
Aku masih duduk bersama pak Antok, untuk mendengarkan cerita tentang Ayah ku. Pak Antok bilang kalau semua ini seperti memang sudah waktunya untuk tau tentang kebenaran.
"Kemarin malam, waktu kita dari rumah Mbah Anwar kita kan pakai kalung pemberian beliau termasuk Bu Rima jadi sudah sulit sekali buat makhluk gaib untuk mendekati apalagi mengganggu kita non."
"Terus .... " Ucapku penasaran.
"Tapi tidak dengan tuan kan non, tuan ngak pake apa-apa jadinya maaf ya non, tuan merasa diganggu oleh makhluk halus. Makhluk itu berusaha mengarahkan tuan untuk pulang.Maaf non, mungkin roh itu ibunya non Sarah. "
"Kalau menurut tuan, tuan itu di ganggu, baik sedang kerja mupun sedang beristirahat. terakhir yang buat tuan sangat cemas adalah waktu di kaca kamar mandi ada tulisan nama non Sarah tapi tulisannya itu dari darah non, bukan tinta."
Sarah menunduk berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada ayahnya dan siapa yang mendatangi ayah.
"Terus non, sebenarnya tuan itu sudah sampai batas kota habis magrib tapi di telpon sama Bu Rima, tapi tuan nggak bilang mau pulang, kemudian Bu Rima bilang non Sarah sudah tidur jadi tuan pikir non Sarah aman - aman saja."
"Tidak lama setelah itu, tuan mendapatkan telepon kembali dari panti jompo tempat nenek asih di titipkan, selama ini tuan yang membiayai kehidupan nenek asih makanya pimpinan panti punya nomor ayahnya non Sarah."
"Sesampainya di sana, tuan mendapatkan kabar kalau nenek asih sudah meninggal dunia. Tuan kaget sekali di tambah lagi perawat nenek asih menyampaikan sesuatu kepada tuan sebelum nenek asih meninggal dunia."
"Apa itu pak ? " Tanyaku serius.
"Itu non, album foto lama. Di dalamnya ada foto nyonya dan Bu Rima. Selama ini ternyata tuan nggak tau kalau nyonya itu kembar makanya tuan kaget non."
"Setelah itu nenek asih mengatakan ke pada perawatnya. "Bilang sama Ardy, dia itu iblis ... bukan Rina melainkan Rima. "
"Ya ampun ... jadi nenek asih selama ini tau tentang kebenaran kalau yang bersama ayah itu adalah Tante Rima? " Gumamku.
"Ada lagi non ...." Ucap pak Antok
"Apa pak? " Sahut ku
"Menurut pimpinan panti, kemungkinan besar nenek asih itu tewas karena di bunuh."
"Apa pak? yang benar saja." Ucapku cukup kesal tapi aku kembali teringat dengan pengakuannya malam itu. Memang dia yang membunuh nenek Asih
"Iya non, sekarang kasusnya juga sudah dilimpahkan ke kepolisian non jadi tinggal menunggu hasilnya saja. " Jelas pak Antok.
Aku menunduk dan menarik nafas panjang. Tiba-tiba aku sangat ingin menemui tante Rima lalu aku menyingkap selimut ku dan saat aku hendak berdiri, pak Antok menahaku.
__ADS_1
"Mau kemana non? "
"Aku harus menemui Rima. Aku mau bicara dan bertanya padanya tentang dimana Tania."
"Sabar non, sabar ... non masih sakit dan lemah. Pak Antok menahan ku tapi rasanya kemarahan ku sangat besar sehingga pak Antok tidak mampu menahan keinginanku.
Pak Antok terpental di lantai karena dorongan ku. Aku melepaskan infus dan alat bantu pernafasan ku. Aku pun mulai menapakkan kaki di lantai. Dengan kaki yang bergerak gemetaran, aku meneruskan langkahku. Aku menangis menahan rasa sakitnya dan berusaha terus melangkah.
Tapi seorang perawat melihatnya dan menagkap ku, tapi karena aku terus melawan dan memaksa untuk pergi, Dokter pun memerintahkan untuk menyuntikkan obat penenang kepada ku.
Pukul 22.00 wib. Aku tersadar dan melihat Ayah sudah di sampingku. Aku meneteskan air mata melihat Ayah yang tampak begitu lelah dan aku pun tetap membiarkan ayah beristirahat dan terlelap.
Aku melihat perawat lalu lalang dan seorang dokter tengah berjaga. Aku memandang ke kiri dan aku melihat banyak pasien di sisi kiroku. Mereka ditemani oleh dua orang sanak saudara mereka, lalu aku memalingkan wajahnya.
Kemudian aku melihat ke arah kanan ku. Disana hanya ada satu ranjang, ditempati oleh seorang perempuan yang tengah hamil besar. Perempuan tersebut memandang ku dengan pandangan tajam dan dingin tanpa berbicara sepatah katapun.
Di dalam hatiku berkata, syukurlah aku masih punya ayah yang menemani aku. Lihat ibu itu! dia hanya sendirian Sarah ... tampak kaki dan tangannya berbalut perban dan wajahnya banyak terdapat luka. Aku meluruskan pandanganku kembali dan berusaha memejamkan mataku.
Pukul 08.30 wib. Aku terbangun dari tidur malam ku yang cukup nyenyak. Aku melihat ayah yang tadinya berada di sampingku tapi saat ini ayah sudah tidak ada. Aku sedikit kecewa namun seorang perawat datang menemui aku.
"Pagi Sarah .... " Menyapa dengan ramah
"Kenapa? mencari ayahnya ya? " Sambil tersenyum.
"Iya Sus." Dengan nada kecewa.
"Tadi dokter jaga meminta ayahnya untuk mengambil resep obat dan botol infus baru karena kamu akan segera di pindahkan ke ruang perawatan biasa, kondisi kamu sudah mulai membaik ." Jelas perawat tersebut.
Ooooh ... jadi ayah mengambil resep obat untukku bukan meninggalkan aku? aku menunduk dan menyalahkan pikiran ku yang buruk terhadap ayah.
"Mari saya bantu untuk membersihkan dan merapikan kamu Sarah sebelum di pindahkan. " Kata perawat tersebut dengan lembut.
"Iya ... makasih Sus. " Hanya itu yang ku ucapkan
"Sama-sama, sudah tugas saya Sarah. "
Perawat mulai membersihkan wajahku, aku melihat ke kiri, ke atas, dan ke kanan. Pada saat aku melihat ke arah kanan, aku bingung melihat pasien di sana adalah seorang bocah laki-laki.
__ADS_1
Sambil perawat membersihkan diriku, aku bertanya kepadanya. "Sus, Ibu-ibu yang di ranjang pasien sebelah kanan aku kemana ya?" Lalu suster tampak mengkerut kan keningnya.
"Pasien ibu-ibu? yang mana ya?" Balik bertanya.
"Itu Sus, yang di ranjang sana. " Aku menunjuk ranjang di samping kananku dan perawat tersebut melihat ke arah jari telunjuk ku.
Perawat tersebut terus membersihkan badanku dan sesekali melihat ke arah ranjang tersebut seperti dia berusaha mengingat sesuatu.
"Tadi malam aku melihatnya sus, perempuan usia 30an dan dia terlihat tengah hamil besar. Tangan dan kakinya diperban dan wajahnya penuh luka."
"Apa ?" Ucap perawat tersebut tampak kaget. Tangan perawat yang tadinya gesit membersihkan tubuhku sekarang jadi melambat.
"Sarah ... memang 4 hari yang lalu ada pasien seorang perempuan tengah hamil tua di ranjang itu, ibu itu mengalami kecelakaan, tepatnya tabrak lari. "
"Ooooh .... " Ucapku sambil terus menatap ranjang tersebut.
"Tapi ...." Perawat melanjutkan ucapannya.
Dua hari yang lalu pasien tersebut tidak bisa bertahan Sarah, ibu dan anak yang ada di dalam rahimnya meninggal dunia."
"Kasihannya lagi, sampai detik ini mayat ibu tersebut belum juga ditangani, karena kami kesulitan untuk mencari keluarganya. "
"Apa sus? " Aku sangat terkejut dan merasa tidak percaya.
"Dan setahun saya, sejak tadi malam ranjang itu kosong." Perawat memandang ku dengan penuh keyakinan dan tersenyum simpul.
Setelah selesai membersihkan tubuhku, perawat tersebut kembali ke mejanya, aku duduk sendirian sambil berfikir tentang apa yang aku lihat. Ini aneh sekali, bulu-bulu halus di tanganku mulai berdiri. "IBU ... apa yang terjadi pada penglihatanku." Ucapku lirih.
30 menit berlalu dan ayah datang membawa kan obat-obatan. Ayah menyerahkan pada dokter jaga dan segera ke ranjang untuk menyapaku. "Sarah ." Ayyah tersenyum lebar.
"Ayah, kenapa lama sekali?." Menggerutu.
"Antriannya sangat panjang Sarah, padahal ayah sudah pergi pagi-pagi sekali berharap cepat mendapatkan obat dan cepat kembali ke sini sebelum anak ayah ini bangun. " Ucap ayah sambil mencuil ujung hidungku
"Iya Ayah. " Aku tersenyum saat menatap ayah dan sambil melihat ke ranjang sebelahku.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘