
โSahabat merupakan orang yang akan membangunkan kita dari tidur walaupun sedang bermimpi indah.โ
"Feli ayo bangun! Sudah tiba waktunya untuk kita pulang," ucapku yang terus berteriak dari arah yang cukup jauh kepada Feli.
Dari sini, Feli tampak masih terpejam dengan gaya bibirnya yang menyungging dan terkadang ia tersenyum manis. Entah apa yang ia mimpikan atau ia bayangkan saat ini, aku tidak tahu. Yang jelas aku ingin dia sadar dan segera bangun karena aku sudah tidak tahan lagi ingin pulang ke rumah.
Aku, Feli, dan Ayah pulang ke rumah sekitar pukul 14.00 WIB dan kami menggunakan mobil sewa'an online. Sebenarnya Kak Rio ingin sekali membantuku untuk menjemput Ayah dan Feli di rumah sakit. Tapi aku meminta Kak Rio untuk tetap tinggal di rumah bersama Rian karena aku ingin memberikan kejutan kepada Feli dan tidak mungkin jika aku membawa Kak Rio bersamaku sementara Rian tinggal di rumah sendirian.
*****
Kami tiba di rumah dan aku langsung mempersilahkan Ayah dan Feli masuk ke dalam rumah. "Rumahnya ngak dikunci! " tanya Feli sambil menekuk dahinya.
"Heee .... "
"Wah wah wah ... apa-apa ini? " tanya Ayah sambil melihat isi meja makan yang sangat penuh dan tersusun rapi, ditambah lagi dengan jajaran beberapa menu lauk pauk yang istimewa dan buah-buahan potong yang segar.
"Aku menyiapkan semuanya Ayah. Semua ini untuk menyambut kedatangan Ayah dan juga Feli."
"Wah, hebat kamu Sarah," ujar Feli yang tidak menyangka bahwa aku mampu merapikan dan membersihkan rumah yang semula sangat berantakan dan berbau anyir menjadi sangat rapi, bersih, dan segar. Ditambah lagi dengan aneka masakan yang banyak dan komplit di atas meja.
"Hebat? Ngak juga. Aku ngak sendiri lho."
"Maksudnya?" tanya Feli sekali lagi dan ia tampak sangat curiga padaku.
"Kak, ayo keluar ...! " ucapku cukup keras untuk memanggil Kak Rio dan Rian dari arah dapur.
"Hah, ini ... mereka berdua? "
__ADS_1
"Bagaimana Om? Ini kerja sama yang cukup baik bukan? Kami melakukannya bertiga dan Rio rasa, kami lebih dari kompak."
"Tentu saja. Kalian hebat sekali," ujar Ayah sambil menarik kursi meja makan dan meneguk segelas jus jeruk dingin yang sudah tersedia di dalam gelas di atas meja makan. "Ayo Feli duduk!" kata Ayah sambil menatap ke arah Feli yang tampaknya bingung karena melihat Rian berdiri diantara aku dan Kak Rio.
"I-iya Om. Makasih .... " sahut Feli yang pandangan matanya tidak lepas dari arah Rian dan Rian pun selalu menatap kearah Feli dengan senyum yang misterius.
"Hei, ayo duduk! " ucapku sambil menyentuh lengan kiri Rian dengan sikut tangan kanan ku.
Kami berlima duduk di satu meja makan yang sama. Satu hal yang aku lihat saat ini yaitu wajah Ayahku tampak sangat bahagia dan aku baru menyadari bahwa Ayah sangat merindukan suasana keramaian dan kedamaian di dalam sebuah keluarga.
"Ini enak sekali Sarah," ujar Ayah sambil terus mengunyah makannya.
"Kalau yang Ayah makan itu sebenarnya bukan aku yang masak, tapi Rian Yah. Ternyata dia jago memasak lho, " ucapku sambil melihat ke arah menu makanan yang Ayah santap dengan lahap (Ikan gurame saos asam pedas).
"Mantap sekali ini ya. Siapapun ya jadi istri kamu nanti, mesti gendut ini. Masakan kamu enak, " puji Ayah sekali lagi.
"Feli, ayo di makan! Kamu harus cicip semuanya ini. Lagi pula kita sudah lama makan makanan tanpa rasa kan? Ayo ...! "
"Iya Om. Makasih."
Ayah berusaha membuat suasana makan kami menjadi ceria dan ramai. Aku tau Ayah tidak pandai berkelakar tapi ia berusaha untuk menjadi ramah dengan banyak bercerita dan itu membuat semuanya merasa nyaman. Ayah, terimakasih. Ucapku di dalam hati.
Siap dengan acara makan siang kami yang terlambat, aku langsung membereskan meja makan dan mencuci piring dibantu oleh kak Rio. Sementara Ayah, Feli dan Rian, sedang mengobrol di meja makan yang tempatnya tidak jauh dari dapur.
Aku sangat lelah tapi sangat merasa bersemangat. Lalu tanpa di sengaja, aku memecahkan sebuah piring dan jari telunjuk tangan kanan ku terluka. Dengan sigap Kak Rio mengambil tanganku dan menghisap darah nya perlahan.
"Kamu ngak papa? Seharusnya kalau capek, kamu stop dulu Sarah, kan ada aku yang bantuin."
__ADS_1
Kak Rio membawaku ke sebuah kursi kayu tidak jauh dari dispenser. "Ayo duduk dulu! " ujar Kak Rio sambil menekan kedua pundakku dari posisi berdiri menjadi duduk, lalu ia duduk setengah jongkok di lantai sambil menutup luka di jari tanganku dengan plaster yang ia ambil dari dalam dompetnya.
"Aku sering terluka, jadi aku selalu menyiapkan dan menyediakan plaster seperti ini di dalam dompet. Ini adalah ajaran kakakku, " ucap Kak Rio sambil terdiam sejenak, sepertinya ia mengingat almarhum Kakaknya.
"Makasih ya Kak."
"Apa masih sakit?" tanya Kak Rio sembari memegang kedua tanganku dengan erat dan aku menggeleng-gelengkan kepalaku beberapa kali karena tidak mampu berkata apa-apa lagi setelah menerima perlakuan manis dari Kak Rio.
"Jangan menatapku seperti itu Kak! Aku jadi sangat malu dan tidak tau harus berbuat apa."
"Kamu cukup diam saja Sarah dan cobalah untuk kembali menatap mataku agar kamu tahu bagaimana aku begitu menyayangi kamu Sarah."
"Kita baru saja bersama, bagaimana mungkin Kakak begitu menyayangi aku? "
"Hemh ... untuk itu aku juga tidak mampu untuk menjawabnya. Karena aku sendiri tidak tau jawabannya Sarah. Kalau aku ingat-ingat sepertinya aku mulai menyukaimu sejak pertemuan pertama kita di toko sepatu malam itu. Aku rasa ... aku jatuh cinta padamu dalam pandangan pertama."
Perkataan dari Kak Rio membuat aku kembali tersenyum dan tersipu malu. Tapi kali ini, aku berusaha menatap matanya dalam-dalam dan berusaha untuk berani.
Kak Rio mulai mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Dengan tanganku yang digenggam erat oleh tangan Kak Rio, membuat aku terlihat sangat gugup. Saat bibir Kak Rio menyentuh bibirk dan aku dapat merasakan nafas hangatnya dari dekat, aku langsung menggenggam kedua tangan Kak Rio dengan erat.
Sejujurnya, ini adalah ciuman pertamaku dan aku sangat menyukainya. Rasanya, jika tidak ada Ayah, Rian, dan Feli, aku ingin sekali meneruskan ciuman hangat ini hingga pagi.
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya ๐ค
__ADS_1
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih ๐๐