ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KADO


__ADS_3

Hidup itu seperti grafik yang naik-turun, nggak ada perjalanan yang mulus. Sama seperti perputaran bumi, kadang kita menikmati pagi dan terkadang merasakan malam. Terkadang kita berada di atas, justru terkadang kita ada di bawah. Setiap manusia diberi cobaan yang berbeda-beda. Tuhan akan selalu menguji, seberapa kuat hidup kita menghadapi dunia yang kejam dan mengerikan ini.


"Ayah ... aku lelah. " ucapku kepada Ayah dengan suara yang manja sambil membenamkan wajahku di lengan kanan Ayah.


"Ayo keluar dari disini Sarah dan kamu juga harus menenangkan dirimu ...! "


Aku dan ayah menyandarkan tubuh kami di tembok tidak jauh dari kamar jenazah sambil melipat tangan kami di depan dada dan berusaha untuk menenangkan diri. "Ayah, ada sesuatu yang membuatku merasa kurang srek di hati saat ini."


"Apa Sarah? Katakan saja! Mungkin Ayah bisa sedikit membantu. "


"Ini tidak seperti saat aku setelah membantu suster Isabella saat menemukan jasad nya. Aku yakin merasa benar-benar ada yang kurang. Tapi aku tidak tahu apa itu Ayah. " ucapku sambil tertunduk dan berpikir tentang apa yang menyulut nuraniku untuk berkata semua ini masih kurang.


Aku terus tertunduk sembari memainkan jari-jariku di atas tangan kiri yang baru saja aku lipat. Aku berusaha menghubungkan setiap penampakan yang menghampiriku serta fakta-fakta yang Ayah ungkapkan berkaitan dengan Kak Maharani.


Sekitar 10 menit berlalu, aku dan Ayah tiba-tiba saling menatap serentak seolah-olah kami memiliki pikiran dan firasat yang sama. Tanpa membuang banyak waktu, Ayah menarik tanganku mendekati dokter yang berada di dalam kamar jenazah.


"Dokter, ada yang ingin saya tanyakan. " ucap Ayah dan perkataan beliau memancing keluarga Kak Maharani untuk menatap Dokter yang sudah menemani kami dalam mencari jasad Kak Maharani di kamar jenazah.


"Silakan Pak. "


"Seingat saya, Maharani sedang hamil besar saat tragedi malam itu terjadi. Lalu bagaimana dengan bayinya? " tanya Ayah tanpa melihat jasad Kak Maharani.


"Itulah yang belum saya jelaskan sejak tadi. Sebenarnya malam itu kondisi pasien sudah membaik dan seperti yang anda ketahui jika pasien berhasil melewati masa kritisnya. Selain itu, kesehatan pasien juga terus meningkat selama 3 hari berikutnya. Tapi pada saat yang bersamaan, pasien mengalami kontraksi yang hebat hingga mengalami kejang. "


"Terus Dok? " sambung Mama Kak Rio sambil menghapus air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


"Jadi dari pihak rumah sakit melakukan tindakan untuk menyelamatkan mereka. Namun Tuhan berkehendak lain, pasien Maharani tidak bisa diselamatkan karena pendarahan yang hebat tapi bayinya bisa kami selamatkan."


"Jadi Maharani saat itu sedang hamil dan sekarang Dia memberikan kami cucu?" tanya Papa Kak Rio seakan tidak tahu tentang keadaan kehamilan Kak Maharani dan hal itu membuat aku sedikit heran. Bagaimana mungkin seorang Ayah tidak mengetahui bahwa anaknya sedang hamil besar? Tanya ku di dalam hati sambil menatap ke arah Papanya Kak Maharani.


"Iya benar sekali Pak, dan bayi itu sampai saat ini masih dirawat di ruangan khusus bayi. Untuk sementara, kami memberikan Dia nama Sinar. "


"Ya Tuhan ...." ujar Mama Kak Rio sambil menangis dan menutup kedua mulut dengan tangannya.


"Sekitar 1 minggu yang lalu, Sinar baru saja dikeluarkan dari inkubator karena lahir dalam keadaan prematur. "


"Apa saya boleh melihat cucu saya sekarang Dokter? Saya mohon antarkan saya kepadanya ...!" ucap Mama Kak Rio dengan suara yang memelas.

__ADS_1


"Baik Bu .... " sahut Dokter sambil berjalan keluar dari kamar jenazah.


"Rio .... tolong Kamu urus jasad Kakak mu dulu ya nak! Mama ingin melihat cucu Mama terlebih dahulu. "


"Iya Ma ... sebaiknya kita bagi tugas aja. Biar disini Rio yang mengurus Kak Rani. Lagipula Sinar pasti sangat membutuhkan kehangatan Mama saat ini. " ucap Kak Rio sambil menarik air hidungnya.


"Ayah, apa boleh aku membantu Kak Rio? "


"Apa kamu yakin Sarah? " tanya Ayah sambil menatapku dalam-dalam dan aku mengangguk-anggukkan kepalaku sebagai isyarat bahwa aku akan membantu Kak Rio dalam mengurus jenazah Kak Rani.


Ayah, Papa, Mama, dan dokter langsung menuju ruang perawatan bayi untuk melihat Sinar. Sementara aku dan kak Rio ditemani oleh petugas kamar jenazah dan 2 orang perawat yang membantu kami untuk mengurus jasad Kak Maharani.


Ada sesuatu yang membuat aku sangat penasaran tentang hubungan keluarga Kak Rio dengan Kak Maharani. Rasanya aneh bagiku saat melihat ekspresi Papa Kak Rio yang tampak kaget saat mendengar bahwa Kak Maharani tengah hamil besar saat tragedi itu terjadi.


"Boleh aku bertanya tentang sesuatu Kak? Sebenarnya aku tahu bahwa ini bukanlah waktu yang tepat, hanya saja aku sangat ingin tahu kebenarannya. "


"Silahkan Sarah .... "


"Kenapa selama ini Papa Kak Rio tampaknya tidak mengetahui tentang kehamilannya Kak Maharani? "


"Iya kamu benar Sarah. Bahkan tidak ada satupun dari kami yang mengetahui tentang hal itu termasuk aku. "


"Sekitar 1 tahun yang lalu terjadi perdebatan yang berat dan panjang antara Papa dan Suami Kak Maharani. Sejak saat itu, Kakak dan suaminya meninggalkan rumah dan memilih untuk hidup mandiri, bahkan mereka sama sekali tidak pernah memberikan kabar kepada Papa, Mama , maupun diriku."


"Terus? "


"Aku sudah berusaha untuk mencari Kakak tapi tidak pernah dapat menemuinya. Setiap waktu Mama selalu berdoa untuknya. Mama sangat ingin melihat Kak Maharani kembali, tapi ternyata kami hanya diberi kesempatan sekali agar dapat melihat Kakak untuk yang terakhir kalinya. " ucap Kak Rio sambil menunduk dan tampak sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Kak Rani.


"Aku turut berduka cita ya Kak, semoga Kak Rani sekarang tenang. Mungkin sinar adalah alasan utama Kak Rani meminta pertolongan kepada ku selain ingin jasadnya dikuburkan secara layak, dan mungkin juga Tuhan ingin mengabulkan doa Mama nya Kakak dengan cara seperti ini. Sabar ya Kak ...." ucapku sambil mengusap-usap punggung Kak Rio untuk menyebarkannya.


"Makasih ya Sarah. Tuhan mempertemukan kami dan Kak Rani melalui kamu dan aku juga minta maaf karena mungkin dengan kehadiran Kak Rani, kamu sangat tersiksa dan menderita Sarah. " ucap Kak Rio sambil sedikit tersenyum.


"Iya Kak. Aku juga heran kenapa bisa seperti ini. Setahuku, kami sudah menutup mata batin ku sekitar 40 hari yang lalu dan aku berharap aku tidak bisa melihat hal-hal yang aneh dan mengerikan lagi seperti ini. Tapi ternyata aku masih bisa merasakannya dan ini membuat aku sangat takut dan bingung untuk menjalani hidupku kedepannya. "


"Sabar Sarah .... " ujar Kak Rio kembali menyabarkan aku.


"Tidak ada orang yang mengerti tentang keadaanku Kak. Tidak ada yang bisa menolong dan membantu ku, bahkan mungkin mereka akan menganggap aku sebagai orang gila. Asal Kakak tahu saja, aku sangat takut untuk menjalani dan menghadapi hidupku kedepannya. "

__ADS_1


"Tapi kamu tidak sendiri Sarah. "


"Saat ini mungkin iya Kak, karena aku masih punya Ayah. Satu hal yang sangat aku takutkan, yaitu ketika aku membayangkan bagaimana jadinya diriku tanpa Ayah. " ujar ku tertunduk dan merasa sangat bingung.


"Maaf Mas ... mayatnya sudah selesai dikafankan."


"Terimakasih Pak dan sebaiknya langsung dibawa ke ambulan saja. "


"Baik Mas ...."


"Sebaiknya kita melihat Sinar dulu yuk Sarah. "


"Iya Kak .... " ujarku sambil berjalan meninggalkan kamar jenazah.


Tiba-tiba pada saat aku hampir melewati pintu, aku merasa ada angin dingin yang menyapa kulit wajahku dan mengarahkan aku ke belakang. Pada saat yang bersamaan, aku melihat Kak Rani berdiri di sisi kaki mayatnya dengan keadaan tersenyum dan wajah yang cantik nan bersih.


Tampilan seperti itu lebih baik bagiku. Setidaknya aku tidak ketakutan saat melihatnya. Apakah memang seperti itu ya tampilan roh jika jasadnya belum dikubur dengan layak atau jika masih ada urusan mereka di atas dunia ini yang belum terselesaikan? Aku bertanya di dalam hati sembari melangkah meninggalkan kamar jenazah.


Setibanya di kamar perawatan bayi, aku menatap Sinar yang tampak cantik sama seperti Mamanya. Sinar saat ini berada dalam pelukan sang Oma. Bayi mungil Itu tampak sangat tenang dan tertidur dengan nyenyak.


"Kamu adalah kado terindah untuk Oma, dan Oma akan tetap memberikan mu nama Sinar agar kamu bisa menyinari kehidupan Oma, Opa dan Om Rio serta manusia lainnya. Jadilah anak yang sehat, pandai, baik hati, cantik, dan selalu menjadi anak yang penurut. Oma sayang padamu Sinar ...." ucap MamaKak Rio sambil meneteskan air mata dan menghela nafas panjang.


Di sisi yang lainnya, aku melihat Papa Kak Rio terus menghapus air matanya dan mengatakan bahwa ia sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi saat ini, dan ia berjanji akan merawat Sinar dengan sangat baik.


Kak Rio datang mendekati dan menghampiri Papanya. Aku melihat Kak Rio berusaha menyebarkan beliau agar dapat ikhlas dan dalam menerima cobaan yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk keluarga mereka. Kak Rio juga mengatakan bahwa saat ini yang paling penting adalah menjaga, merawat, dan membesarkan, serta mendidik Sinar dengan baik.


Aku berjalan mendekati Ayah dan Beliau memegang kedua bahuku kemudian mengarahkan aku untuk duduk di kursi tidak jauh dari pintu. "Ayah tidak tahu harus berkata apa Sarah? Tapi yang jelas, kamu sudah menyelamatkan dua makhluk Tuhan dalam waktu yang bersamaan saat ini dan Ayah sangat bangga padamu Nak. "


"Ayah .... "


"Jadilah sebuah lilin Sarah ...! Lihatlah! Bagaimana sebuah lilin kecil dapat menantang kegelapan. Jika memang takdirmu seperti ini nak, Ayah berharap kamu akan menjadi sosok yang lebih kuat dan tegar dalam menghadapi hidupmu kedepannya. Dan Ayah juga berjanji, akan selalu mendampingimu disaat suka maupun duka."


"Terimakasih Ayah ... tapi Aku ingin menjadi garis normal seperti yang lainnya.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.

__ADS_1


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2