
"Astaghfirullah hal azim," ucap ku sambil jalan cepat menuju ke arah Rian dan Feli.
Saat makhluk tersebut mulai menggerakkan tangan kanannya, aku langsung berlari dan mencengkram tangan pucat pasi tersebut dengan sangat kuat.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir."
"Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu."
__ADS_1
Rian menolehkan arah pandangannya kepadaku dan tanpa pertanyaan, Rian langsung membacakan lima ayat pendek terakhir di dalam Al-Quran sambil terus menatap ekspresi marah pada wajah ku.
"Aaak ... aaak ... aaak ... tidaaak!" teriak wanita bermata besar yang hancur tersebut sambil menggeleng-menggelengkan kepalanya berkali-kali hingga tangannya yang berwarna putih pucat menjadi hitam.
Aku tidak melepaskan tangannya, entah bagaimana, rasanya aku sangat marah. Mungkin karena aku tau niat busuk makhluk tersebut. "Teriak lebih kencang lagi! Agar kaummu memberi tanda pada wajah saudaraku dan katakan kepada mereka, jika mereka berani menyentuhnya, maka mereka akan binasa!" ucap ku dengan nada marah dan mata yang melotot.
Rasanya darahku mendidih, urat-urat tubuhku menegang, tapi aku masih menahan diri mengingat satu hal yaitu kesempatan. Lagi pula, aku ingin dia mengingat wajah Feli dan rasa sakitnya saat ini, hingga dia dan yang lainnya tidak lagi berani menyentuh saudaraku.
Makhluk itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Sementara asap mulai terkumpul banyak di tangannya yang sedang aku genggam.
__ADS_1
"Sarah, kenapa?" tanya Rian.
"Percayakan saja padaku, Rian."
"Baiklah."
Aku melepaskan genggaman tanganku dan makhluk itu bergerak dengan cepat meninggalkan kami bersama suara tangisnya yang terdengar sama dengan suara tawanya. "I hi hi hi hi hi hi hi," tangisnya sambil terbang menuju pohon beringin yang rindang tepat di depan klinik Loide.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.