
Merinding, itulah yang aku rasakan saat melihat tubuh Bu Marisa tergeletak di atas lantai dalam keadaan lemah dengan mulut yang penuh darah.
Sadis sekali yang mereka lakukan kepada Bu Marisa. Apapun alasannya, bagiku semua ini tidaklah pantas. Tapi jika diingat kembali perlakuan Tante Tima pada Ibu, si Mbok dan Tania, maka apa yang aku lihat saat ini belum seberapa.
"Kak, kamu pucat sekali," ucapku sambil memandang Kak Rio dalam jarak yang cukup jauh. "Sebaiknya Kak Rio dan Mbok Yani segera dibawa ke rumah sakit, supaya mendapat tindakan yang tepat," ujar ku cemas.
"Kalau begitu kita bagi tugas!" sahut Rian yang tampak sangat yakin bahwa Bu Marisa dalam kondisi aman. "Sarah dan Feli tetap disini, sementara aku akan membawa Kak Rio dan Si Mbok ke rumah sakit. Bagaimana?"
"Setuju," ucap Feli sambil melihat ke arah Bu Marisa, Kak Rio dan Mbok Yani secara bergantian. "Mereka memang membutuhkan pertolongan medis," ucap Feli yang terlihat berusaha menguatkan dirinya.
Aku tau ketakutan yang Feli rasakan karena selama ini dia hanya melihat dari bayangan gelap dan gambar. Sedangkan saat ini, dia menjadi saksi sebuah kejadian nyata di depan matanya. Tidak terbayangkan olehku bagaimana ekspresi Bu Marisa saat menggigit, memotong, melepaskan dan mengunyah telinga Mbok Yani.
"Ok, kalau gitu ... kita angkat dulu Bu Marisa ke atas ranjangnya!"
"Iya ... setelah itu, kami akan membersihkan Bu Marisa dari darah kotor itu," ucap ku kepada Rian.
*****
Rian sudah membawa Kak Rio dan Mbok Yani ke rumah sakit. Sementara aku sedang membersihkan mulut Bu Marisa, kamudian Feli mencari pakaian ganti untuk beliau.
"Mulut Bu Marisa amis sekali, bagaimana ini, Fel?"
"Kasih madu aja, Sarah!"
"Madu?"
"Iya ... lagian tadi Mbok Yani cerita, katanya Bu Marisa suka madu."
"Ya sudah kalau gitu, aku cari dulu ya. Mungkin ada di dalam kulkas."
"Sarah, jangan lama-lama ya!" kata Feli sambil mengikuti langkahku hingga ke pintu kamar.
"Kamu harus tenang, Feli! Rian juga tadi bilang kan kalau Bu Marisa sudah aman dan aku percaya kepadanya. Lagipula, asal kamu tau saja, bahwa kita tidak hanya berdua disini. Sepertinya Rian meninggalkan beberapa makhluk untuk menjaga dan mengunci Bu Marisa."
"Benarkah?"
"Iya ...."
Aku meninggalkan Feli di ujung pintu kamar untuk mencari madu yang kemungkinan disimpan di dalam kulkas.
__ADS_1
Aku membuka pintu kulkas yang tingginya sama denganku, kemudian aku langsung mencari madu. Saat sudah menggenggam botolnya, aku segera menutup pintu kulkas dan berniat kembali ke dalam kamar, tapi saat aku melihat ke arah pintu kulkas, tanpa sengaja aku juga melihat sesuatu di dinding belakang tubuhku.
Aku menatap makhluk itu dengan mata yang lebar dan keringat dingin di wajahku. Makhluk itu berbulu, berwarna hijau, tidak memiliki alis mata, botak, dan tubuhnya berbau sangat asam seperti peramban air cucian beras yang lebih dari tujuh hari.
Saat dia menatapku tajam, tiba-tiba sesuatu berdiri di sampingku dan mengatakan, "Berserahlah kepada Allah! Bacakan 4 Surah pendek untuk perlindungan!"
"Auzubillahiminassyaitonirrojim .... "
Aku berlindung kepada Allah dari (segala godaan, bisikan, perbuatan, maupun tipu daya) yang dirajam (dilempari batu), yang dikutuk dengan hukuman rajam ( setan yang terkutuk).
"Bismillaahi rahmaani rrahiimi, alhamdu lillaahi rabbi al’aalamiina, alrrahmaani alrrahiimi, maaliki yawmi alddiini, iyyaaka na’budu wa-iyyaaka nasta’iinu, ihdinaa alshshiraatha almustaqiima, shiraatha alladziina an’amta ‘alayhim ghayri almaghdhuubi ‘alayhim walaa aldhdhaalliina, Amiiiin," ucapku lalu di ikuti dengan makhluk putih yang ada di sampingku.
"Qul a'uudzu birabbi nnaas, Maliki nnaas, Ilaahi nnaas, Min syarri lwaswaasi lkhannaas, Alladzii yuwaswisu fii shuduuri nnaas, Mina ljinnati wannaas." Setelah membaca Surah annas, aku langsung membaca surah Al Falah dan Al lahab.
Siap membaca keempat surah pendek yang sangat mudah dihafal tersebut, aku melihat jin yang berada di hadapanku kehilangan kendali dan hal itu membuat aku yakin akan bacaan ku.
Dia tampak kesakitan, tangannya yang besar, lebar dan panjang menutupi kedua telinganya dengan sangat kuat, sembari berteriak histeris.
Terakhir, tanpa arahan, aku membacakan ayat kursi. Kali ini dengan hati yang berbeda, aku membacanya dengan hati yang penuh kepasrahan dan keyakinan. Apa yang aku ucapku di mulut, aku ucapkan kembali di dalam hatiku.
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
Aku terus mengulang bacaan tersebut hingga puas dan aku melihat makhluk itu seperti berlari sambil menempelkan tubuhnya dari tembok satu ke tembok yang lainnya.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " ujar makhluk putih yang bersamaku sambil meneteskan air mata.
Saat iblis itu menjadi abu, aku mendekatinya dan aku melihat sebuah jimat yang dibungkus kain hitam lalu aku mengambilnya. Saat itu juga hatiku membimbing agar aku segera membakarnya. Ternyata bukan hanya diserang lewat benda-benda tajam di dalam tubuhnya, tapi juga sudah ditanam di dalam rumah Bu Marisa.
"Ya Allah ... kejam sekali," ucapku sambil membakar habis jimat tersebut di atas kompor gas.
"Sarah, kenapa lama sekali? bau apa ini?"
"Maaf, Feli. Bau pertarungan kecil," ucapku sambil terus membakar jimat yang ada di tangan kiri ku.
"Mereka datang lagi?"
"Ternyata ada yang memang sudah ditanam di dalam rumah."
"Berarti pelakunya orang dekat, Sarah. Jika tidak, mana mungkin bisa menanam jimat seperti itu di dalam rumah."
__ADS_1
"Iya ... kita harus waspada dengan semuanya," ucapku sambil membuang nafas yang panjang.
"Iya ... aku paham," ucap Feli dan aku langsung menatapnya setelah selesai membakar jimat tersebut.
"Sarah ... matamu .... " ucap Feli saat melihat segumpal darah yang menutupi bagian putih di mata kiri Sarah.
"Mereka ingin menghancurkan mataku, tapi dari sini aku paham sesuatu. Tidak ada kekuatan yang lebih kuat melainkan kekuatan Allah. Feli, dengar! Apapun yang terjadi, kali ini kita harus berhasil."
"Kenapa kamu bicara begitu, Sarah?"
"Yang pertama karena Bu Marisa adalah korban yang pantas di tolong dan yang kedua untuk diri kita sendiri. Ini pelajaran yang sangat berharga, Feli. Paham? tekatku sudah bulat, walaupun harus kehilangan mata ini, aku akan menyelesaikan urusan Bu Marisa."
"Apa ini pertanda jika mereka akan muncul lagi?"
"Aku yakin sekali kalau saat ini mereka sudah tau tentang kita dari makhluk-makhluk yang hancur tersebut. Itu makanya aku membutuhkan kamu, Feli. Kuatkan hati dan dirimu!!" ucapku menguatkan Feli karena aku melihat Feli sangat lemah kali ini, tidak seperti Feli yang aku kenal.
"Sarah .... " ucapnya sambil menggenggam kedua tangannya.
"Dari kelebihan yang kamu miliki, kita bisa tau apa yang akan datang pada kita dan kita juga bisa cepat menyelesaikan urusan kali ini. Mungkin bagi sebagian orang di luar sana kita berdua ini sesat, Feli."
"Sarah .... " ucapnya sambil menahan air mata dan bibirnya yang bergetar.
Aku memegang kedua bahu Feli dan mengatakan, "Tapi Aku yakin, Allah punya penilaiannya sendiri dan kita masih hidup hingga saat ini setelah semua hal berat yang kita lalui, hanya karena satu alasan," ucapku sambil menatap Feli. "Allah ... semua ini hanya atas izin Allah."
Feli menunduk dan menangis tersedu-sedu. Wajar saja karena selama ini kami berdua merasa asing di tengah-tengah makhluk yang sejenis dengan kami (Manusia). Aku terus menguatkan Feli seperti Feli yang biasanya selalu menguatkan aku.
“Kita akan menjadi teman sampai kita menua dan pikun lalu mati. Kemudian setelah itu, kita akan menjadi teman baru lagi, Feli."
"Sarah ...." ucap Feli sambil memelukku dengan erat. Tak lama, iya mengatakan, "Aku sudah siap untuk berjuang hingga akhir."
"Itu baru Feli yang aku kenal. Ayo kita selesaikan sebelum matahari muncul. Semakin cepat, semakin baik."
"Siap."
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘