
Seperti yang sudah disepakati, Sarah masuk ke dalam rumah untuk makan banyak dan minum yang cukup. Disambut Ayah. Feli dan juga Rian, Sarah bergabung untuk makan malam bersama.
Aura di sekitar rumah Sarah berubah drastis. Rian yang curiga, langsung bertanya kepada Sarah tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dengan ringan hati Sarah menjawab, "Kita kedatangan tamu."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rian yang terlihat tegang. Tampaknya Rian masih trauma dengan tragedi peperangan sebelumnya.
"Makan."
"Apa?" tanya Rian sambil melihat Sarah dalam-dalam.
"Iya, kita harus makan, Rian. Percayalah!" Tatap Sarah dengan pandangan yang tenang seolah tidak memiliki beban.
"Oh, baiklah ... mari kita makan!"
Ayah yang berusaha menelaah tentang kata-kata antara aku dan Rian, terus memperlihatkan sikap tenang. Aku sangat menghargai usaha Ayahku ini.
"Setelah makan, sebaiknya kita shalat berjamaah. Bagaimana menurut Ayah?"
"Tapi kami sudah pada shalat isya kok, Sarah."
"Owalah, he he he he. Ya sudah, kalau begitu aku sendiri saja."
Sesi makan malam bersama sudah berakhir, begitu juga dengan shalat. Kemudian aku mengajak Ayah ke kamarnya untuk beristirahat. Tanpa bertanya, Ayah mengatakan sesuatu kepadaku.
"Sarah, apa semua ini bisa membuat kamu bahagia?"
"Ayah, apapun itu, aku akan terus menerimanya. Banyak hal yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata."
"Ayah mengerti."
"Ayah juga harus ikhlas dan selalu mendoakan aku."
"Tentu saja, bahkan ketika Ayah sedang tertidur pun, jika memungkinkan, maka Ayah akan terus bertasbih untuk mendoakanmu," jawab Ayah yang memang saat ini jauh lebih religius daripada sebelumnya.
"Aku sayang Ayah," ucap Sarah manja seperti masih anak-anak. "Dan biarkan aku terus seperti ini ya, Ayah! Aku mohon ...."
"Ha ha ha ha ha ha ha, tentu saja. Kamu anak Ayah dan kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Sarah."
"Terima kasih, Ayah." Sarah membaringkan kepalanya di atas lengan kanan Ayah.
"Ayah ingat sesuatu. Dulu, waktu Tania masih sangat kecil. Ia pun rela menggeser dirinya ketika kamu sedang ingin dimanja, Sarah," ucap Ayah sambil membelai kepala Sarah yang selalu terbungkus dengan kain penutup kepala.
"Tania itu malaikat, Ayah. Dia seperti jantung di dalam diriku. Seandainya dia masih hidup dan disini bersama kita, mungkin aku akan menjadi Sarah yang cengeng Ayah karena aku memiliki tempat untuk membuang air mataku."
"Dia selalu bersamamu, Sarah."
"Heeemh, lagi-lagi Ayah benar."
__ADS_1
Perbincangan antara Ayah dan anak ini terjadi cukup lama, lebih kurang sekitar 90 menit hingga Ayah tampak menguap beberapa kali. Ini adalah tujuan utama ku, aku ingin Ayah terlelap saat aku berperang.
Pukul 23.45 WIB, aku keluar dari kamar Ayah. Saat itu pikir, aku hanya sendiri, tapi ternyata aku salah. Rian dan Feli masih berada di meja makan.
"Hei, apa yang kalian lakukan di sana?"
"Menurut mu, Sarah?" jawab Feli yang sama sekali tidak terlihat takut.
"Mana mungkin kami membiarkan kamu sendirian melawan makhluk asing yang tak kasat mata dan mengancam keselamatan kita semua," sambung Rian yang tampak jauh lebih tenang.
"Bersiaplah!" kata Mbah Pecek yang masuk ke dalam rumah dengan wujudnya yang masih seperti ular (kepalanya di dalam dan tubuhnya masih di luar dan menjadi pagar).
"Iya, Mbah."
"Dan sebaiknya kamu tetap di dalam rumah," kata Mbah Pecek sambil menatap Feli yang tidak bisa melihat dirinya.
"Feli, sebaiknya kamu tetap di dalam rumah!"
"Tapi, Sarah ...."
"Jangan membantah!"
"Baiklah ...."
"Ayo, Rian."
"Apa Pak Antok dan keluarganya sudah tidur, Rian?"
"Sudah, Sarah."
"Bagus."
Aku dan Rian berjalan tanpa ketakutan. Saat kami tiba di pagar rumah, Aku menatap musuh ku berupa leak dengan ukuran tubuhnya yang besar dan tinggi.
"Dia perempuan, seandainya dia ndak usil. Aku mau dia jadi bojoku," ucap Mbah Pecek dan aku langsung tertawa besar. Tawa dari mulutku, sontak membuat Rian yang sangat fokus dan serius menjadi terkejut.
"Sarah?"
"Maaf, maaf. Aku hilang kendali, habis Mbah Pecek ngelawak."
"Disaat seperti ini?" tanya Rian dengan wajahnya yang ditekuk.
"Ha ha ha ha ha ha ha. Iya, ternyata pria dingin itu lucu juga ya?"
"Ada-ada saja kamu. Memang si Mbah bilang apa, Sarah?"
"Dia perempuan, seandainya dia ndak usil. Aku mau dia jadi bojoku," kata ku mengulang kembali perkataan Mbah Pecek.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha. Jadi ... apakah momen kali ini akan menjadi awal kisah cinta baru? Seperti acara lamaran begitu?"
"Ha ha ha ha ha ha. Jangan gila kamu, Rian! Aku ngak mau punya anggota keluarga seperti itu." Aku kembali tertawa dan hal itu memancing sang leak hingga matanya yang besar dan merah tersebut, menyoroti wajahku.
"Ya ampun ... dia memandangku, Rian."
"Itu karena kamu menertawakan dirinya, Sarah."
"Dari mana dia tau coba?"
"Mungkin dia rasa-rasa. He he he he he he."
Pukul 00.00 WIB. Tubuhnya yang semula tampak besar dan tinggi menjadi semakin tumbuh, tapi tidak sebesar raksasa. Sepertinya dia sudah siap untuk menggempur kami dan kami juga siap untuk bertahan, kemudian melawan.
Dari dalam pagar, aku melihat Keblek sedang menarik-narik kain berwarna kuning keemasan yang terikat di pinggang leak tersebut dengan ujung patuk nya.
"Ternyata keblek itu seperti burung dengan bulu-bulunya yang berwarna hitam."
"Tidak juga, ada yang berbentuk kalilawar. Semua tergantung bentuk awal perjanjian dalam ilmu tersebut," jelas Mbah Pecek.
"Begitu ya, Mbah?
"Yang jelas, mereka menyerupai hewan malam yang terlihat menyeramkan, mistik serta misterius."
"Aku paham, Mbah."
"Apa, Sarah?" tanya Rian yang ikut mendengar aku bercakap-cakap dengan Mbah Pecek.
"Keblek itu menyerupai hewan malam yang terlihat menyeramkan, mistik serta misterius, Rian. Tapi yang saat ini berada di hadapan kita, seperti burung dengan bulunya yang berwarna hitam."
"Apa warnanya pekat seperti arang?"
"Iya, Rian."
"Coba warna hitamnya sedikit mengkilat, maka dia akan seperti kismis."
"Itu sama sekali tidak lucu, Rian."
"Jangan lengah! Dia mulai menyerang," ucap Wiro saat angin dingin terasa bergerak sangat cepat ke arah ku dan Rian.
Bersambung.
Para pembaca, mohon maaf jika aku belum bisa membalas komentarnya satu persatu seperti biasanya ya. Bukan sombong, tapi karena keterbatasan penglihatanku pasca kecelakaan kemarin.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.
__ADS_1