
Aku masih terdiam sambil berdiri di hadapan mayat seorang laki-laki paruh baya.
Kakiku terasa beku dan kaku, bahkan
aku tidak mampu mengontrol tubuhku dengan baik. Baru kali ini aku menyaksikan hal seperti ini, kematian yang sangat mengerikan.
Aku menundukkan kepalaku, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? sementara aku masih belum bisa bergerak. Aku memandang ke arah tangan kanan ku, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh jemari tanganku dengan lembut dan aku tidak salah kali ini.
Aku menatap mata anak laki-laki yang tadinya berdiri di sampingku dan memegang tanganku, sentuhannya terasa sangat lembut namun dingin. Tak lama, saat mata kami bertemu, dia tersenyum ke padaku. Tapi aku tidak bereaksi, aku terlalu lelah.
Mataku tidak lepas dari matanya, beberapa saat kemudian ekspresi anak laki-laki ini berubah, tidak ada lagi senyuman di sana.
Selain itu, genggaman tangannya yang semula lembut berubah menjadi mencengkram hingga aku merasa kesakitan.
"Aduh .... " ucapku sambil meringis karena mulai merasakan sakitnya.
Tubuhku terbawa oleh anak kecil tersebut,
dia menarik ku seperti menarik tangan sebuah boneka tedy. Tenaganya sangat kuat, bahkan di luar batas tenaga anak laki-laki biasa yang seumuran dengannya.
Dia berlari dengan sangat kuat dan kakiku terus mengikutinya. Terkadang tubuhku terjatuh karena tidak seimbang, dia membawaku berlari ke sana kemari, sangat jauh, itu yang aku rasakan.
Letih sekali. Rasanya, kami sudah berlari semalaman penuh. Tanpa istirahat, tanpa diberikan waktu untuk menarik nafas. Anak laki-laki ini seperti atlet lari kelas atas.
Tak lama, saat hatiku terus berkata-kata, aku melihat ada cahaya di sudut jalan itu, lalu
aku tersenyum. Mungkin itu adalah jalan keluar ku, ucapku di dalam hati dan aku berusaha menegakkan tubuhku dan menguatkannya. Aku terus berlari bersama anak laki-laki yang mungkin saja adalah penyelamatku.
Setibanya di ujung jalan, aku melihat ke arah depan. Kamar kosong? gumam ku dan saat itu, aku ingin memastikan penglihatan ku, lalu aku masuk ke dalam kamar tersebut.
Aku sangat syok melihat ke arah pojok kamar tidak jauh dari jendela. Disana telah tergantung wanita paruh baya yang merupakan istri dari lelaki yang tadi aku lihat gantung diri di kamar sebelumnya.
Dia tidak sendiri, anak laki-laki yang menggandeng tanganku beberapa saat lalu juga ikut bersamanya, tergantung di sebelahnya. "Ya Tuhan .... " ucapku dengan suara yang kecil dan aku menutup mulut dengan tangan kanan ku.
Aku tidak berdaya, aku benar-benar tidak sanggup menyaksikannya. Seluruh tubuhku melemah, rasanya tulang-tulang di sekujur tubuhku menghilang. Aku terjatuh dan terbaring di lantai. Rasanya tidak punya tenaga, tidak punya kekuatan, hanya air mata yang menetes begitu deras membasahi lantai dan ujung pipi kanan ku.
Dengan mata yang tak dapat dipejam, aku terus melihat ke arah mereka berdua. "Kenapa? kenapa? kenapa?" Mulutku mengeluarkan suara halus tanpa henti. "Ini sangat menyakitkan," sambung ku.
__ADS_1
"Ibuu ... ibuuu ... Ibuuuuuu .... " Dari arah luar kamar, aku melihat gadis itu menangis dan berteriak histeris sembari memanggil ibu dan adiknya. Gadis tersebut berlari ke dalam kamar dan memeluk kaki Ibu dan kaki Adiknya secara bergantian. Sungguh pemandangan yang sangat menyakitkan dan menyayat hati.
Aku bisa merasakan penderitaan gadis itu,
dia terus menerus menangis, menjerit, dan berteriak. Gadis itu memeluk dan menciumi kaki Ibunya yang telah terbujur kaku. "Ya Tuhan ... apa salahku?" ucapnya sambil menangis dan terus menangis hingga tubuhnya membungkuk dalam posisi duduk seperti bersujud.
"Tidaaak ... tidaaaak ... tidaaaaak ... apa salah dan dosaku? sehingga aku dihukum seperti ini?" ucap gadis tersebut meratapi nasibnya.
Dari posisi ini, aku hanya terus melihat ke arah gadis itu sambil menangis. Rasanya aku juga ingin ikut berteriak, tapi mulutku terkunci. Alangkah besarnya penderitaan gadis tersebut. Jika aku jadi dia, aku juga tidak akan sanggup. Aku mungkin juga akan mati bersama Ayah, Ibu, dan saudaraku. Ucapku di dalam hati.
Tiba-tiba, rasanya jantungku terasa lemah, sepertinya oksigen tidak mengalir dengan baik di kepalaku. Aku sudah tidak dapat merasakan tubuhku dan sepertinya aku ingin menghilang.
*****
"Aaaaak ... aaaakkk ... sakit sekali, Bu. Sakit sekali ... aaaakkk .... " Terdengar suara teriakan yang sangat kuat. Tampaknya wanita itu benar-benar kesakitan. Apa yang terjadi padanya? aku harus memberi pertolongan kepadanya.
Aku berusaha menegakkan tubuhku yang sudah terasa berat dan sakit. Ini seperti dipukuli oleh orang sekampung, ucapku sambil terus mengangkat kepala dan tubuhku.
Bagian yang paling berat adalah dadaku. Rasanya nyeri hingga menusuk ke tulang-tulang ku. Bagaimana ini? tanyaku di dalam hati, ketika tubuhku yang hampir berdiri tegak, kembali jatuh menyentuh lantai.
"Ya Allah ... aku tidak ingin mati disini. Sebenarnya apa yang ingin kamu perlihatkan lagi kepadaku? kenapa kamu belum puas menyiksaku," tanya ku pada sesuatu yang tidak aku ketahui.
Apa dia membutuhkan pertolongan dari ku? sama seperti roh lainnya yang tersesat atau memang gadis ini belum mampu meninggalkan bumi karena suatu urusan yang belum selesai. Tapi, bukannya gadis tersebut baik-baik saja? dari pandangan mataku, dia selamat saat ini. Walaupun penderitanya di atas rata-rata manusia pada umumnya.
"Aaaaak ... aaaakkk ... sakit sekali." Kembali terdengar teriakan kesakitan yang luar biasa. Saat ini aku berdiri dan bergerak lambat ke arahnya.
Aku menemukan asal suara tersebut, dari ujung pintu aku melihat kedua ujung kaki gadis tersebut yang berada di atas sebuah ranjang di temani dua orang wanita, yang membantu persalinan nya. "Dia, melahirkan?" tanyaku dengan suara yang kecil sambil menjinjitkan kedua ujung kakiku agar dapat melihat wajahnya dengan jelas karena sejak tadi, aku hanya menatapnya dari arah belakang dan samping.
"Ayo terus, Mira ... sudah hampir keluar bayinya!" ucap salah seorang bidan yang berada tepat di dekat lutut gadis tersebut.
"Aku sudah tidak kuat lagi, Bu. Rasanya tidak sanggup lagi," sahut Mira dengan suara yang terdengar sangat lemah.
"Jangan menyerah sekarang! Anakmu laki-laki, kamu harus kuat."
"Aaaaakkk ... aaaaak .... " teriak Mira berusaha untuk menyelamatkan nyawa anaknya.
"Semua ini sangat berat karena bayimu besar dan sehat. Selain itu, posisinya sungsang. Jadi kamu harus terus mendorongnya sambil mengatur nafas mu. Ayo! Tarik nafas ... dorong. Tarik nafas ... dorong!!"
__ADS_1
Dari sini terlihat perjuangan gadis muda tersebut untuk melahirkan buah hatinya tanpa dukungan dari orang tua, saudara, maupun suami. Di dalam kesakitan dan kesendiriannya, ia terus menjalankan kewajibannya sebagai perempuan (melahirkan).
Sebenarnya sejak awal bisa saja Mira menggugurkan kandungannya. Tapi tidak, dia terus melanjutkan kehamilannya dan mungkin bagi Mira, anaknya tersebut adalah satu-satunya harapan untuk memiliki semangat hidup.
"Aaaaaaaakkk .... " Terdengar suara teriakan terakhir Mira yang sangat kuat dan panjang.
"Syukurlaaaah .... " ucapku sambil menangis dan memegang dadaku yang terasa sakit sekali. "Syukurlah," sambung ku sekali lagi.
"Mira, maaf. Kita terlalu lama, terlambat."
"Apa, Bu? Bu Bidan pasti salah. Tidak mungkin .... " ucap Mira terlihat ketakutan, kebingungan, dan tidak tau arah saat menggendong bayi laki-lakinya.
"Sabar, Mira .... "
"Tidaaaak .... " ucap Mira berteriak lalu ia langsung berlari keluar dari ruang, seperti tidak merasakan sakit pada tubuh dan pintu kelahirannya. Mira terus berteriak dan berlari seperti orang gila. "Tidak mungkin ... tidak ...."
Aku bergerak sangat cepat untuk mengejar Mira yang berlari tunggang langgang seperti sedang dikejar anj*ng, bahkan ia melupakan pakaian yang menutup bagian bawah tubuhnya. Dengan darah yang masih meleleh di kedua kakinya, Mira terus berlari tanpa henti.
Dari belakang, terlihat dengan jelas jika Mira berniat untuk menghabisi hidupnya dengan menabrakkan diri pada mobil truk yang bergerak dengan kecepatan tinggi. "Tidak ... Miraaaaa ... jangaaaannnn .... " Teriakku guna menghentikan Mira, tapi semua percuma, semuanya sudah berakhir.
Aku melihat tubuh muda itu berguling-guling di atas jalanan aspal dengan lumuran darah. Bukan hanya pada bagian kaki, tapi juga mulut, hidung, kedua telinga, serta perutnya.
"Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim ... Astagfirullah hal azim ... ya Allaaaah ... ya Rob .... " ucapku sambil menarik-narik semua bagian rambutku karena sangat kesal, mengapa aku tidak mampu melakukan apapun.
Orang-orang berlarian menuju ke arah tubuh putih, bersih dan mulus yang kini sudah bermandikan darah tersebut. Aku pun demikian, dengan langkah yang gemetaran, aku mendekati Mira dan saat mataku benar-benar mampu menangkap potret wajah Mira, aku baru menyadari bahwa Mira adalah gadis yang dirudapaksa oleh Papanya Rido dan Bagas beberapa puluh tahun yang lalu.
Pemandangan yang sangat menyedihkan, jalan hidup yang sangat menyakitkan. Sementara di luar sana, para laki-laki durjana tersebut dapat menikmati hidupnya yang baik dengan wanita lain yang mereka cintai hingga mendapatkan banyak keturunan. Mereka diselimuti canda dan tawa di setiap waktu, sementara Mira dan keluarganya menjadi bahan cemo'ohan orang lain.
Sementara disini, ada seorang gadis malang yang kehilangan segalanya, bahkan saat ia berusaha menggantungkan hidupnya pada seorang makhluk kecil (bayi/anak), ia pun harus kehilangan meskipun sudah berjuang sangat keras.
"Ya Allaaaaah ... apa ini?" tanyaku sambil terduduk sambil bersimpuh tidak jauh dari genangan kecil kolam darah yang terbentuk dari tubuh Mira.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘