
"Aduuuh .... "
Aku bangun dan bergerak. Aku memegang kepalaku yang sangat terasa berat, sampai sulit untuk ku angkat.
Berdiri di pojok kamar, seorang wanita yang tidak aku kenali tapi rasanya aku mengingat wajahnya yang pucat pasi. Perawat itu mendekati aku, dia bergerak dengan lambat, pandangannya lurus dan pasti.
"Namaku Isabela .... " Matanya tajam menatapku tanpa berkedip. "Jika kau butuh sesuatu katakan saja kepadaku. " Ekspresinya yang datar membuat aku mengkerut kan keningku.
Ini sudah hampir pagi. "Dimana ayahku?"
Aku bertanya karena aku melihat tidak ada Ayah di sekitar ku.
"Terkadang kita harus sendiri tanpa ditemani oleh orang-orang yang selama ini menyayangi kita, walaupun berat dan sakit kita harus terus menjalani waktu, tidak tau sampai kapan ... yang pasti sampai datang sesuatu atau seseorang yang bisa menghentikan langkah kita atau hanya terus berharap agar waktu cepat berhenti." ujar Suster Isabela
Perkataan yang bermakna dalam, seperti sesuatu yang hebat telah menimpanya. Aku hanya bisa terdiam mendengarkan setiap ucapannya, dan berusaha mengartikannya.
Aku meluruskan kepalaku dan menundukkan kepalaku, apa arti perkataan perawat ini? Apa hanya sekedar ocehan, atau sebuah peringatan tentang kehidupan dan bahwasanya hidup ini harus terus di jalani hingga waktu terhenti.
Aku mengangkat kepalaku lagi dan ingin bertanya tentang dirinya, tapi pada saat yang bersamaan aku tidak lagi bisa melihat perawat Isabela. Kemana dia pergi? Cepat sekali ... bertanya di dalam hati.
Aku berusaha berdiri untuk mencari ayah, mungkin Ayah ada di kursi depan kamar atau mungkin sedang di lobi, tapi jika aku bertemu perawat itu (Isabela) aku juga bisa menanyakan ayahku ke padanya.
Langkahku masih pelan bahkan gerakannya sedikit menyeret, sesekali aku mendengis kesakitan tapi aku tetap melangkah karena ingin mencari ayah. Aku sedikit heran kenapa Ayah tidak bersamaku.
Saat aku membuka pintu dan keluar dari kamarku, aku merasa tidak nyaman sekali. Lorong-lorong rumah sakit terasa hampa dan agak gelap. Cahaya remang-remang pun membuat suasana semakin tidak enak.
Aku mengikuti kemana cahaya terang yang terlihat dari sudut lorong kamarku. Sesekali tanganku memegang kepalaku yang terasa sakit, kemudian sesekali memegang kudukku yang terasa dingin sehingga membuat bulu kudukku berdiri.
Aku menyatukan kedua tanganku, menggosoknya dan memeluk tubuhku sendiri dengan kedua tanganku. Perasaanku sungguh-sungguh tidak enak, tidak ada siapapun disini, gumamku.
Sesampainya di pintu besar tempat cahaya terang berasal aku melihat ke arah kiri ruangan yang tidak terlalu besar. "Ruang jaga." Aku membaca tulisan di atas pintu masuk ruangan tersebut.
Tampak dari dalam seseorang mengintip ku dari kaca yang cukup besar, aku juga memperhatikan nya tapi dia hanya memandangi aku saja, perawat penjaga gumamku
__ADS_1
Aku melanjutkan langkahku untuk mencari ayah. Firasatku mengatakan kalau ayah ada di lantai bawah, akupun menuju ke sana. Ada dua pilihan menuju lantai bawah, tangga dan lift. Aku berhenti sejenak untuk melihat jalan mana yang nyaman bagiku dan aku memilih lift untuk ke lantai bawah.
Aku berdiri di depan lift sesekali memandangi diriku dari pintu lift tersebut, aku tampak berantakan.
Tiiiing... (pintu liftnya terbuka)
Aku masuk ke dalam ruang kecil tersebut, lalu aku menekan tombol lantai 2. Heeem ... bulu-bulu tanganku kenapa berdiri?. Aku seperti merasakan kehadiran seseorang di dalam lift ini, padahal aku hanya sendiri tapi aku bisa merasakan auranya.
Aku berusaha memalingkan pikiran jelek ku, tiba-tiba aku merasakan seperti seseorang sedang memegang bahu kananku. Aku sadar betul kalau di lift ini hanya ada aku seorang, jantungku mulai berdegup kencang. Aku merasakan seseorang tersebut sudah mendekatiku dan hampir menempelkan tubuhnya di punggungku.
Tiiiing... (pintu liftnya terbuka)
Aku segera keluar dari lift tersebut, langkahku cukup cepat. "Ah .... " Kakiku terasa sakit dan kaku, aku menyandarkan tubuhku pada tembok yang sudah cukup jauh dari lift tersebut tapi jantungku masih tidak teratur.
Dari sini aku bisa mendengar suara kerumunan orang sepertinya lebih dari 5 orang. Aku melangkah ke sana, mungkin aku lebih tenang jika bersama orang-orang tersebut, pikirku.
Aku masuk ke ruangan tersebut tanpa permisi dan basa basi, setelah aku membuka pintunya aku melihat mereka semua tapi ekspresi yang mereka tampilkan ke padaku tidak sesuai dengan harapanku. Mereka memandangku dengan pandangan yang tajam bahkan mereka berhenti berbicara dan bercanda.
Tatapan mereka membuat aku semakin tidak nyaman, sepertinya aku sudah melakukan kesalahan yang besar dan mereka tengah menghukum ku dengan tatapan matanya.
"Ayah ... Ayah .... " Langkahku mulai melambat rasanya kedua kakiku semakin berat. Aku terus menyusuri lorong gelap dengan langkah yang berat, dari arah yang berlawanan aku melihat seorang wanita dewasa tengah bergerak ke arahku. Rambutnya yang panjang dan langkahnya yang menyeret membuat tanganku bergetar.
Dia terus berjalan ke arahku, dan akupun terus berjalan ke arahnya, seolah-olah tidak ada jalan lain dan aku hanya bisa maju dan terus berjalan maju.
Sampai tiba saatnya, aku dan wanita itu berdekatan jarak. Kami berpapasan tapi aku memutuskan untuk tidak menyapanya. Sekarang dia tepat di sisi kananku, perasaanku semakin tidak enak saat wanita tersebut menghentikan langkahnya.
Dengan jantung yang tidak menentu aku berusaha dengan keras melanjutkan langkah ku, aku terus berpura-pura tidak melihatnya.
Beberapa langkahku meninggalkan wanita tersebut, aku mendengarkan dengan jelas suara seperti sesuatu yang patah, remuk, dan hancur. Suara itu sangat jelas terdengar di telingaku.
Suara itu terdengar sangat menakutkan bagiku, bahkan telingaku seperti bergetar dan bergerak sendiri tapi aku harus tetap tau apa yang terjadi di sana? Belakangku. Aku memutar tubuhku perlahan.
Wanita itu, yang tadi posisi nya berdiri tegak saya ini sudah tidak lagi dalam posisi tersebut. Kepalanya melihat ke arahku, tidak ... posisi kepalanya terbalik, tangan dan kakinya juga terbalik seperti patah, dia merangkak di lantai seperti bersiap ingin menerkam ku. Dia memutar-mutar kepalanya, dan dari mulutnya keluar darah berwarna hitam yang pekat.
__ADS_1
Aku sangat terkejut melihat sosok itu, aku terus berteriak sekuat tenaga ku. Saat ini, aku tidak lagi merasakan sakit pada kaki dan tubuhku. Aku terus berlari dengan cepat, wanita itu terus mengejar ku sambil mengeluarkan suara-suara berisik yang renyah dari dalam mulutnya.
Di depanku agak jauh, aku melihat seorang lelaki paruh baya sedang berdiri memegang sapu dan kain pel. Aku berharap banyak padanya, saat melihat pria itu aku merasa akan ada pertolongan.
Aku menghentikan teriakan ku dan berusaha untuk mendekati pria itu, tapi semakin jauh aku berlari, lelaki itu semakin jauh pula untuk aku gapai.
"Tidak ... tidak ... tidak .... " Aku berteriak lagi sambil menangis, aku sangat ketakutan.
Aku terus berlari tapi wanita itu terus mengikuti ku. "Ayah ... Ayah ... aku merunduk dan merasakan bahwa nafasku seperti nya akan berhenti, aku memegang dadaku dengan kuat.
Kakiku sudah sangat lelah dan aku tidak lagi mampu mengontrolnya. Tiba saatnya aku berlari dan kaki kananku menyentuh kaki kiriku membuat aku terjatuh dan terhempas. Wajahku terasa sakit karena berbenturan dengan lantai, aku mengangkat wajahku dan aku melihat ayah di ujung jalan itu.
Ayah tampak duduk sendiri sambil mengusap air matanya. Saat melihat ayah tenagaku seakan terisi penuh, aku kembali berdiri dan berlari, berlari menuju Ayah.
Beberapa langkahku mendekati ayah, aku melihat ayah berdiri bersama beberapa orang berpakaian putih-putih sambil memegang ranjang dan mereka mendorongnya.
Tidak ingin kehilangan Ayah lagi, aku menguatkan langkahku, aku mencondongkan tubuhku ke depan dan berlari sekuat tenagaku. Aku ingin memeluk ayah, aku ingin meminta perlindungannya dari ketakutan ku.
"Ayaaaaaahhhhhhhh." Aku terus berteriak Ayah tapi sepertinya Ayah tidak mendengar suaraku. Aku tidak perduli, aku seperti menggila, aku terus berlari untuk menggapai Ayah ku.
"Aaaauuuh." Kaki ku tersandung kaki seorang perawat yang sedang mendorong ranjang di sebelah Ayah, aku berusaha bertahan dan berpegang pada ranjang tersebut, tapi karena lari ku yang sangat kuat, aku tetap tersungkur dan terjatuh. Tanpa sengaja aku menarik selimut penutup tubuh pasien tersebut.
Aku menyadari apa yang aku lakukan, aku berusaha bangun dan berdiri. Aku merunduk dan mengambil selimut tersebut. Aku menutupi tubuh pasien yang berada di atas ranjang mulai dari kakinya. Aku terus menarik selimut tersebut hingga ke atas perut, dada, leher dan ...
Kepalanya, iya kepalanya, tapi pada saat itu aku hanya bisa terdiam dan memandanginya. Tanganku terhenti ... aku mengenali wajah itu. Iya, itu wajahku.
Aku terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat pasi, bibirku tidak lagi merah, pipiku menguning, itu aku ... aku sudah tiada.
Aku memandang ayah yang terus menerus menangis dan mengusap air matanya.
"Ayah ... Ayah ...." Air mataku mengalir tanpa henti melihat ayah yang tampak hancur dan lemah tidak berdaya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘