidak mencium aroma pandan."
"Dia keturunan Wali, jadi tanpa ia sadari, ia memiliki kemampuan dalam mencium aroma tertentu dari makhluk tertentu," ucap Datuk Belang dengan salah satu kaki yang ia angkat.
"Apa itu tadi leak, Datuk?" tanya ku dengan suara yang tipis.
"Itu tadi jenisnya keblek. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, hantu ini biasanya banyak dipanggil untuk ritual pesugihan," terang Datuk Belang. "Dia sedang hamil," ucap Datuk sambil menatap Feli dan saat ini tidak ada satu pun diantara kami yang mengetahuinya.
Aku berjalan ke arah Datuk Belang dan saat itu, aku sama sekali tidak memperdulikan Feli dan juga Rian. Aku memegang kakinya yang terluka parah, aku mengatakan kepadanya untuk beristirahat dan tidak keluar dulu hingga benar-benar pulih.
"Sarah, ada apa?" tanya Feli yang melihat saat aku duduk jongkok.
__ADS_1
"Datuk Belang terluka parah, Feli."
"Datuuuk, maaf ya," ucap Feli hampir menangis.
"Aku ndak apa-apa," sahut Datuk Belang.
"Aku ndak apa-apa, kata Datuk," ucap ku mengulang ucapan Datuk.
"Istirahat lah, Datuk!" perintahku sekali lagi.
"Baiklah ...." ucap Datuk Belang kemudian ia menghilang entah kemana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rian sekali lagi dan dengan gamblang, Feli menceritakan tentang awal kejadiannya hingga saat ini.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca