
Apa yang harus aku lakukan saat ini? tidak mungkin aku terus seperti ini. Aku mulai memperhatikan sekitar dan aku melihat penampakan bocah kecil berlarian dengan tanya yang khas. Apa dia bayi Mira yang sudah tiada? aku bertanya di dalam hati.
"Bagaimana rasa sakit?" tanya seseorang dengan suara yang belum pernah aku dengarkan.
Dengan kaki yang sudah gemetaran, aku melirik ke arah samping. Dimana aku merasa ada seseorang berdiri di sana dengan segudang kebenciannya. Aku menangis karena sangat merasa takut. Takut pada bisikan maupun sentuhan makhluk itu, takut dengan rasa sakit karena harus menyaksikan Ayahku teraniaya, ia adalah satu-satunya harta yang aku miliki.
"Itu belum seberapa, bagaimana kalau sekarang aku mendorong tubuh kecilmu itu? ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... " Lalu suara itu menghilang.
Aku pikir, dia sudah pergi, tapi ternyata dia muncul secara mengejutkan tepat di hadapanku dan itu membuat aku terkejut sekaligus gemetar hebat.
"Haaaah .... " ucapnya dengan mulut yang menganga dan ia tampak sangat mengerikan.
Dari mulutnya tercium aroma sepsiteng lengkap dengan isi-isinya, dari matanya keluar binatang berkaki banyak dan beracun (lipan), dari pipinya keluar beberapa belatung berwarna putih yang kemudian berjatuhan dilantai mengenai ujung-ujung jari kakiku. Mungkin dia ingin aku mundur atau berlari (meninggalkan dan membiarkan ayahku tergantung), tapi aku tidak melakukannya.
"Aaaaaaahhhkkk ...." teriakku sambil menangis dengan tubuh yang semakin gemetaran.
Tubuhku benar-benar bergetar dan aku merasa kepalaku tidak dapat aku kendalikan dengan baik, sehingga bergerak ke atas dan ke bawah dengan sangat cepat. Ini adalah ketakutan terbesarku, tampaknya ia ingin menghabisi jiwaku, ucapku tanpa suara.
Siapa makhluk ini? aku yakin dia bukan Mira. Kenapa dia begitu sangat ingin melihat aku menyerah dengan apa yang aku jalani. Tania, aku harus bagaimana? tanyaku di dalam hati karena hanya nama itu yang aku ingat dan aku kenali.
"Lariiiiiiii! Pergilah ...! Bawa ketakutan mu! Ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
"Tidaaaaakkkk .... " ucapku mencoba menantang iblis tersebut, tapi tiba-tiba dia menghilang.
Sementara dari atas kepalaku, aku merasa ada sesuatu yang berjatuhan dan mengenai rambutku. Rasanya licin, berlendir dan cukup berat. Binatang itu bergerak ke arah dahi kemudian turun melewati kedua mataku dan sepertinya ia akan masuk ke dalam mulutku yang masih mengangga (tidak bisa ditutup) sesaat setelah berteriak.
Jijik, takut, cemas, khawatir, rasanya aku ingin berteriak sangat kencang, tapi aku tidak bisa. Tiba-tiba mulutku kaku, tidak bisa ditutup dan aku terus merasakan makhluk tersebut menggerayangi bagian ujung lidah hingga masuk ke dalam tenggorokan ku.
Aku semakin lemah tidak berdaya, aku merasa hilang dan tidak tau siapa aku. Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang aku hadapi dan aku sudah tidak kuat lagi.
__ADS_1
Brak
Tiba-tiba dari arah kanan aku melihat seseorang terduduk dan berusaha menuju ke arahku dengan tubuhnya yang menyeret. Mungkin suara teriakan ku yang membuat seseorang tersebut menuju ke arahku dengan lamban.
"Sarah ... Nak." Aku mendengar suara ayah dengan sangat jelas dari kegelapan. Tapi, jika Ayahku di sana, siapa yang saat ini tengah bersamaku?
Aku sangat merasa bingung, "Kuatkan hatimu, Sarah!" ucap laki-laki tersebut dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Kuatkan jiwamu!" ucapnya sekali lagi.
Di dalam keraguan dan kebingungan, ada keyakinan saat sosok laki-laki itu berucap. Itu gaya Ayah saat berbicara kepadaku. Dengan segera, aku menengadahkan kepalaku dan aku melihat siapa yang sedang aku perjuangkan sejak tadi?
"Aaaaaaak .... " teriakku karena melihat sosok Ayah yang berubah menjadi pocong dengan wajahnya yang sudah membusuk.
Tanpa ragu, aku berlari menuju tubuh Ayah yang tampak mengalami luka berat dan saat itu Ayah memelukku sambil meneteskan air mata. "Ayah ... Ayah ... Ayah .... "
"Tenanglah, Nak!" ucap Ayah yang sudah terluka. "Berjanjilah kepada Ayah! Bahwa kamu akan keluar hidup-hidup dari tempat ini. Jangan biarkan mereka menguasai mu Sarah!" Aku menangis semakin keras saat mendengar perkataan Ayah.
"Kita akan keluar hidup-hidup bersama dari tempat ini Ayah. Kita akan melakukannya, Ayah harus percaya pada ku!"
"Aaaaaaakkkk .... " teriakan yang sangat kuat di dalam ruang satu lagi dan sepertinya itu suara Papanya Rido.
"Ayah masih kuat berdiri?"
"Iya .... "
"Ayah harus bisa karena kita akan keluar dari sini bersama-sama. Setelah ini, bawa aku ke makam Ibu dan Kakakku ya, Yah!"
"Ayah janji, Sarah. Ayah janji, Nak," kata Ayah sambil menangis dan menarik air hidungnya.
"Ayo, Ayah!"
__ADS_1
Sambil memapah tubuh Ayah, aku menuju ke arah sumber suara teriakan tersebut. Benar saja, setibanya di ruang tanpa pintu, aku melihat Papanya Rido sedang disakiti bahkan dianiaya.
Mulutnya ditutup dengan helaian kain putih seperti kain kafan dan terkadang dibuka agar ia teriak meluapkan kesaktiannya. Saat Papanya Rido berteriak dan menangis, Mira tampak tertawa bahagia.
"Itu semua belum seberapa. Ada yang lebih sakit lagi, yaitu kehilangan."
Mira melakukan apa yang laki-laki tersebut lakukan padanya dulu. Ia memukul, menampar, menendang dan mencakar-cakar tubuh Papanya Rido. "Tidak, ini belum seberapa. Kamu harus merasakan sakit yang sebenarnyaaaaaa!" teriak Mira sekencang-kencangnya.
Tak lama, dari sudut ruangan. Aku melihat sosok yang tidak asing bagiku. Dengan kekuatan iblis nya, Mira seakan-akan mampu menarik tubuh laki-laki muda yang tampak sudah membuka kedua matanya dan menangis.
Tangan Mira tepat di leher Rido. Sepertinya Mira ingin menghabisi Rido yang tampak tidak mampu menggerakkan tubuhnya, tepat dihadapan Papanya. Sementara Papanya Rido meronta-ronta berusaha menyelamatkan putranya.
"Sarah, tolong mereka!" ujar Ayah membebaskan diriku dari tatapan bengong seakan sejak tadi aku hanya sedang menonton acara televisi.
"Ayah, Ayah tetap disini ya. Aku tinggal dulu." Aku meninggalkan Ayahku di sudut ruangan sebelum masuk ke tempat dimana Mira menggila.
"Lepaskan dia, Mira! Dia sama sekali tidak bersalah, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini," ucapku berdiri tepat di samping Papanya Rido sambil berusaha keras membuka selimut putih yang menutupi mulut Papanya Rido.
"Aku tidak bersalah. Ayah, Ibu, dan adikku juga tidak bersalah, Tapi mereka semuanya mati."
"Mereka memilih jalannya sendiri Mira. Mereka menghabisi nyawanya sendiri karena tidak sanggup dengan cemo'ohan orang lain, dengan ejekan dunia. Padahal Allah tengah menguji tingkat keimanan mereka. Aku tau kamu gadis yang sangat baik dan hebat Mira. Jangan bebankan lagi orang tuamu dengan dosa-dosa besar seperti ini. Ucapku seakan semua jiwa dan pikiranku telah kembali.
"Diiaaaaaaaammmm .... " teriak Mira sangat kuat dan berenergi hingga memecahkan kaca-kaca jendela di ruangan tersebut dan terbang hendak menghantam ke arahku. Tapi saat kaca-kaca kecil itu sudah sangat dekat dengan tubuhku dan aku tidak tau harus berbuat apa? Ayahku datang dan menjadi perisai bagiku.
Bersambung ....
Para reader, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
__ADS_1
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘