ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
BAGI JIWA


__ADS_3

"Aku ngubengi rambutku ing drijine ibu. Aku disambungake kanggo nuduhake uripku, aku pengin terus nemoni ibuku," ucap bocah perempuan tersebut sambil menghisap air hidungnya.


"Apa?" tanya ku yang sama sekali tidak ia perdulikan, seolah aku tidak ada. Bocah itu hanya fokus pada Nenek Ratih yang mulai terlihat retak.


"Aku ngubengi rambutku ing drijine ibu. Aku disambungake kanggo nuduhake uripku, aku pengin terus nemoni ibuku ... aku ngubengi rambutku ing drijine ibu. Aku disambungake kanggo nuduhake uripku, aku pengin terus nemoni ibuku," ucapnya sekali lagi dengan suara yang kencang dan terdengar tajam.


"Wis Nduk, cukup!" ucap Mbak Siji dengan nada yang agak keras sambil menghapus air matanya yang sudah membasahi separuh wajahnya.


"Mamak."


"Apa yang dia lakukan?"


"Aku juga tidak tau," sahut Datuk belang yang mendekat ke arah ku. Sementara Kakek Singgih, ia juga sudah terkapar tidak jauh dari Nenek Ratih.

__ADS_1


"Aku ikat-ikat rambutku di jari-jari tangan ibuku. Aku ikat untuk bagi-bagi hidupku, aku mau terus lihat ibuku," ucap Paman dengan suara yang lirih seakan memahami kalimat bocah tersebut.


"Ya Allah ...." Aku terdiam dan terus menatap pundak bocah perempuan serta bagian kiri wajah Nenek Ratih yang sudah tampak retak.


Tak lama, bocah perempuan tersebut memegang dahi Nenek Ratih dan keluarlah cahaya biru bercampur putih. "Sudah, Nduk! Jangan!!" perintah Nenek Ratih.


"Mamaaak!!" teriaknya dan pada saat yang bersamaan, cahaya yang tampak sedikit tadi langsung memenuhi ruangan. Cahaya tersebut muncul dari bocah perempuan tersebut.


Dari kursi, aku berjalan mendekati Nenek Ratih dan aku melihat sekeliling ku. Kakek Singgih belum membuka matanya, tapi wujudnya masih ada. Kemudian Mbah Siji juga ikut membantu bocah perempuan tersebut untuk mempertahankan Nenek Ratih.


Tubuh retak Nenek Ratih berangsur-angsur membaik, bahkan tubuh bagian bawahnya seakan tumbuh hingga batas lututnya. Saat itu, aku melihat Nenek Ratih menangis dan matanya terus menatap bocah mungil tersebut.


"Sudah, Nduk. Ayo kita bawa Mamakmu!" ucap Mbah Siji dan Nenek Ratih terpejam.

__ADS_1


Bocah perempuan tersebut berusaha berdiri sendiri, tapi setelah tubuhnya tegak, ia kembali terjatuh. Ia seolah kehilangan keseimbangan tubuhnya. Sementara Mbah Siji menggendong Nenek Ratih dan ia mengatakan padaku, "Kami pamit, ada yang harus kami lakukan untuk kesembuhan Ratih."


"Pergilah Mbah! Lakukan yang terbaik," sahutku dengan pikiran yang masih belum tenang karena wujud Nenek Ratih yang belum sempurna.


Bocah perempuan tersebut menatapku tajam, dia seolah membenciku. Namun aku tidak membalas tatapannya itu dengan kemarahan atau pun kekesalan karena semua ini memang karena urusanku. Dia memang masih sangat kecil, yang ia tau hanya cinta dan kebencian.


Saat ini aku hanya bisa berharap, semoga saja jika ia kembali suatu saat nanti, ia hadir dengan cinta, bukan dengan amarah, apalagi rasa sakit hati yang bermuara pada kebencian.


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca

__ADS_1


__ADS_2