ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
HILANG KESADARAN


__ADS_3

Setelah melihat dan memperhatikan isi rekaman dari HP milik Azura. Aku terdiam sambil menatap Feli dan Ayah. "Mereka terlalu lancang dan konyol. Sejak awal mereka sudah tau mengenai rumah itu, tapi mereka bukannya menghindar, melainkan masuk lebih dalam."


"Iya, Sarah. Ini seperti penyerahan diri dan nyawa secara langsung. Urusan saat ini bukan lagi kejahatan manusia, melainkan syetan yang memang dipancing dan dipanggil," ujar Feli mengeluarkan pemikirannya.


"Seperti orang memancing ikan, mereka sudah tau disana ada ada ikan, lalu mereka memberikan umpan. Bodohnya mereka menggunakan diri mereka sendiri sebagai umpannya," sahut Ayah sambil menghela nafas yang panjang.


"Sekarang bagaimana menurut, Ayah?" Ayah tampak sangat bingung dengan pertanyaanku barusan.


Aku sangat mengerti tentang apa yang Ayah pikirkan saat ini, Ayah menghawatirkan keadaan yang akan datang padaku dan Feli. Sementara disisi lain, Ayah tidak enak hati dengan Komandan yang selama ini sudah sangat membantu dan mempermudah urusan ketika situasi kami di luar kendali.


Ayah memegang dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Kali ini Ayah yang berpikir keras, ditambah lagi saat ini hanya tinggal aku dan Feli karena Kak Rio berada di lapangan dan Rian sedang liburan bersama orang tuanya.


"Saya mohon, Pak .... " ucap Mamanya Azura sambil duduk setengah bersujud di hadapan Ayah dan memelas penuh iba.


"Astagfirullah hal azim ... maaf, Bu. Silahkan berdiri! Memohonlah kepada Allah, bukan saya. Saya ini hanya seorang Ayah yang menghawatirkan putrinya. Terus terang saja, saat ini saya sangat gusar. Saya takut putri saya kenapa-kenapa dan saya tidak enak dengan, Beliau." Sembari menunjuk ke arah Komandan dengan jempol tangan kanan Ayah.


Melihat situasi ini, Ayah berdiri dan masuk ke dalam kamar. Saat hal itu terjadi, semua yang ada memanggil Ayah dan mereka berpikir bahwa Ayah tidak akan membantu.


Aku pun awalnya berpikir sama, tapi setelah aku dan Feli membuntuti Ayah ke kamarnya, ternyata Ayah sedang shalat. Mungkin Ayah meminta petunjuk langsung dari Allah agar tidak menyesal dan salah langkah.


"Maaf, Komandan. Ayahku sedang shalat saat ini," ucapku mengatakan hal yang sebenarnya.


"Baiklah ...."


Sambil menunggu Ayah menyelesaikan shalatnya, Mamanya Azura terus saja menangis tanpa henti dan hal itu sangat membuat aku bersedih hati. Sekarang aku mengerti apa yang dirasakan komandan sehingga ia memutuskan untuk datang meminta bantuan kepada aku dan Feli.


Kakak mana sih yang sanggup dan tahan melihat adiknya menangis terisak-isak tanpa henti, ucapku dalam hati berusaha memahami keadaan yang sedang aku hadapi saat ini. Tapi disisi lain Ayah benar, ini bukan hal yang mudah dan sederhana. Dibalik misteri, ada juga kebodohan yang disengaja seolah-olah menantang alam dan keadaan.


"Apakah saya boleh menanyakan tentang sesuatu, Komandan?"


"Silakan Sarah, tanya saja apa yang ingin kamu tanyakan!"


"Apakah pihak kepolisian sudah menyusuri lokasi tersebut dan bagaimana caranya Azura dan Rido bisa selamat hingga sampai saat sekarang ini?"


"Iya, sebenarnya kami sudah mendatangi dan menyusuri lokasi tersebut atas telepon yang masuk saat itu dari Azura, sekitar 5 jam sebelum tragedi kematian rekan-rekannya terjadi. Tapi kami terlambat karena polisi sektor yang ada di kisaran wilayah rumah angker tersebut tidak dapat menemukan Azura dan teman-temannya saat penyisiran di lokasi yang kami sebutkan."


"Jadi Azura dan teman-temannya tidak terlihat saat itu?" tanya Feli dengan dahi yang melipat.


"Iya, sehingga laporan yang kami berikan saat itu dianggap sebagai laporan palsu dan mereka tidak menghiraukan apa yang kami katakan. Kemudian karena kami merasa ini berhubungan dengan hal supranatural, akhirnya pihak kepolisian memutuskan untuk bekerjasama dan membawa orang pintar ke lokasi."

__ADS_1


"Terus?"


"Disaksikan polisi sektor wilayah tersebut, kami berhasil menemukan Azura dan teman-temannya dalam keadaan yang tragis serta sudah tidak bernyawa lagi."


"Lalu sekarang di mana orang pintar tersebut?" tanyaku sekedar ingin tahu tentang apa yang sudah ia lihat atau ia perangi di lokasi.


"Sayangnya orang pintar tersebut sudah meninggal dunia, sesaat setelah berhasil menemukan semua mayat rekan-rekan Azura yang tersembunyi di dalam rumah tersebut."


"Innalillahi wainnailaihi rojiun, tragis sekali," ucapku dan Feli sambil berpegangan tangan.


"Sebenarnya sebelum ke sini, saya juga sudah berusaha untuk mencari bantuan ke tempat orang pintar yang lainnya. Tetapi setelah mereka menerawang lokasi tersebut, tidak ada satu pun di antara mereka yang bersedia untuk menolong kami."


"Rasanya sudah tidak tahu lagi dengan apa yang harus kami lakukan, makanya saya berpikir untuk ke sini karena selama ini kamu selalu mampu mengatasi masalah yang ada di hadapanmu, Sarah," ucap komandan sambil menatap ke arahku penuh harapan.


"Tapi selama ini saya tidak pernah masuk ke dalam urusan yang seperti ini, Pak."


"Semoga ada jalan keluar untuk keponakan saya," ucapnya smbil merangkul bahu adik kesayangannya.


"Sarah, pergilah! Ayah yakin kalian berdua akan dilindungi oleh Allah."


"Ayah .... "


"Feli janji akan melindungi Sarah, Yah."


"Komandan, apa saya boleh ikut?"


"Tergantung keputusan anak-anak ini."


"Ayah boleh ikut sampai batas yang kami izinkan. Bagaiamana, Yah?"


"Baiklah ... ayo kita berangkat!"


Seperti 2 orang tentara bayaran, aku dan Feli mempersiapkan diri dengan baik. Kami mengenakan pakaian yang enak dan santai serta Feli mempersiapkan alat tulisnya untuk menggambar. Saat itu aku dan Feli berjanji di dalam hati, bahwa kami akan pulang dengan selamat, atas izin Allah.


"Kita perang lagi, Sarah."


"Dan kita akan saling menjaga, sampai kita tidak mampu lagi. Jangan membantah, Feli!!"


"Siap, Komandan gua cermai."

__ADS_1


"Dasar usil," ucapku sambil menepuk dahi Feli dengan tangan kanan ku.


"Aduh, sakit tau. Menjengkelkan!"


"Makanya jangan banyak menghayal!"


"Iya ... iya."


Kami keluar dari kamar dan langsung masuk ke dalam mobil Ayah. Kami juga mengikuti arah mobil Komandan. "Sebentar, Yah. Sebaiknya kita menemui Rido terlebih dahulu. Fillingku kuat padanya. Mungkin saja dia petunjuk terbaik," ucapku pada Ayah dan beliau langsung menelpon komandan lalu mengatakan niatku.


Tanpa banyak tanya, Komandan pun setuju dan mengikuti apa yang aku inginkan. "Kamu sudah siap, Feli?"


"Iya, harus siap."


"Bagus."


*****


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kami turun dari mobil dan diarahkan langsung untuk menuju ruang ICU. Setibanya disana, ternyata Rido benar-benar terlihat tidak dalam kondisi baik.


Aku memegang tangan Rido dan memperhatikan tubuhnya dengan seksama, dia sungguh tidak berdaya. Tak lama, Feli masuk dan ikut menyentuh Rido.


Beda dengan reaksi ku, saat Feli menyentuh Rido, Feli seperti sangat kesakitan dan ia seperti seseorang yang terkena arus listrik sehingga seluruh tubuhnya bergetar hebat.


"Istighfar, Feli! Istigfar!" ucapku setengah berbisik dan aku melihat mulut Feli yang bergerak dan terdengar ia berusaha untuk menguatkan dirinya dengan berzikir menggunakan suara yang sangat kecil.


"Allah Hu Akbar ... Allah Hu Akbar ... Allah Hu Akbar ... Allah Hu Akbar ... Allah Hu Akbar ... Allah Hu Akbar .... " ucap Feli sambil bertahan melawan gemetaran pada tubuhnya dalam posisi berdiri, dengan bagian bola matanya yang berwarna hitam mengarah ke atas, sehingga aku hanya dapat melihat bagian putihnya saja.


"Astagfirullah hal azim ... Feli," ucapku hampir menangis sambil menahan tubuh Feli dari belakang dan ia terus bertahan memegang tangan Rido.


Tak lama, terdengar suara isak tangis dari mulut Feli sambil terus berzikir. "Apa yang kamu lihat, Feli?" tanyaku sambil menyatukan kepalaku pada bagian kanan kepala Feli.


Sekitar 15 menit berlalu, tiba-tiba Feli terjatuh dan ia kehilangan kesadarannya. Ayah dan Komandan yang melihat kami dari arah jendela, langsung berlari ke arah ruang ICU untuk membantu, begitu juga dengan para perawat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kami.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."

__ADS_1


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘


__ADS_2