
Kami bertiga saling bertatapan. Saat itu, Rian langsung memegang tangan Feli sangat erat. Kekhawatiran mulai tampak di mata Rian terhadap Feli dan calon anak mereka. Tapi aku mengatakan padanya bahwa pasti ada jalannya karena Allah tidak akan membiarkan manusia didzolimi seperti ini.
Sudah merasa cukup tenang, kami memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Sepanjang jalan, aku terus berpikir tentang apa yang telah terjadi pada Feli tadi? Apalagi Datuk bilang, bahwa makhluk yang mendatangi Feli merupakan jenis makhluk persugihan.
"Sarah, kamu ngak apa-apa?" tanya Rian sambil melihat ku dari kaca tengah mobil bagian dalam.
"Tidak."
"Tadi, kamu terlihat sangat marah Sarah," sambung Feli yang juga ikut menatap ku dari kaca yang sama dengan Rian.
"Baru kali ini aku sebahagia ini dan baru kali ini juga aku se khawatir ini. Semuanya membuat aku emosional, bahkan aku hampir tidak dapat mengontrol jiwaku."
__ADS_1
Feli tersenyum sambil terus menatap ku dan ia sangat mengerti apa maksud dari ucapan ku barusan. Tidak ingin membuatku semakin marah, Feli dan Rian menghentikan pertanyaan mereka.
20 menit berlalu sejak dari klinik bersalin Loide, kami tiba di rumah. Saat turun dari mobil, Rian dan Feli langsung masuk ke dalam rumah. Sementara aku masih menatap Mbah Pecek yang tampak sangat marah padaku.
"Sesok, sopo meneh sing hancor?" ucapnya menyinggung hatiku yang sedang tidak menentu.
Tidak ingin terpancing, aku pura-pura tidak mendengar perkataan dari penjaga rumahku yang memang tampak sangat tidak menyukai diriku sejak awal. Biarkan saja, semua ini memang salah ku. Jika dipikir-pikir, semua makhluk yang dititipkan Nenek Nawang Wulan padaku memang berakhir menyedihkan.
Suara tawa bahagia terus terdengar dan saling bersambut. Aku yang berdiri di tepat di pintu masuk, juga ikut memasang senyum terbaikku. Aku tau apa yang dirasakan Ayah karena aku baru saja merasakannya.
"Bisa bicara sebentar," ucap makhluk yang tidak aku kenali saat aku hampir masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Aku menatap makhluk tersebut dengan seksama. Satu hal yang aku ketahui yaitu makhluk ini adalah teman, bukan lawan karena jika ia lawan dia pasti sudah bertempur dengan Mbah Pecek saat masuk kedalam wilayah ini.
Hatiku bergetar saat melihat makhluk yang tampak asing bagiku tersebut. Wujudnya seperti tengkorak tanpa daging dan kulit yang menyelimuti tulang belulang miliknya. Di dalam hati aku bertanya, apa yang terjadi pada makhluk tersebut?
Ya Allah, pertempuran seperti apa yang telah ia lewati? Bagaimana mungkin tampilan seperti ini bisa terjadi di alam sana? Aku terus membatin dan menatap tengkorak manusia yang utuh tersebut.
Bersambung.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.
__ADS_1