ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KEBENARAN YANG MULAI TERUNGKAP


__ADS_3

Ibu keluar dari kamar, ntah apa yang ingin ibu lakukan. Aku masih mendengar suara ayah dari jendela kamarku. "Sarah, Sarah ... nak, tolong dengarkan ayah Sarah! " ucap Ayah dengan suara yang lantang.


Aku menyusul Ibu tanpa mendengarkan perkataan Ayah tapi saat ingin keluar dari kamar, Ibu malah bergegas masuk ke dalam kamar. "Sarah, ini kesempatan kita untuk pergi dari sini, ayahmu masih di luarkan nak? " tanya Ibu.


"Iya Bu, suaranya masih di jendela kamarku Bu. " jawabku


"Baik, kalau begitu ayo kita keluar sekarang Sarah ! "


Aku dan Ibu bergerak dengan cepat menuju pintu keluar, tapi ayah sudah ada di pintu itu. Aku dan ibu sangat terkejut, Ibu menarik tanganku dan menyembunyikan aku di belakang tubuhnya, kami mengambil langkah mundur untuk menghindari Ayah.


"Berikan Sarah padaku! " ucap Ayah marah pada Ibu


"Tidaaaaak ." Ibu berteriak sangat kencang


"Kali ini aku tidak kan segan-segan menyakitimu jika kamu tidak menyerahkan Sarah padaku. " Seperti berbicara dengan orang lain.


"Aku tidak akan memberikan Sarah padamu, apapun yang terjadi." sahut Ibu


Ayah maju dan bergerak hendaklah memukul Ibu, Ibu menangkis serangan ayah dengan kemoceng di ruang tamu dan mendorong ku ke sudut ruang tamu.


Saat Ayah lengah Ibu memukul Ayah dengan kursi, Ayah pun terjatuh dan terkulai lemah, tapi ayah masih bisa tetap bergerak. Kamipun segera berlari ke arah dapur.


Ibu memintaku untuk selalu berada di belakangnya, dan akupun mengikutinya tapi aku melihat sesuatu dari Ibu yang membuat aku sangat terganggu.


Saat Ibu dalam posisi setengah berdiri, baju Ibu tersingkap sehingga aku bisa melihat kalau di pinggang Ibu tidak ada tanda lahir yang sama sepertiku. Sepintas pikiranku menerawang ... Ibu tidak punya tanda lahir seperti aku, kenapa ? Ucapku di dalam hati.


Ayah tiba di dapur dengan kaki yang pincang dan Iya berjalan dengan menyeret-nyeret kakinya, sepertinya kaki Ayah cidera. Saat Ayah melangkahkan kaki di hadapan kami, Ibu menekel kaki Ayah hingga Ayah terjatuh kembali.


Ayah tersungkur dan terjatuh di lantai, Lalu Ayah melihat ke arahku dengan mata yang bersedih dan tampak sendu. "Sarah ... sarahhhh ini Ayah naaaak .... " ucap Ayah hampir meneteskan air mata.


Mataku terus melihat ke arah Ayah, aku melihat tidak ada kebencian di mata Ayah sedikitpun untukku. Ibu terus menggenggam dan menarik tanganku, di saat yang bersamaan Ayah mengejar ku dengan sangat cepat.


Ayah mendapatkan tanganku, Ayah menarik ku dengan sangat kuat. Sekarang, aku berada di dalam genggaman Ayah. Sekarang seolah giliran Ayah kembali yang membawaku menjauh dari Ibu.


Ibu kembali mengejar kami, saat aku dan ayah menuju arah jalan ke gudang tua, Ibu melemparkan vas bunga kecil kepada Ayah dan vas bunga tersebut mengenai kepala belakang Ayah. Ayah seperti tersentak dan melepaskan tanganku.


Ibu kembali menarik tanganku, aku sangat pusing sekali, seperti sedang diperebutkan, ditarik kesana dan kesini dalam kebingungan dan ketakutan yang luar biasa besar. Aku menoleh ke belakang aku melihat Ayah sudah tidak berdaya lagi.


Sesampainya di ruang tamu, tiba-tiba kaki Ibu tersandung karpet merah yang terpasang di bawah meja ruang tamu hingga Ibu jatuh tersungkur.


Aku berlari mendekati Ibu berniat membantunya. Tapi ...saat aku mendekatinya, aku melihat di kaki kanan Ibu terdapat gambar tato kupu-kupu persis seperti tato yang dimiliki oleh wanita misterius yang sering menyakiti Tania.


Flash back


Waktu itu aku melihat seorang wanita misterius dengan suara yang keras dan kasar memaki-maki Tania dan menganiaya Tania, kejadian itu terjadi di gudang tua. Wanita tersebut memukul dan menendang-nendang Tania hingga Tania terluka.

__ADS_1


Saat itu aku hanya bisa melihat kaki wanita misterius tersebut tanpa melihat wajahnya. Aku ingat sekali di kaki wanita itu terdapat tato kupu-kupu tepatnya di kaki kanannya. Aku pasti tidak salah, aku yakin benar apa yang aku lihat.


Saat aku melihat kaki Ibu, Ibu juga menatap mataku, aku juga bisa melihat dengan jelas kalau terdapat tahi lalat di mata kanan Ibu, tadi juga di pinggangnya tidak ada tanda lahir yang sama sepertiku.


Jantungku semakin tidak beraturan, aku tidak tau apa yang sebenarnya aku hadapi. Aku segera berdiri tanpa menyentuh Ibu, Ibu pun segera bangun dan berdiri.


Aku menatap Ibu dengan rasa takut, bingung, dan penasaran. Ibu berdiri tepat di depan ku. Ibu terus memandangi aku sambil menghapus darah di wajahnya dengan sangat santai seperti tidak ada sedikitpun rasa sakit yang tadinya Iya rasakan.


Pandangan matanya kini berubah. Aku melihat pandangannya begitu tajam dan dingin, ekspresi Ibu sangat datar, lalu Ibu sedikit menyunggingkan senyumnya membuat aku semakin beku.


"Heeeeehhh ....." ucapnya sembari melipat kedua tangannya. "Kenapa kamu menjauh Sarah ?" tanya Ibu dengan intonasi datar dan aku hanya diam sambil mundur perlahan. Tidak terlihat rasa sakit di wajah Ibu, Ibu malah terlihat menikmati semua yang terjadi malam ini.


"Sepertinya kamu sudah menyadari nya ya?" ucap Ibu sambil melangkah santai ke arahku.


"Jangan dekati aku ...!!" ucapku dengan suara yang gemetaran.


"Sarah, anakku sayang ... jangan takut pada Ibu sayang, Ibu akan menjagamu Sarah. " ucap Ibu dengan nada mengejek


"Tidak, jangan dekati aku ! Kamu bukan Ibu ku." Aku menangis sambil berteriak karena aku sudah tidak kuasa menahan perasaanku.


"Heeemh, iya ... ya ... ya ... ya ... ya ...." ujarbya seraya melihat ke arah Ayah. "Sepertinya Dia juga sudah tidak berdaya ya .... Heeeemh, padahal aku tidak ingin menyakitinya."


"Siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu inginkan?" tanyaku karena penasaran dan mulai bingung.


"Apa yang ingin kamu ketahui sayang ? Hem... katakan pada Ibu nak ? Ha ha ha ha ha. " Iya terus tertawa dan aku terus menangis sambil berdiri tidak mampu bergerak lagi, aku seperti kehilangan arah.


Ibu, maksud ku Tante Rima menarik sebuah kursi dan mendudukinya. "Apa yang sudah kamu lakukan ke pada si Mbok?"


"Ha ha ha ha ha ... pertanyaan bagus ... dengarkan Ibu baik-baik ya Sarah. Pagi itu, si Mbok melihat Ibu memecahkan kaca yang di dalamnya terdapat fotomu, saat itu Ibu tidak bisa mengontrol diri karena obat yang Ibu minum terlambat bereaksi. Saat itu juga Ibu bilang akan menghabisi mu Sarah, si Mbok mendengarnya. "


"Karena merasa terancam, sore itu saat si Mbok membantu Pak Antok menutup gudang tua, Ibu berinisiatif untuk sedikit eeeeemh mendorongnya sayang, hanya sedikit saja kok tapi karena si Mbok sudah tua, kakinya tidak mampu bertahan dan akhirnya si Mbok terjatuh ke dalam sumur itu ... ha ha ha ha... lucu sekali." ujarnya sambil bertepuk tangan.


"Selain itu juga, Ibu yang sudah meletakkan racun di makanan dan minuman Mbah Anwar."


"Apa?" ucapku sangat kaget.


"Iya Sarah ... sore itu Ibu mengikuti kamu sampai rumah Mbah Anwar. Mbah Anwar sejak awal sudah curiga pada Ibu nak ... saat pertama kali dia datang kerumahnya ini tepatnya. " Berbicara tanpa penyesalan.


"Mau gimana lagi Sarah? Ibu harus membunuhnya, ya tentu saja karena Mbah Anwar sudah mulai tau dan curiga pada Ibu jadi sebelum terlambat ya Ibu akhiri saja pengetahuan Mbah itu sayangku. Ha ha ha ha ha ha ha." Tampak tertawa puas dan lutut ku semakin gemetaran


"Apa lagi sayang? Nenek asih ... oooooooh iya nenek Asih, Ibu ku tercinta .... " Tiba-tiba tante Rima menangis. " Sebenarnya aku tidak tega melakukannya tapi mau gimana lagi ya ... Ibu usil sih ... pakai memberikan petunjuk kepada cucunya jadi otomatis ya di bungkam saja Sarah."


"Tidak mungkin." ucapku semakin melemah.


"Semua demi kebaikan kita nak, kebaikan kamu, kebaikan Ayah dan terutama demi kebaikan Ibu mu ini. "

__ADS_1


"Aku tidak mengerti, aku masih tidak mengerti ... apa salah mereka semua?" Dengan nada suaraku yang mulai tinggi.


"Sejak awal aku sudah bilang kalau aku sangat mencintai Ayah mu dan sanggup melakukan apapun, melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Jadi itulah yang aku lakukan sayang ku." Menjawab dengan sangat ringan sekali.


"Jika kamu bukan ibuku, lalu dimana Ibu ku? Ibu kandung ku? Jawaaaab! " Berteriak karena sangat merasa kesal


"Oooh Dia ... heeemh, itu sama sekali tidak penting. Tapi baiklah Sarah aku akan mengatakannya padamu saat ini karena mengapa? Karena kamu akan segera menyusulnya. Ha ha ha ha ha ha ha. " Tante Rima tertawa terbahak-bahak, dan entah mengapa rasanya tangan dan kaki ku gemetaran dan ingin pipis menahan semua kenyataan pahit ini.


"Aku akan menceritakan nya, sesaat sebelum Ibu mu ingin menikah dengan Ayah mu, aku telah bertemu dengan Ayah mu di bandara. Itu kali pertama aku bertemu dengan Ayah mu, saat itu aku pulang dari luar negeri untuk menghadiri pernikahan saudara kembar ku yang malang itu. "


"Dari kejauhan aku terus-menerus memperhatikan Ayahmu, matanya, senyumnya, tubuhnya, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mungkin inilah yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama. "


"Sejak di bandara aku tidak pernah lagi melihat Ardy. Tibalah saat pernikahan Ibu mu, aku sangat terkejut saat melihat pengantin laki-lakinya adalah lelaki yang aku cintai. Dia adalah Ardy, aku menarik tangan Rina dan menceritakan semua yang aku rasakan. "


"Aku meminta Rina untuk mundur dari pernikahan ini tapi Rina tidak mau. Aku meminta Rina memilih antara aku atau Ardy, tapi Ibu mendengarkan perdebatan diantara kami. Lalu Ibu ku Asih masuk ke dalam kamar pengantin dan menamparku. Aku pergi meninggalkan tempat pengantin itu dan bersumpah akan membalaskannya."


"Sejak saat itu aku tidak pernah kembali kesini, bahkan Ardy juga tidak tau kalau aku dan Rina adalah saudara kembar. Aku meninggalkan semuanya dan kembali ke Negaraku tapi aku masih tidak bisa melupakan Ardy." Dengan ekspresi wajahnya terlihat sedih.


"Hampir tujuh tahun aku hidup dalam derita dan bayangan Ardy, aku memutuskan untuk mencarinya dan Rina. Dari kejauhan aku melihat kalian semua sedang tertawa bahagia, sedangkan ku selalu menderita selama tujuh tahun belakangan ini."


"Saat itu, Rina baru melahirkan kamu Sarah, aku ingat sekali. Aku menarik tangan Rina yang sedang berjalan-jalan di sekeliling rumah. Aku meminta waktu kepada Rina untuk bicara dan aku menunggunya di dalam mobil dan Rina pun menyetujuinya."


"Dari jauh, tampak Rina menitipkan kamu dan Tania pada si mbok. Kami berbicara banyak dan panjang lebar akhirnya si Mbok membawa kamu dan Tania pulang ke rumahnya."


"Dari pembicaraan kami berdua kami tidak mendapatkan kesepakatan, padahal aku sudah menjelaskan tentang isi hatiku terhadap Ardy pada Rina, tapi Rina tetap saja tidak mau mengalah ke padaku. Hal itu membuat aku marah, bahkan sangat maraaaah .... "


"Rina meninggalkan aku dan menjemput kalian berdua di rumah si Mbok, aku mengikutinya. Rina pun membawa kalian berdua ke mobil untuk pulang. Kemudian, baru sekitar kurang dari setengah jalan, aku menghadang mobil Rina. Rina pun keluar dari mobil dan kami kembali bertengkar hebat."


"Aku tidak kuasa menahan amarahku, aku memukul Rina berkali-kali hingga Rina terjatuh. Aku menginjak-injak Rina yang sudah lemas tidak berdaya."


"Aku mencekiknya hingga Rina tewas lalu memasukkannya ke dalam mobilku lalu aku membawa mobilku beserta Rina mendekati jurang tidak jauh dari rumah si Mbok. Aku mendorong mobilnya sekuat tenagaku hingga mobil ku terjatuh di jurang bersama Rina. Oouh, kasihan Rina. " ucapnya ngejek sambil memainkan jari jemarinya setengah menari.


Tiba-tiba aku langsung terbayang saat malam itu aku dan Ayah kembali dari mengantarkan mayat si Mbok, kami menabrak sesuatu. Kemudian, makhluk itu sempat membayang-bayangi aku dan Ayah. ternyata itu adalah roh Ibu. Aku menangis saat mengingat kejadian itu, ternyata itu Ibu ku. Ucapku di dalam hati.


"Naaaaaaah ... Sarah, sekarang giliran kamu ya sayang ku. " Tante Rima berdiri dan melangkah maju ke arahku dengan tatapan yang sangat tajam dan jahat.


Darahku mengalir sangat cepat ke kepala hingga membuat aku pusing. Satu yang aku tau, aku harus bertahan tapi aku sudah tidak mampu lagi untuk bergerak. Tante Rima datang dan mencekik aku dengan keras hingga aku sangat kesulitan untuk bernafas bahkan penglihatanku mulai memudar.


Bersambung...


Bagaimana kelanjutannya?


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2