ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TEROR 5


__ADS_3

Tadi malam aku sangat terlambat untuk tidur dan saat ini sepertinya aku terlambat untuk bangun. Saat aku membuka kedua mataku, ternyata hari sudah bercahaya. Selain itu Aku cukup terkejut karena saat ini karena Ayah tidak sendiri melainkan ada Rio bersamanya.


Mereka terlihat sangat akrab dan saling bercakap-cakap hebat sambil tertawa serta bercanda layaknya orang yang sudah lama saling mengenal. Aneh, padahal Rio baru saja aku kenal kemarin secara tidak sengaja di toko sepatu, tapi bagaimana mungkin Ayah tampak begitu akrab dengan dirinya. Tanyaku di dalam hati.


"Ayah .... " sapaku memecah obrolan antara Rio dan Ayah.


"Iya ... syukurlah kamu sudah bangun Sarah, karena sebentar lagi dokter visit akan datang dan memeriksa kamu. Jika ada masalah seperti rasa sakit ataupun keluhan lainnya, jangan kamu sembunyikan ya Sarah!Ceritakan saja semuanya kepada dokter terutama mengenai kepalamu yang terluka akibat tertimpa kayu rak sepatu yang cukup berat dan besar kemarin. "


"Baiklah Ayah, aku mengerti. "


Tak lama dokter visit datang dan mulai memeriksa ku. Aku merasa baik-baik saja dan tidak merasakan keluhan berarti pada kepalaku. Selain itu, aku hanya ingin lekas pulang karena sudah merasa tidak nyaman di rumah sakit ini. Jngan sampai aku bertemu malam lagi! Ucapku di dalam hati.


"Baiklah ... kamu sudah boleh pulang ya. Tapi sebelumnya, Bapak harus menebus obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit sesuai dengan resep yang saya berikan."


"Baik Dok, terimakasih.... " jawab Ayah yang tampak cerah.


"Alhamdulillah .... " ucapku sambil membuang nafas lega.


"Rio, Tolong temani Sarah dulu ya ...! Sebentar saja, Om mau menebus obat dulu ke Apotek terdekat. "


"Baik Om. "


Ayah pun segera berjalan keluar dari ruang IGD untuk menebus resep obat yang telah diberikan oleh Dokter. Saat Ayah sudah meninggalkan aku dan Rio aku menatapnya cukup lama dan dalam. Sebenarnya siapa Rio dan Kenapa Iya tampak begitu akrab dengan Ayahku?


"Kamu sudah ngak papa? " tanya Rio dengan sopan.


"Iya ... aku sudah lebih baik. "


"Syukurlah ... kemarin Ayah kamu sangat panik sekali saat melihat kamu berteriak dan menggigil tanpa sebab sesaat setelah kayu rak sepatu menimpa tubuh kamu Sarah."


"Apa hal itu terjadi? Aku benar-benar tidak sadar akan hal itu. " sahut ku cukup kaget.


"Iya ... aku tidak berbohong. Heeemh ... aku jadi teringat dengan kakak kandungku yang bernama Rani. Dia juga sangat sayang dan peduli padaku. Saat aku terjatuh dari sepeda, Dialah orang yang pertama kali berlari menangis dan mengobati ku. "


"Oh ya? "


"Pernah saat SLTA, ketika aku sedang mengendarai motor lalu ditabrak dari belakang dan aku dirawat di rumah sakit. Saat itu, aku mengalami pendarahan yang hebat. Tapi malah kakakku yang pingsan dan ikut dirawat bersamaku. Ha ha ha ha ha ha ha ha .... "


"Ekspresi ayahmu tadi malam membuat hatiku tergerak untuk menolong dan membantu beliau membawa kamu ke rumah sakit sarah. "


"Begitu ya? " ucapku sambil tertunduk.


"Oh iya, tadi malam aku dan Ayahmu banyak bercerita tentang dirimu dan juga kampus tempat kamu akan menuntut ilmu. Ternyata kita kuliah di kampus yang sama dan kebetulan sekali aku adalah ketua dalam kegiatan pengenalan kampus selama 7 hari kedepan."


"Heeemh .... " sahut ku tanpa membuka mulut.


"Itu makanya aku kesini pagi-pagi sekali hanya untuk menjemput surat pernyataan sakit dari sini agar mendapatkan izin untuk kamu agar tidak mengikuti proses pengenalan kampus selama tiga hari kedepan. "

__ADS_1


Saat sedang berbincang-bincang hangat bersama Kak Rio, seorang Suster datang menyapaku dan memberikan aku resep tambahan untuk meningkatkan stamina ku.


Kak Rio yang sangat cekatan langsung berdiri untuk mengambil resep tersebut, tapi pada saat yang bersamaan handphone Kak Rio jatuh di ujung ranjangku. Untung saja aku segera menangkapnya, jika tidak mungkin HP mahal itu akan pecah.


"Makasih ya Sarah. Tolong pegang dulu hpnya ...!" ujar Kak Rio yang tengah mengambil resep yang terjatuh di lantai.


Aku mengikuti ucapan Kak Rio. Lalu saat mengangkat HP tersebut, aku melihat sebuah foto profil yang tampak sangat akrab antara kak Rio dan seorang wanita yang cantik dengan dandanan yang mewah. Mataku tertuju pada foto tersebut dan aku berniat untuk menggoda Kak Rio.


"Pacarnya Kak Rio cantik. Namanya siapa? " ucap ku sambil menatap handphone Kak Rio yang tampak tidak terkunci.


"Pacar? Itulah Kakak kesayangan aku Sarah. Namanya Rani. "


Tak lama handphone Kak Rio berbunyi dan ia langsung mengangkatnya. Ternyata itu telepon dari kampus yang meminta Kak Rio untuk segera berada di lokasi pengenalan kampus. Dengan sigap Ka Rio mengatakan padaku, jika Iya harus segera ke kampus sambil membawa surat keterangan sakit atas namaku dan Kak Rio pun mengatakan bahwa Dia akan menjenguk ku lagi.


Setelah Kak Rio pergi meninggalkan aku dan Ayah belum juga pulang, aku memutuskan untuk berjalan ke luar ruangan sambil memandang ke semua arah rumah sakit yang bisa aku lihat.


Aku menggoyang-goyangkan kedua kakiku agar lebih rileks. Tiba-tiba pandangan ku mengarah pada seseorang yang berjalan keluar dari arah pojok rumah sakit sehingga mengingatkanku dengan kejadian semalam.  Aku menutup mata dan mulut dengan tanganku. Seakan tidak mau teringat kembali. 


Lama-kelamaan seseorang itu berjalan mendekat ke arahku. Ternyata Dia adalah petugas kamar mayat dan aku mengetahuinya dari perbincangan singkat antara laki-laki itu dan petugas kebersihan yang saat ini sedang berhenti di hadapanu.


Tapi aku agak heran. Berkata di dalam hati sambil mengkerutkan keningku. Semalam itu sosok petugas kamar mayat berbeda dengan yang saat ini berada di hadapanku. Semalam laki-laki itu terlihat jauh lebih tua, rambutnya banyak yang putih dan perawakannya kurus tinggi sedangkan yang sekarang di hadapanku terlihat lebih muda, rambutnya hitam, gemuk dan pendek.


Karena ingin tau, aku memaksakan diriku untuk menyapa petugas tersebut. "Maaf Pak ... saya mengganggu. "


"Iya mbak, ngak papa. Ada apa ya ?" bertanya dengan heran.


"Iya Mbak, benar sekali. "


"Sudah berapa lama Pak ?" tanyaku semakin penasaran.


"Sekitar 3 tahun Mbak. "


"Ada berapa orang petugas penjaga kamar mayat di rumah sakit ini Pak?"


"Hanya saya sendiri saja Mbak. Soalnya banyak yang ngak kuat karena banyak kejadian. Belum lagi gajinya yang minim.


Saya juga kalau tidak terpaksa, tidak mau bekerja sebagai petugas kamar mayat Mbak."


"Oh ... begitu ya Pak. "


"Dulu memang ada senior saya namanya Pak Kusno, tapi itu tiga tahun yang lalu Mbak, sebelum beliau meninggal dunia dan saya sekarang ini bertugas sendirian saja. Beliau meninggal dunia di dalam kamar jenazah itu Mbak. Orangnya kurus tinggi dan sudah lumayan tua.  Kami tidak tau jelas penyebab kematiannya, tapi yang pasti Pak Kusno meninggal dunia di saat bertugas." ujarnya berbicara dengan sangat jelas.


Mendengar perkataan dan penjelasan petugas kamar mayat tersebut, aku pun terdiam sambil berdiri. Mataku bergerak kesana kemari karena aku sangat kebingungan. "Jadi yang selamam itu ... semuanya hantu?" gumamku dengan suara yang hanya terdengar oleh telingaku sendiri.


"Oh iya Pak, maaf sudah mengganggu dan silahkan melanjutkan aktivitasnya."


"Iya Mbak, saya permisi .... "

__ADS_1


Aku mundur beberapa langkah ke belakang hingga punggungnya menabrak tembok lalu aku terduduk dan terdiam sambil menela'ah kejadian semalam. Itu nyata atau tidak ya? Aku bertanya sendiri tanpa tau jawabannya.


Sekitar 30 menit berlalu, Ayah tiba di hadapanku dan menyapa, "Sarah, kenapa kamu di luar sini Nak? Dimana Rio? " tanya Ayah sambil melihat sekelilingku.


"Kak Rio sedang ke kampus yah, tadi Dia ditelepon oleh pihak kampus. "


"Oh ya sudah kalau gitu. Ayah urus administrasi dulu kemudian kita langsung pulang ya. "


"Setuju yah ... aku sudah tidak ingin berlama-lama di rumah sakit ini. "


Selesai dengan urusan rumah sakit, Aku dan Ayah langsung pulang kerumah dan Ayah mengantarkan aku ke kamar tidur ku. Ayah meminta aku untuk beristirahat hari ini, dan aku mengikuti keinginan Ayah tanpa ingin membuat ia cemas.


*****


Hari mulai memasuki waktu Maghrib dan aku merasa bosan di kamar tapi juga tidak ingin keluar dari tempat ini. Aku memandang ke arah luar jendela dan menatap sekeliling rumah. Tanpa sengaja aku melihat sosok wanita misterius sedang mendekati mobil Ayah. Sepertinya ia ingin masuk ke dalam mobil tersebut.


Penasaran, aku segera berlari keluar dari kamarku menuju ke halaman rumah dan mendekati mobil ayah. Tapi setibanya di luar, aku sama sekali tidak melihat wanita misterius tersebut.


Aku kembali menatap sekitar ku, bahkan aku berjalan mengelilingi mobil Ayah untuk memastikan di mana wanita tersebut. Jantungku berdebar kencang, hatiku tidak karuan, dan aku mencium bau anyir yang sangat kuat dari dalam mobil Ayah. Untuk itu aku langsung membuka dan mencari tahu apa yang terjadi di dalam mobil Ayah.


"Aromanya sangat kuat dan berasal dari kursi belakang. " ucapku dengan yakin sambil mencium dan mencari asal aroma tak sedap tersebut.


Saat ini, setengah dari badanku berada di dalam mobil Ayah yaitu dari kepala hingga batas pusarku sementara bokong dan kaki ku masih berada diluar mobil Ayah. Tiba-tiba aku merasakan sepasang tangan menarik kepalaku dengan sangat kuat hingga aku jatuh dan tersungkur di bawah lantai mobil Ayah dan hidungku mengeluarkan darah.


"Aduh .... " keluh ku sambil memegang hidungku yang rasanya padat.


Aku membuang dan menarik nafasku perlahan, kemudian aku mengarahkan pandanganku ke kanan (sisi kolong kursi mobil Ayah). Tanpa sengaja aku melihat sesuatu di sudut ujung besi kursi mobil Ayah.


Aku langsung mengambil dan menariknya. Ternyata ini sebuah dompet wanita. Ujarku di dalam hati. Tak ingin berlama-lama, aku membuka dompet tersebut saat masih dalam keadaan ter telungkup.


"Apa? " ucapku sangat terkejut melihat isi dompet tersebut dan tiba-tiba aku melihat wajah seorang wanita yang penuh darah tepat di hadapan ku. Hal itu membut aku berteriak ketakutan lalu meninggalkan mobil Ayah.


"Aaaak ... aaaakkk ... aaaakkk ... aaaakkk .... " ucap ku sambil berlari masuk ke dalam rumah.


"Sarah ... kamu kenapa lagi Nak? Apa yang terjadi? " tanya Ayah sambil memegang kedua tanganku sangat erat. "Ya ampun Sarah, kamu mimisan .... " kata Ayah sambil membawa tubuhku duduk di atas sofa di depan ruang TV.


"Ayah apa yang sebenarnya sudah Ayah lakukan? Aku ingin Ayah jujur padaku ...! Aku mohon Ayah. Aku sangat ketakutan dan tersiksa. Aku mohon tolong aku ...." ucap ku memelas sambil menangis hebat di hadapan Ayah.


"Apa maksud mu Sarah? Ayah sama sekali tidak mengerti. Tolong jelaskan dengan perlahan agar Ayah bisa memahami maksud perkataanmu. " ujar Ayah sambil menghapus darah yang berada di bawah hidungku.


"Ayah ... apakah Ayah sudah membunuh seseorang? Tolong katakan dengan jujur yah ...! Karena di dunia ini hanya Ayah yang aku punya, hanya Ayah yang aku miliki, aku mohon yah ... jangan membohongi aku sedikit pun. " ucap ku dengan wajah yang tegang sambil menatap Ayah.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘

__ADS_1


__ADS_2