ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
LEAK


__ADS_3

1 bulan setelah kejadian yang menimpa Nenek Ratih dan beberapa penjaga lainnya, aku menjadi sangat pemurung. Itu menurut Ayah dan beberapa orang lainnya, tapi entahlah karena aku tidak bisa menilai diriku sendiri.


Hari ini, sejak pagi tadi. Feli dan Rian sibuk membereskan rumah baru mereka yang minimalis. Perumahan yang cukup jauh jaraknya dari rumahku. Sebenarnya Feli dan Rian tidak ingin meninggalkan aku dan tinggal di rumah yang lain, tapi rumah itu adalah pemberian dari mama dan papanya Rian sehingga mereka tidak bisa untuk menolak.


Aku sudah melihat rumah tersebut dan semuanya tampak baik-baik saja, bahkan beberapa penghuni tak kasat mata didalamnya mengatakan bahwa mereka tidak akan mengganggu Feli dan juga Rian karena mereka lebih suka rumah yang bersih daripada kotor. Sementara jika rumah ini tidak memiliki tuan, maka rumah ini akan terus kotor hingga akhirnya hancur dengan sendirinya.


Sore hari, Feli meminta Rian untuk mengambil pakaian mereka agar bisa disusun dan dirapikan sesegera mungkin. Jadi lebih santai saat akan pindah nanti. Saat itu, aku tidak tau jika Rian hanya pulang sendirian.


Suara Rian terdengar jelas di telingaku. Ia tengah mengobrol dengan Ayah dan tampaknya mereka dalam keadaan baik-baik saja bahkan bahagia. Tak lama, Rian mengatakan untuk meminjam cover Ayah yang berukuran jumbo untuk mengangkat pakaian mereka.


Hari hampir memasuki waktu magrib, aku pun keluar kamar untuk menghampiri Rian. Ia tampak sibuk membereskan pakaian dan dibantu oleh Pak Antok serta ditemani Ayah.


"Rian."


"Hai."

__ADS_1


"Feli ngak ikut?"


"Dia sedang mengepel tadi dan memintaku untuk mengambil pakaian."


"Oh, begitu."


Tak puas hati, aku menelpon Feli untuk mengetahui keadaannya karena entah mengapa perasaanku sangat tidak enak, saat mengetahui Feli sendirian di rumah baru tersebut.


Aku menelpon Feli beberapa kali, tapi tidak diangkat dan hal itu menambah kecemasanku terhadap dirinya. Tidak ingin bingung sendiri, aku terus menelpon Feli hingga akhirnya ia mengangkat teleponku setelah lebih dari 5 kali aku hubungi.


"Waalaikum salam Iya, iya Sarah.


"Lama banget angkat teleponnya? Buat khawatir aja."


"Iya, maaf Sarah. Aku lagi masang gas ke kompor, soalnya Rian minta dibuatkan kopi pahit. Rian juga aneh-aneh saja sih, masak ia dia minta kopi pahit. Nggak pernah-pernah nya ini," ucap Feli tanpa henti dan hal itu membuat aku terdiam sambil terus menatap Rian yang ada di hadapanku.

__ADS_1


"Feli."


"Iya Sarah, aku masih disini."


"Kamu yakin Rian di sana?"


"Iya, Sarah. Kamu kenapa sih? Kok kayaknya bingung gitu?"


Aku memang sangat bingung, sehingga aku tidak mampu menjawab pertanyaan dari Feli. Tapi di saat yang bersamaan, Datuk belang menghampiriku dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ke arah Feli untuk membantunya (menyelamatkannya).


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca

__ADS_1


__ADS_2