
Suasana gelap menjadi terang benderang dan panas hingga rasanya tidak akan ada lagi malam. Aku menatap sambil terduduk di tanah beralaskan rumput berwarna kuning kecoklatan. Saat rumah itu dibakar, banyak teriakan yang aku dengar dan aku tau bukan hanya milik satu makhluk saja.
Sebenarnya aku sangat berharap bisa hilang kesadaran lebih lama agara bisa beristirahat sejenak, tapi tampaknya semua ini masih ingin menyiksaku.
Dari sini, aku melihat Ayah terluka sangat parah dan masyarakat membawa beliau bersamaku, Rido dan Papanya ke rumah sakit dalam satu mobil. Sementara komandan dan Azura, dinaikkan pada mobil lainnya.
Mereka semua sudah binasa, Sarah. Tenanglah ... ucap bagian diriku yang lainnya.
Ya Allah ya Tuhanku, apa yang aku alami kali ini benar-benar pengalaman yang sangat buruk. Rasanya aku tidak akan mungkin sanggup jika harus diuji dengan cara seperti ini lagi. Tapi firasat ku mengatakan bahwa semua ini belum berakhir, aku harus segera memastikannya. Ucapku tanpa suara.
*****
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, kami tiba di rumah sakit tidak jauh dari lokasi. Semua yang terluka langsung diobati dan kami juga langsung meminta perawatan ke rumah sakit di kota (rujukan) karena kondisi Ayah, Rido, dan Papanya yang sangat berat.
Setelah melakukan pertolongan pertama, kami langsung di rujuk ke rumah sakit besar dan diantar menggunakan ambulan. Sementara mobil Papanya Rido, diurus oleh polsek dan Komandan yang sudah mengatakan bahwa kendaraan akan segera diantar ke rumah.
Komandan tampak lebih baik keadaannya dibandingkan dengan yang lain. Bahkan ia masih mampu mengendarai mobilnya. "Sarah, dari sini saya antar Azura dulu pulang ke rumahnya ya. Setelah itu, saya akan menyusul ke rumah sakit."
"Baik Pak, Sarah mengerti."
Aku mengantar komandan hingga ke areal parkiran. Dari luar, aku memang terlihat baik-baik saja karena tidak tampak luka yang serius, tapi jika orang dapat melihat bagian dalam tubuhku, rasanya semuanya sudah mulai hancur.
"Sarah, saya pamit dulu ya," ucap komandan sambil memutar setirnya ke kanan.
Dari sini aku dapat melihat dengan jelas, jika beliau duduk sendiri di depan, sedangkan Azura ada di kursi bagian belakang dan pada saat mobil komandan berputar, aku seperti melihat Azura melihat ke arahku (ke kiri) dan pada saat mobil mulai berjalan, tiba-tiba aku melihat di belakang tubuh Azura juga ada sosok yang memiringkan wajahnya untuk melihat ku dari kaca kiri mobil tersebut.
Itu ... siapa itu? tanyaku di dalam hati.
__ADS_1
Khawatir, aku bergegas untuk berlari mengejar mobil Komandan sambil berteriak memanggil namanya, tapi ia tidak berhenti. Aku terus mengejar tanpa memikirkan apapun hingga akhirnya langkahku terhenti karena kedua kakiku sudah tidak mampu digerakkan lagi. Aku sudah terlalu lelah, ucapku sambil memegang kedua lutut ku.
Tiba-tiba aku teringat untuk melakukan sesuatu dan aku segera menelpon komandan sekedar ingin menanyakan kepadanya, siapa saja penumpang di dalam mobil nya? tapi pada saat yang bersamaan, HP Komandan tidak aktif.
"Ya Allah ... semoga mereka semua selamat tiba di tempat."
Dalam pikiran yang banyak dan mulai sangat merasa lelah. Aku berjalan ke arah kamar Ayah, Rido dan Papanya yang sebentar lagi akan dipindah.
Sepanjang lorong rumah sakit yang tampak sunyi, aku berjalan sembari menundukkan kepalaku. Pada saat yang bersamaan, aku berpapasan dengan seseorang dan aku mengangkat wajahku sekedar ingin menyapanya.
"Sus .... "
"Percaya pada hatimu!" ucapnya dengan suara yang mengambang dan terdengar sangat misterius hingga mampu mengangkat bulu-bulu halus di leher dan tepi-tepi wajahku. Pada saat yang bersamaan, aku merasa rumah sakit ini seketika kedap tak berudara.
Dengan sigap aku langsung membalikkan wajah dan pandanganku ke arah suster tersebut, tapi ia sudah tidak lagi berada di belakangku. Astagfirullah hal azim ... apakah dia bukan makhluk kasar seperti ku? tanyaku tanpa suara sambil memegang dada dengan tangan kanan ku.
Tidak ingin berdebar tak beraturan lebih lama lagi, aku langsung meluruskan pandangan ku. Tapi pada saat yang bersamaan, Suster tersebut sudah berada di hadapanmu. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku hingga membuat aku sangat terkejut dan mundur beberapa langkah hingga hilang keseimbangan lalu terjatuh.
Aku berusaha untuk berdiri dan tidak memikirkan apa yang baru saja aku lihat. "Jika butuh bantuan ku, kamu harus mengantri," ucapku dengan suara yang pelan, tapi aku yakin ia mendengar ucapan ku.
Sambil memegang bokong, aku kembali melanjutkan perjalananku menuju ke kamar Ayah. Semuanya bersikap kasar padaku, apa mereka memang seperti itu? tanyaku di dalam hati sambil terus menggerutu.
"Sarah .... " sapa Ayah saat melihatmu mendekatinya. Posisi tidur Ayah sekarang terterungkup karena punggungnya banyak luka-luka akibat tertancap kaca-kaca kecil yang pecah dan beterbangan hendak menghantam ku semalam.
"Iya, Ayah."
"Apa yang terjadi? apa semuanya sudah selesai?"
__ADS_1
"Seharusnya sudah, Yah. Tapi entah mengapa firasatku masih belum baik dan hatiku mengatakan bahwa peperangan Ini masih saja akan berlangsung, walaupun aku tidak memiliki gambaran tentang apa yang akan terjadi karena saat melihat rumah itu terbakar, aku juga melihat dan mendengarkan para arwah berteriak seakan terbakar dan binasa bersama rumah tersebut.
"Apa kamu melupakan sesuatu? coba diingat kembali, Nak!"
"Waktu aku meninggalkan rumah itu, aku masih sangat sadar dan aku juga yakin sekali kalau aku sudah mengunci rumah tersebut dengan ayat pengunci setan agar mereka tidak lagi bisa keluar dari rumah tersebut, kecuali .... "
"Apa, Sarah? coba ingat lagi, Nak."
"Kecuali mereka atau makhluk halus tersebut menggunakan perantara untuk keluar."
Menggunakan perantara untuk keluar? ucapku sekali lagi di dalam hati. "Astagfirullah hal azim ... Ayah," ucapku saat teringat sesuatu.
"Apa, Sarah?"
"Sejak awal, Azura adalah wadah yang menguntungkan bagi setan tersebut Ayah. Jika mereka berhasil lolos, berarti mereka bersemayam dalam diri Azura."
"Kalau gitu, kita harus cepat memberitahu pada Komandan tentang hal ini. Kita harus melakukannya Sarah, agar tidak ada korban jiwa lagi."
"Aku sudah berusaha melakukan itu, Ayah. Hanya saja, nomor HP Komandan tidak aktif."
"Kalau begitu, segera kamu kirim pesan kepadanya. Semoga ia segera membacanya."
"Baik, Ayah."
Bersambung ....
Para reader, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘