
Pak Antok mulai mengendarai mobilnya bersama aku yang bersandar lemah di bagian belakang kursi. Sembari memejamkan mataku, aku berusaha menenangkan diri. Cukup lama untuk bisa memperbaiki keadaan mood hati, kemudian aku sangat merasa kantuk sekali.
"Tidurlah Non jika lelah dan mengantuk." ucap Pak Antok dan aku menganggukkan kepalaku. Semakin lama aku semakin hanyut dalam ke tidak sadaranku, jalanan yang tidak rata seperti ayunan yang membuat aku semakin nyaman untuk terlelap.
Cukup lama aku merasakan kesunyian dan kegelapan di dalam diriku, mungkin saat ini aku benar-benar sedang terlelap. Batinku masih berkata-kata.
Tiba-tiba suara di sekitar ku yang semula sunyi, berganti ramai dan seru. Entah apalagi yang terjadi padaku hingga tiba-tiba keadaan menjadi berbeda.
Aku merasa seperti berjalan sendiri di taman bunga yang sangat luas dan indah. Kakiku terasa dingin dan geli, rupanya aku berjalan tanpa alas kaki. Banyak sekali anak-anak kecil di sekelilingku tapi tidak satupun dari mereka yang aku kenali.
Aku berusaha melihat dengan jelas tentang dimana aku? tapi aku benar-benar tidak tau. Hanya hamparan bunga-bunga yang elok tertancap di kedua bola mataku, Ini seperti surga.
Aku melihat lorong gelap di sebelah kiri sisiku, hatiku terpanggil untuk ke sana. Satu persatu kakiku mulai meninggalkan cahaya terang dan pemandangan indah ini. Entah mengapa aku lebih memilih ruang gelap hanya untuk tau karena penasaran bukan untuk tinggal dan hidup di dalamnya.
Tiba-tiba aku terseret, rasanya cukup jauh hingga punggungku terasa sakit. Aku masih tidak bisa melihat apapun, aku membawa tubuhku berputar-putar, hanya untuk mencari setitik cahaya. Aku melihat ke langit-langit, aku melihat sekeliling ku.
Dari sudut pojok jalan yang terlihat jauh aku melihat cahaya lilin yang cukup membuatku berharap akan ada jalan keluar dari situasi buruk ini. Aku sendirian ... mulai ketakutan.
Langakahku cepat, tapi nampaknya bukan hanya cahaya lilin yang aku temukan tapi juga sesuatu yang aku belum tau itu apa? Aku berlari dengan cepat sampai aku menemukan sebuah pintu dan aku seperti mengenalinya.
Aku berdiri di pintu itu, aku melihat anak-anak kembar dan ibunya. Mereka sedang duduk di tengah gelap hanya bercahaya lilin. Itu mungkin ibuku, tanteku, dan juga nenekku (seakan mengenali wajah nenek asih ketika masih muda karena mempunyai ciri khas tahi lalat di dagunya yang cukup besar).
Dengan segera aku berlari mendekati mereka, aku ikut duduk bersama mereka dan memandangi semua adegan yang mereka perankan. Syukurlah ... aku sudah tidak sendirian lagi, aku tersenyum sendiri.
Nenek terlihat berdiri meninggalkan mereka berdua, lalu mereka bertukar peran, Ibu jadi Tante dan Tante jadi Ibu, mereka memindahkan pita rambut yang sudah nenek pasangkan dengan posisi yang berbeda. mereka juga mengganti posisi duduknya.
__ADS_1
Saat nenek kembali, mereka mulai memainkan peran mereka masing-masing. lalu tampak nenek tertawa keras. "Baiklah ... permainan apa ini?" Nenek mulai bertanya.
"Apa maksud Ibu ?" tanya salah satu dari si kembar.
"Iya, kami hanya duduk dan tidak sedang bermain. " ucap salah satunya lagi
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha Ha." Nenek tertawa keras. "Aku ini Ibu kalian berdua jadi walaupun kalian mengganti posisi pita rambut kalian, mengganti posisi duduk kalian, ataupun mengganti pakaian kalian, Ibu tetap tau mana yang Rina dan mana yang Rima. "
Si kembar saling melihat lalu mereka tampak murung, bahkan kurang bahagia karena tidak berhasil mengelabui nenek asih. Tapi kemudian Nenek memeluk mereka dengan erat.
"Tanda lahir titik kecil di pinggang kalian itu hanya untuk mereka yang tidak melahirkan kalian. Tapi untuk Ibu, Ibu bisa tau dari bola mata kalian, cukup dari situ. Rina, anak ibu yang lembut dan penyayang tidak memiliki titik hitam di mata kanannya, sedangkan Rima yang bersemangat dan ceria memilikinya. bagaimana? Kalian mengerti sekarang?" tanya nenek dan tawa ceria kembali keluar dari mereka semua.
Aku memperhatikan adegan itu dengan seksama, lalu pelan-pelan gambaran nenek, ibu, dan Bibik mulai memudar. Aku menunduk dan berbalik badan. Tiba-tiba
sesosok wanita misterius itu kembali muncul dihadapan ku.
"Non, Non ... Non Sarah .... "
"Hah hah hah hah hah hah .... " Nafasku sangat tersengal-sengal.
"Ada apa Non? Kenapa teriak-teriak seperti itu?"
Aku memandang sekelilingku." Pak antok ... aku ... aku ...."
"Tenangkan dirimu Non dan ini diminum dulu!" ucapnya sambil menyodorkan air mineral dan aku segera meminumnya.
__ADS_1
"Kenapa banyak sekali yang menggangguku pak? Mereka seperti tidak suka melihat aku tenang. " ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terkadang mimpi itu bukan hanya bunga tidur Non, tapi bisa juga sebagai petunjuk atau pembawa pesan. Si Non tadi tampak tidur dengan nyenyak. Coba Non ceritakan apa yang non Sarah mimpikan tadi ?" ucap Pak Antok menghentikan mobilnya.
Akupun menceritakan semua mimpiku pada pak Antok dan pak Antok seperti menangkap sesuatu tapi tidak mengatakannya padaku, terlihat dari dari dan alis matanya yang melipat.
"Apa saya perlu menemani Non Sarah di rumah selama tuan masih di luar kota ?" Tiba-tiba bertanya kepadaku
"Tidak perlu pak, kan ada Ibu. Lagipula itukan rumahku, mana ada yang akan menyakiti aku di rumahku sendiri." ucapku penuh percaya diri.
"Iya iya Non tapi kalau Non minta saya untuk menemani Non Sarah, dengan senang hati saya akan menemani Non Sarah dan Nyonya di rumah, begitu."
Sejujurnya aku sangat merasa takut tapi aku tidak ingin ibu bertanya-tanya kenapa pak anton bisa berada di sini? Atau tidur di rumah ini? Karena selama ini tidak pernah terjadi.
"Non, ingat belati yang diberikan Mbah Anwar untuk Non Sarah waktu itu?"
"Ingat pak. "
"Terus kantongi dan bawa kemana saja Non Sarah pergi! Saya yakiiiin sekali, kalau belati itu sudah di rajah dan tidak kosong Non. Jadi jika makhluk halus ada yang mengganggu Non Sarah bisa digunakan belati itu begitu juga dengan manusia. Non Sarah pahamkan maksud saya?"
"Iya Pak, aku sangat mengerti." ujarku dan kamipun segera pulang ke rumah.
Bersambung ....
Situasi: Malam ini nyawa Sarah terancam, kenapa? Terus ikuti novelnya ya ...
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘