
Tubuhku sudah mulai kokoh dan tidak layu lagi seperti dedaunan setengah kering. Tapi ada sesuatu yang memancing keingintahuan ku, yaitu tentang rasa terutama disaat sendirian.
Entah mengapa sepertinya ada sesuatu yang memperhatikan dan menatapku dengan tajam dari berbagai arah. Pikiranku berputar-putar seperti hatiku. Semuanya penuh dengan tanda tanya dan rasa penasaran yang luar biasa.
Siapa Mereka? Apa mereka? Apa hubungannya denganku dan mengapa mereka seperti ingin menelanku hidup-hidup? Aku terus bertanya di dalam hati sambil menunggu dokter visit datang untuk memeriksa keadaanku. Tapi aku tidak menceritakan hal yang aku rasakan tersebut kepada siapa pun, termasuk Ayah.
Waktu yang bergulir hari ini tidak terasa panjang karena menjelang siang, aku kedatangan tamu istimewa yaitu teman-temanku satu kelas yang biasanya sangat tidak peduli dengan orang lain.
Di sini ada Kenzie, Mia, Putra, Kasih, Zoya dan juga Sila serta beberapa teman lainnya. Mereka banyak membawakan buah-buahan serta snack ringan. Tapi anehnya mereka yang membawa semua itu sebagai oleh-oleh, namun mereka jugalah yang menyantap habis semuanya hingga aku hanya menggigit beberapa potong kentang crispy yang terbungkus rapi berwarna kuning dengan taburan bumbu daging sapi panggang.
Walau begitu, aku tidak merasa kesal karena mereka tidak bermaksud buruk, melainkan merasa sangat dekat sehingga tidak ada rasa canggung dan kaku lagi diantara kami. Siapa sangka kejadian demi kejadian mampu membungkus rapi hati teman-teman sekelas ku.
Bagi ayah ini adalah kali pertama beliau melihat teman-temanku yang sangat ramai dan tampak begitu perduli. Berkali-kali Ayah menatap mereka satu-persatu yang tengah menggodaku, lalu Ayah ikut tersenyum.
Ketika teman-teman sudah meninggalkan aku dengan candaannya masing-masing, Ayah mendekatiku dan berbisik, "Kamu berhasil Sarah. Pertama kali kamu di kota ini, kamu sama sekali tidak memiliki teman. Tapi sekarang, coba lihat! Kamu punya segalanya. Kamu anak yang hebat, Sarah," ucap Ayah sambil menggosok-gosok kepalaku dengan lembut dan hal itu membuat aku tersenyum dan hampir meneteskan air mata karena Ayah benar.
Ini seperti timbal balik yang diberikan Allah kepada ku. Ya ... mereka seperti kado di dalam kehidupanku yang gelap. Jika diingat-ingat rasanya tidak mungkin hal seperti ini bisa terjadi dan hadiah terindah di dalam hidupku adalah Feli, Rian dan juga Kak Rio.
"Om, kalau Om mau istirahat, istirahat saja. Biar Mia, Sila dan teman-teman yang akan menjaga Sarah menjelang Feli dan Rian datang kemari."
"Baiklah ... saya mengerti. Kalau begitu, Om pamit pulang ya."
"Baik Om, serahkan saja Sarah kepada kami. Kami tidak akan meninggalkannya dan akan selalu menjaganya sebelum Feli dan Rian datang," tukas Kenzie dengan gayanya yang songong.
"Ha ha ha ha ha." Ayah tertawa lebar dan tampak sangat bahagia. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku terus memandang mata Ayah yang cemerlang dengan wajahnya yang memerah. Mungkin Ayah sama sepertiku yang tidak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi.
Ayah kembali duduk di kursi rodanya. Dibantu oleh Pak Anto, Ayah bergerak meninggalkan ruang perawatan. Tapi ketika Ayah baru tiba di pintu, tiba-tiba banyak laki-laki dan perempuan paruh baya menyapa Ayah dan minta izin untuk menjenguk ku.
"Maaf, apa benar ini kamar perawatan Sarah?"
"Iya benar dan saya adalah Ayahnya Sarah."
"Kebetulan sekali, kalau begitu kita bertemu di sini apa. Boleh kami menjenguk Sarah, Pak?" tanya salah satu dosen senior dengan ramah dan sopan.
Ayah menatap semua, sekitar 10 orang yang berjajar hendak masuk ke dalam kamar perawatan ku seolah ingin menyerang ku. Tapi tidak mungkin karena wajah mereka sangat bersahabat. Kata Ayah di dalam hatinya.
Tak lama, dari arah belakang. Bu Marisa menyusul ke barisan terdepan dan menyapa Ayah dengan sangat akrab. "Anda masih ingat saya?" tanya Bu Marisa sambil mengulurkan tangannya kepada Ayah (untuk berjabat tangan).
"Anda, Bu Marisa?" tanya Ayah. "Iya, tentu saja saya masih ingat. Baiklah, kalau begitu saya silahkan masuk. Mari saya antar kan ke tempat Sarah," sahut Ayah dengan ramah sembari berjalan kembali ke arah dalam kamar ruang perawatan.
Sebenarnya, ruangan ini lumayan luas. Tapi jika ditambah dengan jumlah teman-teman dan dosen senior, tentu saja membuat sesak di dadaku. Oleh karena itu, teman-teman memutuskan untuk keluar dari ruangan dan membiarkan para dosen senior untuk menjenguk ku.
"Sarah, kita tunggu di luar ya. Kalau ada apa-apa, jangan lupa teriak," ujar Kenzi yang tampak mencurigai sekelompok dosen yang selama ini tidak pernah turun langsung menjenguk mahasiswanya yang sedang sakit.
Hal ini karena ada teman-teman lain yang juga melihat kejadian yang terjadi di kampus dan hal itu membuat mereka was-was dengan kehadiran para dosen tersebut.
__ADS_1
Ayah yang tidak jadi pulang dan terus mendampingiku bersama Pak Anto berusaha memahami situasinya dengan baik. Ayah menelaah setiap kalimat dari mereka, mulai saat Dosen senior tersebut mengucapkan rasa terima kasihnya kepadaku dan menceritakan kepada Ayah tentang kejadian mulai dari pertama kali kampus itu didirikan hingga tragedi malam tadi yang menyakitkan.
Dosen senior itu juga meminta maaf kepada Ayah karena aku juga ikut menjadi salah satu korban malam kemarin. Selain itu, atas bantuan serta kerja sama Sarah dan teman-temannya, pihak kampus akan memberikan penghargaan berupa beasiswa dan juga pembebasan biaya perkuliahan hingga tamat nanti. Bukan hanya aku saja, tapi Feli, Rian dan kak Rio juga.
Selain itu, mereka juga akan menanggung biaya Rumah Sakit ku hingga aku benar-benar sembuh dan beliau mengatakan kepada Ayah bahwa beliau sangat merasa bersyukur dan terbantu akan usaha ku dan teman-teman.
Kemudian mereka juga mengatakan bahwa mereka sangat bangga memiliki mahasiswa mahasiswi pemberani dan memiliki ilmu yang bermanfaat seperti ku dan teman-teman lainnya.
Pertemuan berakhir dengan senyuman. Sekitar sekitar 1 jam berada di ruangan perawatan ku, akhirnya para dosen meminta izin untuk pulang, kecuali Bu Marisa dan saat itu Bu Marisa mengatakan bahwa ia masih tetap ingin tinggal di ruangan ini.
Dosen yang lain memperhatikan ucapan Bu marisa dengan seksama. Mungkin mereka dapat melihat kedekatan yang cukup berarti antara aku dan Bu Marisa.
"Saya ingin berbincang dengan Sarah perihal urusan kami di Panti sosial anak yatim piatu karena kami sudah mulai melakukan penggalangan dana dan menyalurkan bantuan kepada anak-anak tersebut sekitar 1 tahun terakhir ini," ucap Bu Marisa kepada dosen senior berkepala putih dan mereka memahaminya.
"Pak Ardi, jika anda ingin pulang, silakan saja. Biar saya yang disini untuk menjaga Sarah sekalian berdiskusi ringan," ujar Bu Marisa dengan senyumnya yang menawan.
"Baik kalau begitu dan jika ada apa-apa tolong segera hubungi saya ya!"
"Baik Pak Ardi, tentu saja."
"Sarah, Ayah pulang dulu ya."
"Iya Ayah, Pak Antok, hati-hati ya."
Ayah dan Pak Antok segera meninggalkan ruangan. Tak lama setelah itu, teman-teman yang lainnya masuk ke dalam ruang perawatan dan mereka cukup terkejut melihat wajah Bu Marisa yang biasanya sangar kini tampak sangat penyayang.
"Bu Marisa?" sapa Kenzi yang sejak bulan kemarin selalu memperhatikan Bu Marisa yang menurutnya berubah total. Hal itu karena adanya perubahan penampilan Bu Marisa, yaitu dari penampilan yang sangat menyeramkan hingga sekarang seperti bidadari
"Ia anak-anak, silakan masuk! Ibu boleh bergabung bersama kalian kan?" tanya Bu Marisa dengan ekspresi yang tampak bersahabat dan itu membuat teman-teman yang lain merasa nyaman dan mereka semua tersenyum.
Bu Marisa mengobrol bersama Mia dan teman-teman lainnya. Sementara Kenzie dan 2 orang teman lainnya langsung mendekatiku dan menanyakan tentang Bu Marisa yang berubah sikap serta tampilannya.
Aku mengatakan pada mereka bahwa apa yang mereka lihat saat ini adalah Bu Marisa yang sebenarnya. Sementara yang sebelumnya, ada hubungannya dengan tipu daya jin.
Mereka mulai memahami aku dan kalimat yang aku utarakan. Kalau biasanya banyak prasangka buruk, maupun pikiran negatif kepadaku, tapi sekarang tidak lagi. Bahkan tampaknya teman-teman sudah mengganggap aku spesial.
Hal itu membuat aku merasa bahwa mereka tidak lagi menjadikan aku bahan ejekan atau bulan-bulan. Aku harap ke depannya, semua jadi semakin membaik dan hubungan ini dapat terjaga.
"Bu, aku juga pengen ikutan dalam urusan panti asuhan. Boleh nggak, Bu?" tanya Kenzi dan teman-teman yang lain sembari mendekat ke arah Bu Marisa.
"Tentu saja. Semakin banyak semakin baik. Jadi pekerjaan menjadi semakin ringan."
"Asik."
Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB (setengah hari). Aku mengatakan kepada teman-teman dan Bu Marisa untuk mengisi perut mereka agar tidak kosong dan sakit. Tapi mereka sangat ragu untuk meninggalkanku karena berjanji kepada Ayah. Namun aku mengatakan kepada mereka semua, bahwa itu tidak masalah jika kalian tidak terlalu lama.
__ADS_1
Bu Marisa mengatakan kepada teman-teman bahwa sebaiknya kita makan siang di sini saja dan cukup beberapa diantara kita yang pergi keluar untuk memesan nasi bungkus. Jadi kita bisa makan siang bersama sama sambil menjaga Sarah.
Semua perkataan Bu Marisa terdengar logis sehingga beberapa teman memutuskan untuk membeli nasi bungkus dan menikmatinya bersama di ruangan ini. Jadi mereka tidak perlu meninggalkan aku sendirian.
5 jam berlalu setelah teman-teman dan Bu Marisa menyantap makan siang mereka. Bukan hanya mereka, tapi aku juga dan Bu Marisa tidak segan-segan memberikan aku suapan dari makanan yang ia pesan, hingga waktunya Feli dan Rian datang ke rumah sakit untuk bergantian menjaga ku.
Saat ini di dalam ruangan hanya ada aku, Feli dan juga Rian. Rian mengatakan bahwa Kak Rio akan datang menjenguk ku nanti malam bersama Papa dan juga Mamanya, jika mereka tidak berhalangan dan itu membuat aku bahagia.
Waktu salat maghrib sudah tiba. Feli dan Rian bergantian untuk mengambil wudhu, tak lama saat Feli mengambil wudhu, seorang perawat datang ke ruangan dan mengatakan bahwa ada resep penting yang harus diambil karena harus segera disuntikkan malam ini juga ke dalam botol infus ku.
Rian mengatakan iya dan dia akan segera ke ruangan piket setelah menunaikan salat maghrib dan hal itu disetujui oleh perawat yang masuk ke dalam ruangan ku.
Selesai salat maghrib, Rian langsung pergi menuju ke ruang perawat jaga untuk mengambil resep obat suntik yang akan digunakan malam ini. Sementara Feli sedang menyiapkan teh hangat untukku.
Lima menit berlalu, Feli masih menghidupkan air galon agar panas. Namun entah mengapa, semakin lama aku merasa tubuh Feli semakin jauh dari tubuhku. Tapi aku tidak bisa memanggil atau menyebut nama Feli agar dia cepat berlari ke arahku. Seakan mulut ku terkunci dan tubuhku kaku.
Tak lama, aku mendengar suara seperti seseorang sedang menggunting kain di bagian kanan bantal di atas ranjang ku. Aku melirik ke arahnya karena tidak bisa menoleh.
Pada saat itu, aku melihat tangan kucel dengan kukunya yang tajam dan lentik, sedang mengarak ke mata kanan ku, seolah ingin menembus, mencongkel dan mengeluarkannya.
Allahu Akbar ... ujar ku di dalam hati karena sangat yakin dengan yang aku lihat, walaupun hanya dalam bentuk lirikan mata. Aku benar-benar tidak bisa bergerak dan aku hanya bisa berpasrah.
Tak lama, hanya dalam hitungan detik. Tiba-tiba tangan yang tampak seram dengan luka bakar tersebut berada tepat di atas mata ku dalam posisi mencengkram. Sepertinya dia tidak tahan lagi untuk menghancurkan kedua mataku. Tapi baru saja ia hendak menurunkan cengkraman tangannya, tiba-tiba dari arah kiri, Datuk belang mendaratkan tangannya dengan paksa hingga tubuhnya seperti terjungkir balik menembus ranjang perawatan ku.
Aungan besar terdengar sangat jelas di telingaku, disambut dengan suara teriakan tangis histeris yang sepertinya sangat kesakitan. Namun aku tidak dapat melihat siapa sebenarnya yang menjerit kesakitan. Aku hanya berharap Datuk Belang dalam keadaan baik-baik saja.
Keringat dingin mengucur dari atas dahi ku dan aku dapat merasakannya dengan baik. Itu berarti aku tidak dalam keadaan berhayal ataupun berhalusinasi, apalagi bermimpi.
Tak lama, Feli menyentuh pundak kiri ku dan mengatakan bahwa teh hangatnya sudah siap dan saat itu aku langsung duduk, lalu melihat ke arah lantai rumah sakit yang berwarna putih. Namun saat aku melihatnya, di sana terdapat terdapat bercak hitam seperti sisa oli samping bekas dari motor matic.
Feli bingung dan menanyakan ada apa, tapi aku tidak menjawabnya dan hanya mengatur nafasku yang tersendat-sendat. Aku sangat cemas karena aku tidak bisa melihat Datuk belang saat ini.
Namun saat aku menoleh ke arah kiri (ke arah kiri pojok ruangan), ternyata Datuk sudah berada di sana dengan tubuhnya yang tegak dan pandangan yang tajam, seperti tengah memperhatikan dan mengawasi seluruh ruangan di mana aku beristirahat.
"Feli, mana tehnya?" tanya ku berusaha mengalihkan perhatian mata Feli yang tertuju kepada ku.
"Ini. Sarah, kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Feli sekali lagi yang menaruh rasa curiga terhadap diriku dan aku hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil menyeruput teh hangat buatan Feli. "Jangan menyembunyikan apapun dari ku. Ingat itu!"
"Iya, Feli."
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.
__ADS_1