
Semua orang terharu saat melihat Feli dan Azura berpelukan sambil menangis. Azura yang wajahnya menghadap ke arahku, berusaha untuk menatap mataku dengan sinar yang teduh.
"Sebaiknya kita keluar dulu!" ucapku pada semua keluarga yang ada di dekat ku.
"Iya .... "
Kami turun ke lantai dasar dan berusaha duduk dengan tenang. Sebenarnya, diantara mereka semua, aku adalah orang yang paling tidak nyaman dan merasa bersalah. Jika dugaan ku benar, berarti apa yang terjadi pada Azura adalah kesalahan ku.
*****
20 menit berlalu, Feli pun turun dari kamar Azura dengan matanya yang basah. Aku melihat Feli menyimpan sesuatu yang sangat berat. Sebenarnya apa yang terjadi? tanyaku tanpa suara.
"Sarah, sebentar!" panggil Feli saat berada di dekat anak tangga ke dua. Tanpa menjawab panggilan Feli, aku langsung berdiri dan menunggu kebenaran dari dirinya.
Feli turun dari tangga dan membawa ku ke ujung ruangan. "Sarah, Azura, dia dalam keadaan baik dan normal. Ya walaupun masih syok, tapi jiwanya sudah baik," ucapnya sambil tersenyum. "Hanya saja ... dia tidak dapat bicara."
Aku menatap Feli dalam-dalam, ternyata dugaan ku benar. Aku terdiam untuk beberapa saat dan tiba-tiba bayangan itu kembali lagi dan saat itu, aku memegang dahi Feli untuk berbagi cerita bersamanya.
Flashback
"Allahu Akbar," ujar ku saat wajah dan perutku terhentak ke depan dan dari hidungku keluar darah segar.
"Sleruuup .... " Terdengar suara kecapan dari makhluk tersebut sambil menjulurkan lidahnya yang sangat panjang (kira-kira mampu menyentuh dadanya) dan memutarnya hingga menyentuh seluruh wajah, telinga dan dadanya. Sepertinya ia sangat ingin menikmati darahku yang berceceran di lantai.
Aku belum bisa bangkit karena ini benar-benar terasa sakit, tapi roh jahat itu sudah sangat dekat denganku. Aku harus menangkapnya! Ucapku sambil menggenggam Kedua tanganku.
Tanpa ia duga, saat lidahnya sangat dekat denganku, tangan kanan ku menarik lidahnya sangat kuat dan memotongnya dengan tangan kiri yang sudah aku bacakan Surat Al Lahab.
"Aaaaaaggghhh .... " teriaknya sambil berputar-putar, seperti kucing yang di potong ekornya. Sementara di tangan kanan ku, lidahnya masih bergerak dan menggelepar, tapi aku tidak berniat untuk melepaskannya.
"Aku akan menjadikan lidah mu ini lidah bakar di neraka. Puas sudah engkau menyekutukan Tuhan ku serta mengolok-olok Nya. Sekarang apa yang bisa kamu katakan tanpa ini, wahai ibliiiiis?" teriakku karena merasa sangat geram sambil memperlihatkan bagian mulutnya yang sangat panjang.
Dia tampak berputar-putar dan lemah, saat itu aku merasa inilah kesempatan bagiku untuk mengalahkannya. Dengan tubuh yang terasa berat dan punggung yang berkayu, aku terus bergerak ke arahnya dan aku menyekap tubuh Azura di lantai kemudian menindih nya.
“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad.”
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan semua nama-nama terbaik-Nya dari kejahatan samah dan hamah, dari kejahatan pandangan mata, dan dari kejahatan penghasut," teriakku sambil memegang kepala Azura yang terus bergerak ke kiri dan ke kanan.
Back
Setelah melihat kejadian yang aku alami, Feli memahami satu hal. Bahwa secara gaib, lidah dari Azura sudah terpotong, tapi itu bukan berarti tidak dapat membantunya untuk bicara lagi karena saat itu dia hanya media, sementara lidah yang terpotong sebenarnya adalah milik iblis terkutuk tersebut.
"Boleh aku ke atas?"
"Ayo, Sarah!"
__ADS_1
Aku memutuskan untuk menemui Azura dan berbicara banyak padanya. Apapun hasilnya, yang penting aku sudah berusaha memberikan yang terbaik dan aku sama sekali tidak punya niat untuk menyakiti orang lain.
"Azura .... " sapaku sambil berjalan ke arahnya.
Azura berdiri seakan menyambut kedatangan ku. Sebenarnya dia tidak tau apa yang terjadi, hanya saja dia memiliki perasaan yang bagus akan sebuah keadaan. "Boleh aku bicara?" Azura menganggukkan kepalanya dan aku segera duduk di sampingnya.
"Hari-hari yang berat ya?" Lalu Azura tersenyum.
"Tidak banyak manusia yang diberikan pengalaman hebat seperti kamu. Banyak diantara mereka hanya mendengar cerita tentang bagaimana alam gaib dan roh. Itu pun ada yang benar dan ada yang di benar-benarkan."
"Pengalaman adalah guru yang paling berharga! Lihat Bagas, dia diberi kesempatan untuk menjelajah dimensi yang lain, tapi tidak diberikan kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Kamu seharusnya bersyukur dan memohon ampun kepada Allah sehingga semua kesukaran mu diangkat oleh-Nya."
"Mulutmu adalah harimau mu. Coba kamu ingat lagi!! Mana yang lebih banyak keluar dari mulut kamu, Azura? manfaat atau mudarat?" Sampai aku berbicara dititik ini, aku melihat Azura berpikir keras dan ia mulai bisa menerima ucapan ku.
"Mungkin ini adalah ujian untuk kamu sekaligus cara Allah menyadarkan kamu tentang mulut angkuhnya itu. Maaf sebelumnya, aku pernah mendengar kamu berbicara lewat rekaman yang diberikan Pamanmu." Azura mengangkat wajahnya dan menatapku, sepertinya ia menunggu kalimat pamungkas dariku.
"Awal mula dari malapetaka yang baru saja terjadi dan merenggut nyawa teman-teman kamu yang tidak berdosa adalah mulutmu, Azura. Kamu menantang makhluk lain, kamu membusungkan dadamu dihadapan alam dan sekarang kamu menerima hasilnya."
"Ini sama seperti bencana alam, harusnya kamu tau kemana kamu harus meminta dan memohon, dimana seharusnya kamu berdiri dan bersimpuh serta kepada siapa kamu harus memohon pengampunan. Maaf, aku bicara agak keras. Sebenarnya ini bukan tabiat ku, hanya saja ... kita perlu menaikan level hidup kita agar lebih berkualitas."
"Satu hal yang perlu kamu tau. Ketika semua orang berlari saat melihatmu begitu menjijikkan dan menggila serta hilang akal, Mamamu adalah satu-satunya yang berlari ke arahmu dan selalu memelukmu," ucapku dengan suara yang bergetar karena menahan emosi serta air mataku. "Beliau tidak sanggup melihat kamu menderita sendirian, Azura."
"Azura, surgamu menunggu di bawah! tanggalkan keangkuhan mu! Kamu hanya seorang anak yang hidup dan matinya dibiayai oleh orang tuamu." Seketika Azura meratap dan menangis, mungkin dia mengingat semua ucapan dan perbuatan buruk terhadap orang tua, terutama Mamanya.
Namun ketika Allah mencabut salah satu nikmat nya, maka manusia itu akan bertanya, "Kenapa?." Lalu jika sisi baiknya lebih unggul daripada sisi buruknya, maka ia akan menjadi pribadi yang lebih baik. Begitu kan, Tania?
Cukup lama menangis, Azura akhirnya berdiri dan menarik secarik kertas dan pena berwarna hitam dari dalam ransel miliknya. Ia mulai tenang dan duduk di kursi belajarnya. Saat itu, aku melihat ia menulis sembari menarik air hidungnya.
30 menit berlalu, Azura pun berdiri lalu ia membersihkan serta merapikan dirinya. Ia menyisir rambut serta mengoles wajahnya dengan bedak bayi berwarna merah muda, sehingga tercium aroma segar bayi dari tubuhnya.
Azura mengambil kertas tersebut dan berjalan lebih dulu ke arah luar kamarnya. Kemudian aku dan Feli terus mengikuti langkah Azura yang lemah, sementara di luar sana, tidak ada satu pun yang tau bahwa Azura saat ini tidak dapat berbicara karena bermasalah pada bagian lidahnya.
Kami bertiga turun dan semua mata tertuju kepada kami. Mama dan Papa Azura saling merangkul dan menatap putri semata wayang mereka yang selama ini manja dan selalu bersikap seenaknya.
Dengan langkah lambat, Azura mendekati Papa dan Mama lalu menatap keduanya. Dari sorot mata sang Mama, tampak sekali beliau sangat cemas dan takut. Ternyata selama ini, Azura biasa membentak sambil menatap tajam ke arah Mamanya seperti saat sekarang ini.
Aku tau dari mana? tiba-tiba semua penghuni rumah ini menjadi sosok Azura dan anggota keluarga lainnya, sehingga aku merasa sedang menonton acara televisi dan aku bisa melihat sosok jahat Azura terhadap Mamanya. Disisi lain, Mama sering menahan kesaktiannya dan menangis.
Aku menundukkan kepalaku karena tidak sanggup melihat maling kundang nyata di hadapanku. Bagaimana mungkin seorang anak bisa bersikap seperti itu kepada ibunya, hanya karena ia ingin terlihat hebat? dan mampu mengendalikan orangtuanya.
Aku berjanji di dalam hati, jika kali ini Azura bersikap kasar pada ibunya, maka aku adalah orang pertama yang akan menghajarnya. Ucapku tanpa suara.
Cukup lama berdiri, akhirnya Azura memberikan kertas tersebut kepada Mamanya dan tiba-tiba kepala serta tubuh Azura tertunduk, bahkan dahinya berada tepat di punggung kaki Mamanya.
"Aaaaaaaaa .... " ucap Azura berusaha mengatakan sesuatu kepada Mamanya dan seketika air mata Mama meleleh dengan lebatnya.
__ADS_1
"Azura tidak lagi bisa bicara seperti sediakala," ucapku dengan suara yang kecil.
Mama yang mendengar perkataan dariku, tidak kuasa menahan air matanya dan beliau memilih dada Papa untuk bersandar. Sementara Azura masih mencium kaki Mama dan Papanya. "Ya Allah ... ampuni kami ... ampuni anakku .... " teriaknya sambil menaikkan tubuh Azura dan memeluknya sangat erat.
"Aaaaa ...." ucap Azura dan itu mungkin berarti banyak untuk sang Mama.
15 menit saling memeluk dan menguatkan, keluarga ini tampaknya mampu menerima keadaan Azura dengan iklas dan mereka juga tampak menguatkan Azura dengan mengatakan bahwa kita akan pergi ke terapi terbaik dan berobat dimana saja demi kesembuhan Azura.
Tak lama, Papa dan Mama duduk di atas sofa dan Azura meletakkan kepalanya di atas paha Mama. Kemudian Mama membaca surat yang diberikan Azura, sembari mengelus lembut rambut milik Azura yang cantik.
Mama membaca surat sambil menangis hebat. Saat ini, tidak ada satu pun diantara kami yang mengetahui secara persis apa isi surat tersebut. Tapi yang jelas, kami melihat tubuh Mama bergetar hebat dan saat beliau menutup suratnya, Beliau mengatakan, "Ini surat terindah yang pernah Mama baca seumur hidup Mama dan mulai sekarang kita akan memulainya dari awal. Kamu akan selalu menjadi bayi Mama, Azura. Tapi kali ini Mama akan mulai bersikap keras jika kamu salah."
"Aaaa .... " sahut Azura yang sepertinya sudah sangat paham arti perkataan Mamanya.
Melihat semua situasi sudah kondusif, aku meminta kepada Komandan untuk mengantarkan kami pulang. Tapi kami tidak meminta izin kepada yang lainnya karena mereka masih saling memeluk Azura saat ini.
*****
Kami pulang dengan santai dalam kecepatan sedang. Aku dan Feli pun berusaha menikmati suasana sore hari yang terasa sangat sejuk dan tenang. Rasanya hatiku sangat lega sekali, senang bisa membantu.
"Komandan, sampaikan saja salam kami pada keluarga besar Azura."
"Tentu saja. Nanti juga kita pasti akan silahturahmi ke rumah kalian lagi."
"Iya, Ndan."
"Feli, aku jalin bulu mata dulu ya. Rasanya lelaaah sekali."
"Iya .... " sahut Feli yang duduk di kursi depan bersama Komandan Arya.
Rasanya mengantuk sekali dan aku sangat ingin terlelap kali ini. Tapi saat aku sudah benar-benar hampir hilang kesadaran, tiba-tiba Feli berteriak dan pada saat yang bersamaan, aku terkejut lalu terbangun.
"Sarah ... Sarah ... buka pintunya! Cepaaat!!" teriak Feli seperti orang gila sambil terus menatap ke jalanan.
Aku yang bingung, langsung saja membuka pintu mobil yang sudah dihentikan lajunya oleh Komandan Arya. Pada saat yang bersamaan, setelah pintunya ku buka, aku melihat seorang gadis remaja masuk dengan sangat tergesa-gesa dan ketakutan.
"Cepat tutup pintunya!!" perintah Feli dan pada saat aku menutup pintu mobil, aku melihat seperti bentuk tangan yang besar dan panjang berwarna hitam dengan kuku-kukunya yang tajam, seperti hendak mencengkram dan menyeret gadis tersebut.
Saat pintu mobil sudah terkunci, gadis yang mengenakan seragam sekolah tersebut sedang ketakutan dan menggulung tubuhnya di atas kursi di sampingku, tanpa ingin disentuh.
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.
__ADS_1