ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TEROR 3


__ADS_3

Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok


"Siapa itu? Dimana aku? " tanyaku sudah mampu membuka kedua mataku.


Tiba-tiba dari arah samping kanan, aku merasa ada seseorang yang tengah berbaring dengan matanya yang melotot dan memandang ke arahku. Aku mulai merasa ini tidak benar, keringatku mulai turun dari atas dahi hingga samping telingaku.


Aku mencoba melirik ke arah kanan karena kepalaku tidak dapat aku gerakkan engan bebas dan yang aku lihat, samar-samar di sana terdapat sosok yang mengenakan kain putih polos.


"Tolong aku ...! " ucapnya berbisik namun suaranya terdengar sangat jelas dan tajam sehingga menggetarkan hatiku yang paling dalam.


"Katakan! Bagaimana caranya aku bisa menolongmu sementara aku sendiri tengah terperangkap di tempat yang tidak aku ketahui. " ucapku dengan bibir yang bergetar hebat dan air mata yang menetes.


"Tolong aku ...! " ucapnya sekali lagi, dan kali ini aku merasa sosok misterius ini sedang menangis. "Tolong aku ... tolong aku ... tolong aku .... " ucapnya terus menerus tanpa henti.


"Tolong aku ... tolong aku ... tolong aku ... toloooong .... ya ampun Sarah ... apa lagi yang terjadi padamu nak? " Suara itu suara Ayah.


Aku memaksa diriku untuk bergerak dan membuka kedua mataku. "Sarah ... kamu harus sadar nak ... Sarah .... " ucap Ayah dengan nada suara yang tampak sangat panik.


"Tenang Om, tenang ... sebentar lagi kita tiba di rumah sakit. " sahut seseorang yang tidak aku kenali.


Tak lama, aku merasa kendaraan yang aku naiki berhenti lalu aku mendengar suara yang riuh dan rusuh. Penasaran, aku ingin membuka mataku. Tapi, seolah-olah ada seseorang yang menekan kedua mataku dengan sangat kuat sehingga aku tidak bisa membukanya.


Aku berusaha untuk menenangkan diri. Selanjutnya, aku merasa bahwa tubuhku terguncang dan terombang-ambing kesana kemari tapi tidak terlalu kuat. "Langsung ke ruang IGD! " ucap seseorang yang tidak aku kenali.


Aku dapat merasakan tubuhku, sentuhan terhadap tubuhku, maupun tindakan terhadap tubuh ku. Tapi aku tidak mampu membuka mataku walaupun dalam keadaan sadar.


Entah berapa lama waktu yang aku habiskan untuk membuka mataku, yang jelas saat ini aku sangat merasa sepi dan sendiri. Aku merasa tidak ada Ayah disisiku dan orang-orang lainnya. Namun pada saat yang bersamaan aku mampu membuka kedua mataku dan melihat sekelilingku.

__ADS_1


"Ini rumah sakit .... " ucapku dengan tenang dan itulah hal yang aku sadari.


Tak lama dari waktu aku membuka mata. Aku mendengar suara brisik - brisik dari luar, seperti ada pasien yang dalam kondisi kritis dan harus segera di tangani. Aku menolehkan wajahku ke arah para perawat dan dokter yang tengah bekerja keras untuk menyelamatkan jiwa pasiennya.


Dari posisiku, aku juga dapat melihat seorang pasien wanita dalam kondisi yang memprihatinkan di atas ranjang. Wajah dan tubuhnya penuh darah. "Korban tabrak lari. " ucap salah seorang perawat kepada rekan-rekannya.


"Kasihan sekali, apalagi sedang hamil besar seperti ini. " sahut perawat yang lainnya.


Jarakku tidak terlalu jauh, jadi aku bisa melihat bagaimana proses penyelamatan hidup pasien tersebut. Sekitar 25 menit berlalu, Dokter menyatakan pasien tersebut sudah melewati masa kritisnya, keinginannya untuk hidup tinggi dan itu membuat pasien tersebut bertahan. Ucap dokter yang menyelamatkan jiwa wanita tersebut.


Setelah menyaksikan penyelamatan tersebut, aku langsung berniat untuk tidur dan berharap agar Ayah cepat kembali ke sini. Tapi saat aku hendak memejamkan kedua mataku, aku melihat wanita yang berada di samping ranjang ku tadi, yang sebelumnya dalam keadaan lemas tak berdaya di atas ranjang pasien, berjalan lambat menuju ke 


suatu tempat.


HERAN ... kemudian dengan cepat aku melepaskan jarum infus yang tertanam di tangan kiri ku dan mengikuti wanita tersebut.


Khawatir wanita itu salah paham padaku, aku bergerak lambat sambil memegang tangan kiriku untuk menahan darah keluar dari lubang jarum infus yng aku lepas dengan paksa.


wanita itu berbelok, aku pun ikut berbelok.


Aku terus mengikuti langkah kakinya yang lambat, posisi terowongan rumah sakit yang lurus ini mebuat aku salah tingkah,


bagaimana jika Dia melihat ku? Bagaimana jika dia salah paham padaku? Bagaimana jika dia marah padaku? Tanyaku di dalam hati sambil terus mengikuti langkah kakinya.


Ditengah pertikaian antara batin dan pikiran, ternyata langkah kakiku tidak bisa aku hentikan. Kali ini, aku tepat di belakangnya dan terus mengikutinya bagaikan sebuah bayangan.


Dia sama sekali tidak melirik atau melihat-lihat ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


Seakan-akan langkahnya pasti menuju ke suatu ruangan. 


Saat aku mulai benar-benar mengikuti langkahnya dengan lebih cepat, aku melihat wanita tersebut berhenti. Dia tidak melangkah lagi. Sekitar 5 menit berdiri, Iya membelokkan tubuhnya ke arah kiri dan kembali berjalan.


"Mungkin wanita tersebut telah sampai ke tempat tujuannya." ucapku dengan suara berbisik sambil terus memperhatikannya.


Aku kembali mengikuti arah wanita tersebut berbelok, akupun tidak melihat kiri dan kanan, aku hanya fokus pada wanita tersebut.


Aku mengikutinya hingga ke lorong kecil, dari dalam ruangan tersebut terlihat cahaya yang cukup terang berwarna ke merah kuningan. 


Wanita tersebut duduk membelakangiku di sebuah kursi kayu panjang berwarna coklat mengkilap. Tapi di dalam sana tidak ada siapa-siapa pikirku, yang tengah mengintip dari ujung ruangan.


Rasa segan bercampur penasaran hadir di kepalaku. Tapi aku mencoba mendekatinya dan menyapanya. "Maaf Mbak, selamat malam .... " sapaku dengan sopan, kemudian wanita misterius ini menggerakkan kepalanya sedikit ke kanan seolah-olah ingin melihatku tapi Iya menahannya.


"Kenapa Mbaknya berada di sini? Bukannya Mbak dalam keadaan sakit?" tanya ku dan wanita misterius itu kembali mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sebaiknya Mbak istirahat, mari saya antar ke ruangan kembali. " ujar ku tapi wanita misterius itu hanya diam saja.


Karena khawatir aku mencoba mendekati wanita tersebut dengan perlahan dan aku ingin membujuk serta meyakinkannya untuk kembali ke ruang IGD bersamaku tapi wanita tersebut tidak bereaksi.


Aku tidak ingin patah arang, sekali lagi aku membujuknya tapi bukan jawaban "Iya bersedia, " yang aku dapatkan melainkan sikap aneh dari nya. Tiba-tiba, Iya berdiri mendekati kotak-kotak ukuran kecil seperti loker. Iya menyentuh gagang penarik loker tersebut dan aku melihat angka yang tertera di sana 0990.


Apa yang ingin Iya lakukan sebenarnya? Aku sangat bingung. Tidak ingin berlama-lama, aku mengulurkan tangan kanan dan menyentuh pundak kanannya. Rasanya sangat halus dan dingin, ada rasa kagum yang berlebih dari dalam hatiku untuk wanita yang kini berada di hadapanku. Tapi aku tidak tau kenapa.


Perlahan, aku menepuk jariku di pundaknya dan berkata, "Mbak ... mbaaak ...." Tapi sapaan ku tersebut seakan terbantahkan dengan suaraku yang seakan hilang tertutupi oleh suara orang lain


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2