ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
LEPAS


__ADS_3

Bu Marisa tergeletak di lantai dan menggelepar-gelepar seperti ayam yang baru saja dipotong lehernya, dengan mulut yang mengaga dan mata yang melotot serta tangan yang menegang (Posisi terlentang).


"Aaaaggh ...aaagggh ... uweeeeek ...." Terdengar suara seperti ingin muntah dari mulut Bu Marisa.


“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad.”


"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan semua nama-nama terbaik-Nya dari kejahatan samah dan hamah, dari kejahatan pandangan mata, dan dari kejahatan penghasut," teriak Rian bersamaan dengan suara makhluk gaib bercahaya putih yang mengelilinginya.


Lalu mereka membaca ayat-ayat Surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, tiga ayat dari Surah Al-Baqarah yang dimulai dari ayat 163-164, Ayat Kursi, Amanar Rasul sampai akhir surah, sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Ali Imran, ayat pertama Surah An-Nisa’, ayat pertama Surah Al-Maaidah, ayat pertama Surah Al-An’am, ayat pertama Surah Al-A’raf dan ayat:


“Inna rabbakumulahul ladzi” sampai “rabbul ‘aalamiin” dan ayat:


“Qaala muusaa maa ji-’tutum bihis sihru innallaaa sayubtiluhu” dan ayat:


“Wa alqi maa fii yamiinika talqaf maa shana’uu” sampai “haitsu ataa” dan sepuluh ayat pertama Surah Ash-Shaffaat."


Tak lama, Kak Rio mengambil air dari dapur dengan baskom plastik berwarna merah muda. Kemudian Rian meniup air tersebut dengan cepat. Kak Rio dan Rian seperti terkoneksi dengan baik, itulah yang aku lihat.


"Tidak ada waktu lagi, guyur saja!" ujar Kak Rio sambil menatap Rian.


"Teteskan dulu pada mulutnya yang mengaga, Senior!" ujar Rian.


"Baik," ucap Kak Rio sembari mendekati kepala Bu Marisa dan ia memasukkan beberapa tetes air ke dalam mulut Bu Marisa. "Atas izin Allah, musnah lah ...!" Kemudian Kak Rio memercikkan air di wajah dan seluruh badan Bu Marisa.


"Aaaaggh ... aaagggh ... aaaggh ... aaagggh ... aaaggh ... aaagggh .... " teriak Bu Marisa dengan suara laki-laki dengan bass yang tinggi, sambil menerjang-nerjang kedua kakinya secara bergantian.


“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad," ucap Kak Rio.

__ADS_1


“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad," sambung Rian disambut suara dari makhluk gaib yang mengelilinginya sembari mengangkat kedua tangan mereka seperti sedang berdo'a.


"Aaaaaaaakk .... " teriak Bu Marisa dengan suara aslinya. Glough ... glough ... glough ... glough ... glough. Disambut suara seperti seseorang yang sedang kumur-kumur.


Tak lama kemudian, Bu Marisa memuncratkan darah berwarna merah kehitaman dari dalam mulutnya, hal itu tampak seperti semburan dari mata air kecil yang baru saja ditemukan.


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " ujar Rian dan Kak Rio secara bersamaan.


Sementara makhluk gaib yang mengelilingi Rian mengucapkan, “A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad,"


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... "


“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad."


Ucapan mereka, antara yang gaib dan Rian bersama Kak Rio saling bersahutan. Bahkan aku sempat mendengar suara lirih seperti seseorang yang tengah menagis sambil berdo'a, dari salah satu makhluk gaib yang tampak sudah sangat tua dengan janggut putih nan panjang yang menghiasi wajahnya.


Pandanganku tertuju padanya, aku dapat melihat dengan jelas, ia menarik air hidung sambil menahan air matanya saat melihat Bu Marisa terlihat sangat kesakitan dan menderita, bahkan kedua tangannya sampai bergetar.


Padahal ada sesuatu yang berbeda dari kita, tapi dapat merasakan kesedihan dan kesakitan saat melihat seseorang yang bukan sejenis mereka. Ya Allah ... apakah manusia pantas menjunjung kata makhluk yang paling sempurna? ucapku tanpa suara.


"Aaaaaakkkk ... uweeeek .... " Lalu keluarlah beberapa potong beling dari sudut kanan mulut Bu Marisa hingga saat terjatuh, melukai pinggir bibir dan pipi Bu Marisa.


Melihat hal tersebut, Kak Rio langsung membalik tubuh Bu Marisa dan Bu Marisa tampak lebih mudah dalam memuntahkan isi perutnya yang asing.


Bu Marisa terlihat sangat tersiksa dan menderita, hingga seluruh kaki dan tangannya menegang dan kejang-kejang. "Uweeekk .... " ucapnya lalu keluarlah paku.


“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad," ucap Kak Rio dan Rian dengan suara yang lebih keras.

__ADS_1


"Uweeeeeeekkk .... " Kemudian keluarlah silet yang sudah patah dua.


"Ya Allah Gusti ... kamu kenapa, Non?" ucap Mbok Yani yang sudah sadarkan diri, dengan kondisi salah satu telinganya yang sudah hilang (Digigit dan dimakan oleh Bu Marisa saat di bawah ranjang tempat tidurnya).


"Jangan mendekat, Mbok! Mari kita bantu dengan do'a dan ayat-ayat Al-Quran yang kita ketahui!" ucapku sambil memegangi tubuh Mbok Yani. Kemudian Feli memgusap air mata Si Mbok dan menutup telinganya yang masih banyak mengeluarkan darah.


"Sabar ya, Mbok," ujar Feli sambil menempelkan pipi kiri? Mbok Yani pada pipi kanannya.


“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad," ucap Kak Rio sambil menangis, tapi ia terus menguatkan diri dan hatinya untuk membaca Ayat pengobat teluh, santet, dan guna-guna tersebut.


"Uweeeeeeeeeeekkkkkkkk .... " Lalu keluarlah lipan/ kelabang berukuran ibu jari berwarna hitam yang masih bergerak bersama darah hitam dari dalam mulut Bu Marisa.


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " ucap kami yang ada di dalam kamar tersebut, lalu Kami dipandu Rian membaca Surat An-nas dan Surat Al-lahab hingga seluruh lipan/kelabang tersebut habis terbakar.


"Subhanallah .... " ucap Rian menangis melihat keadaan Bu Marisa.


"Masya Allah ... sudah berakhir dan kita berhasil," ucap Kak Rio sambil memegang tangannya yang masih mengeluarkan darah.


"Non, Ya Allah ... Non ... sadar Non .... " ucap Mbok Yani sambil menangis dan meletakkan kepala Bu Marisa di atas kedua pahanya.


Saat itu, aku sama sekali tidak melihat raut wajah kesakitan pada Mbok Yani, padahal dia juga sedang terluka parah. Ya Allah ... apa yang sebenarnya ingin Engkau perlihatkan kepadaku? ucapku di dalam hati sambil menangis dan menunduk.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."

__ADS_1


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2