ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TOLONG


__ADS_3

Aku keluar dari dalam kamarku untuk segera membangunkan ayah yang masih terlelap di kamarnya. "Ayah ... bangun yah, sudah siang." ucapku sembari mengetuk pintu kamar Ayah dan berkata dengan sopan.


"Iya Sarah .... " sahut Ayah dari dalam kamarnya.


Mengetahui Ayah sudah bangun, aku segera berjalan ke arah meja makan. Ya Tuhan ... kenapa aku jadi tidak bersemangat seperti ini? Tanyaku di dalam hati. Tapi aku tidak boleh seperti ini karena Ayah tidak boleh banyak pikiran tentang diriku.


30 menit berlalu, Ayah keluar dari kamar dan Kak Rio pun tiba. Kebetulan yang sangat tepat, karena dengan adanya mereka berdua aku bisa sedikit tersenyum lebar walaupun aku harus mendustai diriku sendiri.


Kami sarapan pagi dengan nikmat walaupun aku sama sekali tidak tenang. Aku berusaha untuk mengimbangi kedua laki-laki dengan cinta untukku yang sedang berada dihadapanku. Aku menghargai mereka sehingga aku berusaha menutupi kecemasan di dalam hatiku dengan senyuman.


"Kalau sudah selesai sarapannya, sebaiknya kita segera berangkat ke kampus Kak. Aku tidak ingin terlambat. " ucapku dengan lembut padahal sebenarnya aku bukan takut terlambat tapi aku ingin berdiskusi dan meminta pertolongan pada Feli sesegera mungkin.


"Baiklah ... sepertinya ada yang sudah tidak sabaran untuk belajar Om. " ujar Kak Rio kepada Ayah dan mereka tertawa bersama seakan bahagia dengan ucapanku.


"Iya iya ... malam ini Ayah pulang cepat Sarah."


"Alhamdulillah ... iya yah. Aku juga akan langsung pulang ke rumah seusai dari kampus nanti. "


Ayah mengantar aku dan kak Rio ke depan rumah, tepatnya di teras rumah kami. Ayah memang selalu begitu, setelah aku meninggalkan rumah untuk berangkat ke kampus, baru ayah akan berangkat ke kantornya dan mengunci semua jendela serta pintu rumah dengan rapi.


"Sarah, kamu sakit? " tanya Kak Rio yang terus memperhatikan dan melirikku selama berada di dalam mobil karena tidak seperti biasanya aku hanya diam dan menatap lurus ke jalanan.


"Ngak kok Kak, aku baik-baik saja. Apa kabar Sinar kak? "


"Tapi kamu tampak lesu dan kurang bersemangat Sarah .... " sahut Kak Rio yang curiga padaku tanpa menjawab pertanyaanku tentang Sinar. "Jika ada masalah, ceritakan padaku...! Aku tidak ingin menjadi kekasih yang tidak berguna Sarah. "


Tidak, aku tidak ingin melibatkan Kak Rio dalam urusan keluargaku yang misterius ini. Lagi pula aku belum tahu pasti apa yang tengah terjadi, apakah ini semua hanya halusinasi atau petunjuk dari Tania?


"Sarah, Kenapa kamu jadi malah melamun seperti itu? "


"Aku hanya mengantuk Kak, ngak lebih. " sahutku berusaha menghindar dari setiap pertanyaan dari Kak Rio yang datang bertubi-tubi dan membuat aku agak gelagapan.


"Ya sudah kalau gitu, kamu pejamkan saja matamu itu Sarah. Aku akan membawa mobil ini perlahan, lumayan kan bisa buat istirahat sejenak. "


"Makasih Kak .... " sahutku sembari memejamkan kedua mataku dan berbohong dengan berpura-pura tidur, agar Kak Rio tidak lagi mempertanyakan tentang apa yang terjadi padaku. Maafin aku ya Kak, aku hanya ingin kamu tidak khawatir dan tidak ikut terbawa ke dalam masalahku. Ucapku di dalam hati.


*****


"Sarah ... kita sudah tiba di kampus. " ucap Kak Rio dengan lembut sambil merapikan rambutku dan menyelipkannya di kedua telingaku.


Aku turun dari mobil dibantu Kak Rio, dia berpikir pasti aku sempoyongan karena baru bangun dari tidur dan ia membawaku ke kamar mandi di dalam gedung kampus untuk mencuci wajahku agar kembali segar.

__ADS_1


"Aku tunggu disini ya Sarah .... " kata Kak Rio sambil berdiri di depan pintu dan menyandarkan tubuhnya di tembok.


"Iya Kak, makasih .... "


Merasa cukup segar, aku segera keluar dari kamar mandi dan Kak Rio memberikan aku tisu untuk mengeringkan wajahku yang masih basah. "Sejak kapan lo jadi baby sister Beb? tanya Kak Linda sambil menyilangkan tangan tepat di dadanya.


"Maksudnya? " tanya Kak Rio dengan sedikit senyum dan santai.


"Iya ... soalnya 1 bulan terakhir ini aku lihat kamu kayak Baby Sister banget. Selain jagain baby kamu itu, kamu juga mengurusnya dengan rapi. Ini seperti bukan kamu Beb, karena yang aku tahu kamu adalah laki-laki yang tegas, keras, dan mandiri. "


"Kamu bener banget Lin tapi masalahnya sikap aku yang keras itu hanya untuk orang-orang yang tidak ada di dalam hatiku sementara untuk kekasihku, bagaimana aku bisa bersikap keras dan tegas sementara aku sangat menyayanginya? "


"What? " ucap Kak Linda dengan ekspresi kaget. " Apa artinya lo dan dia punya hubungan khusus, maksud gue pacaran gitu? Nggak pantes kali Beb .... " ujar Kak Linda setengah mengejek Kak Rio.


"Tapi masalahnya aku sangat mencintai Sarah dan aku berniat untuk menikahinya setelah aku mendapatkan pekerjaan yang layak. Satu lagi yang perlu kamu dan teman-temanmu tahu Linda, bahwa hubunganku dan Sarah sudah direstui oleh kedua orang tuaku dan orang tua Sarah. Jadi hubungan kami ini klop tanpa masalah."


"Kamu yakin Beb? " tanya Kak Linda sekali lagi.


"Tentu saja, aku harap kalian tidak mencari gara-gara dan masalah dengan Sarah lagi karena jika kalian berurusan dengan Sarah, berarti kalian berurusan denganku. " kata Kak Rio sambil tersenyum dan berusaha berbicara dengan lembut karena mereka adalah wanita.


"Kak, sebaiknya kita masuk ke dalam kelas yuk...! Aku tidak ingin terlambat. " ucapku berusaha memecah sesi tanya jawab di antara mereka karena bagiku bertengkar seperti ini tidaklah penting.


"Iya sayang ...." sahut Kak Rio yang tampak sangat sengaja membakar amarah Kak Linda dan teman-temannya. Padahal selama ini Kak Rio sama sekali tidak pernah memanggilku dengan sebutan sayang dan itu membuatku merasa geli hati dan terpancing untuk tertawa kecil.


"Biar saja, lihat nanti ya! Pasti satu kampus semuanya tahu bahwa Rio sudah memiliki kekasih yang bernama Sarah. " sambil tersenyum lebar dan berjalan bersamaku menuju ke kelas.


"Kakak ini ... malu tau. "


"Kenapa harus malu? Dengan begitu kamu juga akan semakin yakin bahwa aku tidak memiliki kekasih lain selain dirimu. Selain itu, aku juga ingin mereka tahu dan tidak coba-coba mencari perhatian dari kekasihku."


"Kakak lucu, aku baru sadar ternyata Kakak adalah laki-laki pencemburu." ucapku sambil mengejek.


"Tentu saja, karena aku sangat mencintai kamu dan aku tidak ingin ada orang yang mengganggumu apalagi mencurimu dari sisiku. Paham? "


"Paham Kakak .... "


"Seharusnya kamu belajar untuk memanggil ku sayang. "


"Hemmmh ... baiklah. Tapi di luar kampus ya Kak. "


"Jangan pelit Sarah .... "

__ADS_1


"Bukan pelit Kak, tapi malu .... " Kami saling bersahutan kata hingga Kak Rio mengantarkan aku tepat di depan kelas dan kami berpisah untuk belajar.


Adu mulut antara Kak Rio dan Kak Linda beserta rekan-rekannya tadi membuat aku kehilangan cukup banyak waktu, sehingga aku tidak bisa mengobrol banyak bersama Feli sebelum perkuliahan dimulai.


Tidak seperti biasanya, hari ini Feli tampak kurang peka terhadap perasaan dan pikiranku. Biasanya, tanpa aku cerita, Feli tetap mampu menangkap pikiran dan langsung bertanya, "Ada apa?" Tapi tidak kali ini.


*****


Jam istirahat datang, aku pun segera mendekati Feli dan menyapanya. "Hai Fel ...."


"Iya ... kenapa mukanya gitu? " tanya Feli antusias seperti biasanya.


"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. "


"Apa? "


"Ingat ceritaku tentang penampakan Kak Tania beberapa kali selama 1 bulan terakhir ini? Walaupun jarang sekali muncul tapi ada dan seolah-olah Ia ingin memberitahukan sesuatu yang buruk akan terjadi padaku dan Ayah. "


"Kenapa kamu bisa yakin itu? Bisa saja Tania datang karena rindu bukan hal yang lain."


"Perasaanku yang mengatakannya kepadaku Feli dan ini sangat kuat sama seperti saat tante Rima ingin membunuhku."


Feli tampak melipat dahinya dan berpikir, apakah aku sedang berhalusinasi atau memang aku mendapat petunjuk dari Tania yang selama ini selalu menjagaku dengan baik. Tapi satu hal yang membuat aku bingung, biasanya Feli langsung menarik buku gambar dan mengambil pensil untuk mengetahui apa yang terjadi padaku tapi tidak kali ini.


"Sebaiknya kamu tenangkan diri terlebih dahulu Sarah! Supaya kamu bisa benar-benar menyaring tanda-tanda yang diberikan Tania kepadamu! "


Tak lama, aku menceritakan kepada Feli tentang waktu dan kalender yang ada di kamarku. "Jika dilihat dari hari yang telah aku beri tanda silang, waktu aman ku atau Ayah hanya tinggal 3 hari lagi dan Ini masalah serius. " ucapkan sekali lagi demi meyakinkan Feli tentang firasatku karena Feli tampak tidak percaya dan berpikir bahwa aku sedang sedang berhalusinasi.


Feli terdiam dan tertunduk dengan matanya yang melirik kesana kemari seakan memikirkan sesuatu yang sangat berat dan tidak mungkin bisa ia lakukan. "Baik, jika kamu benar-benar yakin dengan apa yang kamu pikirkan, maka aku akan mencari tahu kebenarannya. "


"Feli tolong aku! Ayah dalam bahaya dan ini tidak main-main. Aku sangat yakin dengan apa yang aku rasakan saat ini."


"Baik Sarah ... sepulang sekolah nanti aku akan melihatnya. " ucap Feli dengan wajah yang cemas.


Sebenarnya di dalam hatiku bertanya, ketika mendengar ucapan dari Feli karena tidak biasanya ia mengatakan hal seperti itu. Setahuku, tanpa aku minta Feli langsung menarik buku gambar serta pensilnya, tapi tidak kali ini. Apa mungkin kertas gambar dan pensilnya tinggal di rumah? Makanya Feli ingin melakukannya setiba di rumah nanti.


Selama berkata-kata di dalam hati, aku melihat wajah Feli yang tampak sangat cemas dan aku yakin itu bukan karena perkataanku barusan tapi karena hal yang tidak aku ketahui. Aku tidak berani mempertanyakan hal tersebut kepada Feli karena tampaknya ia berusaha untuk menyembunyikan sesuatu dariku.


"Kamu ngak papa Fel? " tanyaku yang ikut khawatir melihat ekspresi Felly yang berbeda daripada biasanya. Apa yang kamu sembunyikan dariku Fel? Tanyaku tanpa suara.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2